Syaloom

Selamat datang bagi pengunjung blog ini, terima kasih atas kunjungan anda pada blog ini anda dapat download lagu-lagu rohani khusus quartet (male or ladies) termasuk partitur yang kami telah sediakan.

Blog ini khusus saya buat untuk membantu teman-teman yang mempunyai hobi menyanyi lagu-lagu rohani tetapi pada saat tertentu tidak mempunyai cukup partiture. Dan sesuai dengan judulnya maka blog ini khusus dibuat untuk quartet grup vokal, apakah itu male quartet atau ladies quartet.

Banyak orang didunia ini dan hampir semua orang yang ada di jagad raya ini menyukai musik. Sebab itu saya ingin mengajak semua teman-teman yang ingin partisipasi dalam blog ini saya persilahkan untuk memberi saran dan bahan untuk memajukan grup-grup quartet. Sering kita menyanyikan sebuah lagu dengan baik dan pendengar cuma menyukai harmoninya saja tetapi pekabaran dalam lagu itu sendiri tidak didapat karena pendengar tersebut tidak mengerti bahasa yang dinyanyikan dalam lagu tersebut untuk itu melalui blog ini saya sekali lagi mengajak siapapun untuk urung rembuk agar blog ini disukai dan dapat bermafaat buat kita semua.

Untuk itu saya akan mencoba untuk mentransfer dari partiture aslinya kedalam bahasa Indonesia. Shalom regards,

GBU
E. Nanlohy



TRANSLATORS...

Jumat, 27 Juni 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT KE-XIII; 28 Juni 2014 "KERAJAAN KRISTUS DAN HUKUM"








Sabat Petang, 21 Juni
PENDAHULUAN

Kesiasiaan dunia. Belum lama berselang saya menghadiri upacara pemakaman seorang kenalan lama, teman sekolah SMP, yang meninggal akibat penyakit yang lama dideritanya. Seorang yang dapat dianggap cukup berhasil dalam hidupnya, setidaknya jika profesi dan keuangan menjadi ukuran. Dalam berbagai kesaksian yang diutarakan oleh orang-orang yang pernah dia bantu, teman saya ini adalah seorang yang suka menolong dan pemurah. Selain itu, tampaknya dia juga seorang penabung yang ketat. Karena tidak mempunyai keturunan dan keluarga langsung maka semua uang tabungan dan harta peninggalan akhirnya dihibahkan kepada orang lain, selain yang disumbangkan kepada beberapa usaha pelayanan Gereja. Menurut cerita, semua hasil kerja kerasnya selama puluhan tahun senilai milyaran rupiah itu jatuh ke pihak-pihak yang selama hidupnya tidak pernah secara langsung berjasa kepadanya atau keluarganya.

Sementara menyumbang pekerjaan Tuhan dari kekayaan yang tidak sempat dinikmati merupakan suatu tindakan terpuji, dan mewariskan harta kepada orang lain adalah perbuatan yang tentu saja menyenangkan orang lain, saya teringat kata-kata Salomo berikut ini: "Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia: orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatu pun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit" (Pkh. 6:1-2).

Steve Jobs (Feb. 1955-Okt. 2011), seorang penemu ternama di dunia teknologi informasi dan komunikasi, tergolong sangat sukses dalam bidangnya dan akan selalu dikenang sebagai sosok yang berjasa bagi peradaban manusia moderen. Dia dijuluki seorang "pelopor karismatik" dalam pengembangan komputer pribadi dengan produk-produk ciptaannya semisal iPod, iPhone, iPad, iTunes, iMac dan lain-lain. Sebagai salah seorang pendiri perusahaan komputer Apple Incorporated sekaligus CEO (chief executive officer), Steve termasuk jutawan dunia yang kekayaannya sewaktu meninggal tercatat hampir senilai 10 milyar dolar Amerika. Selain nama dan karyanya, dia juga akan dikenang dengan falsafah hidupnya. Salah satu ucapannya yang terkenal adalah, "Waktu anda terbatas, jadi jangan sia-siakan hidup anda dengan cara meniru kehidupan orang lain." Kemudian, tak lama sebelum meninggal dia berkata, "Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan mereka yang mau masuk surga pun tidak ingin mati untuk bisa sampai di sana. Namun kematian adalah tujuan kita bersama. Tidak seorang pun yang berhasil lolos. Dan memang harus begitu, sebab sangat mungkin Kematian merupakan satu-satunya penemuan terbaik dari Kehidupan. Kematian itu adalah agen perubahan dari Kehidupan. Kematian menghapus yang lama untuk menyediakan jalan bagi yang baru." Tentu saja pendapat Steve Jobs tentang kehidupan dan kematian tidak berlandaskan pandangan alkitabiah.

