Syaloom

Selamat datang bagi pengunjung blog ini, terima kasih atas kunjungan anda pada blog ini anda dapat download lagu-lagu rohani khusus quartet (male or ladies) termasuk partitur yang kami telah sediakan.

Blog ini khusus saya buat untuk membantu teman-teman yang mempunyai hobi menyanyi lagu-lagu rohani tetapi pada saat tertentu tidak mempunyai cukup partiture. Dan sesuai dengan judulnya maka blog ini khusus dibuat untuk quartet grup vokal, apakah itu male quartet atau ladies quartet.

Banyak orang didunia ini dan hampir semua orang yang ada di jagad raya ini menyukai musik. Sebab itu saya ingin mengajak semua teman-teman yang ingin partisipasi dalam blog ini saya persilahkan untuk memberi saran dan bahan untuk memajukan grup-grup quartet. Sering kita menyanyikan sebuah lagu dengan baik dan pendengar cuma menyukai harmoninya saja tetapi pekabaran dalam lagu itu sendiri tidak didapat karena pendengar tersebut tidak mengerti bahasa yang dinyanyikan dalam lagu tersebut untuk itu melalui blog ini saya sekali lagi mengajak siapapun untuk urung rembuk agar blog ini disukai dan dapat bermafaat buat kita semua.

Untuk itu saya akan mencoba untuk mentransfer dari partiture aslinya kedalam bahasa Indonesia. Shalom regards,

GBU
E. Nanlohy



TRANSLATORS...

Jumat, 05 September 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT DEWASA KE X SEPTEMBER 06,2014: "YESUS KRISTUS DAN SEPULUH PERINTAH ALLAH"





Sabat Petang, 30 Agustus
PENDAHULUAN

Yesus meninggikan hukum Allah. Fakta bahwa Yesus meninggikan Sepuluh Perintah Allah terlihat sewaktu berbicara dengan seorang pemuda yang datang meminta petunjuk untuk mendapatkan jaminan hidup kekal. "Jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah," kata Yesus kepadanya (Mat. 19:17). Ketika pemuda itu bertanya tentang perintah-perintah yang dimaksudkan, Yesus lalu menyebut beberapa dari Sepuluh Perintah, khususnya "hukum terutama kedua" (Mat. 22:39) yang berkenaan dengan kewajiban untuk mengasihi sesama manusia.

Sekalipun hukum Allah tidak dapat menyelamatkan manusia--sehingga Paulus menyebut kebenaran melalui penurutan hukum itu adalah "sampah" jika dibandingkan dengan kebenaran Kristus (Flp. 3:7-9)--namun hukum Allah tetap berlaku sebagai standar moral yang mesti ditaati oleh manusia. Sepuluh Perintah telah diturunkan kepada manusia oleh Allah yang benar, tentu saja di dalam perintah itu terkandung kebenaran Allah yang mutlak. Meskipun manusia tidak diselamatkan oleh penurutan atas hukum-hukum itu, melainkan hanya oleh iman kepada darah Kristus (Rm. 5:1, 9; Ef. 2:8-9), kewajiban untuk menaati hukum Allah tetap mengikat. Penurutan hukum tidak menyelamatkan, tetapi orang yang sudah diselamatkan mesti menuruti hukum itu. Dengan kata lain, penurutan hukum Allah adalah konsekuensi logis dari menerima keselamatan dari Allah.

"Adalah penting untuk memahami bahwa meskipun Yesus secara terbuka mencela praktik-praktik legalistik dari kaum Farisi, Ia meninggikan Sepuluh Perintah, dan dengan jelas menegaskan keabadian dari Sepuluh Perintah itu dan menerangkan makna serta tujuannya. Kristus sendiri berkata bahwa Ia sudah datang untuk menggenapi hukum itu (Mat. 5:17). Dalam banyak hal, kematian-Nya merupakan penyataan utama dari keabsahan hukum Allah yang berkelanjutan" [alinea ketiga].

Intisari dari Khotbah di Atas Bukit yang tercatat dalam Matius pasal 5-7 sesungguhnya adalah nasihat-nasihat untuk mengamalkan Sepuluh Perintah Allah dalam kehidupan sehari-hari, dan semua itu selaras dengan maksud Allah yang termaktub dalam hukum-hukum itu. Khotbah di Atas Bukit merupakan penjabaran praktis dari isi hukum moral tersebut yang mengatur hubungan kita dengan Allah secara vertikal dan hubungan kita dengan sesama manusia secara horisontal.

