Syaloom

Selamat datang bagi pengunjung blog ini, terima kasih atas kunjungan anda pada blog ini anda dapat download lagu-lagu rohani khusus quartet (male or ladies) termasuk partitur yang kami telah sediakan.

Blog ini khusus saya buat untuk membantu teman-teman yang mempunyai hobi menyanyi lagu-lagu rohani tetapi pada saat tertentu tidak mempunyai cukup partiture. Dan sesuai dengan judulnya maka blog ini khusus dibuat untuk quartet grup vokal, apakah itu male quartet atau ladies quartet.

Banyak orang didunia ini dan hampir semua orang yang ada di jagad raya ini menyukai musik. Sebab itu saya ingin mengajak semua teman-teman yang ingin partisipasi dalam blog ini saya persilahkan untuk memberi saran dan bahan untuk memajukan grup-grup quartet. Sering kita menyanyikan sebuah lagu dengan baik dan pendengar cuma menyukai harmoninya saja tetapi pekabaran dalam lagu itu sendiri tidak didapat karena pendengar tersebut tidak mengerti bahasa yang dinyanyikan dalam lagu tersebut untuk itu melalui blog ini saya sekali lagi mengajak siapapun untuk urung rembuk agar blog ini disukai dan dapat bermafaat buat kita semua.

Untuk itu saya akan mencoba untuk mentransfer dari partiture aslinya kedalam bahasa Indonesia. Shalom regards,

GBU
E. Nanlohy



TRANSLATORS...

Jumat, 19 September 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT KE XII SEPTEMBER 20,2014: "KETIKA MAUT AKHIRNYA DITAKLUKKAN"




PELAJARAN KE-XII; 20 September 2014
"KEMATIAN DAN KEBANGKITAN"


Sabat Petang, 13 September
PENDAHULUAN

Diciptakan untuk hidup. Seorang seniman dan penulis kontemporer asal Jepang, Haruki Murakami, dalam kumpulan cerita pendeknya bertajuk "Blind Willow, Sleeping Woman" menulis: "Kematian bukan lawan dari kehidupan, tapi kematian adalah bagian dari kehidupan." Alasannya, karena kematian adalah keadaan yang tak dapat dihindari maka lebih baik kematian itu diterima sebagai kenyataan hidup. Tetapi dia salah, sebab pada awalnya manusia diciptakan untuk hidup, bukan untuk mati. Kematian adalah sebuah "kecelakan sejarah" dalam riwayat manusia karena hal itu tidak pernah direncanakan oleh Sang Pencipta.

Selama hidup-Nya di atas bumi ini Yesus beberapa kali berhadapan dengan urusan kematian manusia, dan Ia selalu merasa iba terhadap nasib manusia yang ditimpa kematian. Yesus bukan saja menghibur dengan kata-kata, "Jangan menangis" (Luk. 7:13) atau "Jangan takut" (Mrk. 5:36), tetapi Ia juga bertindak atas kematian dengan membangkitkan orang-orang yang sudah mati itu. "Talita kum," (dalam bahasa Aram artinya: Anak perempuan) kata Yesus kepada anak Yairus, kepala rumah ibadah itu, "Aku berkata kepadamu, bangkitlah!" (ay. 41). Seketika itu juga gadis remaja itu bangun berdiri lalu berjalan (ay. 42). Yesus merasakan kedukaan manusia akibat kematian, dan Yesus ikut menangis bersama keluarga Lazarus yang sedang berduka (Yoh. 11:35).

"Tetapi Kristus melakukan lebih jauh dari sekadar menangis. Setelah menaklukkan maut dengan kematian dan kebangkitan-Nya sendiri, Ia memegang kunci maut itu, dan Ia berjanji untuk membangkitkan setiap orang yang percaya pada-Nya kepada hidup yang kekal. Hal ini merupakan janji terbesar yang telah diberikan kepada kita dalam firman Allah; kalau tidak, jika kematian yang menentukan, seluruh hidup kita dan segala sesuatu yang pernah kita capai akan menjadi sia-sia" [alinea terakhir].

Hidup manusia memang sering hanya selangkah dari maut, tetapi kematian bukanlah akhir dari kehidupan orang-orang percaya. Kematian mungkin bisa terjadi kapan saja atas umat Tuhan selagi hidup di dunia ini, tetapi kematian itu hanyalah akhir dari sebuah kehidupan yang fana dan bukan akhir dari segalanya. Kematian hanya mengakhiri hidup sementara, tetapi tidak mengakhiri hubungan kita yang abadi dengan Kristus, Sumber kehidupan kita.

Minggu, 14 September
KEMATIAN DALAM PERSPEKTIF ALKITAB (Keadaan Orang Mati)

Definisi tentang mati. Kematian adalah fenomena menarik yang telah menjadi pembahasan selama berabad-abad. Manusia berusaha untuk mencoba memahami arti dari kematian, baik melalui pendekatan agama maupun falsafah. Menentukan bahwa seseorang sudah mati juga adalah hal yang tak kalah menarik, baik ditinjau dari segi kedokteran, hukum, dan agama. Pada zaman dulu definisi tentang mati cukup ditentukan berdasarkan pengamatan fisik, yaitu bilamana fungsi pernafasan dan denyut jantung berhenti. Ketika teknologi kedokteran bertambah maju dan kita memasuki era gawat darurat medis maka definisi kematian pun berubah, yaitu apabila batak otak dinyatakan berhenti berfungsi secara permanen. Sebab dengan ketersediaan alat-alat kedokteran penunjang kehidupan (medical life support) yang terpasang ke tubuh, termasuk alat infus dan perangkat medis untuk menjalankan fungsi sirkulasi dan respirasi, seorang pasien bisa saja kelihatan tetap bernafas meskipun secara klinis sudah mati.

Kematian secara klinis berarti mati total dan permanen yang berbeda dari kondisi mati suri seperti konon dialami oleh sebagian orang. Mati suri adalah keadaan di mana seseorang berada dalam keadaan tidak sadarkan diri akibat suatu penyakit dan sedang dalam upaya penyembuhan atau menghidupkannya kembali secara normal. Banyak pengalaman misterius telah dibeberkan orang-orang yang pernah mengalami mati suri, suatu keadaan di mana seseorang memasuki suasana "lorong waktu" ketika dia mengalami apa yang disebut pengalaman hampir mati (NDE=near-death experience) dan pengalaman berkelana di luar jasad (OBE=out-of-body experience), seperti menyaksikan suatu pemandangan sangat indah serta gemerlapan oleh cahaya terang benderang dari alam yang asing. Hal ini bisa terjadi karena meski secara fisik tidak merasakan apa-apa tapi otaknya masih "bekerja" seperti saat sedang tidur pulas. Tetapi kematian yang kita maksudkan ialah mati secara keseluruhan--jasmani, pikirani, dan rohani.

Dalam Alkitab kita menemukan beberapa ayat yang berhubungan dengan kematian dan keadaan orang mati. Pemazmur mengatakan, di alam maut orang tidak ingat akan Tuhan atau bersyukur kepada-Nya (Mzm. 6:6); orang mati tidak dapat memuji Tuhan (115:17), sebab "apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya" (146:4). Nabi Yesaya juga menyatakan bahwa orang mati tidak dapat mengucap syukur kepada Tuhan (Yes. 38:18), karena "orang yang mati tak tahu apa-apa" (Pkh. 9:5). "Kematian adalah akhir kehidupan secara total. Kematian adalah keadaan tidak sadarkan diri di mana tidak ada pemikiran, emosi, perbuatan, atau hubungan dalam bentuk apapun" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Mati sebagai tidur. Peristiwa kematian dan kebangkitan Lazarus mengungkapkan konsep alkitabiah tentang keadaan orang mati. Yesus sudah diberitahu tentang kondisi Lazarus yang sedang sakit parah, tapi Ia masih tinggal dua hari lagi sebelum datang ke Betania di mana keluarga itu tinggal. "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan...Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya," kata Yesus (Yoh. 11:4, 11; huruf miring ditambahkan). Empat hari kemudian Yesus muncul dan membangkitkan saudara laki-laki Maria dan Marta itu, dan sesudah "bangun" dari kematiannya Lazarus tidak bercerita tentang pengalamannya masuk surga ataupun neraka. Ini membuktikan bahwa orang mati tetap berada di kuburnya, baik itu orang baik atau orang jahat, menunggu hari kebangkitan nanti.

Tatkala menciptakan pasangan manusia yang pertama Allah mengambil debu tanah untuk membentuk rancang bangun mereka secara fisik, ketika akibat dosa manusia harus mati maka kita kembali kepada debu. "Debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya" (Pkh. 12:7). Sewaktu berbicara di hadapan orang banyak di Yerusalem pada Hari Pentakosta, rasul Petrus berkata: "Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini...sebab bukan Daud yang naik ke surga..." (Kis. 2:29, 34).

Banyak orang Kristen mengira bahwa jiwa dalam diri kita adalah suatu bagian terpisah yang terus hidup meskipun orangnya sudah meninggal dunia. Tetapi Alkitab mengatakan bahwa ketika Allah selesai membentuk raga manusia pertama dari debu tanah Ia hanya "menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kej. 2:7). Jadi, Allah tidak memasukkan jiwa ke dalam manusia tetapi hanya menghembuskan nafas. Kalau jiwa adalah bagian yang terpisah yang terus hidup sesudah kita mati, itu artinya kita tidak bisa mati karena memiliki keadaan kekekalan dalam diri kita. Namun manusia tidak mempunyai sifat kekal dan hanya Allah "satu-satunya yang tidak takluk kepada maut" (1Tim. 6:16). Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa yang membalas setiap orang menurut perbuatannya akan memberikan "hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik" (Rm. 2:6-7). Kalau manusia memiliki jiwa yang kekal dalam dirinya, untuk apa Allah memberikan kekekalan itu lagi.

Apa yang kita pelajari tentang keadaan orang mati menurut Alkitab?
1. Kematian adalah suatu keadaan di mana seorang manusia kehilangan segala bentuk kehidupan apapun dalam tubuhnya. Ketika seseorang mati dan jasadnya dikebumikan, tidak ada entitas apapun dari dirinya yang terus hidup bergentayangan di luar kubur. Orang mati tidak berpindah dari alam nyata ke "alam baka" seperti sering disebutkan.
2. Bukti-bukti alkitabiah menunjukkan bahwa orang mati tidak pergi ke mana-mana, tetapi tetap berada di dalam kubur di mana jasadnya dikebumikan. Tubuh manusia berasal dari debu tanah, pada waktu dia mati tubuhnya akan mulai membusuk dan jaringan-jaringan jasadnya terurai dan kembali ke tanah.
3. Manusia tidak diciptakan Allah sebagai makhluk abadi atau memiliki unsur-unsur kekekalan dalam dirinya yang mampu bertahan hidup untuk selamanya walaupun jasadnya hancur lebur dan kembali bersenyawa dengan tanah. Kalau manusia mempunyai jiwa yang baka maka alam maut tidak mungkin berkuasa atasnya meskipun dia berdosa.

Senin, 15 September
KEHIDUPAN DIPULIHKAN (Pengharapan Kebangkitan)

Mati karena dosa. Pada mulanya manusia diciptakan untuk menikmati kehidupan yang lestari, demikian juga dengan ciptaan-ciptaan lainnya seperti hewan, unggas, dan tumbuhan yang memenuhi bumi ini. Namun keabadian itu bersyarat, bukan sesuatu yang secara alamiah tertanam atau menjadi bagian dari manusia serta semua ciptaan lainnya. Setelah menciptakan Adam dan menempatkan dia di rumah alami bernama Taman Eden, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya pastilah engkau mati" (Kej. 2:16-17; huruf miring ditambahkan). Jadi, kematian adalah akibat dari pelanggaran terhadap perintah Allah. Paulus menyimpulkannya secara tepat, "Sebab upah dosa ialah maut..." (Rm. 6:23).

Manusia pertama itu telah diciptakan "menurut rupa Allah" (Kej. 5:1), tetapi bukan dengan sifat kekekalan seperti Allah. Ketika Allah menghembuskan nafas ke lubang hidung Adam, "demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kej. 2:7). Alkitab tidak mencatat apakah Hawa juga menjadi makhluk hidup dengan cara yang sama, tapi yang pasti fisik perempuan itu dibuat dengan sebagian bahannya adalah tulang rusuk dari suaminya (ay. 22). Pada saat nenek moyang pertama manusia itu berdosa karena melanggar perintah Allah dengan memakan buah larangan itu, kematian hanya soal waktu. Kematian pasangan itu sudah ditentukan "by default" (secara alamiah, menurut hukum yang berlaku) pada hari mereka memakan buah larangan itu, tetapi hanya oleh kebaikan Tuhan dan hikmat-Nya yang tak terduga maka Adam bisa hidup sampai berumur 930 tahun, "lalu ia mati" (Kej. 5:5).

Jadi dapat dikatakan bahwa kematian manusia sebenarnya terjadi karena berlakunya hukum alam, sesuai dengan apa yang ditentukan Allah, yaitu sejak nenek moyang pertama kita memakan buah dari "pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat" itu. Bukan karena buah pohon itu mengandung racun yang mematikan, tetapi akibat perbuatan yang mematikan dari manusia itu sendiri. "Ini bukan sebuah keputusan sewenang-wenang dari Allah; itu adalag konsekuensi yang tak terelakkan dari dosa. Tetapi kabar baiknya adalah, melalui Kristus ada pengharapan, sekalipun dalam kematian" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Hidup oleh kasih karunia. Alkitab telah menjelaskan bahwa kematian adalah akibat dari dosa, dan dosa yang mendatangkan kematian itu berasal dari Adam lalu menurun ke seluruh keturunannya. "Sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa" (Rm. 5:12). Jadi, sama seperti Adam sudah berdosa dan mati, demikianlah kita semua pun sudah berdosa dan akan mati. Namun, Allah dalam kasih-Nya telah melakukan intervensi untuk mengubah kondisi ini sehingga kehidupan bisa dipulihkan. "Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus" (ay. 15).