"Akan tetapi Jobs menempatkannya secara terbalik. Apa yang mendorongnya untuk mencari peruntungan yang lebih besar di dunia ini, kematian (atau sedikitnya hal-hal yang pasti tentang kematian) seharusnya membuktikan kesia-siaan dari menanam kehidupan terlalu permanen di sini yang dasarnya selalu tidak kuat. Tentu saja banyak yang Jobs telah capai, tetapi dibandingkan dengan jutaan tahun atau masa kekekalan, apakah itu penting?...Memang, kepada kita sudah dijanjikan bahwa dunia ini dan segala isinya akan dibinasakan, dan Allah akan mendirikan satu dunia yang baru dan kekal di mana dosa dan kematian (semua akibat dari pelanggaran hukum Allah) tidak akan pernah ada lagi" [alinea kedua dan ketiga].

Minggu, 22 Juni
KEHIDUPAN DI MASA KEKEKALAN (Kerajaan Allah)

Kekuasaan yang dirampas. Kitabsuci mengungkapkan bahwa pada mulanya kekuasaan atas seluruh dunia ini telah dipercayakan kepada manusia, ketika Allah berfirman: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi" (Kej. 1:26). Namun, Setan telah merebut kekuasaan itu dari tangan Adam dan Hawa tatkala pasangan pertama itu tertipu oleh rayuannya sehingga berdosa akibat memakan buah dari pohon yang dilarang itu, dan dengan demikian melanggar perintah Allah sebagai satu-satunya "hukum" yang ada di Taman Eden waktu itu.

Jadi bukan secara kebetulan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk cerdas dan bermoral, makhluk yang kedudukannya paling tinggi di antara makhluk-makhluk hidup lainnya, sebab Allah bermaksud hendak menjadikan manusia sebagai penguasa bumi ini. Menjadi penguasa berarti menjadi pengayom dan sekaligus penanggungjawab atas obyek yang dikuasai, dan pada waktu yang sama menjadi pengelola dan penatalayan bagi Allah. Seandainya mereka tidak jatuh ke dalam dosa, Adam dan Hawa beserta segenap keturunan mereka mestinya sudah menjadi pelindung alam ciptaan Allah terhadap siapa seluruh makhluk hidup lainnya menaruh rasa hormat dan takut.

"Ketika Allah menciptakan makhluk manusia yang pertama, Ia memberikan kepada mereka kekuasaan atas segala sesuatu. Adam harus memerintah dunia ini. Namun, dengan melanggar hukum Allah dia kehilangan haknya akan kekuasaan bumi ini dan kepemilikannya beralih kepada Setan, si musuh utama. Bilamana perwakilan dari dunia-dunia lain berkumpul di hadapan Allah pada zaman nenek moyang, Setan yang tampil sebagai 'delegasi' dari bumi (Ay. 1:6)" [alinea pertama].

Kekuasaan atas dunia. Bukti bahwa setan sudah mengambil alih kekuasaan atas dunia ini, yakni para penguasa dan kekuasaan di dalamnya, terbukti ketika dia mencobai Tuhan Yesus di padang gurun. "Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: 'Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku'" (Mat. 4:8-9). Janji Setan bahwa dia dapat memberikan "semua kerajaan dunia dengan kemegahannya" kepada Yesus sekiranya Anak Allah itu mau "sujud dan menyembah" dia sekaligus merupakan pernyataan yang mengklaim bahwa dialah pemilik dunia ini dan kekuasaan-kekuasaan di dalamnya. Klaim kepemilikan Setan atas dunia ini dibuktikan melalui kehidupan dari banyak penduduk bumi ini, "yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini" (2Kor. 4:4), yang secara sadar atau tidak telah "menaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka" (Ef. 2:2).