Minggu, 31 Agustus
KEKEKALAN HUKUM ALLAH (Yesus Tidak Mengubah Hukum)

Hukum dan kegenapannya. Yesus berkata, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya" (Mat. 5:17). Tampaknya kalimat ini untuk menyanggah tuduhan kaum Farisi dan ahli Taurat seolah-olah Yesus menentang Hukum Musa yang waktu itu masih berlaku bagi bangsa Israel, padahal yang ditentang Yesus adalah cara mereka menerapkan hukum-hukum itu. Ketika berkata bahwa Ia datang untuk "menggenapi" hukum itu, tentu yang dimaksud adalah hukum upacara agama dalam bentuk persembahan kurban yang melambangkan Diri-Nya sebagai kurban pengganti. Kata Grika plērōsai yang diterjemahkan dengan menggenapi dalam ayat ini juga berarti memenuhi (Strong, G4137; kata yang sama digunakan pula dalam Matius 1:22; 2:15, 17, 23). Perihal kegenapan (hukum upacara agama) ini bahkan satu titik pun tak ada yang ditiadakan, "sebelum semuanya terjadi" (ay. 18).

Selanjutnya Yesus berkata, "Siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil...akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga" (ay. 19). Kalimat ini telah menimbulkan pertanyaan besar dalam benak banyak orang, apakah di surga ada "kedudukan" yang tinggi dan rendah? Bahkan, ada orang berkata biarpun hanya mendapat tempat paling rendah tidak masalah asal masuk surga. Anak kalimat basileia tōn ouranōn yang diterjemahkan dengan Kerajaan Surga di sini bisa juga berarti "perhimpunan umat Allah," dan dalam hal ini "tempat paling rendah" adalah ungkapan yang sama dengan "direndahkan." Versi lain menerjemahkan ayat ini: "Oleh karena itu, barangsiapa melanggar salah satu dari perintah-perintah itu, sekalipun yang terkecil...akan menjadi yang paling kecil di antara umat Allah. Sebaliknya, barangsiapa menjalankan perintah-perintah itu dan mengajar orang lain berbuat begitu juga, akan menjadi besar di antara umat Allah" (BIMK; huruf miring ditambahkan).

Akan halnya Sepuluh Perintah Allah, tentu tidak ada bagian yang dapat disebut "paling kecil" atau "yang terkecil" sebab kesepuluh perintah itu semuanya setara dan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, sehingga "mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya" (Yak. 2:10). "Pernyataan-Nya sangat jelas dan kemungkinan untuk menunjukkan bahwa para pemimpin agama itulah, bukan Dia, yang sedang 'merusak' hukum itu dengan mengurangi efeknya melalui tradisi mereka (baca Mat. 15:3, 6). Sebaliknya, oleh mengisinya dengan makna yang lebih dalam Kristus telah datang untuk 'menggenapi' hukum itu, sehingga memberikan kepada kita suatu teladan tentang seperti apa penurutan yang sempurna kepada kehendak Allah itu" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Hukum yang mengikat. Kita sudah pernah pelajari bahwa Hukum Taurat yang diturunkan Allah kepada manusia melalui nabi Musa di gunung Sinai itu terdiri atas tiga bagian pokok: hukum sipil (tata krama kehidupan sosial), hukum agama (tata tertib upacara keagamaan), dan hukum moral (Sepuluh Perintah). Sementara hukum-hukum itu bersifat mengikat terhadap manusia, dua hukum yang pertama diwajibkan atas bangsa Israel secara spesifik, sedangkan hukum moral diwajibkan atas seluruh umat manusia. Dalam Yudaisme, Torah (artinya: mengajar) adalah keseluruhan lima kitab Musa--Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan--yang dirangkum menjadi 613 perintah (mitzvot). Torah merupakan bagian dari Kitabsuci Ibrani yang disebut Tanakh, yaitu Perjanjian Lama yang terdapat dalam Alkitab sebagai kitabsuci umat Kristiani.

Sementara hukum sipil dan hukum upacara agama ditulis oleh Musa berdasarkan dikte Allah (Kel. 24:4), Sepuluh Perintah sebagai hukum moral itu ditulis langsung oleh jari Allah sampai dua kali setelah dua loh batu yang pertama hancur lebur dilempar oleh Musa yang marah karena bangsa Israel telah membuat patung anak lembu emas dan menyembahnya (baca Kel. 32:19 dan Kel. 34:1). Ini saja sudah menjadi bukti yang tak terbantahkan tentang kedudukan hukum moral yang lebih tinggi dibandingkan dengan dua jenis hukum lainnya yang khusus diperuntukkan bagi orang Israel. Dalam suratnya kepada orang-orang Kristen di kota Roma, jemaat yang mayoritas anggotanya berkebangsaan non-Yahudi, rasul Paulus menegaskan pentingnya memelihara Sepuluh Perintah--khususnya enam hukum bagian kedua yang mengatur tentang kasih terhadap sesama manusia--sebagai "kegenapan hukum Taurat" (Rm. 13:8-10).

