Syaloom

Selamat datang bagi pengunjung blog ini, terima kasih atas kunjungan anda pada blog ini anda dapat download lagu-lagu rohani khusus quartet (male or ladies) termasuk partitur yang kami telah sediakan.

Blog ini khusus saya buat untuk membantu teman-teman yang mempunyai hobi menyanyi lagu-lagu rohani tetapi pada saat tertentu tidak mempunyai cukup partiture. Dan sesuai dengan judulnya maka blog ini khusus dibuat untuk quartet grup vokal, apakah itu male quartet atau ladies quartet.

Banyak orang didunia ini dan hampir semua orang yang ada di jagad raya ini menyukai musik. Sebab itu saya ingin mengajak semua teman-teman yang ingin partisipasi dalam blog ini saya persilahkan untuk memberi saran dan bahan untuk memajukan grup-grup quartet. Sering kita menyanyikan sebuah lagu dengan baik dan pendengar cuma menyukai harmoninya saja tetapi pekabaran dalam lagu itu sendiri tidak didapat karena pendengar tersebut tidak mengerti bahasa yang dinyanyikan dalam lagu tersebut untuk itu melalui blog ini saya sekali lagi mengajak siapapun untuk urung rembuk agar blog ini disukai dan dapat bermafaat buat kita semua.

Untuk itu saya akan mencoba untuk mentransfer dari partiture aslinya kedalam bahasa Indonesia. Shalom regards,

GBU
E. Nanlohy



TRANSLATORS...

Sabtu, 05 Juli 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT KE I JULY 05,2014 : "MENGENAL BAPA SEMAWI MELALUI PUTRANYA"




PELAJARAN KE-I; 5 Juli 2014
"BAPA SURGAWI KITA YANG PENGASIH"


Sabat Petang, 28 Juni
PENDAHULUAN

Kasih sayang melebihi seorang bapak. Sebuah kutipan mengatakan, "Setiap lelaki dewasa dapat menjadi ayah, tetapi untuk menjadi seorang bapak haruslah seseorang yang istimewa." Dalam bahasa Inggris ada perbedaan makna antara sebutan father (dalam hal ini diterjemahkan sebagai "ayah") dengan dad (diterjemahkan sebagai "bapak"), di mana sapaan yang kedua lebih mencerminkan keintiman hubungan antara anak dan orangtua. Sekadar menjadi ayah hanya berjasa menyumbangkan komponen biologis dan menurunkan ciri-ciri lahiriah pada seorang anak, tetapi menjadi seorang bapak yang bertanggungjawab akan ikut menentukan corak kehidupan anak itu. Dalam bahasa dan budaya Indonesia hampir tidak ada perbedaan dalam hal sebutan ayah atau bapak (sebagian menyebut "papi" karena pengaruh budaya asing masa lalu), di mana semuanya bisa menyiratkan adanya hubungan darah maupun hubungan emosional yang akrab.

"Secara tradisi, seorang 'bapak' berarti kasih sayang, perlindungan, keamanan, penopang hidup, dan jatidiri bagi sebuah keluarga. Seorang bapak memberi nama kepada keluarga dan memelihara keutuhan anggota-anggota keluarga itu. Semua hal ini, dan banyak lagi manfaat lainnya, bisa kita nikmati bilamana kita menerima Allah sebagai Bapa surgawi kita" [alinea kedua].

Banyak kali seorang bapak berperan aktif dalam kesuksesan karir dan prestasi seorang anak, bahkan sering menjadi penentu dari keberhasilan hidup anak-anaknya. Dalam hal ini faktor kedekatan hubungan antara ayah dan anak itu merupakan kunci, sebab keintiman akan melahirkan rasa saling percaya di antara keduanya, dan pada gilirannya akan melahirkan penurutan dari pihak si anak. Namun dalam mengarungi kehidupan yang penuh tantangan dan perjuangan seringkali seorang bapak duniawi tidak mampu berbuat banyak bagi anak-anaknya karena berbagai keterbatasan, sehingga seorang anak yang beriman akan bergantung pada Bapa semawi yang kekuasan-Nya tidak terbatas dan kasih-Nya tidak pernah berubah. Karena itu memperkenalkan Bapa semawi kepada anak-anak adalah penting dan dapat menjadi warisan paling berharga dari orangtua.