Perhatikan dua fakta berikut ini: Pertama, Setan terlalu bodoh untuk menawarkan kekuasaan atas dunia ini kepada Yesus Kristus yang adalah Raja atas segala raja dan Penguasa alam semesta ini, bukan? Tetapi dengan memberikan tawaran itu membuktikan bahwa Setan tahu kalau Anak Allah pada waktu itu benar-benar datang sebagai manusia biasa dan menanggalkan kedudukan dan kekuasaan-Nya itu di surga. Kedua, dengan berani mengajukan tawaran itu kepada Yesus Kristus membuktikan bahwa Setan memang benar-benar adalah penguasa dunia ini, secara de facto (berdasarkan kenyataan), dan de jure (secara hukum). Akan tetapi hardikan Yesus yang tegas terhadap Setan, "Enyahlah Iblis!" (Mat. 4:10), menunjukkan bahwa klaim kepemilikan Setan atas dunia ini hanya bersifat sementara sebab dalam waktu dekat Putra Allah itu akan merenggut kembali kekuasaan tersebut dari tangannya secara de jure, dan tidak akan pernah lagi dikuasainya. Allah akan mendirikan kembali kerajaan-Nya di dunia ini, dan Yesus akan menyerahkan kekuasaan atas dunia ini kepada umat percaya yang tidak akan pernah bisa direbut lagi!

"Yesus sudah datang untuk mengambil kembali bumi ini dari Setan, tetapi Ia hanya dapat melakukan itu dengan harga dari nyawa-Nya sendiri. Kalau begitu, betapa kuatnya godaan itu ketika Setan berdiri di sana dan menawarkan untuk memberikan dunia ini kepada-Nya! Namun demikian, dengan sujud menyembah Setan berarti Ia tentu akan jatuh ke dalam perangkap yang sama seperti yang dihadapi Adam, dan akibatnya juga akan bersalah dengan melanggar hukum Bapa-Nya. Seandainya Ia telah melakukan itu, rencana keselamatan pasti sudah dibatalkan, dan kita akan mati dalam dosa-dosa kita" [alinea kedua: empat kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang kerajaan Allah di dunia ini?
1. Allah telah menciptakan Adam dan Hawa untuk berkuasa atas seluruh dunia ini, tetapi mereka gagal mempertahankannya. Terlepasnya kekuasaan itu dari tangan Adam bukan saja merupakan kekalahannya sendiri, tetapi itu adalah tragedi bagi seluruh manusia maupun alam ciptaan ini sepanjang zaman.
2. Tampaknya, cobaan yang dialami Yesus Kristus adalah atas kehendak Allah (baca Mat. 4:1; bandingkan dengan Ibr. 2:18). Sesudah "disamakan" seperti orang berdosa yang harus dibaptis (Mat. 3:15), Anak Allah yang menjelma jadi manusia itu juga perlu "dicobai" dengan penggodaan yang sama seperti kita manusia, yaitu dengan kepuasan jasmani (Mat. 4:2-4), kesombongan (ay. 5-6), dan kekuasaan (ay. 8-9).
3. Kristus mengabaikan kenikmatan sementara di dunia ini karena Ia sedang membangun kerajaan Allah yang kekal di bumi ini. Seyogianya, keteladanan inilah yang harus kita tiru. Sayangnya, banyak dari antara kita yang justeru mengorbankan peluang mendapatkan kerajaan Allah yang abadi demi meraih kekuasaan dunia yang fana.

Senin, 23 Juni
KEWARGANEGARAAN TUNGGAL (Warga Kerajaan Itu)

Berbagi kesetiaan, mungkinkah? Ada dua asas berbeda yang dianut oleh negara-negara di dunia dalam hal hak kewarganegaraan seseorang berdasarkan kelahirannya, yaitu yang dikenal dengan istilah ius soli (Latin: "hak atas tanah") dan ius sanguinis ("hak darah"). Ius soli, atau sering ditulis jus soli (Inggris: right of soil), adalah hak kewarganegaraan berdasarkan tempat kelahirannya. Artinya, seseorang akan secara otomatis menyandang kewarganegaraan dari negara di mana dia dilahirkan, tidak peduli asal-usul keturunannya. Negara-negara yang menganut asas ini misalnya Amerika Serikat, Kanada, Brasil, dan lain-lain. Sedangkan ius sanguinis, atau jus sanguinis (Inggris: right of blood), adalah hak kewarganegaraan berdasarkan hubungan darah dengan orangtua. Artinya, seseorang akan secara otomatis menyandang kewarganegaraan dari orangtuanya, tidak peduli di negara mana dia dilahirkan. Negara-negara yang menganut asas ini termasuk Indonesia, Malaysia, Cina, dan lain-lain. Sehubungan dengan itu, lazimnya setelah seorang anak mencapai usia 18 tahun maka secara hukum dia harus memilih kewarganegaraannya, apakah mengikuti kewarganegaraan orangtuanya atau tanah kelahirannya. Tentu pilihan ini tidak berlaku bagi seorang anak yang lahir dalam wilayah hukum dari negara di mana orangtuanya menjadi warganegara.