Ujud dari kasih karunia Allah ialah Yesus Kristus, yaitu "jalan dan kebenaran dan hidup" (Yoh. 14:6). Yesus adalah "Firman" melalui siapa Allah menciptakan manusia dan segala ciptaan lainnya, dan "dalam Dia ada hidup" (Yoh. 1:1, 4). Kitabsuci mengungkapkan bahwa Allah menciptakan segalanya--kecuali manusia--hanya dengan cara "Berfirman" (Kej. 1:3, 6, 9, 11, 14, dst), dan bahwa Yesus Kristus adalah "Firman," itulah sebabnya Yohanes menyatakan bahwa "segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan" (Yoh. 1:3). Sebagai Anak Allah, Yesus bukan saja memiliki kuasa untuk menciptakan tapi di dalam diri-Nya juga ada sumber kehidupan, sehingga "sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya" (Yoh. 5:21).

Kuasa Yesus untuk memulihkan kehidupan terhadap orang yang sudah mati beberapa kali ditunjukkan-Nya semasa hidup di dunia ini, antara lain atas anak perempuan Yairus. Waktu Yesus meminta agar perkabungan itu jangan menangis karena gadis cilik itu bukan mati tapi hanya tidur, orang banyak yang sedang terisak-isak itupun serentak tertawa, bukan karena bersuka tapi mengejek (Luk. 8:52-53). Bayangkan itu! Lalu Yesus mendemonstrasikan kuasa-Nya untuk menghidupkan dengan cara mengembalikan nafas anak itu (ay. 55). "Menurut Alkitab, kebangkitan adalah kebalikan dari kematian. Kehidupan dipulihkan ketika nafas hidup datang kembali dari Allah. Demikianlah caranya Lukas menjelaskan kebangkitan anak perempuan Yairus...Atas perintah ilahi Yesus, asas kehidupan yang ditanamkan Allah kembali kepada anak gadis itu. Kata Grika yang Lukas gunakan, yaitu pneuma, artinya 'angin,' nafas,' atau 'roh.' Ketika Alkitab menggunakannya dalam kaitan dengan manusia, tidak pernah hal itu berarti suatu ujud kesadaran yang sanggup hadir terpisah dari tubuh. Dalam ayat ini jelas mengacu kepada nafas hidup" [alinea terakhir: tiga kalimat pertama dan empat kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang pengharapan kita akan kebangkitan dalam Yesus?
1. Kematian adalah konsekuensi logis dari pilihan manusia pertama yang tidak logis. Adam yang paling bertanggungjawab dalam hal pelanggaran perintah Allah memakan buah larangan itu sebab Allah sendiri sudah menyatakan kepadanya, bukan kepada Hawa yang baru diciptakan belakangan (baca dengan cermat Kej. 2:15-23).
2. Meskipun dosa itu mematikan, manusia tidak akan punah karena kematian. Kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus, melalui siapa Allah telah menciptakan manusia, adalah solusi terhadap kematian. Allah yang dipercaya oleh Abraham itu adalah "Allah yang menghidupkan orang mati...yang dengan berkata saja membuat apa yang tidak pernah ada menjadi ada" (Rm. 4:17, BIMK).
3. Kehidupan selalu bersumber dari Allah, tidak pernah berasal dari dunia ini. Secara fisik Adam hanyalah debu tanah yang mati, dia baru menjadi manusia yang hidup setelah Allah menghembuskan nafas-Nya sendiri kepada tubuh Adam. Manusia akan dibangkitkan dari kematian ketika Allah, melalui Yesus Kristus, mengembalikan nafas itu.

Selasa, 16 September
DIBANGKITKAN UNTUK SELAMAT ATAU BINASA (Kebangkitan dan Penghakiman*)

*(Judul asli: The Resurrection and the Judgment)

Kebangkitan untuk semua. Hampir tiga bulan lalu seorang pembaca ulasan PSSD ini, melalui forum "KLUB SS" kita di Facebook, berkomentar perihal kebangkitan manusia pada hari kiamat (lihat ulasan tambahan Pelajaran Ke-IV; 26 Juli 2014). Dengan mengutip beberapa ayat Alkitab, teman ini berkesimpulan bahwa kebangkitan manusia pada kedatangan Yesus kedua kali hanya akan terjadi atas orang-orang saleh, hal mana berbeda dari uraian saya yang mengatakan bahwa pada waktu itu semua orang akan dibangkitkan. Lalu saya menanggapinya dengan menyajikan beberapa ayat Alkitab yang mendukung kesimpulan bahwa semua manusia, bukan hanya orang benar saja, yang akan dibangkitkan. Di antaranya adalah ayat-ayat yang terdapat dalam pelajaran kita hari ini. (Sesuai dengan tema KLUB SS sebagai ajang "curah pendapat" saya menganjurkan anda untuk berpartisipasi dalam forum tersebut dengan mengajukan komentar, pendapat, atau pertanyaan maupun kesaksian yang relevan dengan pembahasan Pelajaran SS pada setiap pekan berjalan.)

"Apa yang telah kita pelajari sejauh ini bisa menyebabkan kita untuk berpikir bahwa kebangkitan hanya untuk sedikit orang saja. Tetapi Yesus menegaskan bahwa saatnya akan tiba bilamana 'semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya' (Yoh. 5:28; huruf miring ditambahkan). Orang percaya dan tidak percaya, orang benar dan orang berdosa, orang yang selamat dan yang binasa, semua akan dibangkitkan. Seperti Paulus nyatakan, 'Akan ada kebangkitan semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun orang-orang yang tidak benar" (Kis. 24:15)" [alinea pertama].

Meskipun semua orang yang sudah mati akan dibangkitkan kembali pada kedatangan Yesus kedua kali, orang baik maupun orang jahat, tetapi kebangkitan itu menimbulkan akibat yang berbeda terhadap orang-orang baik yang akan selamat dan terhadap orang-orang jahat yang akan binasa. "Mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum" (Yoh. 5:29). Pernyataan Yohanes ini sama seperti nubuatan nabi Daniel, "Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal" (Dan. 12:2).

Dua kali kebangkitan. Sementara kebangkitan semua orang yang sudah mati akan terjadi pada kedatangan Yesus kedua kali, orang benar maupun orang tidak benar (Kis. 24:15), apa yang bakal terjadi sesudah kebangkitan masal yang pertama itu akan berbeda. Orang benar yang sudah mati dibangkitkan untuk bergabung dengan orang benar yang masih hidup, lalu "semuanya akan diubahkan, dalam sekejap mata...karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati" (1Kor. 15:51-53). Menurut rasul Paulus, orang percaya yang masih hidup tidak akan masuk surga "mendahului mereka yang telah meninggal" (1Tes. 4:15), tetapi "mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa" (ay. 16-17). Termasuk di antaranya adalah para laskar Kristus yang demi membela kebenaran dan mempertahankan nama-Nya telah bersedia mati "supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik" (Ibr. 11:35).

Bagaimana nasib orang-orang jahat yang turut dibangkitkan pada kedatangan Yesus kedua kali itu? "Pada waktu Tuhan Yesus dari dalam surga menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya, dalam kuasa-Nya, di dalam api yang bernyala-nyala, dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak menaati Injil Yesus, Tuhan kita. Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya" (2Tes. 1:7-9). Kedatangan Yesus kedua kali menandakan dimulainya masa seribu tahun (milenium), yaitu masa penghakiman di surga atas orang jahat yang akan menjalani hukuman mereka sesudah masa seribu tahun berakhir ketika orang jahat akan dibangkitkan untuk kedua kalinya. Dalam terang ini kita bisa memahami apa yang dimaksudkan dengan "kebangkitan pertama" dan "kebangkitan kedua" dalam kitab Wahyu: "Tetapi orang-orang mati yang lain tidak bangkit sebelum berakhir masa yang seribu tahun itu. Inilah kebangkitan pertama. Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya" (Why. 20:5-6).

"Berbicara mengenai dua kebangkitan, Yesus menunjukkan bahwa nasib kita akan ditentukan berdasarkan kualitas moral dari perbuatan kita (baik atau jahat). Namun, fakta ini tidak berarti bahwa perbuatan menyelamatkan kita. Sebaliknya, Yesus dengan jelas mengajarkan bahwa keselamatan kita semata-mata bergantung pada iman kita kepada-Nya sebagai Juruselamat kita (Yoh. 3:16)" [alinea terakhir: tiga kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang kebangkitan dan penghakiman?
1. Semua orang akan menyaksikan peristiwa kedatangan Yesus kedua kali, termasuk mereka yang sudah mati dan dibangkitkan, ketika "Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia" (Why. 1:7). "Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia" (Mat. 24:27).
2. Pada hari kedatangan Yesus kedua kali itu semua orang yang sudah mati akan dibangkitkan untuk melihat Dia, termasuk orang jahat yang sudah menikam rusuk-Nya (baca Yoh. 19:37 dan Za. 12:10). Bedanya, orang baik dibangkitkan dan diubahkan untuk masuk surga, orang jahat dibangkitkan untuk kembali binasa oleh cahaya kemuliaan-Nya.
3. Hanya orang jahat yang mengalami dua kali kebangkitan, pada kedatangan Yesus kedua kali yang menandai permulaan masa seribu tahun, dan pada kedatangan Yerusalem Baru bersama orang saleh yang akan menandai berakhirnya masa seribu tahun itu. Pada kebangkitan yang kedua orang jahat akan dibinasakan untuk selamanya dalam api neraka.

Rabu, 17 September
PENGHUKUMAN TERAKHIR (Apa yang Yesus Katakan Tentang Neraka)

Lazarus dan orang kaya. Perumpamaan tentang Lazarus dan orang kaya (dalam Alkitab bahasa Latin, Vulgate, tokoh anonim ini disebut "Dives" yang artinya "orang kaya") seperti tercatat dalam injil Lukas merupakan salah satu perumpamaan Yesus yang populer di banyak masyarakat Eropa dan Palestina, menceritakan perihal nasib dua manusia yang bertolak-belakang. Karena detil cerita yang begitu rinci dengan salah satu tokoh menggunakan nama yang spesifik ("Lazarus" dalam kisah ini tidak sama dengan saudara Maria dan Marta yang pernah dibangkitkan Yesus), sebagian orang Kristen percaya bahwa ini bukan sekadar perumpamaan tetapi sebuah kisah nyata. Bahkan sebagian orang berpendapat bahwa cerita Lazarus dan orang kaya ini bukan sekadar perumpamaan, tetapi mengandung dimensi nubuatan tentang nasib yang bakal menimpa orang miskin yang terabaikan dengan orang kaya yang tamak dan cinta diri. Pendapat ini didasarkan pada ayat-ayat yang menyebutkan bahwa Yesus juga dianggap sebagai "nabi" (Mrk. 6:4; Kis. 3:22-26).

Pokok pelajaran yang hendak diajarkan oleh Yesus melalui perumpamaan tersebut bukan tentang apa yang sesungguhnya akan terjadi pada saat seseorang mati. Orang yang baik (dalam cerita ini diwakili oleh tokoh Lazarus) tidak akan langsung naik ke surga dan duduk di pangkuan Abraham, sebaliknya orang yang tidak baik (diwakili oleh "Dives") juga tidak akan langsung masuk neraka. Sebab tidak ada penjelasan alkitabiah yang mengatakan bahwa Abraham adalah penunggu surga, bahkan bapa leluhur bangsa Israel dan Arab itu masih berada di dalam kuburnya di gua Makhpela, Kanaan (Kej. 49:30-31), sebuah tempat yang dalam peta moderen terletak di Hebron, wilayah Tepi Barat, di mana sekarang berdiri masjid Al-Haram Al-Ibrahimi. Begitu juga, bilamana seorang yang tidak baik mati jasadnya tertanam di kubur dan rohnya tidak langsung masuk neraka, sebab "roh" tidak membutuhkan air untuk minum seperti dalam cerita itu. Pesan moral dari perumpamaan ini terdapat dalam perkataan Abraham, "Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati" (Luk. 16:31). Yesus adalah "seorang yang bangkit dari antara orang mati" itu, dan Dia tidak didengarkan oleh orang-orang Yahudi seperti juga "mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi."

"Perumpamaan ini tidak difokuskan pada keadaan manusia dalam kematian. Sebuah keyakinan populer yang tidak alkitabiah yang banyak dipegang oleh orang-orang pada zaman Yesus menjadi latar belakang bagi perumpamaan ini, yang mengajarkan suatu pelajaran penting: nasib masa depan kita ditentukan oleh keputusan-keputusan yang kita buat setiap hari dalam kehidupan sekarang ini. Kalau kita menolak terang yang Allah berikan kepada kita saat ini, tidak ada lagi kesempatan sesudah mati" [alinea ketiga: tiga kalimat pertama].

Neraka sebagai hukuman. Meskipun neraka disediakan bagi orang-orang jahat, neraka bukanlah seperti "lapas" (lembaga pemasyarakatan) yang berfungsi untuk memperbaiki seseorang menjadi manusia yang lebih baik. Neraka adalah hukuman pamungkas bagi para "kriminal rohani" yang selama hidup di dunia tidak mau bertobat dan mengabaikan kasih karunia Allah. Neraka adalah tempat bagi orang-orang yang suka mengata-ngatai saudaranya (Mat. 5:22), yang membiarkan anggota badannya menyebabkan seluruh tubuhnya binasa (ay. 29-30), dan kaum munafik yang sifatnya seperti ular (23:33).

