Syaloom

Selamat datang bagi pengunjung blog ini, terima kasih atas kunjungan anda pada blog ini anda dapat download lagu-lagu rohani khusus quartet (male or ladies) termasuk partitur yang kami telah sediakan.

Blog ini khusus saya buat untuk membantu teman-teman yang mempunyai hobi menyanyi lagu-lagu rohani tetapi pada saat tertentu tidak mempunyai cukup partiture. Dan sesuai dengan judulnya maka blog ini khusus dibuat untuk quartet grup vokal, apakah itu male quartet atau ladies quartet.

Banyak orang didunia ini dan hampir semua orang yang ada di jagad raya ini menyukai musik. Sebab itu saya ingin mengajak semua teman-teman yang ingin partisipasi dalam blog ini saya persilahkan untuk memberi saran dan bahan untuk memajukan grup-grup quartet. Sering kita menyanyikan sebuah lagu dengan baik dan pendengar cuma menyukai harmoninya saja tetapi pekabaran dalam lagu itu sendiri tidak didapat karena pendengar tersebut tidak mengerti bahasa yang dinyanyikan dalam lagu tersebut untuk itu melalui blog ini saya sekali lagi mengajak siapapun untuk urung rembuk agar blog ini disukai dan dapat bermafaat buat kita semua.

Untuk itu saya akan mencoba untuk mentransfer dari partiture aslinya kedalam bahasa Indonesia. Shalom regards,

GBU
E. Nanlohy



TRANSLATORS...

Jumat, 19 September 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT KE XII SEPTEMBER 20,2014: "KETIKA MAUT AKHIRNYA DITAKLUKKAN"




PELAJARAN KE-XII; 20 September 2014
"KEMATIAN DAN KEBANGKITAN"


Sabat Petang, 13 September
PENDAHULUAN

Diciptakan untuk hidup. Seorang seniman dan penulis kontemporer asal Jepang, Haruki Murakami, dalam kumpulan cerita pendeknya bertajuk "Blind Willow, Sleeping Woman" menulis: "Kematian bukan lawan dari kehidupan, tapi kematian adalah bagian dari kehidupan." Alasannya, karena kematian adalah keadaan yang tak dapat dihindari maka lebih baik kematian itu diterima sebagai kenyataan hidup. Tetapi dia salah, sebab pada awalnya manusia diciptakan untuk hidup, bukan untuk mati. Kematian adalah sebuah "kecelakan sejarah" dalam riwayat manusia karena hal itu tidak pernah direncanakan oleh Sang Pencipta.

Selama hidup-Nya di atas bumi ini Yesus beberapa kali berhadapan dengan urusan kematian manusia, dan Ia selalu merasa iba terhadap nasib manusia yang ditimpa kematian. Yesus bukan saja menghibur dengan kata-kata, "Jangan menangis" (Luk. 7:13) atau "Jangan takut" (Mrk. 5:36), tetapi Ia juga bertindak atas kematian dengan membangkitkan orang-orang yang sudah mati itu. "Talita kum," (dalam bahasa Aram artinya: Anak perempuan) kata Yesus kepada anak Yairus, kepala rumah ibadah itu, "Aku berkata kepadamu, bangkitlah!" (ay. 41). Seketika itu juga gadis remaja itu bangun berdiri lalu berjalan (ay. 42). Yesus merasakan kedukaan manusia akibat kematian, dan Yesus ikut menangis bersama keluarga Lazarus yang sedang berduka (Yoh. 11:35).

"Tetapi Kristus melakukan lebih jauh dari sekadar menangis. Setelah menaklukkan maut dengan kematian dan kebangkitan-Nya sendiri, Ia memegang kunci maut itu, dan Ia berjanji untuk membangkitkan setiap orang yang percaya pada-Nya kepada hidup yang kekal. Hal ini merupakan janji terbesar yang telah diberikan kepada kita dalam firman Allah; kalau tidak, jika kematian yang menentukan, seluruh hidup kita dan segala sesuatu yang pernah kita capai akan menjadi sia-sia" [alinea terakhir].

Hidup manusia memang sering hanya selangkah dari maut, tetapi kematian bukanlah akhir dari kehidupan orang-orang percaya. Kematian mungkin bisa terjadi kapan saja atas umat Tuhan selagi hidup di dunia ini, tetapi kematian itu hanyalah akhir dari sebuah kehidupan yang fana dan bukan akhir dari segalanya. Kematian hanya mengakhiri hidup sementara, tetapi tidak mengakhiri hubungan kita yang abadi dengan Kristus, Sumber kehidupan kita.