Dalam hal kewarganegaraan ini ada negara-negara di dunia yang mengizinkan warganya memegang kewarganegaraan ganda, tapi ada pula negara-negara yang hanya mengakui kewarganegaraan tunggal. Meskipun begitu, sudah menjadi rahasia umum bahwa terkadang ada orang yang secara diam-diam memegang dua paspor dari negara berbeda dan dengan demikian memiliki kewarganegaraan ganda. Ada negara-negara yang karena alasan-alasan tertentu menerapkan kebijakan dwi-kewarganegaraan secara terbatas dengan suatu negara berdasarkan perjanjian, misalnya yang pernah berlaku antara Indonesia dan RRC (ketika masih bernama Republik Rakyat Tiongkok, disingkat RRT) pada tahun 1958 silam. Banyak pula WNI di luar negeri yang sudah memiliki kewarganegaraan asing berdasarkan naturalisasi (belakangan ini mereka sering disebut sebagai "diaspora Indonesia") berharap untuk bisa memiliki dwi-kewarganegaraan secara resmi, terutama mereka yang bermukim dan sudah menjadi warganegara Amerika. Namun kewarganegaraan itu bukan cuma soal hak tapi juga kewajiban, dan terutama adalah masalah kesetiaan sebagai warganegara. Dapatkah seseorang yang memiliki kewarganegaraan ganda itu memegang kesetiaan yang sama terhadap dua negara di mana dia menjadi warganegara? Bahkan, pertanyaan yang lebih mendasar lagi: Bisakah seseorang berbagi kesetiaan?

"Akan tetapi, tidak ada yang namanya kewarganegaraan ganda dalam pertentangan besar. Kita berada di satu pihak atau di pihak yang lain. Kerajaan kejahatan sudah memerangi kerajaan kebenaran selama ribuan tahun, dan tidak mungkin bagi seseorang untuk setia terhadap keduanya pada waktu yang sama. Kita semua harus membuat pilihan tentang kerajaan mana yang akan mendapat kesetiaan kita" [alinea kedua].

Kerajaan Kristus. Diaspora adalah sebuah istilah dari bahasa Grika diaspeirō, sebuah kata kerja yang terdiri atas dua akar kata, dia (=di antara; di seluruh) dan speirō (=saya menabur; saya menyebarkan). Jadi, diaspora adalah sebuah istilah yang pada dasarnya berarti "perantau yang tersebar di negeri asing." Dalam PB versi Terjemahan Baru (TB) kata diaspeirō yang diterjemahkan dengan "tersebar" muncul dalam tiga ayat (Kis. 8:1b, 4; 11:19), dan kata diaspora yang diterjemahkan dengan "perantauan" dan "pendatang" muncul dalam tiga ayat lain (Yoh. 7:35; Yak. 1:1; 1Ptr. 1:1). Dalam 1Petrus 2:11, kata yang diterjemahkan dengan "pendatang" dan "perantau" berasal dari dua kata Grika yang berbeda, yakni paroikos (arti harfiah=orang asing yang hidup di suatu tempat tanpa hak kewarganegaraan; arti kiasan=seorang yang hidup di dunia sebagai perantau; Strong, G3941), dan parepidēmos (arti harfiah=orang yang datang atau berkelana di negeri asing; arti kiasan=warga surga yang merantau di dunia ini; Strong, G3927). Sedangkan dalam Ibrani 11:13, kata Grika yang diterjemahkan dengan "orang asing" adalah xenos (arti harfiah=orang asing; Strong, G3581), dan kata Grika yang diterjemahkan dengan "pendatang" adalah parepidēmos.