Perhatikan perkataan Alkitab berikut ini: "Tetapi orang pengecut, pengkhianat, orang bejat, pembunuh, orang cabul, orang yang memakai ilmu-ilmu gaib, penyembah berhala, dan semua pembohong, akan dibuang ke dalam lautan api dan belerang yang bernyala-nyala, yaitu kematian tahap kedua" (Why. 21:8, BIMK). "Ingatlah juga kota Sodom dan Gomora serta kota-kota di sekitarnya, yang penduduknya melakukan hal-hal seperti yang dilakukan oleh malaikat-malaikat tersebut. Mereka melakukan hal-hal yang cabul dan bejat, sehingga mereka disiksa dengan hukuman api yang kekal, untuk dijadikan peringatan bagi semua orang. Demikian juga oknum-oknum itu berkhayal-khayal sampai mereka berbuat dosa terhadap badan mereka sendiri. Mereka memandang rendah kekuasaan Allah dan menghina para makhluk yang mulia di surga" (Yud. 7-8. BIMK).

"Dalam banyak terjemahan Alkitab, kata neraka muncul sebelas kali dari bibir Yesus. Sebenarnya yang Ia gunakan adalah kata Grika gehenna, dari nama Ibrani GĂȘ Hinnom, "Lembah Hinnom"...Yesus menggunakan nama kiasan, tanpa menjelaskan rincian apapun mengenai waktu dan tempat hukuman yang kita temukan pada ayat-ayat Alkitab lainnya. Tapi neraka bukanlah sebuah tempat hukuman yang abadi" [alinea terakhir: dua kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang neraka dalam pengajaran Yesus?
1. Dalam cerita perumpamaan Yesus mengenai Lazarus dan orang kaya, kita dapati bahwa surga dan neraka itu adalah hal yang nyata, bukan hanya impian atau khayalan. Surga adalah pahala yang disediakan Allah bagi orang-orang yang menderita di dunia ini karena nama-Nya; neraka adalah bagian untuk orang-orang yang hidup mementingkan diri.
2. Perumpamaan Lazarus dan orang kaya menghapus pendapat orang Yahudi masa itu, seolah-olah kekayaan sebagai lambang perkenan Allah dan sebaliknya kemiskinan sebagai tanda kutukan. Dalam perumpamaan ini Yesus juga hendak menandaskan kepada bangsa-Nya bahwa menjadi keturunan Abraham tidak menjadi jaminan keselamatan.
3. Neraka disediakan bagi orang jahat bukan pada saat mereka mati tetapi sesudah masa seribu tahun, tapi neraka tidak bersifat abadi. Sodom dan Gomora telah dihancurkan dengan "hukuman api yang kekal" tetapi api itu sudah lama padam bersama binasanya kedua kota itu, dan terjadi sebagai "peringatan bagi semua orang" (Yud. 7).

Kamis, 18 September
MUSUH TERAKHIR YANG DIKALAHKAN (Yesus Menaklukkan Maut)

Antara Lazarus dan Yesus. Cerita kebangkitan Lazarus di desa Betania telah bertahan sebagai legenda atau cerita rakyat yang secara tradisional dikenal dengan julukan "Lazarus si Empat Hari" (karena sudah sempat mati selama empat hari sebelum hidup kembali). "Lazarus" adalah nama Latin dari Eleazar, nama Ibrani yang artinya "Tuhanlah pertolonganku." Sebagaimana kita pelajari sebelumnya, Lazarus sudah dibangkitkan kembali oleh Yesus sendiri, kebangkitan mana sering disebut sebagai "puncak mujizat" dari semua mujizat yang pernah dilakukan Yesus selama hidup di Bumi ini. Ketika Yesus berkata kepada Marta, "Saudaramu akan bangkit," (Yoh. 11:23), saudara perempuan Lazarus itu menyahut, "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman" (ay. 24). Tapi Yesus berkata kepadanya, "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" (ay. 25-26).

Peristiwa kematian dan kebangkitan Lazarus dalam banyak hal sangat berbeda dari kematian dan kebangkitan Yesus, khususnya apa yang terjadi sesudah kebangkitan mereka. Tidak ada referensi alkitabiah mengenai kematian Lazarus yang kedua kalinya sesudah dibangkitkan dari kematian pertama itu, tetapi Yohanes mencatat adanya niat para imam kepala untuk membunuh Lazarus karena peristiwa kebangkitannya telah membuat banyak orang Yahudi menjadi Kristen dengan percaya kepada Yesus (Yoh. 12:10-11), bahkan orang banyak yang menyaksikan peristiwa kebangkitan itu turut bersaksi tentang Kristus (ay. 17-19). Tetapi mengenai Yesus, Kitabsuci mencatat bahwa sesudah kebangkitan-Nya pada hari ketiga Ia masih berada di dunia ini dan "berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah" (Kis. 1:3), sebelum akhirnya terangkat ke surga (ay. 9-11). Lukas mencatat bahwa peristiwa kenaikan itu terjadi di dekat Betania, kampung halaman Lazarus (Luk. 24:50-51).

"Walaupun demikian, jauh lebih penting dari kebangkitan Lazarus adalah kebangkitan Yesus sendiri. Karena Dia memiliki hidup dalam diri-Nya sendiri, Ia bukan saja mempunyai kuasa untuk membangkitkan orang mati dan memberi kehidupan kepada siapa yang dikehendaki-Nya (Yoh. 5:21), tetapi Ia juga berkuasa untuk menyerahkan nyawa-Nya sendiri dan mengambilnya kembali (Yoh. 10:17-18). Kebangkitan-Nya membuktikan hal ini secara meyakinkan" [alinea kedua].

Maut ditaklukkan. Sementara kebangkitan Lazarus dari kematiannya itu sangat penting serta mendatangkan sukacita bagi dirinya dan keluarganya serta semua handai taulan secara terbatas, untuk suatu masa dan di suatu tempat saja, kebangkitan Yesus Kristus dari kematian sangat penting bagi seluruh umat manusia sepanjang masa. Sebab, seperti kata Paulus, "Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal" (1Kor. 15:17-20).

"Kuasa Kristus mematahkan belenggu kematian tidak dapat dibantah. Ia bangkit dari kubur sebagai buah sulung dari orang-orang yang tidur di dalam Dia. Kebangkitan-Nya adalah jaminan dari kebangkitan setiap orang percaya, karena Ia 'memegang segala kunci maut dan kerajaan maut' (Why. 1:17-18)" [alinea ketiga].

Pena inspirasi menulis: "Ketika di atas salib Yesus berseru, 'Sudah selesai!' kemuliaan dan sukacita menggetarkan surga, dan kebingungan melanda persekongkolan jahat. Sesudah seruan kemenangan itu, Sang Penebus dunia menundukkan kepala-Nya lalu mati dan tampaknya Kapten dari keselamatan kita itu telah dikalahkan; tetapi oleh kematian-Nya Ia adalah pemenang, dan Ia telah membuka gerbang kemuliaan kekal supaya semua orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal" (Ellen G. White, The Review and Herald, 29 Januari 1895).

Apa yang kita pelajari tentang Yesus yang menaklukkan maut?
1. Kekuasaan Yesus atas maut sudah diperagakan sebelum kematian-Nya, yaitu dengan membangkitkan tiga orang yang sudah mati, khususnya Lazarus yang sudah empat hari dikubur. Tetapi kebangkitan Yesus sendiri menjadi bukti utama bahwa kuasa maut telah ditaklukkan-Nya, sebab kalau Dia tidak bangkit musnahlah pengharapan kebangkitan kita.
2. Yesus mati adalah atas kehendak Allah, "supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia" (Ibr. 2:9). Yesus harus mati karena Ia "diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya...Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut..." (Kis. 2:23-24).
3. Kematian Yesus adalah kematian karena dosa manusia yang ditimpakan atas-Nya, itu adalah kematian yang total dan bukan sekadar jiwa terpisah dari raga. Kalau tidak maka seharusnya Yesus bisa langsung pulih sesudah jam tiga petang hari Jumat itu sehabis Ia berseru "Sudah selesai!" dan menyerahkan nyawa-Nya (Yoh. 19:30). Tapi Yesus menjalani kematian secara jiwa dan raga.

Jumat, 19 September
PENUTUP

Pekik kemenangan. Dalam keseharian kita setiap kemenangan akan selalu disambut dengan sorak-sorai, terkadang bahkan kita turut bertempik sorak untuk sesuatu yang tidak berhubungan langsung dengan kepentingan kita. Orang-orang berpekik riang dalam sebuah pertandingan olahraga, dalam suatu ajang kompetisi, atau atas suatu peristiwa yang menimbulkan sukacita. Tetapi semua itu tidak ada artinya sama sekali jika dibandingkan dengan pekik kemenangan atas maut ketika orang-orang saleh dibangkitkan pada kedatangan Yesus kedua kali.

"Suara Anak Allah memanggil orang-orang kudus yang sedang tidur. Ia memandang kepada kubur-kubur orang benar lalu, sambil mengangkat tangan-Nya ke surga, Ia berseru: 'Bangun, bangun, bangun, kamu yang tidur di dalam debu tanah, bangkitlah!'...Dan orang-orang benar yang masih hidup serta orang-orang kudus yang dibangkitkan itu menyatukan suara mereka dalam pekik kemenangan yang panjang dan penuh kegembiraan" [dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].

Yesus telah menaklukkan maut ketika Ia membangkitkan beberapa orang mati selama pelayanan-Nya di dunia ini, maut juga sudah dikalahkan-Nya saat Ia bangkit dari kubur pada hari ketiga sesudah kematian-Nya di kayu salib. Kelak pada kedatangan-Nya yang kedua kali orang-orang saleh dari segala zaman juga akan mengambil bagian dalam kemenangan atas maut tatkala mereka yang sudah mati akan dibangkitkan di hari Maranata!

"Aku menaruh pengharapan kepada Allah, sama seperti mereka juga, bahwa akan ada kebangkitan semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun orang-orang yang tidak benar" (Kis. 24:15).

(Oleh Loddy Lintong/California, 18 September 2014)

Kamis, 11 September 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT KE XI 13 SEPTEMBER 2014 : "HARI YANG DICIPTAKAN BAGI MANUSIA"






Sabat Petang, 6 September
PENDAHULUAN

Yesus dan Hari Sabat. Istilah "Sabat" (artinya: hari perhentian) diperkenalkan oleh Musa dalam Torah (5 kitab pertama dari PL: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan) dan disebutkan untuk pertama kali dalam kitab Keluaran (16:23). Namun cukup menarik bahwa kata "Sabat" lebih banyak terdapat dalam empat kitab injil (4 kitab pertama dari PB: Matius, Markus, Lukas, Yohanes) ketimbang di seluruh Torah. Dalam Alkitab bahasa Indonesia versi Terjemahan Baru (TB), kata "Sabat" pada kelima kitab Torah berjumlah 37 ayat, dibandingkan dengan 44 ayat pada keempat kitab Injil. Selain itu, dalam Injil kata Sabat lebih banyak merujuk kepada Sabat hari ketujuh dari pekan, dibandingkan dengan kata Sabat dalam kitab Torah yang kebanyakan merujuk kepada "sabat" sebagai perayaan kudus.

Yesus sering berhadapan dengan orang-orang Farisi yang selalu berusaha mencari kesalahan-Nya dalam soal pemeliharaan hari Sabat, seperti yang terjadi pada suatu hari Sabat di sebuah sinagog di mana terdapat seorang yang tangan sebelahnya lumpuh. Yesus yang mengetahui bahwa orang-orang Farisi yang ada di situ sedang memperhatikan, langsung saja menyuruh orang itu berdiri di tengah-tengah mereka. "Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?" (Luk. 6:9). Yesus kemudian menyembuhkan dia pada hari Sabat itu, hal mana membuat orang-orang Farisi itu marah (ay. 11).

Dalam Yudaisme moderen terdapat tidak kurang dari 39 kategori larangan pada hari Sabat, termasuk hal-hal seperti mengikat ataupun melepas simpul tali dan menulis ataupun menghapus dua huruf (Mishnah Shabbat, 7:2). Jadi, kaum pria Israel tidak boleh memakai sepatu bertali pada hari Sabat. Penggunaan listrik dalam bentuk apapun juga dilarang, sebab menyalakan perangkat yang menggunakan tenaga listrik (arus AC maupun DC/batere) secara teknis dianggap sama dengan menyalakan api yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat. Jadi, mengemudikan mobil dan menggunakan telpon genggam atau handy talky sama sekali dilarang pada hari Sabat, kecuali untuk keperluan-keperluan khusus menyangkut keamanan dan keselamatan.

"Perdebatan-perdebatan Sabat dalam kitab-kitab Injil hanya berkaitan dengan bagaimana hari Sabat itu dipelihara, tidak pernah soal kapan. Kehidupan dan pengajaran Yesus tidak meninggalkan keraguan bahwa Sabat hari ketujuh akan terus berlangsung sebagai hari perhentian, bahkan sesudah kematian dan kebangkitan-Nya...Pekan ini kita akan membahas hubungan Kristus dengan asal-usul dan kepemilikan hari Sabat" [alinea kedua: dua kalimat terakhir; alinea ketiga: kalimat pertama].

Sementara satuan-satuan waktu (jam, hari, bulan dan tahun) ditentukan berdasarkan penghitungan astronomis, pekan atau minggu adalah satu-satunya segmen waktu yang dikenal dalam peradaban manusia--satuan waktu yang terdiri atas tujuh hari--yang tidak didasarkan pada hitungan astronomis melainkan ditentukan berdasarkan adanya hari Sabat di penghujung minggu. Dalam kitab Kejadian pasal 1 dan 2 kita menemukan petunjuk bahwa penentuan jangka waktu satu minggu ditandai oleh Sabat hari yang ketujuh.