"Meskipun sangat penting bagi kita untuk mengenal Bapa itu, seharusnya sasaran kita bukan sekadar pengetahuan intelektual dan teoretis. Di dalam Alkitab, mengenal seseorang berarti memiliki suatu hubungan pribadi yang intim dengan orang itu. Bukankah jauh lebih intim lagi dengan Bapa surgawi kita?" [alinea ketiga].

Minggu, 29 Juni
ALLAH SEBAGAI BAPA SEMAWI (Bapa Kami di Surga)

Bapa yang mengasihi. Walaupun Allah kerap disebut sebagai "Bapa" dalam pengertian jender, namun terdapat beberapa ayat dalam PL yang merujuk Allah sebagai "Ibu" dalam makna kasih dan pemeliharaan. Allah berkata kepada Israel, "Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau" (Yes. 49:15), dan "seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu..." (Yes. 66:13).

Adalah Yesus Kristus sendiri yang dalam pengajaran-Nya pertama kali menyebut Allah surgawi itu sebagai Bapa (Mat. 5:16, 45). Sebutan "Bapa" ini kemudian dipertegas lagi ketika Ia mengajar murid-murid-Nya berdoa, sebuah doa yang di kalangan Kristen terkenal sebagai "Doa Bapa Kami" (Mat. 6:9-13). Sapaan Bapa kepada Allah menyiratkan keintiman hubungan serta pernyataan kasih, sedangkan imbuhan "Bapa kami yang di surga" (ay. 9) adalah pengakuan akan kemuliaan dan kekudusan Allah.

"Faktanya bahwa Ia adalah Bapa kita yang mengundang kita untuk menghampiri Dia dengan keyakinan diri seorang anak. Di sisi lain, kebenaran bahwa Ia berada di surga mengingatkan kita tentang kemahakuasaan-Nya dan perlunya menyembah Dia dengan rasa hormat. Untuk menekankan salah satu dari aspek-aspek ini dengan mengorbankan yang lainnya akan membawa kita kepada suatu konsep yang menyimpang tentang Allah, dengan konsekuensi-konsekuensi yang besar pengaruhnya bagi kehidupan praktis kita sehari-hari" [alinea kedua: tiga kalimat terakhir].

Bapa yang bertanggungjawab. Seorang ayah memikul tanggungjawab terhadap anak-anaknya, sebab dialah yang telah menghadirkan anak-anak itu ke dunia ini. Tetapi, meskipun seorang bapak biologis bisa saja mengabaikan tanggungjawabnya terhadap anak-anaknya, Bapa surgawi tidak seperti itu. Rasul Paulus menulis, "Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup..." (1Kor. 8:6); "satu Allah dan Bapa dari semua..." (Ef. 4:6). Raja Daud berkata bahwa Allah itu adalah "Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus" (Mzm. 68:6).

Membandingkan antara ayah duniawi dengan Bapa semawi, Yesus mengemukakan sebuah contoh yang tegas: "Di antara kalian apakah ada ayah yang memberikan batu kepada anaknya, kalau ia minta roti? Atau memberikan ular, kalau ia minta ikan? Walaupun kalian jahat, kalian tahu juga memberikan yang baik kepada anak-anakmu. Apalagi Bapamu di surga! Ia lebih lagi akan memberikan yang baik kepada orang yang minta kepada-Nya" (Mat. 7:9-11, BIMK). Frase "apalagi Bapamu di surga" merupakan sebuah ungkapan yang menandaskan keunggulan Bapa surgawi dalam hal memenuhi permintaan anak-anak-Nya yang memohon kepada-Nya. Bukan saja karena Bapa surgawi memang lebih berkuasa dan sumberdaya-Nya tidak terbatas untuk memenuhi berbagai permintaan, tapi juga karena kasih dari Bapa semawi itu memang melebihi seorang bapak duniawi.