Ketika Paulus menerangkan tentang orang Kristen non-Yahudi yang "tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan" (Ef. 2:12)--dalam hal ini tidak mendapat bagian dari perjanjian Allah dengan Abraham--maka sang rasul juga sedang menggambarkan status anda dan saya sebelumnya yang "tanpa Kristus...tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia." Tetapi sekarang, setelah menerima Kristus maka kita "yang dahulu 'jauh' sudah menjadi 'dekat' oleh darah Kristus" (ay. 13), dan oleh darah Kristus itu juga Bapa surgawi "telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih" (Kol. 1:13).

"Sekali orang-orang membuat keputusan untuk mengikut Kristus, mereka telah memilih untuk membelakangi kerajaan iblis. Dia sekarang menjadi bagian dari persekutuan yang lain, yaitu dari Tuhan Yesus Kristus, dan sebagai hasilnya orang itu sekarang menuruti aturan-Nya, hukum-Nya, perintah-Nya, bukan aturan atau hukum dan perintah si jahat. Namun, penurutan orang itu pada umumnya tidak dihargai--tentu tidak oleh iblis yang berhasrat untuk mendapatkan orang-orang ini kembali, dan seringkali juga tidak dihargai oleh orang lain yang cenderung tidak percaya pada 'orang asing dan perantau' di antara mereka. Terlepas dari rintangan-rintangan ini, Allah mempunyai satu umat yang kesetiaan pertama mereka adalah kepada Dia, bukan kepada 'penguasa dunia ini' (Yoh. 12:31)" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang orang Kristen sebagai warga kerajaan Kristus?
1. Tidak seperti kewarganegaraan di dunia ini yang memungkinkan seseorang memiliki dwi-kewarganegaraan, kerajaan surga hanya mengenal "satu kewarganegaraan" karena menyangkut kesetiaan. Yesus berkata, "Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian...ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain" (Mat. 6:24).
2. Status kewarganegaraan asli di dunia ini diperoleh secara otomatis berdasarkan faktor keturunan maupun tempat kelahiran, dan bersamaan dengan itu juga status kita sebagai orang berdosa. Namun siapa saja dapat memperoleh kewarganegaraan surga, dan bersamaan dengan itu juga status kita sebagai orang yang sudah dibenarkan, berkat pengorbanan Kristus.
3. Banyak orang berusaha menjadi warganegara dari sebuah negara tertentu melalui naturalisasi dengan persyaratan yang seringkali rumit, lama dan mahal. Tapi banyak orang--termasuk mereka yang ingin menjadi warganegara asing hanya karena alasan ekonomi itu--yang acuh tak acuh untuk menjadi warganegara surga melalui "naturalisasi" yang syaratnya sederhana, cepat dan gratis.

Selasa, 24 Juni
DIBENARKAN KARENA IMAN (Iman dan Hukum)

Kesempatan dan pilihan. Dilahirkan sebagai orang berdosa dan bersalah di hadapan hukum Allah adalah sebuah takdir yang tak dapat ditolak oleh anda dan saya. Tetapi dengan datangnya Anak Allah ke dunia ini melalui penjelmaan dalam sosok Yesus Kristus, dan mati di kayu salib sebagai Penebus dosa manusia, membuka peluang kepada semua orang untuk lepas dari status dan takdir yang mencelakakan itu. Kesempatan istimewa itu hanya dimungkinkan berkat pilihan Allah sendiri yang Ia ambil demi kepentingan manusia berdosa. Kitabsuci mengatakan, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yoh. 3:16).

"Tema yang menonjol dalam Kitabsuci adalah sederhana: Allah itu kasih. Kasih Allah paling ampuh ditunjukkan dalam kasih karunia-Nya. Dengan kuasa-Nya yang tak terbatas Ia dapat dengan mudah memusnahkan umat manusia dari muka bumi, tapi sebaliknya Ia memilih untuk menerapkan kesabaran dan memberikan kepada semua orang kesempatan untuk mengalami kesempurnaan hidup di dalam kerajaan-Nya yang kekal. Bahkan lebih dari itu, kasih-Nya dibuktikan dengan harga yang telah dibayar-Nya sendiri di Salib...Kasih Allah juga berkaitan langsung dengan keadilan-Nya. Dengan menyediakan kesempatan yang tak terbilang bagi manusia untuk memilih nasib mereka sendiri, Allah yang penuh kasih itu tidak akan memaksa mereka untuk masuk ke dalam kerajaan yang telah mereka tolak itu" [alinea pertama; alinea kedua: dua kalimat pertama].