Minggu, 7 September
HARI YANG DICIPTAKAN (Kristus, Pencipta Hari Sabat)

Minggu penciptaan. Allah bukan hanya menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya, tetapi Ia juga menciptakan waktu. Lebih spesifik lagi, Allah juga menciptakan hari. "Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama" (Kej. 1:4-5; huruf miring ditambahkan). Kitab Kejadian juga dengan tegas menyebutkan bahwa sesudah Allah menyelesaikan penciptaan "langit dan bumi dan segala isinya" (Kej. 2:1), maka "berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu" (ay. 2-3; huruf miring ditambahkan). Jadi, Sabat hari yang ketujuh diciptakan Allah untuk menandai selesainya minggu penciptaan, karena itu hari Sabat merupakan bagian integral dan tak terpisahkan dari minggu penciptaan tersebut.

Sekadar informasi tentang empat kitab Injil, tiga kitab pertama--Matius, Markus, Lukas--itu disebut "injil sinoptik" (sinoptik="melihat bersama"), artinya isi dari ketiganya ditulis dalam format yang sama, yakni bertutur tentang ajaran dan tindakan Yesus. Sedangkan injil Yohanes, yang diyakini sebagai kitab yang ditulis paling akhir dari keempat injil, memusatkan tulisannya pada siapa Yesus itu. Yohanes mengawali injilnya dengan pernyataan, "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan" (Yoh. 1:1-3; huruf miring ditambahkan).

"Baik Yohanes dan Paulus tidak meninggalkan keraguan mengenai peran Kristus dalam penciptaan. Allah Anak, Yesus Kristus, menciptakan segala sesuatu: 'Karena di dalam Dia telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan...Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia' (Kol. 1:16-17). Melalui Kristus, Allah menciptakan alam semesta, termasuk sistem tata surya kita, bumi dan segala yang ada di dalamnya, yang hidup dan yang mati...Kristus, yang harus menjadi Penebus manusia, adalah juga Penciptanya. Di situlah, pada akhir dari minggu Penciptaan, Tuhan memberikan kepada kita satu hari perhentian" [alinea pertama: empat kalimat terakhir; alinea kedua: dua kalimat pertama].

Hari istirahat. Penciptaan Sabat hari ketujuh, seperti yang kita baca dari Alkitab, berkaitan dengan perhentian. Allah berhenti pada hari ketujuh setelah enam hari bekerja menciptakan, bukan karena Allah butuh istirahat, tetapi karena Allah dalam hikmat-Nya yang tak terduga itu melihat bahwa manusia yang baru diciptakan itu memerlukan istirahat. Itulah sebabnya Yesus menegaskan lagi, "Hari Sabat dibuat untuk manusia; bukan manusia untuk hari Sabat" (Mrk. 2:27, BIMK). Tentu saja Yesus sangat paham tentang maksud diadakannya hari Sabat sebagai hari istirahat bagi manusia, sebab Ia sendiri turut menciptakan hari Sabat itu di masa penciptaan.

"Allah yang sama yang telah menciptakan umat manusia dengan kebutuhan untuk beristirahat, juga menyediakan sarana untuk beristirahat: satu hari dalam pekan di mana manusia harus menyisihkan kesibukan dan beban-beban mingguan lalu beristirahat di dalam Dia, sang Pencipta. Sesudah menyelesaikan Penciptaan, Ia sendiri berhenti pada hari yang ketujuh, bukan karena kelelahan tetapi untuk memberkati dan menguduskan hari Sabat itu serta memberi kita teladan untuk diikuti" [alinea terakhir: dua kalimat pertama].

Perhatikan tiga hal yang Allah lakukan pada Sabat hari ketujuh dalam minggu penciptaan: "Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu" (Kej. 2:3; huruf miring ditambahkan). Pada hari Sabat itu Allah berhenti, karena itu Ia memberkati dan menguduskannya. Di kemudian hari, melalui nabi-Nya yang lain, Allah berkata tentang umat Israel: "Hari-hari Sabat-Ku juga Kuberikan kepada mereka menjadi peringatan di antara Aku dan mereka, supaya mereka mengetahui bahwa Akulah Tuhan, yang menguduskan mereka" (Yeh. 20:12; huruf miring ditambahkan). Hari Sabat adalah "tanda" hubungan antara Allah dengan umat-Nya, dan melalui hari Sabat itu Allah menguduskan mereka. Qadash adalah kata kerja bahasa Ibrani untuk menguduskan, yang artinya "dipisahkan untuk maksud khusus."

Apa yang kita pelajari tentang hubungan Kristus dengan Sabat hari ketujuh?
1. Hari Sabat, khususnya Sabat hari yang ketujuh dalam pekan, bukan sekadar hari biasa yang menjadi bagian dari waktu sepekan. Sebagai bagian dari penciptaan, Sabat hari ketujuh merupakan "mahkota" dari penciptaan sebab hari itu menandai akhir dari minggu penciptaan. Allah berhenti pada hari itu, lalu memberkati dan menguduskannya.
2. Yesus Kristus telah terlibat dalam penciptaan hari Sabat dan turut berhenti pada hari ketujuh itu. Sewaktu hidup di dunia ini, "Firman" yang pada masa penciptaan sudah "bersama-sama dengan Allah dan adalah juga Allah" (Yoh. 1:1) itu pun menegaskan kembali maksud penciptaan hari Sabat sebagai hari perhentian.
3. Dalam rencana Allah, istirahat adalah bagian dari kehidupan manusia. Allah bukan saja menentukan satu hari untuk istirahat, tapi Ia juga menetapkan hari apa sebagai hari perhentian--yakni Sabat hari ketujuh, bukan hari Minggu. Sebab selain berhenti dari segala pekerjaan, Sabat adalah juga hari yang diberkati dan dikuduskan-Nya.

Senin, 8 September
OTORITAS ATAS HARI SABAT (Kristus, Tuhan atas Hari Sabat)

Alasan untuk berhenti. Dalam Injil, Yesus Kristus sering berhadapan dengan kaum Farisi dan ahli Taurat dalam soal pemeliharaan Sabat hari ketujuh dalam pekan. Misalnya ketika kaum Farisi mencela murid-murid Yesus yang kedapatan pada hari Sabat telah memetik bulir-bulir gandum untuk memakannya karena lapar, sembari berjalan melewati ladang-ladang gandum. Di mata para pemuka agama Yahudi itu, memetik bulir-bulir gandum untuk sekadar cemilan penahan lapar adalah perbuatan melanggar hukum hari Sabat sebab disamakan dengan "memanen" gandum. "Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat," kata mereka (Mat. 12:2). Terhadap tudingan yang tidak masuk akal itulah Yesus menyatakan, "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat" (Mrk. 2:27-28; ayat hafalan).

Apa artinya hari Sabat "diadakan" untuk manusia? Kata Grika yang diterjemahkan dengan diadakan pada ayat di atas adalah ginomai, sebuah kata kerja yang juga berarti menjadi, dijadikan, atau terjadi (Strong, G1096). Alkitab versi Bahasa Indonesia Masa Kini menerjemahkan frase ini: "Hari Sabat dibuat untuk manusia; bukan manusia untuk hari Sabat..." (BIMK; huruf miring ditambahkan). Kalau hari Sabat itu diadakan, dibuat, atau dijadikan untuk manusia, itu berarti bahwa hari Sabat diciptakan demi kepentingan manusia. Fakta kronologisnya, dalam minggu penciptaan itu manusia lebih dulu diciptakan oleh Allah (pada hari keenam, atau hari Jumat dalam kalender kita) baru kemudian hari Sabat diadakan (pada hari ketujuh, atau hari Sabtu dalam kalender kita).

Dalam lima hari pertama Allah lebih dulu menciptakan langit dan bumi serta segala isinya sebagai habitat atau lingkungan hidup manusia, setelah itu semua siap baru manusia diciptakan, dan kemudian Sabat sebagai hari perhentian itu dijadikan. Menarik untuk dicermati bahwa hari Sabat itu diadakan hanya sehari setelah Adam dan Hawa diciptakan, jadi mereka belum bekerja selama enam hari penuh sehingga perlu berhenti untuk beristirahat dari "melakukan segala pekerjaan" seperti apa yang dimaksud oleh Hukum Keempat (Kel. 20:9-10). Sebenarnya, beristirahat bukanlah alasan utama untuk berhenti pada hari Sabat. Manusia wajib berhenti pada Sabat hari ketujuh, "sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya" (ay. 11; huruf miring ditambahkan). Kita berhenti pada hari Sabat untuk merayakan penciptaan, dan kita berhenti dari pekerjaan kita karena Allah juga berhenti dari pekerjaan penciptaan pada hari Sabat!

Otoritas dan prioritas. Terhadap kritikan kaum Farisi atas tindakan murid-murid (bukan Yesus!) yang memetik dan memakan bulir-bulir gandum pada hari Sabat, Yesus mengingatkan mereka tentang peristiwa ketika imam Ahimelekh di kota Nob mengambil roti sajian dari Bait Suci untuk diberikan kepada Daud dan pasukannya yang sedang kelaparan (1Sam. 21:1-6), roti yang menurut Hukum Musa hanya boleh dimakan oleh para imam sebagai "bagian maha kudus" (Im. 24:9). Ahimelekh (namanya berarti "Saudaraku adalah Raja") adalah cicit dari imam Eli, dan pada waktu itu menjabat sebagai imam besar dibantu oleh anaknya, Abyatar (disebut sebagai imam besar dalam injil Markus), yang memang sedang magang untuk menggantikan posisi sang ayah, satu-satunya imam yang luput dari pembantaian raja Saul yang marah atas perbuatan mereka menolong Daud (baca 1Sam. 22:20).

Sebagai sebuah peristiwa, kisah Daud beserta para pengikutnya yang memakan roti kudus dan dijadikan sebagai contoh pembanding oleh Yesus (Mat. 12:3-4), dan juga kesalahan para imam di dalam Bait Suci (ay. 5), sebenarnya tidak sama dengan "pelanggaran" murid-murid seperti yang dituduhkan oleh orang-orang Farisi itu. Tetapi dari segi kekudusan, apa yang dilakukan oleh Daud maupun para imam itu adalah pelanggaran terhadap hukum Musa. Namun di sini Yesus sedang berbicara tentang skala prioritas, bahwa dalam keadaan-keadaan tertentu kesejahteran dan keselamatan manusia harus lebih diutamakan ketimbang ketaatan secara kaku pada hukum, sepanjang hal itu tidak dipermasalahkan oleh Pemberi hukum itu. "Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah...Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat" (ay. 6, 8).

"Di sini Yesus menegaskan kembali asal mula hari Sabat di Eden, dan mengubah prioritas-prioritas orang Farisi yang salah mengenai manusia dan Sabat: hari Sabat diadakan untuk keuntungan manusia dan berlanjut sebagai karunia pemberian Allah demi pelayanan umat manusia, gantinya umat manusia demi pelayanan hari Sabat. Dan (2), dengan mengatakan: 'Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat' (Mrk. 2:28), Kristus meneguhkan status-Nya sebagai Pencipta dan Pembuat hukum hari Sabat. Karena itu, Ia sendiri memiliki otoritas untuk membebaskan hari Sabat dari hukum-hukum buatan manusia" [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Kristus sebagai Tuhan atas hari Sabat?
1. Alkitab sudah mengatakan, dan hukum keempat dari Sepuluh Perintah pun menegaskan, bahwa manusia wajib berhenti pada hari Sabat setiap pekan karena Allah sendiri sudah berhenti pada Sabat hari yang ketujuh, dan dengan demikian kita mengenang penciptaan. Jangan kelewat kreatif dengan menambah alasan-alasan lain meski "masuk akal."
2. Golongan Farisi di zaman Yesus adalah orang-orang yang kreativitasnya terlalu berlebihan sehingga mereka membuat hari Sabat yang seharusnya adalah karunia Allah yang menguntungkan bagi manusia menjadi beban yang memberatkan. Sesungguhnya, hari Sabat adalah "hari kenikmatan" dan hari kudus Allah adalah "hari yang mulia" (Yes. 58:13).
3. Dengan menyodorkan alasan-alasan kemanusiaan sebagai dasar pertimbangan pemeliharaan hari Sabat, Yesus tidak menjadikan "keadaan darurat" murid-murid-Nya yang kelaparan sebagai pembenaran untuk pelanggaran kekudusan hari Sabat. Ini juga bukan alasan yang sah untuk makan siang di restoran sehabis kebaktian Sabat seperti dibiasakan sebagian orang.

Selasa, 9 September
SABAT SEBAGAI HARI PERHENTIAN (Keteladanan Yesus)

Kebiasaan Yesus. Berdasarkan pada pernyataan Yesus dalam Matius 5:17, sebagian orang Kristen percaya dan mengajarkan bahwa umat Kristen tidak perlu lagi memelihara Sabat hari ketujuh karena semua perintah dari hukum Allah itu sudah "digenapkan" oleh Yesus. Menurut mereka, unsur berhenti dari hukum keempat itu sudah digenapi oleh Yesus Kristus sendiri. Dengan mengutip perkataan "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat" (Mat. 12:8), dan bahwa dengan beriman kepada Yesus Kristus maka kita "masuk ke dalam perhentian-Nya" (Ibrani 3 dan 4), maka berhenti pada Sabat hari ketujuh tidak diperlukan lagi. Tetapi, tentu saja, doktrin seperti ini tidak didasarkan pada pemahaman yang benar atas maksud ayat-ayat tersebut, bahkan terkesan sebagai dalih yang mengada-ada.

Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Yesus, "menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat" (Luk. 4:16). Beribadah pada hari Sabat adalah perintah Allah dalam Sepuluh Perintah yang ditaati oleh bangsa Israel sejak hukum itu diturunkan kepada mereka melalui Musa di gunung Sinai, dan perintah pemeliharaan hari Sabat itu terus ditaati hingga sekarang. Selama hidup di dunia ini Yesus memelihara Sabat hari ketujuh bukan saja karena dalam penjelmaan-Nya menjadi manusia biasa Ia telah dilahirkan sebagai seorang Yahudi, tapi juga karena Ia tahu bahwa perintah tentang pemeliharaan hari Sabat itu abadi dan universil. Yesus tidak pernah membatalkan hukum Allah, termasuk hukum hari Sabat, gantinya Ia memberi contoh dengan membiasakan diri memelihara hukum itu.

"Fakta bahwa Yesus Kristus selama pelayanan-Nya di dunia memelihara Sabat hari ketujuh, bersama-sama dengan orang Yahudi, membuktikan bahwa siklus pekan belum hilang sejak pemberian hukum itu di Sinai, atau bahkan sejak penciptaan. Keteladanan-Nya sebagai pemelihara hari Sabat adalah contoh bagi umat Kristen untuk diikuti, baik dalam hal waktu maupun cara pemeliharaannya" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Berhenti dalam Yesus. Pada kesempatan berhari Sabat di kampung halaman-Nya di Nazaret itu, Yesus didaulat untuk membaca Kitabsuci (bagi orang Yahudi adalah Alkitab Perjanjian Lama). Pembacaan Kitabsuci merupakan bagian dari liturgi ibadah hari Sabat di sinagog, dan biasanya itu dilakukan oleh pengurus teras sinagog setempat atau tamu yang dihormati. Sebagai warga setempat yang sudah menjadi tenar di seluruh negeri, wajar jika jemaat memberi kesempatan itu kepada Yesus yang baru pertama kali pulang kampung. Kepada Yesus diberikan duplikat dari gulungan kitab nabi Yesaya, dan Ia memilih bagian belakang yang dalam Kitabsuci kita sekarang adalah pasal 61 ayat 1 dan 2. Sesudah itu Yesus berkata, "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya" (Luk. 4:21), dan jemaat pun "membenarkan Dia" sembari terheran-heran (ay. 22).

Yesus memilih bagian dari tulisan nabi Yesaya yang menubuatkan tentang Mesias (artinya "yang diurapi") untuk menjadi "Pembebas" yang diutus Allah, bukan bagi orang Yahudi saja tapi juga semua manusia sepanjang zaman, karena waktunya sudah genap "untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang" (ay. 19; huruf miring ditambahkan). Kata Grika untuk rahmat dalam ayat ini adalah dektos, kata sifat yang artinya diterima atau diperkenan, sebuah kata yang padanannya dalam bahasa Ibrani adalah yobel. "Tahun rahmat" dalam injil Lukas ini sama dengan "tahun Yobel" dalam PL, yaitu "tahun pembebasan" pada akhir setiap jangka waktu tujuh tahun (baca Imamat 25 dan 27).

"Itu adalah tahun ketujuh, atau Yobel, yakni tahun atau waktu perhentian. Cocok sekali, Yesus memilih hari perhentian, hari Sabat, untuk mengumumkan pelayanan-Nya dalam hal penebusan, pembebasan, dan penyembuhan. Sesungguhnya, kita menemukan perhentian dalam Yesus, suatu perhentian yang diungkapkan dalam cara yang nyata pada setiap hari Sabat" [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang keteladanan Yesus dalam hal perhentian hari Sabat?
1. Selama hidup-Nya di atas dunia ini Yesus membiasakan diri untuk beribadah di sinagog, menurut kebiasaan sebagai orang Yahudi. Kalau Yesus sendiri yang adalah "Tuhan atas hari Sabat" berhenti dan beribadah pada Sabat hari ketujuh dalam pekan, apakah kita yang mengaku sebagai pengikut-Nya tidak akan mengikuti teladan ini?
2. Ketika Yesus diminta membaca Kitabsuci, Ia memilih bagian tulisan nabi Yesaya yang bernubuat perihal Mesias dan tahun pembebasan. Kedatangan-Nya yang pertama menandakan tibanya "tahun Yobel" bagi seluruh umat manusia, yaitu pembebasan dari hukuman dosa melalui kematian penebusan-Nya.
3. Dengan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat, kita juga menerima "perhentian" di dalam Yesus (Ibrani 3 dan 4). Dalam hal ini adalah perhentian abadi dalam kerajaan Surga dan di dunia baru, tapi bukan berarti dengan demikian Yesus membatalkan Sabat hari ketujuh dalam pekan sebagai hari perhentian.

Rabu, 10 September
SABAT SEBAGAI HARI PENYEMBUHAN (Mujizat Pada Hari Sabat)

Hari Sabat dan penyembuhan. Alkitab mencatat bahwa Yesus kerap mengadakan mujizat penyembuhan pada hari Sabat, dan hal itu telah memprovokasi golongan Farisi dan para pemuka agama lainnya untuk mencela Yesus. Begitu seringnya peristiwa itu terjadi sehingga seakan menimbulkan kesan bahwa Yesus sengaja menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat untuk memancing perhatian orang banyak terhadap hubungan antara hari Sabat dan penyembuhan, sesuatu yang mungkin saja Dia ingin kemukakan. Benarkah?

Dalam beberapa kejadian, Yesus memang telah mengedepankan beberapa pemikiran untuk membuka wawasan kaum Farisi perihal manfaat hari Sabat bagi manusia. Ketika pada suatu hari Sabat orang-orang Farisi melihat gelagat Yesus hendak menyembuhkan seorang yang menderita kelumpuhan sebelah tangannya di halaman tempat ibadah, mereka berusaha untuk mencegah dengan pura-pura bertanya apakah pantas menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat. Tapi Yesus mengingatkan mereka tentang menyelamatkan domba yang jatuh ke lobang pada hari Sabat, sambil berkata, "Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat" (Mat. 12:12; huruf miring ditambahkan). Pada peristiwa lain, Yesus berkata bahwa seorang perempuan yang dirasuk Setan selama 18 tahun sangat patut untuk "dibebaskan" dari penguasaan iblis, pada hari Sabat (Luk. 13:16).

"Yesus berusaha menekankan satu hal: Menyembuhkan pada hari Sabat tidak melanggar hukum. Sebaliknya, hal itu lebih sah ketimbang apa yang banyak orang Farisi dan para pemuka agama biasa lakukan pada hari Sabat...Bukankah nyawa seseorang lebih berharga daripada nyawa seekor binatang? Sayangnya, para pengeritik Kristus memperlihatkan lebih banyak pengasihan terhadap ternak mereka sendiri daripada manusia yang sedang menderita. Mereka membolehkan untuk beri minum seekor hewan, tetapi tidak untuk memulihkan seseorang" [alinea pertama: dua kalimat terakhir; alinea kedua: tiga kalimat terakhir].

Allah tidak pernah berhenti bekerja. Pada suatu kejadian lain, juga pada hari Sabat, Yesus telah menyembuhkan seseorang yang sudah menderita lumpuh selama 38 tahun. Yesus yang merasa iba terhadap pria itu, yang setiap hari menunggu keajaiban di tepi kolam Betesda tanpa pernah berhasil menjadi orang pertama terjun ke kolam itu saat airnya berguncang, lalu menawarkan kesembuhan. "Maukah engkau sembuh?" tanya Yesus kepadanya. "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah" (Yoh. 5:6, 8). Seketika itu juga dia sembuh, dan saking gembiranya dia lupa pada pesan Yesus untuk merahasiakan kesembuhannya. Bukan penyembuhannya yang dipermasalahkan orang Farisi, tapi aktivitasnya yang memanggul tikar pada hari Sabat. "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah," katanya membela diri (ay. 11).

Dalam kepolosannya, saat bersua dengan Yesus di dalam Bait Suci, orang lumpuh yang baru sembuh itu langsung memberitahukannya kepada para pemimpin agama yang tadi menegurnya. Kali ini Yesus mengemukakan alasan yang lain kepada mereka yang hendak menganiaya diri-Nya, "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga" (ay. 17). Pernyataan ini justru semakin membuat mereka berniat membunuh Dia, karena selain melanggar hari Sabat juga karena mengakui Allah sebagai Bapa dan dengan demikian "menyamakan diri-Nya dengan Allah" (ay. 18). Allah berhenti mencipta pada hari ketujuh minggu penciptaan, tetapi Allah tidak pernah berhenti bekerja pada Sabat hari ketujuh. Sama seperti Allah Bapa, Yesus pun tidak pernah berhenti bekerja melayani manusia dengan perbuatan-perbuatan kebajikan-Nya.

"Yesus mengajarkan bahwa kita seharusnya tidak menjadi legalistik ketika memelihara hari Sabat. Memeliharanya berarti 'beristirahat' dari segala pekerjaan kita sendiri (Ibr. 4:10), dan lebih penting lagi berhenti untuk mencoba mengerjakan cara kita sendiri kepada keselamatan--yang sama sekali mustahil. Setan ingin meyakinkan kita untuk memelihara hari Sabat secara egoistis. Kalau dia tidak dapat memaksa kita menentang hari Sabat, dia akan berusaha mendorong kita ke ekstrem yang lain: Legalisme" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang hari Sabat dan mujizat penyembuhan oleh Yesus?
1. Perhentian hari Sabat tidak berarti kesempatan untuk tidur dan bermalas-malasan, melainkan itulah hari yang paling baik untuk berbuat kebajikan. Berhenti dari kesibukan pekerjaan sehari-hari untuk kepentingan diri sendiri, tapi sibuk "berbuat baik" demi kepentingan sesama manusia dalam cara apa saja yang dapat kita lakukan.
2. Yesus sering mengadakan mujizat penyembuhan pada hari Sabat karena Dia berkuasa melakukan itu. Anda dan saya mungkin tidak mampu memberi kesembuhan dan tidak mendapat karunia untuk menyembuhkan, tetapi dengan berdoa memohon Yesus melakukannya bagi seseorang kita telah turut mengambil bagian dari penyembuhan itu.
3. Allah Bapa dan Yesus Kristus tidak pernah berhenti bekerja bahkan pada hari Sabat sekalipun, namun pekerjaan yang mereka lakukan itu adalah demi kepentingan dan kebaikan umat manusia. Dalam cara-cara tertentu kita pun dapat membalas kebaikan Tuhan dengan mengerjakan sesuatu bagi kemuliaan-Nya pada hari Sabat.

Kamis, 11 September
KELESTARIAN HUKUM SABAT (Sabat Sesudah Kebangkitan)

Kekudusan dipertahankan. Nubuatan tentang kejatuhan dan kehancuran kota Yerusalem purba telah diamarkan oleh Yesus sendiri ketika Ia mengingatkan bahwa bilamana "Pembinasa keji berdiri di tempat kudus, menurut firman yang disampaikan oleh nabi Daniel" (Mat. 24:15), maka penduduk harus segera meninggalkan kota dan lari ke wilayah pegunungan untuk menyelamatkan diri (ay. 16-18). Yesus mengutip nubuatan yang terdapat dalam kitab nabi Daniel (9:26), yang kegenapannya terjadi pada tahun 70 TM ketika pasukan pimpinan jenderal Titus (belakangan diangkat menjadi kaisar menggantikan Nero yang bunuh diri tahun 68 TM), dibantu oleh wakilnya Tiberius Julius Alexander (mantan gubernur Yudea, 46-48 TM), mengepung dan kemudian membinasakan kota Yerusalem beserta Bait Suci dan mezbahnya. Banyak orang yang berhasil selamat karena melarikan diri sewaktu pasukan Romawi itu sempat melonggarkan pengepungan, tetapi lebih banyak lagi yang terbunuh karena tetap bertahan di dalam kota. Menurut sejarahwan Yosepus, tak kurang dari 1,1 juta orang tewas dan 97.000 lainnya ditawan kemudian dijadikan budak.

Dalam amaran-Nya kepada masyarakat Yahudi waktu itu Yesus mengatakan, "Berdoalah, supaya waktu kamu melarikan diri itu jangan jatuh pada musim dingin dan jangan pada hari Sabat" (Mat. 24:20). Menghindari pengungsian pada musim dingin karena hal itu sangat memberatkan dan membahayakan, tetapi menghindari pengungsian pada hari Sabat ialah agar kekudusan hari Sabat tetap terpelihara. Berdasarkan catatan sejarah, pengepungan dan penyerangan itu dimulai dalam bulan April bertepatan dengan perayaan Paskah.

"Perkataan Kristus dalam Matius 24:20 menunjukkan kepada kita bahwa dalam tahun 70 Tarikh Masehi, sekitar empat puluh tahun sesudah kematian-Nya, hari Sabat harus tetap dianggap sama kudusnya seperti sebelumnya. Kegaduhan, kegemparan, ketakutan, dan perjalanan yang perlu untuk mengungsi dari Yerusalem tidak pantas terjadi pada hari Sabat" [alinea kedua].

Hari Sabat tidak berubah. Setelah kenaikan Yesus kembali ke surga pemeliharaan Sabat hari ketujuh terus dijalankan oleh murid-murid dan para rasul sebagaimana tercatat dalam tulisan dokter Lukas lainnya, yaitu kitab Kisah Para Rasul. Di antaranya, Paulus dan Barnabas ketika berada di kota Antiokhia di wilayah Pisidia (Kis. 13:14, 42), selain itu juga di Ikonium (14:1). Sewaktu mengadakan perjalanan bersama Silas, Paulus juga meneruskan kebiasaan beribadah pada hari Sabat di kota Tesalonika (17:1-2), begitu juga ketika melakukan perjalanan sendirian dan tiba di kota Korintus di mana "setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani" (18:4).