Minggu, 14 September
KEMATIAN DALAM PERSPEKTIF ALKITAB (Keadaan Orang Mati)

Definisi tentang mati. Kematian adalah fenomena menarik yang telah menjadi pembahasan selama berabad-abad. Manusia berusaha untuk mencoba memahami arti dari kematian, baik melalui pendekatan agama maupun falsafah. Menentukan bahwa seseorang sudah mati juga adalah hal yang tak kalah menarik, baik ditinjau dari segi kedokteran, hukum, dan agama. Pada zaman dulu definisi tentang mati cukup ditentukan berdasarkan pengamatan fisik, yaitu bilamana fungsi pernafasan dan denyut jantung berhenti. Ketika teknologi kedokteran bertambah maju dan kita memasuki era gawat darurat medis maka definisi kematian pun berubah, yaitu apabila batak otak dinyatakan berhenti berfungsi secara permanen. Sebab dengan ketersediaan alat-alat kedokteran penunjang kehidupan (medical life support) yang terpasang ke tubuh, termasuk alat infus dan perangkat medis untuk menjalankan fungsi sirkulasi dan respirasi, seorang pasien bisa saja kelihatan tetap bernafas meskipun secara klinis sudah mati.

Kematian secara klinis berarti mati total dan permanen yang berbeda dari kondisi mati suri seperti konon dialami oleh sebagian orang. Mati suri adalah keadaan di mana seseorang berada dalam keadaan tidak sadarkan diri akibat suatu penyakit dan sedang dalam upaya penyembuhan atau menghidupkannya kembali secara normal. Banyak pengalaman misterius telah dibeberkan orang-orang yang pernah mengalami mati suri, suatu keadaan di mana seseorang memasuki suasana "lorong waktu" ketika dia mengalami apa yang disebut pengalaman hampir mati (NDE=near-death experience) dan pengalaman berkelana di luar jasad (OBE=out-of-body experience), seperti menyaksikan suatu pemandangan sangat indah serta gemerlapan oleh cahaya terang benderang dari alam yang asing. Hal ini bisa terjadi karena meski secara fisik tidak merasakan apa-apa tapi otaknya masih "bekerja" seperti saat sedang tidur pulas. Tetapi kematian yang kita maksudkan ialah mati secara keseluruhan--jasmani, pikirani, dan rohani.

Dalam Alkitab kita menemukan beberapa ayat yang berhubungan dengan kematian dan keadaan orang mati. Pemazmur mengatakan, di alam maut orang tidak ingat akan Tuhan atau bersyukur kepada-Nya (Mzm. 6:6); orang mati tidak dapat memuji Tuhan (115:17), sebab "apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya" (146:4). Nabi Yesaya juga menyatakan bahwa orang mati tidak dapat mengucap syukur kepada Tuhan (Yes. 38:18), karena "orang yang mati tak tahu apa-apa" (Pkh. 9:5). "Kematian adalah akhir kehidupan secara total. Kematian adalah keadaan tidak sadarkan diri di mana tidak ada pemikiran, emosi, perbuatan, atau hubungan dalam bentuk apapun" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Mati sebagai tidur. Peristiwa kematian dan kebangkitan Lazarus mengungkapkan konsep alkitabiah tentang keadaan orang mati. Yesus sudah diberitahu tentang kondisi Lazarus yang sedang sakit parah, tapi Ia masih tinggal dua hari lagi sebelum datang ke Betania di mana keluarga itu tinggal. "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan...Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya," kata Yesus (Yoh. 11:4, 11; huruf miring ditambahkan). Empat hari kemudian Yesus muncul dan membangkitkan saudara laki-laki Maria dan Marta itu, dan sesudah "bangun" dari kematiannya Lazarus tidak bercerita tentang pengalamannya masuk surga ataupun neraka. Ini membuktikan bahwa orang mati tetap berada di kuburnya, baik itu orang baik atau orang jahat, menunggu hari kebangkitan nanti.

Tatkala menciptakan pasangan manusia yang pertama Allah mengambil debu tanah untuk membentuk rancang bangun mereka secara fisik, ketika akibat dosa manusia harus mati maka kita kembali kepada debu. "Debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya" (Pkh. 12:7). Sewaktu berbicara di hadapan orang banyak di Yerusalem pada Hari Pentakosta, rasul Petrus berkata: "Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini...sebab bukan Daud yang naik ke surga..." (Kis. 2:29, 34).

Banyak orang Kristen mengira bahwa jiwa dalam diri kita adalah suatu bagian terpisah yang terus hidup meskipun orangnya sudah meninggal dunia. Tetapi Alkitab mengatakan bahwa ketika Allah selesai membentuk raga manusia pertama dari debu tanah Ia hanya "menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kej. 2:7). Jadi, Allah tidak memasukkan jiwa ke dalam manusia tetapi hanya menghembuskan nafas. Kalau jiwa adalah bagian yang terpisah yang terus hidup sesudah kita mati, itu artinya kita tidak bisa mati karena memiliki keadaan kekekalan dalam diri kita. Namun manusia tidak mempunyai sifat kekal dan hanya Allah "satu-satunya yang tidak takluk kepada maut" (1Tim. 6:16). Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa yang membalas setiap orang menurut perbuatannya akan memberikan "hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik" (Rm. 2:6-7). Kalau manusia memiliki jiwa yang kekal dalam dirinya, untuk apa Allah memberikan kekekalan itu lagi.