"Kita tahu bahwa para ayah manusiawi jauh dari sempurna, tetapi kita juga tahu bahwa kita mengasihi anak-anak kita, dan terlepas dari kekurangan-kekurangan kita berusaha untuk memberikan kepada mereka apa yang terbaik yang dapat kira berikan. Jadi, bayangkanlah apa yang Bapa kita di surga dapat lakukan untuk kita" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Allah sebagai Bapa semawi kita?
1. Sapaan "Bapa" yang Yesus Kristus gunakan terhadap Allah menunjukkan kedekatan hubungan mereka. Yesus juga ingin agar umat-Nya memanggil Allah sebagai "Bapa" supaya kita pun dapat menikmati kedekatan hubungan yang sama, dan dengan demikian kita menerima tawaran Yesus untuk menjadi saudara-saudara-Nya (Mat. 12:48-50).
2. Menghampiri Allah semesta alam sebagai seorang anak datang kepada bapaknya adalah suatu anugerah bagi seorang manusia yang hina dan berdosa. Sayangnya hanya sedikit orang yang merasakannya dan memanfaatkan kedekatan hubungan seperti itu untuk menghampiri Bapa surgawi itu.
3. Allah adalah Bapa semawi karena pada awalnya Dialah yang telah menciptakan manusia. Tetapi lebih dari itu, Yesus sendiri yang mengajar dan mendorong kita untuk menyapa Allah sebagai Bapa. Sebagai orang percaya seharusnya kita memiliki keakraban dengan Bapa surgawi melebihi keintiman kita dengan bapak duniawi.

Senin, 30 Juni
MENGENAL BAPA SEMAWI (Dinyatakan oleh Anak)

Yesus memperkenalkan Bapa. Sebagaimana telah kita pelajari sebelumnya, kedatangan Yesus Kristus yang pertama ke dunia ini membawa berbagai missi penting selain untuk mati di kayu salib selaku Penebus dosa manusia. Sebagai Putra Allah yang datang dari surga dalam ujud manusia biasa, Yesus Kristus adalah sosok yang paling berkompeten untuk memperkenalkan Bapa semawi dengan cara paling sempurna. "Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat," kata Yesus (Yoh. 5:37). Memperkenalkan Bapa-Nya adalah salah satu missi utama Kristus di dunia ini, untuk menyatakan betapa besar kasih Bapa itu kepada manusia "sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yoh. 3:16).

Adalah Bapa semawi itu sendiri yang mengatakan bahwa mengenal Diri-Nya adalah suatu hal yang paling membanggakan, melebihi kebanggaan akan kebijaksanaan (kemampuan intelektual), kekuatan (ketrampilan fisik), dan kekayaan (sumberdaya ekonomi). "Siapa mau berbangga tentang sesuatu," firman Allah, "haruslah berbangga bahwa ia mengenal dan mengerti Aku; bahwa ia tahu Aku mengasihi untuk selama-lamanya dan Aku menegakkan hukum serta keadilan di dunia" (Yer. 9:24, BIMK; huruf miring ditambahkan). Jadi, pengenalan akan kasih Allah yang abadi itulah hikmat tertinggi yang dapat diperoleh manusia. Mengapa? Sebab kesejatian sifat Allah ini sudah diselewengkan dan diputar-balikkan oleh Setan sehingga manusia memiliki konsep dan pemahaman yang keliru mengenal Bapa semawi itu.

"Dalam pertentangan besar, serangan utama Setan adalah terhadap karakter Allah. Iblis berusaha dengan segala cara untuk meyakinkan setiap orang bahwa Allah itu egois, keras, dan sewenang-wenang. Jalan terbaik untuk menghadapi tuduhan ini ialah Dia hidup di bumi ini untuk menunjukkan kepalsuan dari tuduhan-tuduhan itu. Yesus sudah datang untuk mewakili sifat dan tabiat Allah serta memperbaiki konsep menyimpang yang banyak orang kembangkan tentang Ketuhanan. 'Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya' (Yoh. 1:18)" [alinea kedua].

Kegagalan mengenal Bapa. Manusia diciptakan dengan rasa ingin tahu yang membuat anda dan saya mau mengetahui atau belajar sesuatu. Ketika Yesus memperkenalkan Bapa surgawi kepada murid-murid-Nya naluri ingin tahu itu langsung menggerakkan Filipus untuk berkata, "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami" (Yoh. 14:8). Yesus tidak menyembunyikan rasa terkejut-Nya mendengar permintaan salah seorang murid yang mewakili rekan-rekannya itu, sehingga Ia berkata, "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?" (ay. 9-10).