Jadi, demi kasih-Nya kepada manusia, Allah sudah mengambil suatu keputusan yang baik dengan memberi kesempatan yang baik kepada manusia untuk membuat pilihan yang baik. Masalahnya, berdasarkan pengalaman dan kenyataan, tidak semua orang mampu memanfaatkan kesempatan yang baik untuk mengadakan pilihan yang baik. Apa yang sering terjadi adalah: kesempatan yang baik disalahgunakan dengan cara yang tidak baik untuk menghasilkan pilihan yang tidak baik!

Disucikan, dikuduskan, dan dibenarkan. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, rasul Paulus mencela cara mereka menyelesaikan perselisihan yang terjadi di antara mereka dengan membawa kasusnya ke pengadilan umum (1Kor. 6:1) sebagai hal yang "memalukan" (ay. 5). Lebih baik, kata Paulus, dirugikan karena diperlakukan tidak adil oleh saudara sendiri daripada mengekspos perselisihan itu ke luar dan mempermalukan seluruh jemaat (ay. 7-8). Selanjutnya sang rasul menyorot serta menyebut secara spesifik dosa-dosa masa lalu yang dilakukan oleh oknum-oknum di jemaat Korintus itu ketika dia menulis, "Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzina, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah" (ay. 9-10; huruf miring ditambahkan). Kata Grika yang diterjemahkan dengan "banci" dalam ayat ini adalah malakoi yang arti sebenarnya adalah "homoseks" dan bukan seperti bencong atau wadam (wanita adam); sedangkan kata Grika untuk "orang pemburit" di sini adalah arsenokoitēs yang arti sesungguhnya adalah "sodomi."

"Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu," tulis Paulus. "Tetapi," lanjutnya, "kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita" (1Kor. 6:11; huruf miring ditambahkan). Dengan mengatakan bahwa mereka telah "disucikan, dikuduskan, dan dibenarkan" menunjukkan bahwa orang-orang Kristen di Korintus itu sekarang sudah berada di bawah kasih karunia dan dosa-dosa masa lalu mereka yang mengerikan itu kini sudah dihapuskan sehingga mereka layak untuk masuk surga. "Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu" (Why. 22:14).

"Hal yang menakjubkan ialah jika anda meletakkan 1 Korintus 6:11 bersama-sama dengan Wahyu 22:14 maka anda akan dapati orang-orang Kristen yang setia dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus; yaitu bahwa mereka 'dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat' (Rm. 3:28); tetapi mereka juga memelihara hukum itu" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang orang Kristen sebagai orang berdosa yang dibenarkan karena iman?
1. Kasih karunia Allah bagi manusia adalah hasil dari sebuah keputusan Allah yang menguntungkan bagi manusia, walaupun membawa akibat yang merugikan pada pihak Tuhan termasuk mengorbankan Putra Tunggal-Nya. Maka, seseorang yang binasa tidak dapat mempersalahkan siapapun selain dirinya sendiri yang tidak membuat pilihan yang baik untuk menyambut kasih karunia itu.
2. Sebagai manusia yang lahir di dunia ini kita ditakdirkan untuk binasa sebagai orang berdosa. Tetapi Yesus Kristus telah mengubah takdir itu oleh menanggung ke atas-Nya segala akibat dosa, dan dengan demikian memberi kesempatan kepada setiap orang untuk luput dari kebinasaan abadi melalui iman kepada-Nya.
3. Umat Kristen bukanlah orang-orang yang tidak berdosa; umat Kristen adalah orang-orang berdosa yang sudah disucikan, dikuduskan, dan dibenarkan dalam nama Yesus. Tidak jadi masalah sekeji dan sebesar apapun dosa-dosa anda, Allah berfirman: "Mari kita bereskan perkara ini. Meskipun kamu merah lembayung karena dosa-dosamu, kamu akan Kubasuh menjadi putih bersih seperti kapas" (Yes. 1:18, BIMK).