Apa yang kita pelajari tentang keadaan orang mati menurut Alkitab?
1. Kematian adalah suatu keadaan di mana seorang manusia kehilangan segala bentuk kehidupan apapun dalam tubuhnya. Ketika seseorang mati dan jasadnya dikebumikan, tidak ada entitas apapun dari dirinya yang terus hidup bergentayangan di luar kubur. Orang mati tidak berpindah dari alam nyata ke "alam baka" seperti sering disebutkan.
2. Bukti-bukti alkitabiah menunjukkan bahwa orang mati tidak pergi ke mana-mana, tetapi tetap berada di dalam kubur di mana jasadnya dikebumikan. Tubuh manusia berasal dari debu tanah, pada waktu dia mati tubuhnya akan mulai membusuk dan jaringan-jaringan jasadnya terurai dan kembali ke tanah.
3. Manusia tidak diciptakan Allah sebagai makhluk abadi atau memiliki unsur-unsur kekekalan dalam dirinya yang mampu bertahan hidup untuk selamanya walaupun jasadnya hancur lebur dan kembali bersenyawa dengan tanah. Kalau manusia mempunyai jiwa yang baka maka alam maut tidak mungkin berkuasa atasnya meskipun dia berdosa.

Senin, 15 September
KEHIDUPAN DIPULIHKAN (Pengharapan Kebangkitan)

Mati karena dosa. Pada mulanya manusia diciptakan untuk menikmati kehidupan yang lestari, demikian juga dengan ciptaan-ciptaan lainnya seperti hewan, unggas, dan tumbuhan yang memenuhi bumi ini. Namun keabadian itu bersyarat, bukan sesuatu yang secara alamiah tertanam atau menjadi bagian dari manusia serta semua ciptaan lainnya. Setelah menciptakan Adam dan menempatkan dia di rumah alami bernama Taman Eden, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya pastilah engkau mati" (Kej. 2:16-17; huruf miring ditambahkan). Jadi, kematian adalah akibat dari pelanggaran terhadap perintah Allah. Paulus menyimpulkannya secara tepat, "Sebab upah dosa ialah maut..." (Rm. 6:23).

Manusia pertama itu telah diciptakan "menurut rupa Allah" (Kej. 5:1), tetapi bukan dengan sifat kekekalan seperti Allah. Ketika Allah menghembuskan nafas ke lubang hidung Adam, "demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kej. 2:7). Alkitab tidak mencatat apakah Hawa juga menjadi makhluk hidup dengan cara yang sama, tapi yang pasti fisik perempuan itu dibuat dengan sebagian bahannya adalah tulang rusuk dari suaminya (ay. 22). Pada saat nenek moyang pertama manusia itu berdosa karena melanggar perintah Allah dengan memakan buah larangan itu, kematian hanya soal waktu. Kematian pasangan itu sudah ditentukan "by default" (secara alamiah, menurut hukum yang berlaku) pada hari mereka memakan buah larangan itu, tetapi hanya oleh kebaikan Tuhan dan hikmat-Nya yang tak terduga maka Adam bisa hidup sampai berumur 930 tahun, "lalu ia mati" (Kej. 5:5).

Jadi dapat dikatakan bahwa kematian manusia sebenarnya terjadi karena berlakunya hukum alam, sesuai dengan apa yang ditentukan Allah, yaitu sejak nenek moyang pertama kita memakan buah dari "pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat" itu. Bukan karena buah pohon itu mengandung racun yang mematikan, tetapi akibat perbuatan yang mematikan dari manusia itu sendiri. "Ini bukan sebuah keputusan sewenang-wenang dari Allah; itu adalag konsekuensi yang tak terelakkan dari dosa. Tetapi kabar baiknya adalah, melalui Kristus ada pengharapan, sekalipun dalam kematian" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Hidup oleh kasih karunia. Alkitab telah menjelaskan bahwa kematian adalah akibat dari dosa, dan dosa yang mendatangkan kematian itu berasal dari Adam lalu menurun ke seluruh keturunannya. "Sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa" (Rm. 5:12). Jadi, sama seperti Adam sudah berdosa dan mati, demikianlah kita semua pun sudah berdosa dan akan mati. Namun, Allah dalam kasih-Nya telah melakukan intervensi untuk mengubah kondisi ini sehingga kehidupan bisa dipulihkan. "Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus" (ay. 15).