Yesus menyatakan tabiat Allah dalam perbuatan serta perkataan-Nya, dan Yesus merupakan penyingkapan paling sempurna tentang Bapa semawi. Melihat dan mengenal Yesus itu sama seperti melihat dan mengenal Bapa, "sebab seluruh kepribadian Allah berdiam pada Kristus, yaitu pada kemanusiaan-Nya" (Kol. 2:9, BIMK). Jadi, masalahnya bukan pada cara Yesus memperkenalkan Bapa-Nya, tetapi pada keyakinan dan sambutan kita. Itulah sebabnya Yesus menandaskan, "Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri" (Yoh. 14:11).

"Kegagalan mrid-murid mengenal Bapa melalui Yesus tidak berarti bahwa Yesus telah salah dalam menggambarkan Bapa itu. Sebaliknya, Yesus yakin bahwa Ia sudah memenuhi missi-Nya untuk menyatakam Bapa dalam cara yang lebih sempurna dari apa yang pernah disaksikan sebelumnya. Oleh karena itu, Ia dapat berkata kepada murid-murid itu: 'Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku...Barangsiapa telah melihat aku, ia telah melihat Bapa' (Yoh. 14:7, 9)" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang bagaimana Yesus menyatakan Bapa itu?
1. Salah satu missi utama Kristus datang ke dunia ini dan menjelma sebagai manusia biasa adalah untuk memperkenalkan Bapa semawi kepada manusia yang sudah berdosa, supaya kita mengenal tabiat Allah yang penuh kasih itu. Missi ini penting karena selama berabad-abad Setan sudah memutarbalikkan tabiat Allah yang sebenarnya.
2. Yesus Kristus adalah sosok yang paling berkompeten untuk memperkenalkan kesejatian karakter Allah sebab "Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa" (Yoh. 6:46). Bahkan Yesus sendiri pun menyatakan, "Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku" (Yoh. 7:29).
3. Mengenal Bapa surgawi adalah suatu kesempatan istimewa kepada anda dan saya secara pribadi, bukan sekadar pengenalan secara kognitif (pengetahuan) tetapi pengenalan secara empiris (pengalaman batin). Cara yang paling ampuh untuk sungguh-sungguh mengenal Bapa itu ialah memiliki pengalaman iman mengenai Dia.

Selasa, 1 Juli
MENGENAL TABIAT BAPA (Kasih Bapa Surgawi Kita)

Menyapa sebagai Bapak. Hampir seluruh Alkitab PL telah ditulis dalam bahasa Ibrani yang pada masa itu digunakan di seluruh wilayah Mesopotamia, sebuah bahasa yang memiliki 22 aksara yang kesemuanya adalah huruf mati atau konsonan. Hanya beberapa pasal dari kitab Ezra (4:8--6:18; 7:12-26) dan Daniel (2:4--7:28) serta satu ayat dari kitab Yeremia (10:11)--hanya sekitar 250 ayat dari 23.000 lebih keseluruhan ayat dalam PL--yang ditulis dalam bahasa Aram, yaitu bahasa kedua yang menyusul popularitas bahasa Ibrani pada zaman itu. Kata Ibrani pertama dalam PL yang diterjemahkan dengan "Allah" adalah Elohim (Kej. 1:1), sebuah istilah spesifik yang hanya ada dalam bahasa Ibrani. Joachim Jeremias, seorang pakar Kitabsuci asal Jerman, dalam penelitiannya terhadap literatur Israel purba tidak menemukan adanya kebiasaan orang Yahudi menyebut Allah dengan sapaan Bapa, sampai sesudah abad ke-10 TM di Italia. Tetapi sejak abad pertama seorang rabi Yahudi, Yesus Kristus, sudah mengajarkan murid-murid-Nya berdoa dengan menyapa Allah sebagai "Bapa."

Tentu Allah tidak keberatan kalau Diri-Nya disapa sebagai Bapa oleh umat-Nya, sebab Ia sendiri telah menganggap mereka sebagai anak-anak-Nya. Sebagaimana dinubuatkan oleh Hosea tentang Israel, "Sekarang Allah berkata kepada mereka, 'Kamu bukan umat-Ku,' tapi akan tiba saatnya Ia akan berkata kepada mereka, 'Akulah Allah yang hidup dan kamu anak-anak-Ku!'" (Hos. 1:10, BIMK). Seperti Israel, umat percaya masa kini juga bisa memiliki status yang sama. "Orang-orang yang dibimbing oleh Roh Allah, adalah anak-anak Allah. Sebab Roh, yang diberikan oleh Allah kepada kalian, tidaklah membuat kalian menjadi hamba sehingga kalian hidup di dalam ketakutan. Sebaliknya Roh Allah itu menjadikan kalian anak-anak Allah. Dan dengan kuasa Roh Allah itu kita memanggil Allah itu, 'Bapa, ya Bapaku!' Roh Allah bersama-sama dengan roh kita menyatakan bahwa kita adalah anak-anak Allah" (Rm. 8:14-16, BIMK).