"Fakta bahwa Kristus sendiri yang memberikan hukum itu kepada Musa di gunung Sinai menjadikannya bahkan lebih penting lagi bagi kita untuk memperlakukannya dengan serius. Juga, jika Pemberi hukum itu sendiri lebih jauh menjelaskannya melalui pengajaran-Nya, sebagaimana yang kita temukan dalam Injil, maka kita akan berusaha untuk menaati hukum itu. Seseorang akan sulit untuk menemukan dalam kehidupan dan pengajaran Yesus sesuatu yang menandakan bahwa Sepuluh Perintah itu tidak mengikat bagi orang-orang Kristen. Sebaliknya, perkataan dan keteladanan-Nya mengajarkan kita kebalikannya" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Yesus yang menggenapi dan bukan mengubah Hukum?
1. Yesus tidak mungkin mengubah atau menentang hukum Taurat seperti yang dituduhkan oleh kaum Farisi dan ahli Taurat, selain karena sebagai manusia biasa Dia adalah orang Yahudi yang wajib untuk tunduk pada Taurat, sebagai Mesias yang digambarkan melalui upacara persembahan kurban maka kedatangan-Nya adalah untuk "menggenapi" lambang itu.
2. Seluruh pengajaran dan pola hidup Yesus selama berada di dunia ini selaras dengan hukum Allah, tetapi Ia menentang cara-cara para pemimpin agama Yahudi yang membuat penurutan pada hukum itu menjadi beban yang berat sementara mereka sendiri tidak melaksanakannya dengan betul. Yesus anti kemunafikan.
3. Melalui pengajaran-Nya, Yesus sering menititikberatkan pada penerapan Sepuluh Perintah sebagai hukum moral, khususnya perintah-perintah yang berkaitan dengan interaksi di antara sesama manusia. Melalui kehidupan-Nya, Yesus memberi keteladanan dalam hal bagaimana menaati empat hukum pertama tentang hubungan kita dengan Allah.

Senin, 1 September
AMPLIFIKASI SEPULUH PERINTAH (Yesus Memperdalam Arti Hukum Itu)

Interpretasi hukum. Adalah menarik bahwa dalam Khotbah di Atas Bukit itu Yesus kemudian menyampaikan interpretasi hukum yang radikal atas Sepuluh Perintah, hal mana menunjukkan otoritas-Nya atas hukum-hukum itu. Yesus bukan membatalkan hukum Allah, tetapi justeru memberi penafsiran baru yang lebih mendalam. Misalnya, marah kepada orang lain dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum keenam (Mat. 5:21-22); berselingkuh di dalam hati dapat dianggap sebagai pelanggaran hukum ketujuh (ay. 27-28). Bahkan, musuh bukan untuk dibenci tetapi harus dikasihi (ay. 43-44). Perluasan makna hukum Allah ini tentu saja di luar persepsi bangsa Israel tentang Torah. Sementara orang Farisi menafsirkan hukum Allah secara dangkal dan harfiah, Yesus menekankan pada makna sesungguhnya dari hukum itu. Yesus bukannya mengubah hukum Allah, tetapi Ia mengoreksi penafsiran yang dangkal atas hukum itu.

Dalam ilmu hukum ada cara penafsiran subyektif (sesuai dengan kehendak dari pembuat undang-undang) dan penafsiran obyektif (lepas dari maksud pembuat undang-undang tapi disesuaikan dengan gaya bahasa sehari-hari) atas sebuah undang-undang. Selain itu, menyangkut dalil-dalil hukumnya, dikenal juga apa yang disebut penafsiran restriktif (dalam pengertian sempit) dan penafsiran ekstensif (dalam pengertian luas). Melihat cara Yesus memperluas arti dari beberapa hukum dalam Sepuluh Perintah itu mungkin dapat dikatakan bahwa Ia melakukan penafsiran secara subyektif dan ekstensif, yaitu memperluas arti dari bunyi hukum-hukum itu sesuai dengan apa yang dimaksudkan Allah sebagai pembuat hukum.

"Apakah Yesus mendiskreditkan hukum? Tentu tidak. Dengan lebih memperjelas dan memperluas apa yang para pemimpin agama telah persempit menjadi tidak lebih dari formalitas, Ia membandingkan ajaran-ajaran kaum Farisi dengan makna sesungguhnya dari hukum itu...Para rabi menjadikan tradisi sebagai otoritas bagi penafsiran mereka tentang hukum itu. Sebaliknya, Kristus berbicara atas otoritas-Nya sendiri sebagai Pembuat hukum itu" [alinea kedua: tiga kalimat terakhir; alinea ketiga: dua kalimat pertama].