Ujud dari kasih karunia Allah ialah Yesus Kristus, yaitu "jalan dan kebenaran dan hidup" (Yoh. 14:6). Yesus adalah "Firman" melalui siapa Allah menciptakan manusia dan segala ciptaan lainnya, dan "dalam Dia ada hidup" (Yoh. 1:1, 4). Kitabsuci mengungkapkan bahwa Allah menciptakan segalanya--kecuali manusia--hanya dengan cara "Berfirman" (Kej. 1:3, 6, 9, 11, 14, dst), dan bahwa Yesus Kristus adalah "Firman," itulah sebabnya Yohanes menyatakan bahwa "segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan" (Yoh. 1:3). Sebagai Anak Allah, Yesus bukan saja memiliki kuasa untuk menciptakan tapi di dalam diri-Nya juga ada sumber kehidupan, sehingga "sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya" (Yoh. 5:21).

Kuasa Yesus untuk memulihkan kehidupan terhadap orang yang sudah mati beberapa kali ditunjukkan-Nya semasa hidup di dunia ini, antara lain atas anak perempuan Yairus. Waktu Yesus meminta agar perkabungan itu jangan menangis karena gadis cilik itu bukan mati tapi hanya tidur, orang banyak yang sedang terisak-isak itupun serentak tertawa, bukan karena bersuka tapi mengejek (Luk. 8:52-53). Bayangkan itu! Lalu Yesus mendemonstrasikan kuasa-Nya untuk menghidupkan dengan cara mengembalikan nafas anak itu (ay. 55). "Menurut Alkitab, kebangkitan adalah kebalikan dari kematian. Kehidupan dipulihkan ketika nafas hidup datang kembali dari Allah. Demikianlah caranya Lukas menjelaskan kebangkitan anak perempuan Yairus...Atas perintah ilahi Yesus, asas kehidupan yang ditanamkan Allah kembali kepada anak gadis itu. Kata Grika yang Lukas gunakan, yaitu pneuma, artinya 'angin,' nafas,' atau 'roh.' Ketika Alkitab menggunakannya dalam kaitan dengan manusia, tidak pernah hal itu berarti suatu ujud kesadaran yang sanggup hadir terpisah dari tubuh. Dalam ayat ini jelas mengacu kepada nafas hidup" [alinea terakhir: tiga kalimat pertama dan empat kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang pengharapan kita akan kebangkitan dalam Yesus?
1. Kematian adalah konsekuensi logis dari pilihan manusia pertama yang tidak logis. Adam yang paling bertanggungjawab dalam hal pelanggaran perintah Allah memakan buah larangan itu sebab Allah sendiri sudah menyatakan kepadanya, bukan kepada Hawa yang baru diciptakan belakangan (baca dengan cermat Kej. 2:15-23).
2. Meskipun dosa itu mematikan, manusia tidak akan punah karena kematian. Kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus, melalui siapa Allah telah menciptakan manusia, adalah solusi terhadap kematian. Allah yang dipercaya oleh Abraham itu adalah "Allah yang menghidupkan orang mati...yang dengan berkata saja membuat apa yang tidak pernah ada menjadi ada" (Rm. 4:17, BIMK).
3. Kehidupan selalu bersumber dari Allah, tidak pernah berasal dari dunia ini. Secara fisik Adam hanyalah debu tanah yang mati, dia baru menjadi manusia yang hidup setelah Allah menghembuskan nafas-Nya sendiri kepada tubuh Adam. Manusia akan dibangkitkan dari kematian ketika Allah, melalui Yesus Kristus, mengembalikan nafas itu.

Selasa, 16 September
DIBANGKITKAN UNTUK SELAMAT ATAU BINASA (Kebangkitan dan Penghakiman*)

*(Judul asli: The Resurrection and the Judgment)

Kebangkitan untuk semua. Hampir tiga bulan lalu seorang pembaca ulasan PSSD ini, melalui forum "KLUB SS" kita di Facebook, berkomentar perihal kebangkitan manusia pada hari kiamat (lihat ulasan tambahan Pelajaran Ke-IV; 26 Juli 2014). Dengan mengutip beberapa ayat Alkitab, teman ini berkesimpulan bahwa kebangkitan manusia pada kedatangan Yesus kedua kali hanya akan terjadi atas orang-orang saleh, hal mana berbeda dari uraian saya yang mengatakan bahwa pada waktu itu semua orang akan dibangkitkan. Lalu saya menanggapinya dengan menyajikan beberapa ayat Alkitab yang mendukung kesimpulan bahwa semua manusia, bukan hanya orang benar saja, yang akan dibangkitkan. Di antaranya adalah ayat-ayat yang terdapat dalam pelajaran kita hari ini. (Sesuai dengan tema KLUB SS sebagai ajang "curah pendapat" saya menganjurkan anda untuk berpartisipasi dalam forum tersebut dengan mengajukan komentar, pendapat, atau pertanyaan maupun kesaksian yang relevan dengan pembahasan Pelajaran SS pada setiap pekan berjalan.)