"Adalah menakjubkan bahwa Allah Mahakuasa yang memerintah alam semesta yang luas sekali mau mengizinkan kita orang-orang berdosa yang malang dan tak berarti, yang hidup di sebuah planet kecil di tengah milyaran galaksi, untuk memanggil Dia Bapa. Ia mengizinkan hal itu oleh sebab Dia mengasihi kita" [alinea kedua: dua kalimat terakhir].

Anak yang terhilang. Dalam injil Lukas pasal 15 kita menemukan perumpamaan-perumpamaan Yesus yang melukiskan tentang tiga jenis orang berdosa yang kembali ke pangkuan Bapa surgawi. Mereka yang digambarkan sebagai "domba yang hilang" (ay. 4-7) adalah orang-orang berdosa yang menyadari dirinya tersesat tapi tidak dapat pulang sendiri karena belenggu dosa yang menjerat; mereka yang digambarkan sebagai "dirham yang hilang" (ay. 8-10) adalah orang-orang berdosa yang tidak menyadari keadaan mereka; sedangkan mereka yang digambarkan sebagai "anak bungsu yang hilang" (ay. 11-24) adalah orang-orang berdosa yang sadar serta menyesal akan keadaan mereka dan memutuskan untuk pulang. Bagaimana pun caranya, setiap orang berdosa yang pulang ke rumah Bapa selalu disambut dengan penuh sukacita. "Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat..." (Luk. 15:7).

Tentu bukan tanpa alasan mengapa Yesus menggambarkan kisah pertobatan anak bungsu itu dengan begitu rinci, dramatis, dan mengharukan. Jangan lupa, Yesus menyampaikan perumpamaan-perumpamaan tersebut untuk menanggapi celaan orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang bersungut-sungut melihat Dia bergaul dengan para pemungut cukai, "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka" (ay. 2). Selain itu, melalui cerita ini pula karakter Bapa surgawi dapat lebih diungkapkan. Kepada anak sulungnya yang juga menggerutu, Bapa itu berkata, "Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali" (ay. 32). Inti pekabaran dari cerita perumpamaan anak yang terhilang ialah sambutan sukacita Bapa surgawi atas bertobatnya seorang berdosa.

"Sebagian orang cenderung berpikir bahwa Bapa itu enggan mengasihi kita. Meskipun demikian, kenyataan bahwa Yesus adalah Pengantara kita tidak berarti bahwa Dia telah membujuk Bapa untuk mengasihi kita. Kristus sendiri menghilangkan gagasan yang salah ini ketika Ia berkata: 'Bapa sendiri mengasihi kamu' (Yoh. 16:27)" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang kasih Bapa surgawi kepada manusia?
1. Tradisi Yahudi sangat kaku dalam hal penyebutan nama Allah. Jadi, istilah "Bapa" dalam doa yang diajarkan Yesus itu merupakan sesuatu yang bersifat radikal dan revolusioner bagi pemikiran murid-murid sebagai orang Yahudi yang tidak biasa menyapa Allah dengan cara sedemikian akrab.
2. Sapaan "Bapa" terhadap Allah sesungguhnya didasarkan pada sikap Allah sendiri yang mau menganggap orang-orang yang menaati perintah-Nya itu sebagai anak-anak-Nya. Menyapa Allah dengan sebutan "Bapa" selain melambangkan keakraban dan kepatuhan kita, juga menunjukkan kepatuhan dan rasa hormat kita kepada-Nya.
3. Kasih Allah terlalu besar untuk membiarkan manusia yang berdosa binasa tanpa kesempatan untuk bertobat dan pulang ke pangkuan-Nya. Allah bukan mengasihi orang-orang berdosa karena Putra-Nya sudah mati bagi mereka, tapi justeru karena Allah sangat mengasihi orang berdosa maka Ia telah mengutus Putra-Nya ke dunia ini untuk mati bagi mereka.