Pandangan radikal. Sepuluh Perintah Allah bisa saja terasa sederhana dalam hal apa yang dituntutnya, tetapi jiwa dari hukum-hukum itu sesungguhnya tidak sederhana. Penurutan yang Allah kehendaki dari manusia bukan sekadar ketaatan formalitas dan harfiah, melainkan suatu ketaatan yang bersifat substantif dan komprehensif. Hukum Allah mengandung ciri-ciri yang radikal dan hitam-putih, bukan sekadar aturan-aturan yang dapat begitu saja dikompromikan sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga menjadi ketentuan dengan warna abu-abu (tidak tegas).

Sebagian orang Kristen berpendapat bahwa karena Yesus yang sudah "menggenapi" tuntutan-tuntutan hukum Allah (Mat. 5:17), dan karena kita diselamatkan "karena kasih karunia...oleh iman" (Ef. 2:8), maka seolah-olah Yesus telah menggenapi tuntutan penurutan pada hukum Allah itu demi kita yang tidak sanggup menaatinya, sehingga dengan menerima kebenaran Yesus itu kita tidak diwajibkan lagi untuk menaati Sepuluh Perintah Allah. Memang benar bahwa sebagai manusia yang dipengaruhi oleh dosa dan hidup di dunia yang berdosa kita tidak mampu menuruti semua perintah itu dengan kekuatan kita sendiri, tetapi dengan Roh Allah yang mendiami hati kita yang baru niscaya kita sanggup untuk "hidup menurut segala ketetapan" dan "tetap berpegang pada peraturan-peraturan" Allah (Yeh. 36:26-27).

"Apa yang juga menarik ialah bahwa tuntutan-tuntutan Kristus secara radikal melampaui bentuk sederhana dari hukum itu. Pengajaran-Nya mencakup semangat di balik kata-kata dari hukum itu. Semangat yang menanamkan arti dan kehidupan terhadap apa yang jika tidak demikian hanya akan menjadi formalitas belaka. Pemeliharaan hukum, pada hakikatnya, sebagai tujuan dari hukum itu sendiri, tidak menyebabkan apa-apa selain kematian jika hukum itu tidak dipahami sebagai ekspresi dari apa artinya diselamatkan oleh kasih karunia" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang ajaran Yesus perihal makna yang mendalam dari hukum Allah?
1. Fakta bahwa Yesus memperdalam makna dari Sepuluh Perintah menunjukkan bahwa hukum moral Allah itu sangat penting dan abadi. Tuntutan penurutan terhadap hukum itu tidak pernah dikurangi apalagi dihilangkan, sebaliknya malah semakin diperketat dan diperluas. Ketaatan pada hukum Allah tidak dapat ditawar atau dikompromikan.
2. Melalui kematian-Nya di kayu salib Yesus "menggenapi' apa yang digambarkan oleh lambang-lambang dalam hukum upacara agama orang Yahudi; melalui penurutannya yang sempurna Yesus "memenuhi" tuntutan-tuntutan moral dalam Sepuluh Perintah. Ajaran-Nya yang memperluas tuntutan hukum itu adalah deklarasi dari apa yang sudah dipraktikkan-Nya.
3. Penafsiran Yesus yang radikal terhadap tuntutan-tuntutan hukum moral (Sepuluh Perintah) menyingkapkan kehendak Allah sendiri dalam memahami dan menaati hukum-hukum itu. Pemeliharaan hukum Allah harus dilakukan secara sadar dan berdasarkan dorongan dari hati, bukan sekadar ketaatan yang kering dan tanpa perasaan.

Selasa, 2 September
PERZINAAN DALAM ARTI LUAS (Yesus dan Hukum Ketujuh)

Pentingnya pengendalian diri. Ada orang mengatakan bahwa perzinaan terjadi karena kombinasi dari dua faktor utama, yaitu niat dan kesempatan. Ada niat tapi tidak ada kesempatan, dan ada kesempatan tapi tidak ada niat, perzinaan tak akan terjadi. Mungkin dalam kasus-kasus tertentu kesimpulan ini berlaku, tapi dalam kasus-kasus yang lebih banyak lagi "niat" dan "kesempatan" itu hanyalah sekadar output (produk) dari fantasi palsu yang terbentuk dalam pikiran seseorang mengenai seks. Perzinaan bukan semata-mata akibat dari gejolak hasrat seksual yang tak terkendali, tapi itu adalah persepsi seseorang tentang seks dan sensasi kenikmatan yang diperkirakan dapat ditimbulkannya sehingga melahirkan niat dan tindakan. Faktanya, kesempatan itu bisa diciptakan kalau ada niat.