"Apa yang telah kita pelajari sejauh ini bisa menyebabkan kita untuk berpikir bahwa kebangkitan hanya untuk sedikit orang saja. Tetapi Yesus menegaskan bahwa saatnya akan tiba bilamana 'semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya' (Yoh. 5:28; huruf miring ditambahkan). Orang percaya dan tidak percaya, orang benar dan orang berdosa, orang yang selamat dan yang binasa, semua akan dibangkitkan. Seperti Paulus nyatakan, 'Akan ada kebangkitan semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun orang-orang yang tidak benar" (Kis. 24:15)" [alinea pertama].

Meskipun semua orang yang sudah mati akan dibangkitkan kembali pada kedatangan Yesus kedua kali, orang baik maupun orang jahat, tetapi kebangkitan itu menimbulkan akibat yang berbeda terhadap orang-orang baik yang akan selamat dan terhadap orang-orang jahat yang akan binasa. "Mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum" (Yoh. 5:29). Pernyataan Yohanes ini sama seperti nubuatan nabi Daniel, "Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal" (Dan. 12:2).

Dua kali kebangkitan. Sementara kebangkitan semua orang yang sudah mati akan terjadi pada kedatangan Yesus kedua kali, orang benar maupun orang tidak benar (Kis. 24:15), apa yang bakal terjadi sesudah kebangkitan masal yang pertama itu akan berbeda. Orang benar yang sudah mati dibangkitkan untuk bergabung dengan orang benar yang masih hidup, lalu "semuanya akan diubahkan, dalam sekejap mata...karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati" (1Kor. 15:51-53). Menurut rasul Paulus, orang percaya yang masih hidup tidak akan masuk surga "mendahului mereka yang telah meninggal" (1Tes. 4:15), tetapi "mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa" (ay. 16-17). Termasuk di antaranya adalah para laskar Kristus yang demi membela kebenaran dan mempertahankan nama-Nya telah bersedia mati "supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik" (Ibr. 11:35).

Bagaimana nasib orang-orang jahat yang turut dibangkitkan pada kedatangan Yesus kedua kali itu? "Pada waktu Tuhan Yesus dari dalam surga menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya, dalam kuasa-Nya, di dalam api yang bernyala-nyala, dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak menaati Injil Yesus, Tuhan kita. Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya" (2Tes. 1:7-9). Kedatangan Yesus kedua kali menandakan dimulainya masa seribu tahun (milenium), yaitu masa penghakiman di surga atas orang jahat yang akan menjalani hukuman mereka sesudah masa seribu tahun berakhir ketika orang jahat akan dibangkitkan untuk kedua kalinya. Dalam terang ini kita bisa memahami apa yang dimaksudkan dengan "kebangkitan pertama" dan "kebangkitan kedua" dalam kitab Wahyu: "Tetapi orang-orang mati yang lain tidak bangkit sebelum berakhir masa yang seribu tahun itu. Inilah kebangkitan pertama. Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya" (Why. 20:5-6).

"Berbicara mengenai dua kebangkitan, Yesus menunjukkan bahwa nasib kita akan ditentukan berdasarkan kualitas moral dari perbuatan kita (baik atau jahat). Namun, fakta ini tidak berarti bahwa perbuatan menyelamatkan kita. Sebaliknya, Yesus dengan jelas mengajarkan bahwa keselamatan kita semata-mata bergantung pada iman kita kepada-Nya sebagai Juruselamat kita (Yoh. 3:16)" [alinea terakhir: tiga kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang kebangkitan dan penghakiman?
1. Semua orang akan menyaksikan peristiwa kedatangan Yesus kedua kali, termasuk mereka yang sudah mati dan dibangkitkan, ketika "Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia" (Why. 1:7). "Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia" (Mat. 24:27).
2. Pada hari kedatangan Yesus kedua kali itu semua orang yang sudah mati akan dibangkitkan untuk melihat Dia, termasuk orang jahat yang sudah menikam rusuk-Nya (baca Yoh. 19:37 dan Za. 12:10). Bedanya, orang baik dibangkitkan dan diubahkan untuk masuk surga, orang jahat dibangkitkan untuk kembali binasa oleh cahaya kemuliaan-Nya.
3. Hanya orang jahat yang mengalami dua kali kebangkitan, pada kedatangan Yesus kedua kali yang menandai permulaan masa seribu tahun, dan pada kedatangan Yerusalem Baru bersama orang saleh yang akan menandai berakhirnya masa seribu tahun itu. Pada kebangkitan yang kedua orang jahat akan dibinasakan untuk selamanya dalam api neraka.