Rabu, 2 Juli
KEPRIHATINAN BAPA (Pemeliharaan Penuh Kasih dari Bapa Surgawi Kita)

Bapa yang peduli. Mungkin jauh lebih mudah bagi seseorang yang dibesarkan oleh seorang ayah yang baik dan bertanggungjawab untuk memaknai sebutan "Bapa" terhadap Allah. Setidaknya, pengalaman disayangi bahkan dimanjakan oleh ayah kandungnya dapat memberi inspirasi positif tentang Allah sebagai Bapa. Tetapi bagaimana dengan seorang yang mempunyai pengalaman masa kecil yang pahit karena ayahnya seorang pemabuk, atau sang ayah minggat dari rumah meninggalkan anak-anaknya yang masih di bawah umur? Banyak anak-anak yang bernasib malang karena perlakuan ayah mereka yang kasar dan tidak bertanggungjawab sehingga kesan mereka tentang sosok seorang ayah jauh dari menyenangkan, kalau bukan traumatik.

"Adalah penting untuk mengetahui bahwa kita dipedulikan. Meskipun sebagian orang mungkin bersikap acuh tak acuh dan mengabaikan kita, Yesus mengajarkan bahwa Bapa surgawi kita memperhatikan kita dalam cara apa saja. Kemurahan dan kelembutan-Nya tidak bergantung pada keadaan pasang-surut yang lumrah dalam watak manusia; kasih-Nya kukuh dan tak berubah, bagaimana pun keadaannya" [alinea pertama].

Tentu saja Bapa surgawi tidak dapat dibandingkan dengan ayah biologis kita, betapa pun ayah kita itu orang yang baik. Bapa semawi itu murah hati (Luk. 6:36), suka mengampuni (Mat. 6:14; Mrk. 11:25), tahu kebutuhan kita (Mat. 6:32) bahkan sebelum kita memintanya (Mat. 6:8), dan akan memberikan apa yang baik kepada kita (Mat. 7:11). Rasul Yohanes berkata, "Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah..." (1Yoh. 3:1).

Realitas kasih Bapa. Barangkali bagian Alkitab yang paling sering dikutip untuk menguatkan orang yang lemah dan tawar hati akibat tekanan hidup adalah Matius 6:25-34. "Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?" kata Yesus (ay. 25). Kemudian Ia membandingkan manusia dengan burung-burung di angkasa dan dengan bunga bakung di padang serta rumput di ladang, lalu berkata: "Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?" (ay. 26); "tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?" (ay. 30).

"Di tengah semua kata-kata dorongan ini, kita tidak dapat mengabaikan fakta bahwa tragedi dan penderitaan sungguh menyerang kita. Bahkan dalam ayat-ayat untuk hari ini Yesus berbicara tentang bagaimana 'kesusahan sehari cukuplah untuk sehari' (Mat. 6:34), yang menyiratkan bahwa tidak semuanya akan berjalan baik bagi kita. Memang kita harus hidup di tengah kejahatan dan akibat-akibatnya yang suram. Intinya adalah, meskipun di tengah semuanya itu, kita yakin akan kasih Bapa bagi kita, kasih yang dinyatakan kepada kita dalam banyak cara, utamanya melalui Salib" [alinea ketiga: empat kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang kasih dan pemeliharaan Bapa surgawi?
1. Merasakan kasih sayang seorang ayah kandung yang baik di masa kanak-kanak adalah suatu pengalaman yang sangat menyenangkan, tetapi sebaik apapun itu tidak dapat menandingi kasih sayang Bapa surgawi. Meskipun begitu, seringkali perhatian seorang ayah kandung terhadap kita dapat mencerminkan kepedulian Bapa surgawi yang jauh lebih sempurna.
2. Bapa surgawi juga peduli dengan kekhawatiran anak-anak-Nya di dunia ini, bahkan peduli pada kekhawatiran kita terhadap hal-hal yang sepele. Tidak ada keprihatinan yang terlalu kecil untuk dapat kita sampaikan kepada-Nya. "Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada Allah, sebab Ia mempedulikanmu" (1Ptr. 5:7, BIMK).
3. Pepatah lama berkata, "Kesempitan bagi manusia adalah kesempatan bagi Allah." Kerapkali Bapa surgawi itu membiarkan anak-anak-Nya di dunia mengalami kepahitan hidup sejenak untuk menguji iman kita dan menolong kita. Sebab itu, "Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan!" (Mzm. 27:14).