Rabu, 25 Juni
PEMERINTAHAN ORANG BENAR (Kerajaan yang Kekal)

Dunia baru. Kematian penebusan Yesus Kristus tidak saja menyelamatkan manusia tapi juga membawa perubahan dalam arti kata sebenarnya. Selain umat tebusan yang selamat itu akan diubahkan (1Kor. 15:52), dunia tempat tinggal mereka pun akan dijadikan baru (Yes. 65:17). Yohanes Pewahyu menyaksikan, "Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi" (Why. 21:1). Kata Grika untuk baru dalam ayat ini adalah kainos, sebuah kata sifat yang secara fisik berarti "baru dibuat" atau "masih segar" dan secara substansif berarti "jenis baru" atau "belum pernah ada sebelumnya" (Strong, G2537). Dalam konsep berpikir orang Yahudi, "laut" (Ibrani: yam) sering dikaitkan dengan orang fasik dan lambang dari perilaku yang liar (baca Yes. 57:20, bandingkan dengan Mzm. 89:10). Rasul Petrus menambahkan, "Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran" (2Ptr. 3:12-13). Jadi, dunia baru tempat orang benar berkerajaan itu adalah sebuah planet ciptaan baru yang bersuasana tenteram dan dikuasai oleh kebenaran.

"Allah menciptakan satu dunia yang sempurna. Dosa masuk, lalu dunia yang sempurna itu menjadi sangat rusak. Riwayat penebusan memberitahukan kepada kita bahwa Yesus memasuki sejarah manusia supaya, selain hal-hal lain, kesempurnaan yang asli itu akan dipulihkan. Umat tebusan akan hidup dalam satu dunia yang sempurna di mana kasih menjadi penguasa tertinggi" [alinea pertama].

Bilamana Allah akan menciptakan dunia baru sesudah masa seribu tahun (milenium), untuk menjadi tempat pemukiman abadi bagi umat tebusan-Nya, bumi yang baru itu nanti secara fisik adalah sempurna seperti bumi ini pada masa penciptaan. Selain kesempurnaan secara fisik itu akan dipulihkan, Allah juga memulihkan kekuasaan manusia untuk memerintah bumi ini serta segala isinya, yaitu kekuasaan seperti yang pernah diberikan-Nya kepada Adam dulu (Kej. 1:28). Di samping itu, Allah juga akan memulihkan sistem pemerintahan di seluruh bumi yang sekarang ini dikuasai oleh pemerintahan yang korup dan cinta diri kembali kepada pemerintahan yang berasaskan kasih dan berdasarkan prinsip hukum Allah.

Kerajaan Mesias. Perihal pemerintahan di dunia baru nanti, nabi Daniel menubuatkan: "Maka pemerintahan, kekuasaan dan kebesaran dari kerajaan-kerajaan di bawah semesta langit akan diberikan kepada orang-orang kudus, umat Yang Mahatinggi: pemerintahan mereka adalah pemerintahan yang kekal, dan segala kekuasaan akan mengabdi dan patuh kepada mereka" (Dan. 7:27). Selain ketenteraman dan ketertiban, di dunia baru nanti juga kesejahteraan warganya dijamin. Yohanes Pewahyu bernubuat: "Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu" (Why. 21:4). Ketika Alkitab mengatakan bahwa "begitu besar kasih Allah akan dunia ini" (Yoh. 3:16), maka "dunia" yang dimaksudkan bukanlah bumi tempat tinggal manusia ini melainkan manusianya, sehingga Ia mencanangkan keselamatan bagi mereka melalui Yesus Kristus, "supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Kerajaan Adam di Taman Eden telah runtuh dan kekuasaan pemerintahannya atas bumi ini sudah direbut oleh Setan akibat pelanggaran terhadap perintah (=prinsip hukum) Allah oleh nenek moyang pertama manusia itu. Tetapi di dunia baru nanti kejadian seperti itu tidak akan terulang sebab prinsip-prinsip Hukum Allah akan menjadi bagian dari tabiat manusia, bukan lagi sesuatu yang harus diajarkan. Seperti yang Allah canangkan bagi umat Israel, itu akan berlaku bagi umat tebusan secara keseluruhan. "Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman Tuhan, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka" (Yer. 31:33-34).