"Bagi para murid itu pergi ke sinagog sama seperti masuk gereja bagi kita sekarang ini: salah satu cara terbaik untuk memelihara Sabat. Utamanya hal ini nyata bagi rasul Paulus yang hadir dalam ibadah di sinagog pada hari Sabat ketika tidak ada gereja Kristen. Meskipun dia adalah rasul bagi bangsa-bangsa kafir dan kampiun dalam soal pembenaran oleh iman, dia terbiasa pergi ke sinagog pada hari Sabat, bukan saja untuk berkhotbah kepada orang-orang Yahudi tapi juga untuk memelihara kesucian hari Sabat...Ayat-ayat ini memberi bukti yang kuat bahwa gereja mula-mula tidak mengetahui apa-apa tentang hari pertama dalam pekan sebagai pengganti hari ketujuh" [alinea ketiga; alinea keempat: kalimat terakhir].

Pena inspirasi menulis: "Manakala bintang-bintang pagi berdendang bersama, dan semua anak-anak Allah bersorak karena sukacita, hari Sabat telah dipisahkan sebagai tanda peringatan Allah. Allah menguduskan dan memberkati hari itu di mana Ia sudah berhenti dari segala pekerjaan-Nya yang ajaib. Dan hari Sabat ini, yang dikuduskan Allah, harus dipelihara sebagai perjanjian abadi. Itu adalah suatu peringatan yang harus tegak berdiri dari zaman ke zaman, sampai pada penutupan sejarah dunia" (Ellen G. White, Review and Herald, 30 Agustus 1898).

Apa yang kita pelajari tentang pemeliharaan hari Sabat sesudah kebangkitan Kristus?
1. Pesan dan harapan Yesus supaya penduduk Yerusalem tidak terpaksa mengungsi pada hari Sabat atau musim dingin, bila nubuatan tentang penghancuran kota itu terjadi sesuai nubuatan dalam kitab Daniel, membuktikan kepedulian-Nya terhadap nasib bangsa itu dan juga keprihatinan-Nya akan pentingnya memelihara kekudusan hari Sabat.
2. Pemeliharaan Sabat hari ketujuh sebagai hari perhentian tidak berakhir dengan penyaliban Yesus atau kenaikan-Nya ke surga, sebaliknya pemeliharaan hari Sabat menjadi warisan pengajaran dan keteladanan Kristus. Dari masa ke masa orang-orang Kristen sudah menunjukkan kesetiaan itu, sampai hukum Sabat diubah oleh manusia secara tidak sah.
3. Hukum tentang hari Sabat dari Sepuluh Perintah tidak pernah dibatalkan ataupun diubah, sama dengan hukum-hukum lainnya seperti larangan membunuh, mencuri, berdusta, dan lain-lain yang tidak pernah diubah atau dibatalkan. Sebagaimana Sepuluh Perintah itu abadi, demikianlah hukum Sabat itu juga abadi.

Jumat, 12 September
PENUTUP

Tanda peringatan. Pernyataan Yesus bahwa Dia ["Anak Manusia"] adalah Tuhan atas hari Sabat (Mat. 12:8) merupakan sebuah manifesto keilahian sebagai Pemberi hukum, dan keteladanan-Nya dalam pemeliharaan hari Sabat semasa hidup di dunia ini menunjukkan kesungguhan-Nya terhadap pelaksanaan hukum itu oleh manusia. Sebagai Oknum ilahi Yesus tidak terikat pada tuntutan dalam Sepuluh Perintah, bahkan Ia berada di atas hukum itu, namun dalam penjelmaan-Nya sebagai manusia biasa Yesus menunjukkan kepatuhan-Nya pada tuntutan hukum itu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada hukum pemeliharaan hari Sabat itulah kekuasaan ilahi dan ketaatan manusia bertemu.

"Karena ketika berbicara tentang Israel, Ia berkata, 'Hari-hari Sabat-Ku juga Kuberikan kepada mereka menjadi peringatan di antara Aku dan mereka, supaya mereka mengetahui bahwa Akulah Tuhan yang menjadikan mereka.' Yehezkiel 20:21. Maka hari Sabat adalah tanda kuasa Kristus untuk menjadikan kita suci. Dan itu diberikan kepada semua orang yang disucikan Kristus. Sebagai suatu tanda dari kuasa-Nya yang menyucikan, Sabat diberikan kepada semua orang yang melalui Kristus menjadi bagian dari Israel milik Allah" [empat kalimat terakhir].

Sebagai sebuah "tanda peringatan" hubungan antara Allah dan umat-Nya, hari Sabat menjadi seperti "bendera nasional" yang menyatakan ikatan kewarganegaraan umat Allah dengan Surga. Layaknya seorang warganegara yang cinta bangsa dan tanah air kita tentu akan selalu menjunjung tinggi bendera kebangsaan dan senantiasa membela kehormatannya. Sebagai orang Kristen, "kita adalah warga negara surga," tulis rasul Paulus (Flp. 3:20, BIMK), dan kita bangga untuk membela kehormatan hari Sabat.

"Berbahagialah orang yang melakukannya, dan anak manusia yang berpegang kepadanya: yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang menahan diri dari setiap perbuatan jahat" (Yes. 56:2).

(Oleh Loddy Lintong/California, 10 September 2014)

Jumat, 05 September 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT DEWASA KE X SEPTEMBER 06,2014: "YESUS KRISTUS DAN SEPULUH PERINTAH ALLAH"





Sabat Petang, 30 Agustus
PENDAHULUAN

Yesus meninggikan hukum Allah. Fakta bahwa Yesus meninggikan Sepuluh Perintah Allah terlihat sewaktu berbicara dengan seorang pemuda yang datang meminta petunjuk untuk mendapatkan jaminan hidup kekal. "Jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah," kata Yesus kepadanya (Mat. 19:17). Ketika pemuda itu bertanya tentang perintah-perintah yang dimaksudkan, Yesus lalu menyebut beberapa dari Sepuluh Perintah, khususnya "hukum terutama kedua" (Mat. 22:39) yang berkenaan dengan kewajiban untuk mengasihi sesama manusia.

Sekalipun hukum Allah tidak dapat menyelamatkan manusia--sehingga Paulus menyebut kebenaran melalui penurutan hukum itu adalah "sampah" jika dibandingkan dengan kebenaran Kristus (Flp. 3:7-9)--namun hukum Allah tetap berlaku sebagai standar moral yang mesti ditaati oleh manusia. Sepuluh Perintah telah diturunkan kepada manusia oleh Allah yang benar, tentu saja di dalam perintah itu terkandung kebenaran Allah yang mutlak. Meskipun manusia tidak diselamatkan oleh penurutan atas hukum-hukum itu, melainkan hanya oleh iman kepada darah Kristus (Rm. 5:1, 9; Ef. 2:8-9), kewajiban untuk menaati hukum Allah tetap mengikat. Penurutan hukum tidak menyelamatkan, tetapi orang yang sudah diselamatkan mesti menuruti hukum itu. Dengan kata lain, penurutan hukum Allah adalah konsekuensi logis dari menerima keselamatan dari Allah.

"Adalah penting untuk memahami bahwa meskipun Yesus secara terbuka mencela praktik-praktik legalistik dari kaum Farisi, Ia meninggikan Sepuluh Perintah, dan dengan jelas menegaskan keabadian dari Sepuluh Perintah itu dan menerangkan makna serta tujuannya. Kristus sendiri berkata bahwa Ia sudah datang untuk menggenapi hukum itu (Mat. 5:17). Dalam banyak hal, kematian-Nya merupakan penyataan utama dari keabsahan hukum Allah yang berkelanjutan" [alinea ketiga].

Intisari dari Khotbah di Atas Bukit yang tercatat dalam Matius pasal 5-7 sesungguhnya adalah nasihat-nasihat untuk mengamalkan Sepuluh Perintah Allah dalam kehidupan sehari-hari, dan semua itu selaras dengan maksud Allah yang termaktub dalam hukum-hukum itu. Khotbah di Atas Bukit merupakan penjabaran praktis dari isi hukum moral tersebut yang mengatur hubungan kita dengan Allah secara vertikal dan hubungan kita dengan sesama manusia secara horisontal.

Minggu, 31 Agustus
KEKEKALAN HUKUM ALLAH (Yesus Tidak Mengubah Hukum)

Hukum dan kegenapannya. Yesus berkata, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya" (Mat. 5:17). Tampaknya kalimat ini untuk menyanggah tuduhan kaum Farisi dan ahli Taurat seolah-olah Yesus menentang Hukum Musa yang waktu itu masih berlaku bagi bangsa Israel, padahal yang ditentang Yesus adalah cara mereka menerapkan hukum-hukum itu. Ketika berkata bahwa Ia datang untuk "menggenapi" hukum itu, tentu yang dimaksud adalah hukum upacara agama dalam bentuk persembahan kurban yang melambangkan Diri-Nya sebagai kurban pengganti. Kata Grika plērƍsai yang diterjemahkan dengan menggenapi dalam ayat ini juga berarti memenuhi (Strong, G4137; kata yang sama digunakan pula dalam Matius 1:22; 2:15, 17, 23). Perihal kegenapan (hukum upacara agama) ini bahkan satu titik pun tak ada yang ditiadakan, "sebelum semuanya terjadi" (ay. 18).

Selanjutnya Yesus berkata, "Siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil...akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga" (ay. 19). Kalimat ini telah menimbulkan pertanyaan besar dalam benak banyak orang, apakah di surga ada "kedudukan" yang tinggi dan rendah? Bahkan, ada orang berkata biarpun hanya mendapat tempat paling rendah tidak masalah asal masuk surga. Anak kalimat basileia tƍn ouranƍn yang diterjemahkan dengan Kerajaan Surga di sini bisa juga berarti "perhimpunan umat Allah," dan dalam hal ini "tempat paling rendah" adalah ungkapan yang sama dengan "direndahkan." Versi lain menerjemahkan ayat ini: "Oleh karena itu, barangsiapa melanggar salah satu dari perintah-perintah itu, sekalipun yang terkecil...akan menjadi yang paling kecil di antara umat Allah. Sebaliknya, barangsiapa menjalankan perintah-perintah itu dan mengajar orang lain berbuat begitu juga, akan menjadi besar di antara umat Allah" (BIMK; huruf miring ditambahkan).

Akan halnya Sepuluh Perintah Allah, tentu tidak ada bagian yang dapat disebut "paling kecil" atau "yang terkecil" sebab kesepuluh perintah itu semuanya setara dan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, sehingga "mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya" (Yak. 2:10). "Pernyataan-Nya sangat jelas dan kemungkinan untuk menunjukkan bahwa para pemimpin agama itulah, bukan Dia, yang sedang 'merusak' hukum itu dengan mengurangi efeknya melalui tradisi mereka (baca Mat. 15:3, 6). Sebaliknya, oleh mengisinya dengan makna yang lebih dalam Kristus telah datang untuk 'menggenapi' hukum itu, sehingga memberikan kepada kita suatu teladan tentang seperti apa penurutan yang sempurna kepada kehendak Allah itu" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Hukum yang mengikat. Kita sudah pernah pelajari bahwa Hukum Taurat yang diturunkan Allah kepada manusia melalui nabi Musa di gunung Sinai itu terdiri atas tiga bagian pokok: hukum sipil (tata krama kehidupan sosial), hukum agama (tata tertib upacara keagamaan), dan hukum moral (Sepuluh Perintah). Sementara hukum-hukum itu bersifat mengikat terhadap manusia, dua hukum yang pertama diwajibkan atas bangsa Israel secara spesifik, sedangkan hukum moral diwajibkan atas seluruh umat manusia. Dalam Yudaisme, Torah (artinya: mengajar) adalah keseluruhan lima kitab Musa--Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan--yang dirangkum menjadi 613 perintah (mitzvot). Torah merupakan bagian dari Kitabsuci Ibrani yang disebut Tanakh, yaitu Perjanjian Lama yang terdapat dalam Alkitab sebagai kitabsuci umat Kristiani.

Sementara hukum sipil dan hukum upacara agama ditulis oleh Musa berdasarkan dikte Allah (Kel. 24:4), Sepuluh Perintah sebagai hukum moral itu ditulis langsung oleh jari Allah sampai dua kali setelah dua loh batu yang pertama hancur lebur dilempar oleh Musa yang marah karena bangsa Israel telah membuat patung anak lembu emas dan menyembahnya (baca Kel. 32:19 dan Kel. 34:1). Ini saja sudah menjadi bukti yang tak terbantahkan tentang kedudukan hukum moral yang lebih tinggi dibandingkan dengan dua jenis hukum lainnya yang khusus diperuntukkan bagi orang Israel. Dalam suratnya kepada orang-orang Kristen di kota Roma, jemaat yang mayoritas anggotanya berkebangsaan non-Yahudi, rasul Paulus menegaskan pentingnya memelihara Sepuluh Perintah--khususnya enam hukum bagian kedua yang mengatur tentang kasih terhadap sesama manusia--sebagai "kegenapan hukum Taurat" (Rm. 13:8-10).