Rabu, 17 September
PENGHUKUMAN TERAKHIR (Apa yang Yesus Katakan Tentang Neraka)

Lazarus dan orang kaya. Perumpamaan tentang Lazarus dan orang kaya (dalam Alkitab bahasa Latin, Vulgate, tokoh anonim ini disebut "Dives" yang artinya "orang kaya") seperti tercatat dalam injil Lukas merupakan salah satu perumpamaan Yesus yang populer di banyak masyarakat Eropa dan Palestina, menceritakan perihal nasib dua manusia yang bertolak-belakang. Karena detil cerita yang begitu rinci dengan salah satu tokoh menggunakan nama yang spesifik ("Lazarus" dalam kisah ini tidak sama dengan saudara Maria dan Marta yang pernah dibangkitkan Yesus), sebagian orang Kristen percaya bahwa ini bukan sekadar perumpamaan tetapi sebuah kisah nyata. Bahkan sebagian orang berpendapat bahwa cerita Lazarus dan orang kaya ini bukan sekadar perumpamaan, tetapi mengandung dimensi nubuatan tentang nasib yang bakal menimpa orang miskin yang terabaikan dengan orang kaya yang tamak dan cinta diri. Pendapat ini didasarkan pada ayat-ayat yang menyebutkan bahwa Yesus juga dianggap sebagai "nabi" (Mrk. 6:4; Kis. 3:22-26).

Pokok pelajaran yang hendak diajarkan oleh Yesus melalui perumpamaan tersebut bukan tentang apa yang sesungguhnya akan terjadi pada saat seseorang mati. Orang yang baik (dalam cerita ini diwakili oleh tokoh Lazarus) tidak akan langsung naik ke surga dan duduk di pangkuan Abraham, sebaliknya orang yang tidak baik (diwakili oleh "Dives") juga tidak akan langsung masuk neraka. Sebab tidak ada penjelasan alkitabiah yang mengatakan bahwa Abraham adalah penunggu surga, bahkan bapa leluhur bangsa Israel dan Arab itu masih berada di dalam kuburnya di gua Makhpela, Kanaan (Kej. 49:30-31), sebuah tempat yang dalam peta moderen terletak di Hebron, wilayah Tepi Barat, di mana sekarang berdiri masjid Al-Haram Al-Ibrahimi. Begitu juga, bilamana seorang yang tidak baik mati jasadnya tertanam di kubur dan rohnya tidak langsung masuk neraka, sebab "roh" tidak membutuhkan air untuk minum seperti dalam cerita itu. Pesan moral dari perumpamaan ini terdapat dalam perkataan Abraham, "Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati" (Luk. 16:31). Yesus adalah "seorang yang bangkit dari antara orang mati" itu, dan Dia tidak didengarkan oleh orang-orang Yahudi seperti juga "mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi."

"Perumpamaan ini tidak difokuskan pada keadaan manusia dalam kematian. Sebuah keyakinan populer yang tidak alkitabiah yang banyak dipegang oleh orang-orang pada zaman Yesus menjadi latar belakang bagi perumpamaan ini, yang mengajarkan suatu pelajaran penting: nasib masa depan kita ditentukan oleh keputusan-keputusan yang kita buat setiap hari dalam kehidupan sekarang ini. Kalau kita menolak terang yang Allah berikan kepada kita saat ini, tidak ada lagi kesempatan sesudah mati" [alinea ketiga: tiga kalimat pertama].

Neraka sebagai hukuman. Meskipun neraka disediakan bagi orang-orang jahat, neraka bukanlah seperti "lapas" (lembaga pemasyarakatan) yang berfungsi untuk memperbaiki seseorang menjadi manusia yang lebih baik. Neraka adalah hukuman pamungkas bagi para "kriminal rohani" yang selama hidup di dunia tidak mau bertobat dan mengabaikan kasih karunia Allah. Neraka adalah tempat bagi orang-orang yang suka mengata-ngatai saudaranya (Mat. 5:22), yang membiarkan anggota badannya menyebabkan seluruh tubuhnya binasa (ay. 29-30), dan kaum munafik yang sifatnya seperti ular (23:33).

Perhatikan perkataan Alkitab berikut ini: "Tetapi orang pengecut, pengkhianat, orang bejat, pembunuh, orang cabul, orang yang memakai ilmu-ilmu gaib, penyembah berhala, dan semua pembohong, akan dibuang ke dalam lautan api dan belerang yang bernyala-nyala, yaitu kematian tahap kedua" (Why. 21:8, BIMK). "Ingatlah juga kota Sodom dan Gomora serta kota-kota di sekitarnya, yang penduduknya melakukan hal-hal seperti yang dilakukan oleh malaikat-malaikat tersebut. Mereka melakukan hal-hal yang cabul dan bejat, sehingga mereka disiksa dengan hukuman api yang kekal, untuk dijadikan peringatan bagi semua orang. Demikian juga oknum-oknum itu berkhayal-khayal sampai mereka berbuat dosa terhadap badan mereka sendiri. Mereka memandang rendah kekuasaan Allah dan menghina para makhluk yang mulia di surga" (Yud. 7-8. BIMK).