Yesus berkata, "Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya" (Mat. 5:28). Jadi, membayangkannya saja itu sudah berzina sekalipun tanpa tindakan fisik. Tentu saja dengan mengatakan "memandang perempuan" maka Yesus tidak bermaksud bahwa perzinaan itu monopoli kaum pria, sebab kenyataannya di kalangan kaum wanita ada juga kecenderungan untuk "menaksir" pria lewat pandangan mata. (Di zaman pasca emansipasi dan era kesetaraan jender sekarang ini, mungkin ayat ini bisa dimodifikasi menjadi "memandang perempuan ataupun laki-laki.") Untuk mengatasi "perzinaan fantasi" ini Yesus menyarankan tindakan yang radikal, "jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu" (ay. 29), dan "jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu" (ay. 30).

"Dalam ayat-ayat ini Kristus merujuk kepada dua perintah: hukum ketujuh dan kesepuluh. Sampai waktu itu, orang Israel menganggap berzina itu hanya berupa perbuatan seks secara fisik dengan pasangan orang lain. Yesus tunjukkan bahwa pada kenyataannya, karena adanya hukum kesepuluh, perzinaan bisa mencakup pemikiran dan keinginan nafsu juga...Dalam acuan-Nya untuk mencungkil mata dan memenggal tangan, Kristus secara kiasan sedang berbicara tentang pentingnya mengambil keputusan dan tindakan yang tegas untuk melindungi diri sendiri terhadap godaan dan dosa" [alinea pertama; alinea kedua: kalimat terakhir].

Zina dan cerai. Masyarakat Yahudi pada zaman Yesus terbagi dalam dua mazhab ajaran tentang hukum Taurat, yaitu antara sekolah agama yang dipimpin oleh Rabi Shammai (kelahiran Israel) yang konservatif, dengan sekolah agama pimpinan Rabi Hillel (kelahiran Babilon) yang lebih liberal. Selisih pendapat antara ajaran "Bet Shammai" dan "Bet Hillel" ini berlanjut hingga kehancuran Bait Suci pada tahun 80 TM atau sesudah reorganisasi Sanhedrin di bawah Gamaliel II, perselisihan mana menyangkut teologi, etika, dan upacara agama. Contohnya soal perceraian dalam hal suami menemukan istrinya "tidak senonoh" (Ul. 24:1), di mana Shammai mengajarkan bahwa perceraian hanya boleh terjadi karena suatu "pelanggaran serius" seperti perzinaan, sedangkan Hillel mengajarkan bahwa perceraian bisa saja dilakukan dengan alasan sangat sepele misalnya karena kesalahan sang istri yang memanggang roti sampai gosong. Perbedaan-perbedaan penafsiran Hukum Musa antara dua ajaran ini sedemikian tajam sehingga melahirkan ungkapan "satu hukum yang menjadi dua."

Ketika orang Farisi meminta pendapat Yesus mengenai soal perceraian ini, dengan mengutip Ulangan 24:1, mereka bertanya seperti ini: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?" (Mat. 19:3). Jelas sekali bahwa pertanyaan ini mengacu kepada ajaran Hillel, sehingga Matius mencatatnya sebagai pertanyaan "untuk mencobai Dia." Terhadap pertanyaan jebakan itu Yesus kemudian menanggapi dengan sebuah pernyataan yang tegas: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zina" (ay. 8-9).

"Orang-orang Farisi itu mencoba menjebak Yesus untuk memihak kepada salah satu sekolah agama. Namun, mereka mengabaikan fakta bahwa bukan itulah rencana Allah semula kalaupun ada yang ingin bercerai, itulah sebabnya Yesus berkata: 'apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia' (Mat. 19:6). Belakangan, karena 'kekerasan' hati mereka, mereka bertanya mengapa Allah telah mengizinkan seorang lelaki memberikan kepada istrinya 'surat cerai' jika dia menemukan sesuatu yang 'tidak senonoh padanya' (Ul. 24:1). Kristus mengoreksi penyalahgunaan ayat ini dengan mengangkat kekudusan dan kelestarian perkawinan: di hadapan Allah, satu-satunya alasan untuk perceraian ialah 'pelanggaran susila' atau 'perbuatan zina' (dalam bahasa Grika, porneia, yang secara harfiah adalah 'perbuatan tidak bermoral')" [alinea terakhir: empat kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang pandangan Yesus terhadap hukum ketujuh?
1. Yesus pernah berkata, "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat...perzinaan, percabulan..." (Mat. 15:19). Jadi, bukan soal apa atau siapa yang anda lihat, tetapi apa yang timbul di benak anda dan saya ketika memandang seseorang. Pikiran mesum sangat mudah "klik" dengan pemandangan yang menarik, apalagi menggoda.
2. Perzinaan (hukum ketujuh) erat hubungannya dengan keinginan (hukum kesepuluh). Dalam pikiran di mana sudah terbangun berbagai keinginan dan hasrat, tindakan secara fisik hanya soal waktu. Cara menghindari godaan untuk berzina yang paling jitu bukan dengan menutup mata rapat-rapat, tapi dengan mengendalikan pikiran.
3. Berdasarkan Alkitab, bercerai itu sama dengan berzina, kecuali karena alasan perzinaan itu sendiri. Tetapi dalam kondisi-kondisi tertentu seringkali perceraian menjadi satu-satunya "jalan keluar" yang terbaik dari yang terburuk. Sebaliknya, terkadang masalah perzinaan justru dapat diselesaikan tanpa harus bercerai.