"Fakta bahwa Kristus sendiri yang memberikan hukum itu kepada Musa di gunung Sinai menjadikannya bahkan lebih penting lagi bagi kita untuk memperlakukannya dengan serius. Juga, jika Pemberi hukum itu sendiri lebih jauh menjelaskannya melalui pengajaran-Nya, sebagaimana yang kita temukan dalam Injil, maka kita akan berusaha untuk menaati hukum itu. Seseorang akan sulit untuk menemukan dalam kehidupan dan pengajaran Yesus sesuatu yang menandakan bahwa Sepuluh Perintah itu tidak mengikat bagi orang-orang Kristen. Sebaliknya, perkataan dan keteladanan-Nya mengajarkan kita kebalikannya" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Yesus yang menggenapi dan bukan mengubah Hukum?
1. Yesus tidak mungkin mengubah atau menentang hukum Taurat seperti yang dituduhkan oleh kaum Farisi dan ahli Taurat, selain karena sebagai manusia biasa Dia adalah orang Yahudi yang wajib untuk tunduk pada Taurat, sebagai Mesias yang digambarkan melalui upacara persembahan kurban maka kedatangan-Nya adalah untuk "menggenapi" lambang itu.
2. Seluruh pengajaran dan pola hidup Yesus selama berada di dunia ini selaras dengan hukum Allah, tetapi Ia menentang cara-cara para pemimpin agama Yahudi yang membuat penurutan pada hukum itu menjadi beban yang berat sementara mereka sendiri tidak melaksanakannya dengan betul. Yesus anti kemunafikan.
3. Melalui pengajaran-Nya, Yesus sering menititikberatkan pada penerapan Sepuluh Perintah sebagai hukum moral, khususnya perintah-perintah yang berkaitan dengan interaksi di antara sesama manusia. Melalui kehidupan-Nya, Yesus memberi keteladanan dalam hal bagaimana menaati empat hukum pertama tentang hubungan kita dengan Allah.

Senin, 1 September
AMPLIFIKASI SEPULUH PERINTAH (Yesus Memperdalam Arti Hukum Itu)

Interpretasi hukum. Adalah menarik bahwa dalam Khotbah di Atas Bukit itu Yesus kemudian menyampaikan interpretasi hukum yang radikal atas Sepuluh Perintah, hal mana menunjukkan otoritas-Nya atas hukum-hukum itu. Yesus bukan membatalkan hukum Allah, tetapi justeru memberi penafsiran baru yang lebih mendalam. Misalnya, marah kepada orang lain dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum keenam (Mat. 5:21-22); berselingkuh di dalam hati dapat dianggap sebagai pelanggaran hukum ketujuh (ay. 27-28). Bahkan, musuh bukan untuk dibenci tetapi harus dikasihi (ay. 43-44). Perluasan makna hukum Allah ini tentu saja di luar persepsi bangsa Israel tentang Torah. Sementara orang Farisi menafsirkan hukum Allah secara dangkal dan harfiah, Yesus menekankan pada makna sesungguhnya dari hukum itu. Yesus bukannya mengubah hukum Allah, tetapi Ia mengoreksi penafsiran yang dangkal atas hukum itu.

Dalam ilmu hukum ada cara penafsiran subyektif (sesuai dengan kehendak dari pembuat undang-undang) dan penafsiran obyektif (lepas dari maksud pembuat undang-undang tapi disesuaikan dengan gaya bahasa sehari-hari) atas sebuah undang-undang. Selain itu, menyangkut dalil-dalil hukumnya, dikenal juga apa yang disebut penafsiran restriktif (dalam pengertian sempit) dan penafsiran ekstensif (dalam pengertian luas). Melihat cara Yesus memperluas arti dari beberapa hukum dalam Sepuluh Perintah itu mungkin dapat dikatakan bahwa Ia melakukan penafsiran secara subyektif dan ekstensif, yaitu memperluas arti dari bunyi hukum-hukum itu sesuai dengan apa yang dimaksudkan Allah sebagai pembuat hukum.

"Apakah Yesus mendiskreditkan hukum? Tentu tidak. Dengan lebih memperjelas dan memperluas apa yang para pemimpin agama telah persempit menjadi tidak lebih dari formalitas, Ia membandingkan ajaran-ajaran kaum Farisi dengan makna sesungguhnya dari hukum itu...Para rabi menjadikan tradisi sebagai otoritas bagi penafsiran mereka tentang hukum itu. Sebaliknya, Kristus berbicara atas otoritas-Nya sendiri sebagai Pembuat hukum itu" [alinea kedua: tiga kalimat terakhir; alinea ketiga: dua kalimat pertama].

Pandangan radikal. Sepuluh Perintah Allah bisa saja terasa sederhana dalam hal apa yang dituntutnya, tetapi jiwa dari hukum-hukum itu sesungguhnya tidak sederhana. Penurutan yang Allah kehendaki dari manusia bukan sekadar ketaatan formalitas dan harfiah, melainkan suatu ketaatan yang bersifat substantif dan komprehensif. Hukum Allah mengandung ciri-ciri yang radikal dan hitam-putih, bukan sekadar aturan-aturan yang dapat begitu saja dikompromikan sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga menjadi ketentuan dengan warna abu-abu (tidak tegas).

Sebagian orang Kristen berpendapat bahwa karena Yesus yang sudah "menggenapi" tuntutan-tuntutan hukum Allah (Mat. 5:17), dan karena kita diselamatkan "karena kasih karunia...oleh iman" (Ef. 2:8), maka seolah-olah Yesus telah menggenapi tuntutan penurutan pada hukum Allah itu demi kita yang tidak sanggup menaatinya, sehingga dengan menerima kebenaran Yesus itu kita tidak diwajibkan lagi untuk menaati Sepuluh Perintah Allah. Memang benar bahwa sebagai manusia yang dipengaruhi oleh dosa dan hidup di dunia yang berdosa kita tidak mampu menuruti semua perintah itu dengan kekuatan kita sendiri, tetapi dengan Roh Allah yang mendiami hati kita yang baru niscaya kita sanggup untuk "hidup menurut segala ketetapan" dan "tetap berpegang pada peraturan-peraturan" Allah (Yeh. 36:26-27).

"Apa yang juga menarik ialah bahwa tuntutan-tuntutan Kristus secara radikal melampaui bentuk sederhana dari hukum itu. Pengajaran-Nya mencakup semangat di balik kata-kata dari hukum itu. Semangat yang menanamkan arti dan kehidupan terhadap apa yang jika tidak demikian hanya akan menjadi formalitas belaka. Pemeliharaan hukum, pada hakikatnya, sebagai tujuan dari hukum itu sendiri, tidak menyebabkan apa-apa selain kematian jika hukum itu tidak dipahami sebagai ekspresi dari apa artinya diselamatkan oleh kasih karunia" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang ajaran Yesus perihal makna yang mendalam dari hukum Allah?
1. Fakta bahwa Yesus memperdalam makna dari Sepuluh Perintah menunjukkan bahwa hukum moral Allah itu sangat penting dan abadi. Tuntutan penurutan terhadap hukum itu tidak pernah dikurangi apalagi dihilangkan, sebaliknya malah semakin diperketat dan diperluas. Ketaatan pada hukum Allah tidak dapat ditawar atau dikompromikan.
2. Melalui kematian-Nya di kayu salib Yesus "menggenapi' apa yang digambarkan oleh lambang-lambang dalam hukum upacara agama orang Yahudi; melalui penurutannya yang sempurna Yesus "memenuhi" tuntutan-tuntutan moral dalam Sepuluh Perintah. Ajaran-Nya yang memperluas tuntutan hukum itu adalah deklarasi dari apa yang sudah dipraktikkan-Nya.
3. Penafsiran Yesus yang radikal terhadap tuntutan-tuntutan hukum moral (Sepuluh Perintah) menyingkapkan kehendak Allah sendiri dalam memahami dan menaati hukum-hukum itu. Pemeliharaan hukum Allah harus dilakukan secara sadar dan berdasarkan dorongan dari hati, bukan sekadar ketaatan yang kering dan tanpa perasaan.

Selasa, 2 September
PERZINAAN DALAM ARTI LUAS (Yesus dan Hukum Ketujuh)

Pentingnya pengendalian diri. Ada orang mengatakan bahwa perzinaan terjadi karena kombinasi dari dua faktor utama, yaitu niat dan kesempatan. Ada niat tapi tidak ada kesempatan, dan ada kesempatan tapi tidak ada niat, perzinaan tak akan terjadi. Mungkin dalam kasus-kasus tertentu kesimpulan ini berlaku, tapi dalam kasus-kasus yang lebih banyak lagi "niat" dan "kesempatan" itu hanyalah sekadar output (produk) dari fantasi palsu yang terbentuk dalam pikiran seseorang mengenai seks. Perzinaan bukan semata-mata akibat dari gejolak hasrat seksual yang tak terkendali, tapi itu adalah persepsi seseorang tentang seks dan sensasi kenikmatan yang diperkirakan dapat ditimbulkannya sehingga melahirkan niat dan tindakan. Faktanya, kesempatan itu bisa diciptakan kalau ada niat.

Yesus berkata, "Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya" (Mat. 5:28). Jadi, membayangkannya saja itu sudah berzina sekalipun tanpa tindakan fisik. Tentu saja dengan mengatakan "memandang perempuan" maka Yesus tidak bermaksud bahwa perzinaan itu monopoli kaum pria, sebab kenyataannya di kalangan kaum wanita ada juga kecenderungan untuk "menaksir" pria lewat pandangan mata. (Di zaman pasca emansipasi dan era kesetaraan jender sekarang ini, mungkin ayat ini bisa dimodifikasi menjadi "memandang perempuan ataupun laki-laki.") Untuk mengatasi "perzinaan fantasi" ini Yesus menyarankan tindakan yang radikal, "jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu" (ay. 29), dan "jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu" (ay. 30).

"Dalam ayat-ayat ini Kristus merujuk kepada dua perintah: hukum ketujuh dan kesepuluh. Sampai waktu itu, orang Israel menganggap berzina itu hanya berupa perbuatan seks secara fisik dengan pasangan orang lain. Yesus tunjukkan bahwa pada kenyataannya, karena adanya hukum kesepuluh, perzinaan bisa mencakup pemikiran dan keinginan nafsu juga...Dalam acuan-Nya untuk mencungkil mata dan memenggal tangan, Kristus secara kiasan sedang berbicara tentang pentingnya mengambil keputusan dan tindakan yang tegas untuk melindungi diri sendiri terhadap godaan dan dosa" [alinea pertama; alinea kedua: kalimat terakhir].

Zina dan cerai. Masyarakat Yahudi pada zaman Yesus terbagi dalam dua mazhab ajaran tentang hukum Taurat, yaitu antara sekolah agama yang dipimpin oleh Rabi Shammai (kelahiran Israel) yang konservatif, dengan sekolah agama pimpinan Rabi Hillel (kelahiran Babilon) yang lebih liberal. Selisih pendapat antara ajaran "Bet Shammai" dan "Bet Hillel" ini berlanjut hingga kehancuran Bait Suci pada tahun 80 TM atau sesudah reorganisasi Sanhedrin di bawah Gamaliel II, perselisihan mana menyangkut teologi, etika, dan upacara agama. Contohnya soal perceraian dalam hal suami menemukan istrinya "tidak senonoh" (Ul. 24:1), di mana Shammai mengajarkan bahwa perceraian hanya boleh terjadi karena suatu "pelanggaran serius" seperti perzinaan, sedangkan Hillel mengajarkan bahwa perceraian bisa saja dilakukan dengan alasan sangat sepele misalnya karena kesalahan sang istri yang memanggang roti sampai gosong. Perbedaan-perbedaan penafsiran Hukum Musa antara dua ajaran ini sedemikian tajam sehingga melahirkan ungkapan "satu hukum yang menjadi dua."

Ketika orang Farisi meminta pendapat Yesus mengenai soal perceraian ini, dengan mengutip Ulangan 24:1, mereka bertanya seperti ini: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?" (Mat. 19:3). Jelas sekali bahwa pertanyaan ini mengacu kepada ajaran Hillel, sehingga Matius mencatatnya sebagai pertanyaan "untuk mencobai Dia." Terhadap pertanyaan jebakan itu Yesus kemudian menanggapi dengan sebuah pernyataan yang tegas: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zina" (ay. 8-9).

"Orang-orang Farisi itu mencoba menjebak Yesus untuk memihak kepada salah satu sekolah agama. Namun, mereka mengabaikan fakta bahwa bukan itulah rencana Allah semula kalaupun ada yang ingin bercerai, itulah sebabnya Yesus berkata: 'apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia' (Mat. 19:6). Belakangan, karena 'kekerasan' hati mereka, mereka bertanya mengapa Allah telah mengizinkan seorang lelaki memberikan kepada istrinya 'surat cerai' jika dia menemukan sesuatu yang 'tidak senonoh padanya' (Ul. 24:1). Kristus mengoreksi penyalahgunaan ayat ini dengan mengangkat kekudusan dan kelestarian perkawinan: di hadapan Allah, satu-satunya alasan untuk perceraian ialah 'pelanggaran susila' atau 'perbuatan zina' (dalam bahasa Grika, porneia, yang secara harfiah adalah 'perbuatan tidak bermoral')" [alinea terakhir: empat kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang pandangan Yesus terhadap hukum ketujuh?
1. Yesus pernah berkata, "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat...perzinaan, percabulan..." (Mat. 15:19). Jadi, bukan soal apa atau siapa yang anda lihat, tetapi apa yang timbul di benak anda dan saya ketika memandang seseorang. Pikiran mesum sangat mudah "klik" dengan pemandangan yang menarik, apalagi menggoda.
2. Perzinaan (hukum ketujuh) erat hubungannya dengan keinginan (hukum kesepuluh). Dalam pikiran di mana sudah terbangun berbagai keinginan dan hasrat, tindakan secara fisik hanya soal waktu. Cara menghindari godaan untuk berzina yang paling jitu bukan dengan menutup mata rapat-rapat, tapi dengan mengendalikan pikiran.
3. Berdasarkan Alkitab, bercerai itu sama dengan berzina, kecuali karena alasan perzinaan itu sendiri. Tetapi dalam kondisi-kondisi tertentu seringkali perceraian menjadi satu-satunya "jalan keluar" yang terbaik dari yang terburuk. Sebaliknya, terkadang masalah perzinaan justru dapat diselesaikan tanpa harus bercerai.