"Dalam banyak terjemahan Alkitab, kata neraka muncul sebelas kali dari bibir Yesus. Sebenarnya yang Ia gunakan adalah kata Grika gehenna, dari nama Ibrani Gê Hinnom, "Lembah Hinnom"...Yesus menggunakan nama kiasan, tanpa menjelaskan rincian apapun mengenai waktu dan tempat hukuman yang kita temukan pada ayat-ayat Alkitab lainnya. Tapi neraka bukanlah sebuah tempat hukuman yang abadi" [alinea terakhir: dua kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang neraka dalam pengajaran Yesus?
1. Dalam cerita perumpamaan Yesus mengenai Lazarus dan orang kaya, kita dapati bahwa surga dan neraka itu adalah hal yang nyata, bukan hanya impian atau khayalan. Surga adalah pahala yang disediakan Allah bagi orang-orang yang menderita di dunia ini karena nama-Nya; neraka adalah bagian untuk orang-orang yang hidup mementingkan diri.
2. Perumpamaan Lazarus dan orang kaya menghapus pendapat orang Yahudi masa itu, seolah-olah kekayaan sebagai lambang perkenan Allah dan sebaliknya kemiskinan sebagai tanda kutukan. Dalam perumpamaan ini Yesus juga hendak menandaskan kepada bangsa-Nya bahwa menjadi keturunan Abraham tidak menjadi jaminan keselamatan.
3. Neraka disediakan bagi orang jahat bukan pada saat mereka mati tetapi sesudah masa seribu tahun, tapi neraka tidak bersifat abadi. Sodom dan Gomora telah dihancurkan dengan "hukuman api yang kekal" tetapi api itu sudah lama padam bersama binasanya kedua kota itu, dan terjadi sebagai "peringatan bagi semua orang" (Yud. 7).

Kamis, 18 September
MUSUH TERAKHIR YANG DIKALAHKAN (Yesus Menaklukkan Maut)

Antara Lazarus dan Yesus. Cerita kebangkitan Lazarus di desa Betania telah bertahan sebagai legenda atau cerita rakyat yang secara tradisional dikenal dengan julukan "Lazarus si Empat Hari" (karena sudah sempat mati selama empat hari sebelum hidup kembali). "Lazarus" adalah nama Latin dari Eleazar, nama Ibrani yang artinya "Tuhanlah pertolonganku." Sebagaimana kita pelajari sebelumnya, Lazarus sudah dibangkitkan kembali oleh Yesus sendiri, kebangkitan mana sering disebut sebagai "puncak mujizat" dari semua mujizat yang pernah dilakukan Yesus selama hidup di Bumi ini. Ketika Yesus berkata kepada Marta, "Saudaramu akan bangkit," (Yoh. 11:23), saudara perempuan Lazarus itu menyahut, "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman" (ay. 24). Tapi Yesus berkata kepadanya, "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" (ay. 25-26).

Peristiwa kematian dan kebangkitan Lazarus dalam banyak hal sangat berbeda dari kematian dan kebangkitan Yesus, khususnya apa yang terjadi sesudah kebangkitan mereka. Tidak ada referensi alkitabiah mengenai kematian Lazarus yang kedua kalinya sesudah dibangkitkan dari kematian pertama itu, tetapi Yohanes mencatat adanya niat para imam kepala untuk membunuh Lazarus karena peristiwa kebangkitannya telah membuat banyak orang Yahudi menjadi Kristen dengan percaya kepada Yesus (Yoh. 12:10-11), bahkan orang banyak yang menyaksikan peristiwa kebangkitan itu turut bersaksi tentang Kristus (ay. 17-19). Tetapi mengenai Yesus, Kitabsuci mencatat bahwa sesudah kebangkitan-Nya pada hari ketiga Ia masih berada di dunia ini dan "berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah" (Kis. 1:3), sebelum akhirnya terangkat ke surga (ay. 9-11). Lukas mencatat bahwa peristiwa kenaikan itu terjadi di dekat Betania, kampung halaman Lazarus (Luk. 24:50-51).

"Walaupun demikian, jauh lebih penting dari kebangkitan Lazarus adalah kebangkitan Yesus sendiri. Karena Dia memiliki hidup dalam diri-Nya sendiri, Ia bukan saja mempunyai kuasa untuk membangkitkan orang mati dan memberi kehidupan kepada siapa yang dikehendaki-Nya (Yoh. 5:21), tetapi Ia juga berkuasa untuk menyerahkan nyawa-Nya sendiri dan mengambilnya kembali (Yoh. 10:17-18). Kebangkitan-Nya membuktikan hal ini secara meyakinkan" [alinea kedua].