Rabu, 3 September
ANTARA HUKUM DAN TRADISI (Yesus dan Hukum Kelima)

Tradisi akal-akalan. Tradisi membasuh tangan sebelum makan sesungguhnya adalah suatu kebiasaan yang baik demi kesehatan, meskipun hal itu tidak diatur dalam hukum Musa tetapi sebagai ajaran leluhur Israel yang diajarkan secara turun-temurun. Yesus tidak menentang tradisi higienis tersebut, tetapi yang ditentang-Nya ialah sikap kemunafikan kaum Farisi dan ahli Taurat yang mengutamakan tradisi orangtua di atas perintah Tuhan. Ketika mereka mencela murid-murid yang makan tanpa membasuh tangan lebih dulu, dan dengan demikian melanggar tradisi leluhur, Yesus menanggapinya dengan balik bertanya: "Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?" (Mat. 15:3).

Peristiwa tersebut dicatat oleh injil Markus dengan menyebutkan tentang "tradisi korban" sebagai cara mereka lari dari tanggungjawab untuk memelihara orangtua mereka. "Korban" berasal dari kosakata bahasa Grika (Yunani purba)--artinya "persembahan kepada Allah" atau juga "perbendaharaan kudus"--yang dalam PB hanya digunakan oleh injil Markus (7:11). Istilah ini kemungkinan dipungut dari bahasa Ibrani qurban, artinya "persembahan khusus" yang lazim diberikan kepada Tuhan. Sementara dalam hukum Musa setiap anak laki-laki diwajibkan untuk menopang hidup orangtuanya, anak-anak yang tamak dan pelit menggunakan tradisi "korban" untuk menghindari kewajiban tersebut walaupun kenyataannya hanya sebagian kecil atau bahkan tidak ada sama sekali harta yang dipersembahkan kepada Tuhan sesuai sumpah mereka. Tampaknya Yesus tahu persis tindakan akal-akalan ini dan menggunakannya sebagai serangan balasan terhadap orang Farisi dan ahli Taurat itu. Fakta bahwa mereka tidak membantahnya membuktikan kebenaran dari tudingan Yesus itu.

"Tampaknya seolah-olah kaum Farisi itu sudah menemukan alasan yang sempurna untuk menolak hak orangtua mendapatkan sokongan. Mereka telah memperluas prinsip-prinsip baku yang terdapat dalam kitab Taurat dan mengubahnya menjadi perintah-perintah buatan manusia yang dalam pemikiran para pemimpin mereka itu dapat menggantikan salah satu dari perintah-perintah Allah" [alinea ketiga: dua kalimat pertama].

Lain di bibir, lain di hati. Dalam berbagai kesempatan Yesus berkali-kali mencela sikap mendua dari kaum Farisi dan ahli Taurat, khususnya dalam memenuhi satu kewajiban tetapi mengabaikan yang lain. Misalnya tekun membayar persepuluhan tetapi mengabaikan tuntutan yang lebih penting lagi dari itu, yakni keadilan dan kasih terhadap sesama manusia. "Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan," kata Yesus (Luk. 11:42). Namun, kemunafikan dan sikap mendua seperti itu sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah bangsa Israel.

Yesus kemudian menegur mereka dengan keras, "Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia" (Mat. 15:7-9). Yesus mengutip perkataan nabi Yesaya yang berbunyi: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan..." (Yes. 29:13). Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya, sebagaimana leluhur mereka yang suka bersikap lain di bibir dan lain di hati, demikianlah keturunan mereka setelah tujuh abad kemudian!

Pena inspirasi menulis: "Banyak dari tradisi-tradisi Yahudi yang sangat sepele dan tidak berharga sebagai suatu tabiat yang merendahkan keseluruhan agama mereka, dan tradisi-tradisi ini diturunkan dari generasi kepada generasi serta dianggap oleh banyak orang sebagai firman Allah. Pendapat-pendapat manusia yang terus-menerus menjadi lebih bodoh dan tidak konsisten, telah ditempatkan sejajar dengan hukum moral, sampai pada kedatangan Kristus yang pertama ketika doktrin yang murni menggantikan gagasan-gagasan palsu...Kristus tidak menaruh perhatian pada pendapat-pendapat manusia, karena Ia berharap melalui keteladanan-Nya akan menarik satu garis antara teori-teori manusia dengan tuntutan-tuntutan Allah yang suci" (Ellen G. White, Signs of the Times, 3 Januari 1900).