Kamis, 3 Juli
TRITUNGGAL ALLAH (Bapa, Anak, dan Roh Kudus)

Memahami keilahian. Kebenaran hakiki tentang Allah tidak mesti selaras dengan logika kita, bahkan seringkali tak dapat dipahami oleh akal manusia. Banyak ajaran Alkitab yang hanya dapat diterima dengan iman, bukan dengan pikiran. Ketidakmengertian manusia bukanlah alasan yang tepat untuk menolak doktrin Kitabsuci yang "tidak rasional" menurut kemampuan berpikir kita yang terbatas. Salah satunya adalah mengenai Tiga Pribadi Keallahan yang terdiri atas Bapa, Anak, dan Roh yang semuanya membentuk keesaaan Allah.

"Dalam cara-cara yang berbeda Yesus mengajarkan dan menunjukkan bahwa tiga Pribadi ilahi merupakan Ketuhanan: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Meskipun kita tidak dapat menjelaskan kebenaran ini secara rasional, kita menerimanya oleh iman (seperti banyak kebenaran yang dinyatakan dalam Kitabsuci), dan bersama Paulus kita berusaha mencapai suatu 'pengetahuan rahasia Allah' sepenuhnya (Kol. 2:2)" [alinea pertama: dua kalimat pertama].

Mungkin sekadar perbandingan kita dapat menjelaskan tentang ketritunggalan Allah dengan ilustrasi-ilustrasi berikut ini. Kita semua hidup dalam satu dunia dengan tiga dimensi, di mana semua obyek fisik memiliki panjang, lebar, dan dalam. Tetapi Allah hidup di luar keterbatasan dari alam tiga dimensi itu, sebab Dia adalah Roh (Yoh. 4:24). Karena keadaan-Nya yang tidak terbatas maka Allah itu jauh lebih rumit dari kita manusia. Itu sebabnya Yesus Kristus, Anak Allah, berbeda dari Bapa, namun mereka berdua sama. Barangkali kalau hendak menggunakan konsep matematika maka ketritunggalan Allah itu bukan ditulis dengan rumus 1+1+1=3, melainkan 1x1x1=1. Atau dengan menggunakan rumus kimia kita dapat membandingkan ketiganya dengan air, es, dan uap yang secara fisik masing-masing berbeda wujud tetapi ketiganya sama-sama adalah H2O (dihidrogen monoksida).

Kerjasama tiga Oknum ilahi. Banyak bukti dalam Alkitab yang memberi indikasi dari keilahian yang terdiri atas tiga Oknum berbeda. Misalnya, ketika Yesus berkata kepada murid-murid, "Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku" (Mat. 10:40). Di sini Ia membedakan diri-Nya dengan "Dia" (yaitu Allah Bapa) yang mengutus-Nya. Lebih tegas lagi ketika Yesus berkata kepada murid-murid itu, "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran" (Yoh. 14:16-17; huruf miring ditambahkan). Dalam ayat ini kita menemukan tiga Oknum berbeda, yakni "Yesus" (menyebut diri-Nya "Aku" sebagai kata ganti orang pertama tunggal) yang meminta kepada "Bapa" agar mengirim "Penolong" (Roh Kebenaran) kepada murid-murid sebagai pengganti diri-Nya. Kita tahu bahwa permohonan Yesus itu dikabulkan Bapa yang mengutus Roh Kudus pada Hari Pentakosta.

"Yesus menjelaskan bahwa ada keharmonisan dan kerjasama yang sempurna antara tiga Oknum Ilahi dalam rencana keselamatan itu. Sebagaimana Anak itu memuliakan Bapa, menunjukkan kasih-Nya (Yoh. 17:4), demikian pula Roh Kudus memuliakan Anak itu, mengungkapkan kasih karunia-Nya (dan kasih) kepada dunia ini juga (Yoh. 16:14)" [alinea terakhir].