Rabu, 3 September
ANTARA HUKUM DAN TRADISI (Yesus dan Hukum Kelima)

Tradisi akal-akalan. Tradisi membasuh tangan sebelum makan sesungguhnya adalah suatu kebiasaan yang baik demi kesehatan, meskipun hal itu tidak diatur dalam hukum Musa tetapi sebagai ajaran leluhur Israel yang diajarkan secara turun-temurun. Yesus tidak menentang tradisi higienis tersebut, tetapi yang ditentang-Nya ialah sikap kemunafikan kaum Farisi dan ahli Taurat yang mengutamakan tradisi orangtua di atas perintah Tuhan. Ketika mereka mencela murid-murid yang makan tanpa membasuh tangan lebih dulu, dan dengan demikian melanggar tradisi leluhur, Yesus menanggapinya dengan balik bertanya: "Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?" (Mat. 15:3).

Peristiwa tersebut dicatat oleh injil Markus dengan menyebutkan tentang "tradisi korban" sebagai cara mereka lari dari tanggungjawab untuk memelihara orangtua mereka. "Korban" berasal dari kosakata bahasa Grika (Yunani purba)--artinya "persembahan kepada Allah" atau juga "perbendaharaan kudus"--yang dalam PB hanya digunakan oleh injil Markus (7:11). Istilah ini kemungkinan dipungut dari bahasa Ibrani qurban, artinya "persembahan khusus" yang lazim diberikan kepada Tuhan. Sementara dalam hukum Musa setiap anak laki-laki diwajibkan untuk menopang hidup orangtuanya, anak-anak yang tamak dan pelit menggunakan tradisi "korban" untuk menghindari kewajiban tersebut walaupun kenyataannya hanya sebagian kecil atau bahkan tidak ada sama sekali harta yang dipersembahkan kepada Tuhan sesuai sumpah mereka. Tampaknya Yesus tahu persis tindakan akal-akalan ini dan menggunakannya sebagai serangan balasan terhadap orang Farisi dan ahli Taurat itu. Fakta bahwa mereka tidak membantahnya membuktikan kebenaran dari tudingan Yesus itu.

"Tampaknya seolah-olah kaum Farisi itu sudah menemukan alasan yang sempurna untuk menolak hak orangtua mendapatkan sokongan. Mereka telah memperluas prinsip-prinsip baku yang terdapat dalam kitab Taurat dan mengubahnya menjadi perintah-perintah buatan manusia yang dalam pemikiran para pemimpin mereka itu dapat menggantikan salah satu dari perintah-perintah Allah" [alinea ketiga: dua kalimat pertama].

Lain di bibir, lain di hati. Dalam berbagai kesempatan Yesus berkali-kali mencela sikap mendua dari kaum Farisi dan ahli Taurat, khususnya dalam memenuhi satu kewajiban tetapi mengabaikan yang lain. Misalnya tekun membayar persepuluhan tetapi mengabaikan tuntutan yang lebih penting lagi dari itu, yakni keadilan dan kasih terhadap sesama manusia. "Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan," kata Yesus (Luk. 11:42). Namun, kemunafikan dan sikap mendua seperti itu sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah bangsa Israel.

Yesus kemudian menegur mereka dengan keras, "Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia" (Mat. 15:7-9). Yesus mengutip perkataan nabi Yesaya yang berbunyi: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan..." (Yes. 29:13). Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya, sebagaimana leluhur mereka yang suka bersikap lain di bibir dan lain di hati, demikianlah keturunan mereka setelah tujuh abad kemudian!

Pena inspirasi menulis: "Banyak dari tradisi-tradisi Yahudi yang sangat sepele dan tidak berharga sebagai suatu tabiat yang merendahkan keseluruhan agama mereka, dan tradisi-tradisi ini diturunkan dari generasi kepada generasi serta dianggap oleh banyak orang sebagai firman Allah. Pendapat-pendapat manusia yang terus-menerus menjadi lebih bodoh dan tidak konsisten, telah ditempatkan sejajar dengan hukum moral, sampai pada kedatangan Kristus yang pertama ketika doktrin yang murni menggantikan gagasan-gagasan palsu...Kristus tidak menaruh perhatian pada pendapat-pendapat manusia, karena Ia berharap melalui keteladanan-Nya akan menarik satu garis antara teori-teori manusia dengan tuntutan-tuntutan Allah yang suci" (Ellen G. White, Signs of the Times, 3 Januari 1900).

Apa yang kita pelajari tentang sikap Yesus terhadap hukum moral Allah dengan tradisi buatan manusia?
1. Mentradisikan agama, bukan mengagamakan tradisi. Inilah sikap yang patut dipelihara oleh orang-orang yang taat beragama, meninggikan perintah Allah di atas tradisi manusia. Pada masyarakat yang tradisi-budayanya sangat kental dan kuat, pemisahan antara tradisi leluhur dan agama bisa menjadi tantangan yang tidak ringan.
2. Sangat mudah bagi seseorang untuk taat pada sebagian doktrin agama tapi tidak setia pada doktrin agama yang lain, sehingga pada satu segi dia kelihatan sangat saleh tapi di segi yang lain tampak sangat kompromistis. Pesan Yesus adalah: Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan!
3. Ciri keberagamaan yang benar adalah konsisten terhadap setiap doktrin yang berpatokan pada perintah Allah yang benar. Seorang yang taat beragama tidak akan mudah "diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan" (Ef. 4:14).

Kamis, 4 September
HUKUM TIDAK MENYELAMATKAN (Yesus dan Esensi Hukum)

Kasih, intisari hukum. Hukum Allah, khususnya Sepuluh Perintah, tidak dirancang untuk menyelamatkan manusia berdosa; hukum dirancang untuk menyatakan keberdosaan manusia (Rm. 3:20; 7:7). Meskipun hukum tidak dapat menyelamatkan, hukum itu mempunyai peran yang berkaitan langsung dengan keselamatan. Oleh menyadari keadaan kita yang berdosa seperti dinyatakan oleh hukum itu, kita merasakan perlunya janji keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus sebagai Pengantara kita (Gal. 3:19-24).

Orang muda kaya yang datang kepada Yesus ingin memastikan bahwa penurutan hukum yang dilakukannya selama ini sudah cukup untuk menjamin keselamatannya. "Jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah," kata Yesus kepadanya (Mat. 19:17). Kita dapat merasakan kegirangannya mendengar perkataan Yesus itu ketika dia menimpali, "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" (ay. 20). Penurutan hukum Allah secara harfiah itu penting, tapi lebih penting lagi adalah menghayati intisari dari Sepuluh Perintah itu, yakni kasih. "Jikalau engkau hendak sempurna," kata Yesus lagi, "pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku" (ay. 21; huruf miring ditambahkan). Sayangnya, pemuda kaya itu tidak siap untuk melepaskan harta duniawi demi mendapatkan harta surgawi dengan menjadi pengikut Kristus.

"Orang muda kaya itu tidak dapat memahami bahwa keselamatan dari dosa bukan hasil dari penurutan hukum, betapapun ketatnya. Gantinya, keselamatan datang dari Pemberi Hukum itu, sang Juruselamat. Orang Israel sudah mengetahui kebenaran ini sejak mulanya, tetapi mereka telah melupakannya. Kini Yesus mengetengahkan apa yang mereka seharusnya perhatikan dari permulaan: bahwa penurutan dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah begitu menyatu sehingga melakukan yang satu tanpa yang lain hanya menjadikan suatu kehidupan Kristiani yang berpura-pura" [alinea pertama: empat kalimat pertama].

Hukum yang terpenting. Ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus tentu seorang yang cerdas, itulah sebabnya dia dipilih untuk mewakili teman-temannya (Mat. 22:34-35). Mereka didorong oleh rasa penasaran karena Yesus baru saja membungkam orang-orang Saduki, sebuah sekte Yahudi yang tidak percaya adanya malaikat dan kebangkitan, serta ingin untuk membuktikan diri lebih piawai dalam soal pengetahuan hukum ketimbang kaum Saduki itu. "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" tanya ahli hukum itu (ay. 36). Tentu saja ini bukan pertanyaan yang didasarkan pada rasa ingin tahu atau mau belajar, tapi hendak menjebak. Mungkin para ahli Taurat itu memang memiliki kebiasaan untuk memilah-milah hukum dan mengkategorikannya, berdasarkan pendapat mereka sendiri, tentang mana hukum yang penting dan kurang penting. Sedangkan Yesus selaku Pembuat hukum itu memiliki konsep bahwa semua hukum adalah penting.

Yesus menjawab ahli Taurat itu dengan menghadapkan kepadanya intisari dari Sepuluh Perintah, yaitu kasih, secara vertikal kepada Allah dan secara horisontal kepada sesama manusia. "Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi," tandas-Nya (ay. 40). Tanggapan ahli Taurat terhadap jawaban Yesus tersebut justru membuat kita terperanjat. "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu," sahutnya. "Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua kurban bakaran dan kurban sembelihan" (Mrk. 12:32-33). Gantinya menemukan kesalahan, dia malah menemukan kebenaran dari Yesus. "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" kata Yesus kepadanya, dan sejak itu tak ada lagi orang yang berani menanyakan sesuatu kepada-Nya (ay. 34).

"Yesus menjawab dengan cara yang lebih ahli: pertama, dan yang paling penting, harus ada kasih di dalam hati sebelum seseorang bisa mulai memelihara hukum Allah. Penurutan tanpa kasih itu mustahil dan tak berarti. Namun, di mana ada kasih sejati kepada Allah, seseorang secara tanpa syarat akan menempatkan hidupnya selaras dengan kehendak Allah sebagaimana dinyatakan dalam keseluruhan Sepuluh Perintah-Nya itu. Itulah sebabnya di kemudian hari Yesus berkata: 'Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku' (Yoh. 14:15)" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang intisari Hukum Allah menurut Yesus?
1. Penurutan hukum Allah tidak dapat menghasilkan keselamatan, tetapi penurutan hukum itu adalah "bukti" bahwa seseorang sudah memiliki keselamatan. Intisari dari Sepuluh Perintah sebagai hukum moral Allah adalah kasih, maka penurutan hukum yang lebih bermakna ditunjukkan dengan perbuatan kasih.
2. Keselamatan adalah ikhtiar Allah berdasarkan kasih-Nya pada manusia, maka kita pun harus menyambutnya dengan kasih. Keselamatan adalah tindakan pengorbanan Kristus bagi manusia, maka kita pun harus menerimanya dengan pengorbanan. Penurutan hukum Allah harus didasarkan pada rasa kasih dan sikap untuk berkorban.
3. Hukum Allah, yaitu Sepuluh Perintah, mengandung tujuan rangkap tiga. Pertama, untuk menjadi sebagai cermin tentang keadaan kita; kedua, untuk membuat kita menahan diri dari berbuat kejahatan; ketiga, untuk menuntun kita melakukan kehendak Allah. Allah mengasihi kita dengan menyelamatkan kita; kita mengasihi Allah dengan menaati hukum-Nya.

Jumat, 5 September
PENUTUP

Teladan ketaatan Yesus. Kembali kepada pernyataan Yesus, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya" (Mat. 5:17; huruf miring ditambahkan). Kata "menggenapi" dalam ayat ini menempatkan Yesus sebagai obyek dari nubuatan tentang Mesias dalam Perjanjian Lama. Injil Matius memang sarat dengan pembuktian dari ketepatan nubuatan-nubuatan para nabi mengenai Yesus Kristus (Mat. 1:22; 2:5, 15, 17, 23; 4:14; 8:17; dan lain-lain.)

Tatkala Yesus datang kepada Yohanes Pembaptis di sungai Yordan minta dibaptis, saudara sepupu-Nya itu sempat menolak. "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?" sang pembaptis itu menampik (Mat. 3:14). Tetapi Yesus berkata kepadanya, "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah" (ay. 15, huruf miring ditambahkan; kata yang diterjemahkan dengan "menggenapkan" dalam ayat ini berasal dari kata Grika yang sama seperti yang digunakan dalam Matius 5:17). Dalam hal ini Yesus perlu dibaptis bukan sebagai tanda pertobatan dari dosa seperti halnya baptisan bagi anda dan saya, tetapi dengan menjalani baptisan menurut kehendak Allah itu maka Yesus menempatkan diri-Nya pada posisi yang sama dengan kita manusia berdosa.

"Misi-Nya ialah, 'Ia ingin hukum-Nya dihormati dan diagungkan.' Yes. 42:21, BIMK. Dia harus menunjukkan sifat rohani dari hukum itu, menyampaikan prinsip-prinsipnya yang luas jangkauannya, dan memperjelas kewajibannya yang abadi...Yesus, ujud nyata dari pribadi Bapa itu, kemilau cahaya kemuliaan-Nya; Penebus yang menyangkal diri itu, sepanjang perjalanan hidup-Nya yang penuh kasih di atas dunia ini adalah suatu gambaran yang hidup tentang sifat dari hukum Allah. Dalam hidup-Nya telah dinyatakan bahwa kasih yang lahir di surga, prinsip-prinsip keserupaan dengan Kristus, mendasari hukum-hukum kejujuran yang abadi" [empat kalimat terakhir].

"Orang yang meremehkan ajaran Tuhan, mencelakakan dirinya; orang yang taat kepada hukum Allah akan mendapat upahnya...Jika engkau tidak menaati hukum Allah, Allah pun akan merasa muak terhadap doamu" (Ams. 13:13; 28:9, BIMK).

(Oleh Loddy Lintong/California, 3 September 2014)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...