Apa yang kita pelajari tentang sikap Yesus terhadap hukum moral Allah dengan tradisi buatan manusia?
1. Mentradisikan agama, bukan mengagamakan tradisi. Inilah sikap yang patut dipelihara oleh orang-orang yang taat beragama, meninggikan perintah Allah di atas tradisi manusia. Pada masyarakat yang tradisi-budayanya sangat kental dan kuat, pemisahan antara tradisi leluhur dan agama bisa menjadi tantangan yang tidak ringan.
2. Sangat mudah bagi seseorang untuk taat pada sebagian doktrin agama tapi tidak setia pada doktrin agama yang lain, sehingga pada satu segi dia kelihatan sangat saleh tapi di segi yang lain tampak sangat kompromistis. Pesan Yesus adalah: Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan!
3. Ciri keberagamaan yang benar adalah konsisten terhadap setiap doktrin yang berpatokan pada perintah Allah yang benar. Seorang yang taat beragama tidak akan mudah "diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan" (Ef. 4:14).

Kamis, 4 September
HUKUM TIDAK MENYELAMATKAN (Yesus dan Esensi Hukum)

Kasih, intisari hukum. Hukum Allah, khususnya Sepuluh Perintah, tidak dirancang untuk menyelamatkan manusia berdosa; hukum dirancang untuk menyatakan keberdosaan manusia (Rm. 3:20; 7:7). Meskipun hukum tidak dapat menyelamatkan, hukum itu mempunyai peran yang berkaitan langsung dengan keselamatan. Oleh menyadari keadaan kita yang berdosa seperti dinyatakan oleh hukum itu, kita merasakan perlunya janji keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus sebagai Pengantara kita (Gal. 3:19-24).

Orang muda kaya yang datang kepada Yesus ingin memastikan bahwa penurutan hukum yang dilakukannya selama ini sudah cukup untuk menjamin keselamatannya. "Jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah," kata Yesus kepadanya (Mat. 19:17). Kita dapat merasakan kegirangannya mendengar perkataan Yesus itu ketika dia menimpali, "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" (ay. 20). Penurutan hukum Allah secara harfiah itu penting, tapi lebih penting lagi adalah menghayati intisari dari Sepuluh Perintah itu, yakni kasih. "Jikalau engkau hendak sempurna," kata Yesus lagi, "pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku" (ay. 21; huruf miring ditambahkan). Sayangnya, pemuda kaya itu tidak siap untuk melepaskan harta duniawi demi mendapatkan harta surgawi dengan menjadi pengikut Kristus.

"Orang muda kaya itu tidak dapat memahami bahwa keselamatan dari dosa bukan hasil dari penurutan hukum, betapapun ketatnya. Gantinya, keselamatan datang dari Pemberi Hukum itu, sang Juruselamat. Orang Israel sudah mengetahui kebenaran ini sejak mulanya, tetapi mereka telah melupakannya. Kini Yesus mengetengahkan apa yang mereka seharusnya perhatikan dari permulaan: bahwa penurutan dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah begitu menyatu sehingga melakukan yang satu tanpa yang lain hanya menjadikan suatu kehidupan Kristiani yang berpura-pura" [alinea pertama: empat kalimat pertama].

Hukum yang terpenting. Ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus tentu seorang yang cerdas, itulah sebabnya dia dipilih untuk mewakili teman-temannya (Mat. 22:34-35). Mereka didorong oleh rasa penasaran karena Yesus baru saja membungkam orang-orang Saduki, sebuah sekte Yahudi yang tidak percaya adanya malaikat dan kebangkitan, serta ingin untuk membuktikan diri lebih piawai dalam soal pengetahuan hukum ketimbang kaum Saduki itu. "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" tanya ahli hukum itu (ay. 36). Tentu saja ini bukan pertanyaan yang didasarkan pada rasa ingin tahu atau mau belajar, tapi hendak menjebak. Mungkin para ahli Taurat itu memang memiliki kebiasaan untuk memilah-milah hukum dan mengkategorikannya, berdasarkan pendapat mereka sendiri, tentang mana hukum yang penting dan kurang penting. Sedangkan Yesus selaku Pembuat hukum itu memiliki konsep bahwa semua hukum adalah penting.

Yesus menjawab ahli Taurat itu dengan menghadapkan kepadanya intisari dari Sepuluh Perintah, yaitu kasih, secara vertikal kepada Allah dan secara horisontal kepada sesama manusia. "Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi," tandas-Nya (ay. 40). Tanggapan ahli Taurat terhadap jawaban Yesus tersebut justru membuat kita terperanjat. "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu," sahutnya. "Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua kurban bakaran dan kurban sembelihan" (Mrk. 12:32-33). Gantinya menemukan kesalahan, dia malah menemukan kebenaran dari Yesus. "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" kata Yesus kepadanya, dan sejak itu tak ada lagi orang yang berani menanyakan sesuatu kepada-Nya (ay. 34).