Maut ditaklukkan. Sementara kebangkitan Lazarus dari kematiannya itu sangat penting serta mendatangkan sukacita bagi dirinya dan keluarganya serta semua handai taulan secara terbatas, untuk suatu masa dan di suatu tempat saja, kebangkitan Yesus Kristus dari kematian sangat penting bagi seluruh umat manusia sepanjang masa. Sebab, seperti kata Paulus, "Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal" (1Kor. 15:17-20).

"Kuasa Kristus mematahkan belenggu kematian tidak dapat dibantah. Ia bangkit dari kubur sebagai buah sulung dari orang-orang yang tidur di dalam Dia. Kebangkitan-Nya adalah jaminan dari kebangkitan setiap orang percaya, karena Ia 'memegang segala kunci maut dan kerajaan maut' (Why. 1:17-18)" [alinea ketiga].

Pena inspirasi menulis: "Ketika di atas salib Yesus berseru, 'Sudah selesai!' kemuliaan dan sukacita menggetarkan surga, dan kebingungan melanda persekongkolan jahat. Sesudah seruan kemenangan itu, Sang Penebus dunia menundukkan kepala-Nya lalu mati dan tampaknya Kapten dari keselamatan kita itu telah dikalahkan; tetapi oleh kematian-Nya Ia adalah pemenang, dan Ia telah membuka gerbang kemuliaan kekal supaya semua orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal" (Ellen G. White, The Review and Herald, 29 Januari 1895).

Apa yang kita pelajari tentang Yesus yang menaklukkan maut?
1. Kekuasaan Yesus atas maut sudah diperagakan sebelum kematian-Nya, yaitu dengan membangkitkan tiga orang yang sudah mati, khususnya Lazarus yang sudah empat hari dikubur. Tetapi kebangkitan Yesus sendiri menjadi bukti utama bahwa kuasa maut telah ditaklukkan-Nya, sebab kalau Dia tidak bangkit musnahlah pengharapan kebangkitan kita.
2. Yesus mati adalah atas kehendak Allah, "supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia" (Ibr. 2:9). Yesus harus mati karena Ia "diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya...Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut..." (Kis. 2:23-24).
3. Kematian Yesus adalah kematian karena dosa manusia yang ditimpakan atas-Nya, itu adalah kematian yang total dan bukan sekadar jiwa terpisah dari raga. Kalau tidak maka seharusnya Yesus bisa langsung pulih sesudah jam tiga petang hari Jumat itu sehabis Ia berseru "Sudah selesai!" dan menyerahkan nyawa-Nya (Yoh. 19:30). Tapi Yesus menjalani kematian secara jiwa dan raga.

Jumat, 19 September
PENUTUP

Pekik kemenangan. Dalam keseharian kita setiap kemenangan akan selalu disambut dengan sorak-sorai, terkadang bahkan kita turut bertempik sorak untuk sesuatu yang tidak berhubungan langsung dengan kepentingan kita. Orang-orang berpekik riang dalam sebuah pertandingan olahraga, dalam suatu ajang kompetisi, atau atas suatu peristiwa yang menimbulkan sukacita. Tetapi semua itu tidak ada artinya sama sekali jika dibandingkan dengan pekik kemenangan atas maut ketika orang-orang saleh dibangkitkan pada kedatangan Yesus kedua kali.

"Suara Anak Allah memanggil orang-orang kudus yang sedang tidur. Ia memandang kepada kubur-kubur orang benar lalu, sambil mengangkat tangan-Nya ke surga, Ia berseru: 'Bangun, bangun, bangun, kamu yang tidur di dalam debu tanah, bangkitlah!'...Dan orang-orang benar yang masih hidup serta orang-orang kudus yang dibangkitkan itu menyatukan suara mereka dalam pekik kemenangan yang panjang dan penuh kegembiraan" [dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].

Yesus telah menaklukkan maut ketika Ia membangkitkan beberapa orang mati selama pelayanan-Nya di dunia ini, maut juga sudah dikalahkan-Nya saat Ia bangkit dari kubur pada hari ketiga sesudah kematian-Nya di kayu salib. Kelak pada kedatangan-Nya yang kedua kali orang-orang saleh dari segala zaman juga akan mengambil bagian dalam kemenangan atas maut tatkala mereka yang sudah mati akan dibangkitkan di hari Maranata!

"Aku menaruh pengharapan kepada Allah, sama seperti mereka juga, bahwa akan ada kebangkitan semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun orang-orang yang tidak benar" (Kis. 24:15).

(Oleh Loddy Lintong/California, 18 September 2014)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...