Pena inspirasi menulis: "Tiga kuasa surga yang besar berjanji untuk memperlengkapi orang Kristen dengan semua bantuan yang dia perlukan. Roh mengubah hati batu menjadi hati daging. Dan dengan mengambil bagian akan Firman Allah, orang-orang Kristen memperoleh suatu pengalaman yang seperti keserupaan ilahi. Bilamana Kristus tinggal di dalam hati oleh iman, orang Kristen itu menjadi kaabah Allah. Kristus tidak tinggal di hati orang berdosa, tetapi di hati dia yang rentan terhadap pengaruh-pengaruh surga" (Ellen G. White, Signs of the Times, 16 Agustus 1905).

Apa yang kita pelajari tentang keesaan tritunggal ilahi?
1. Yesus menandaskan bahwa "Tuhan itu esa" (Mrk. 12:29), dan rasul Paulus menegaskan bahwa "Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia" (1Tim. 2:5). Tetapi keesaan dalam hal keserasian berpikir dan tindakan tidak mengeliminasi fakta tentang adanya tiga Oknum ilahi dalam keesaan Tritunggal.
2. Tritunggal ilahi adalah doktrin Alkitab yang hanya bisa diterima oleh iman. Meskipun begitu kita memiliki petunjuk-petunjuk tentang adanya tiga Pribadi ilahi dengan peran yang berbeda dalam rencana keselamatan, maupun dalam menyediakan pemeliharaan dan perlindungan sehari-hari bagi manusia.
3. Kerjasama di antara Tritunggal ilahi terlihat dengan jelas dalam interaksi dengan manusia. Berdasarkan catatan Alkitab kita mengetahui bahwa Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh secara pribadi yang terpisah dapat berkomunikasi dengan manusia pada waktu-waktu yang berbeda, namun semuanya untuk suatu maksud dan tujuan yang sama.

Jumat, 4 Juli
PENUTUP

Bukti kasih Allah. Kesediaan Allah untuk menganggap kita sebagai anak-anak-Nya, sehingga kita dapat menyapa Dia sebagai Bapa, menyingkapkan banyak hal tentang Allah yang kita sembah itu. Kelemahlembutan, kasih sayang, kepedulian, pemeliharaan, dan kepercayaan termasuk di antara ciri-ciri tabiat Allah yang dapat kita ketahui mengenai Dia. Keakraban dan kehangatan hubungan yang tersirat dalam sebutan Allah sebagai "Bapa semawi" tentu bisa memunculkan keberanian kita untuk menghampiri takhta-Nya, dan menghilangkan keseganan kita untuk berkomunikasi dengan Dia dalam suasana intim namun takzim. Bapa surgawi adalah Allah yang kita kenal, kita kasihi, dan kita hormati.

"Allah menganggap kita sebagai anak-anak-Nya. Ia telah menebus kita dari dunia yang tidak peduli ini dan sudah memilih kita untuk menjadi anggota-anggota dari keluarga kerajaan, putra dan putri Raja surga. Ia mengundang kita supaya berharap kepada-Nya dengan kepercayaan yang lebih dalam dan lebih kuat daripada kepercayaan seorang anak terhadap bapak duniawi. Orangtua mencintai anak-anak mereka, tetapi kasih Allah lebih besar, lebih luas, dan lebih dalam daripada kemampuan kasih manusia. Tak dapat diukur" [alinea kedua].

Tapi terkadang menaruh pengharapan dan kepercayaan kepada Bapa semawi bukanlah sesuatu yang mudah diterapkan, terutama ketika penderitaan hidup dan kemalangan datang bertubi-tubi. Seringkali, bagi sebagian orang, menantikan pertolongan surga terasa lebih "memberatkan" daripada kesusahan hidup itu sendiri. Namun dalam keadaan seperti inilah justeru keakraban hubungan dengan Bapa surgawi itu dapat menjadi lebih bermakna, yaitu bilamana pandangan iman kita mampu menjangkau jauh melampaui batas cakrawala untuk membayangkan senyuman dan uluran tangan Bapa kita yang ada di surga itu.

"Semoga Tuhan kita Yesus Kristus sendiri, dan Allah Bapa kita menghibur dan menguatkan hatimu, supaya kalian dapat mengerjakan dan memberitakan apa yang baik. Sebab Allah mengasihi kita, dan karena kebaikan hati-Nya Ia membuat kita tetap tabah, serta mengharapkan yang baik" (2Tes. 2:16-17, BIMK).

(Oleh Loddy Lintong/California, 4 Juli 2014; unggahan kedua)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...