"Yesus menjawab dengan cara yang lebih ahli: pertama, dan yang paling penting, harus ada kasih di dalam hati sebelum seseorang bisa mulai memelihara hukum Allah. Penurutan tanpa kasih itu mustahil dan tak berarti. Namun, di mana ada kasih sejati kepada Allah, seseorang secara tanpa syarat akan menempatkan hidupnya selaras dengan kehendak Allah sebagaimana dinyatakan dalam keseluruhan Sepuluh Perintah-Nya itu. Itulah sebabnya di kemudian hari Yesus berkata: 'Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku' (Yoh. 14:15)" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang intisari Hukum Allah menurut Yesus?
1. Penurutan hukum Allah tidak dapat menghasilkan keselamatan, tetapi penurutan hukum itu adalah "bukti" bahwa seseorang sudah memiliki keselamatan. Intisari dari Sepuluh Perintah sebagai hukum moral Allah adalah kasih, maka penurutan hukum yang lebih bermakna ditunjukkan dengan perbuatan kasih.
2. Keselamatan adalah ikhtiar Allah berdasarkan kasih-Nya pada manusia, maka kita pun harus menyambutnya dengan kasih. Keselamatan adalah tindakan pengorbanan Kristus bagi manusia, maka kita pun harus menerimanya dengan pengorbanan. Penurutan hukum Allah harus didasarkan pada rasa kasih dan sikap untuk berkorban.
3. Hukum Allah, yaitu Sepuluh Perintah, mengandung tujuan rangkap tiga. Pertama, untuk menjadi sebagai cermin tentang keadaan kita; kedua, untuk membuat kita menahan diri dari berbuat kejahatan; ketiga, untuk menuntun kita melakukan kehendak Allah. Allah mengasihi kita dengan menyelamatkan kita; kita mengasihi Allah dengan menaati hukum-Nya.

Jumat, 5 September
PENUTUP

Teladan ketaatan Yesus. Kembali kepada pernyataan Yesus, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya" (Mat. 5:17; huruf miring ditambahkan). Kata "menggenapi" dalam ayat ini menempatkan Yesus sebagai obyek dari nubuatan tentang Mesias dalam Perjanjian Lama. Injil Matius memang sarat dengan pembuktian dari ketepatan nubuatan-nubuatan para nabi mengenai Yesus Kristus (Mat. 1:22; 2:5, 15, 17, 23; 4:14; 8:17; dan lain-lain.)

Tatkala Yesus datang kepada Yohanes Pembaptis di sungai Yordan minta dibaptis, saudara sepupu-Nya itu sempat menolak. "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?" sang pembaptis itu menampik (Mat. 3:14). Tetapi Yesus berkata kepadanya, "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah" (ay. 15, huruf miring ditambahkan; kata yang diterjemahkan dengan "menggenapkan" dalam ayat ini berasal dari kata Grika yang sama seperti yang digunakan dalam Matius 5:17). Dalam hal ini Yesus perlu dibaptis bukan sebagai tanda pertobatan dari dosa seperti halnya baptisan bagi anda dan saya, tetapi dengan menjalani baptisan menurut kehendak Allah itu maka Yesus menempatkan diri-Nya pada posisi yang sama dengan kita manusia berdosa.

"Misi-Nya ialah, 'Ia ingin hukum-Nya dihormati dan diagungkan.' Yes. 42:21, BIMK. Dia harus menunjukkan sifat rohani dari hukum itu, menyampaikan prinsip-prinsipnya yang luas jangkauannya, dan memperjelas kewajibannya yang abadi...Yesus, ujud nyata dari pribadi Bapa itu, kemilau cahaya kemuliaan-Nya; Penebus yang menyangkal diri itu, sepanjang perjalanan hidup-Nya yang penuh kasih di atas dunia ini adalah suatu gambaran yang hidup tentang sifat dari hukum Allah. Dalam hidup-Nya telah dinyatakan bahwa kasih yang lahir di surga, prinsip-prinsip keserupaan dengan Kristus, mendasari hukum-hukum kejujuran yang abadi" [empat kalimat terakhir].

"Orang yang meremehkan ajaran Tuhan, mencelakakan dirinya; orang yang taat kepada hukum Allah akan mendapat upahnya...Jika engkau tidak menaati hukum Allah, Allah pun akan merasa muak terhadap doamu" (Ams. 13:13; 28:9, BIMK).

(Oleh Loddy Lintong/California, 3 September 2014)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...