"Kerajaan Mesias itu akan berisi orang-orang yang memelihara kesetiaan kepada Allah sepanjang pengalaman rohani mereka. Menghadapi penganiayaan dan pergumulan pribadi, mereka telah memilih jalan penurutan dan menunjukkan kesediaan mereka untuk mengamalkan kehidupan pelayanan ilahi. Allah berjanji untuk mengukir hukum-Nya di hati mereka sehingga secara alamiah mereka akan melakukan hal-hal yang menyenangkan bagi Dia. Dalam kerajaan Kristus, dosa seluruhnya sudah ditaklukkan, dan kebenaran yang unggul" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang kerajaan Kristus yang kekal?
1. Kerajaan Kristus telah mulai dirintis ketika Ia datang dan hidup di dunia ini (Mat. 13:38; Mrk. 4:26-32), kemudian dilanjutkan melalui pekerjaan rasul-rasul (Luk. 9:2). Untuk sekarang ini bentuk dari kerajaan Kristus itu masih berupa kerajaan rohani, tapi sesudah masa seribu tahun kerajaan itu akan berdiri secara fisik di dunia baru.
2. Dunia baru adalah sebuah planet ciptaan baru, bukan hasil "renovasi" bumi kita ini. Sebagian orang mengutip 1Kor. 2:9 untuk melukiskan keadaan dunia baru, tetapi secara kontekstual ayat ini tidak berbicara tentang dunia baru melainkan tentang rahasia hikmat Allah. Sumber kutipan Paulus ketika mengekspresikannya (Yes. 64:4) juga tidak dalam konteks dunia baru.
3. Penguasa dunia baru nanti adalah semua umat tebusan, sistem pemerintahannya adalah kebenaran Kristus, dan Hukum Allah adalah "konstitusi" dari kerajaan yang kekal itu. Manusia yang hidup di dunia baru nanti tidak akan mengalami kesulitan apapun dalam menaati hukum-hukum Allah, sebab hukum itu sudah tertanam dalam hati dan menjadi bagian dari tabiat mereka.

Kamis, 26 Juni
KEABADIAN HUKUM MORAL (Hukum Dalam Kerajaan Itu)

Maut ditaklukkan. Di Taman Eden: hukum melahirkan pelanggaran, pelanggaran melahirkan dosa, dosa melahirkan maut; di Bukit Golgota: kasih karunia melahirkan pengampunan, pengampunan melahirkan keselamatan, keselamatan melahirkan kekekalan. Akibat dosa Adam, maut mengalahkan umat manusia; berkat penurutan Kristus, maut itu telah dikalahkan. Memang, akibat yang paling mengerikan dari dosa adalah maut, itulah sebabnya kematian adalah musuh terbesar bagi manusia. Kitabsuci menyatakan, "Musuh terakhir yang akan ditaklukkan ialah kematian" (1Kor. 15:26, BIMK), dan itu akan terjadi sesudah masa seribu tahun bilamana "maut dan kerajaan maut itu dilemparkan ke dalam lautan api" (Why. 20:14). Seperti yang kita tahu, "lautan api" itu adalah neraka, yaitu "api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya" (Mat. 25:41). Ke tempat itulah "kerajaan maut" (Grika: hadēs; Ibrani: sheol) itu akan dicampakkan.

"Tidak disangsikan bahwa kematian itu berkaitan dengan dosa, yang artinya kematian juga berkaitan dengan hukum Allah; sebab dosa adalah pelanggaran hukum Allah. Dengan demikian, tidak mungkin ada dosa tanpa hukum. Sekalipun dosa itu bergantung pada hukum, hukum itu terpisah dari dosa. Jadi, hukum bisa eksis tanpa dosa. Bahkan, keadaan seperti itu sudah berlangsung selama berabad-abad sampai Lusifer memberontak di surga" [alinea ketiga].

Hukum Allah dan dosa adalah dua hal yang berbeda dan masing-masing berdiri sendiri. Hukum berasal dari Allah, tetapi dosa tidak datang dari Allah. Bahkan, hukum dan dosa merupakan dua hal yang saling berlawanan. Meskipun dosa adalah "akibat" dari pelanggaran hukum, tapi hukum dan dosa bukan datang sebagai pasangan sebab keduanya berasal dari kutub yang bertentangan. Hukum Allah itu abadi, tetapi dosa hanya bersifat sementara karena Kristus "telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa" (1Yoh. 3:5).

Kerajaan kekal dan hukum abadi. Bilamana Kristus akan mendirikan kerajaan-Nya yang kekal di dunia baru nanti, prinsip-prinsip hukum Allah yang abadi akan menjadi semacam "konstitusi" (undang-undang dasar) dari kerajaan itu. Hanya hukum yang abadi dapat dijadikan dasar dari kerajaan yang kekal. Prinsip-prinsip hukum yang akan terukir di dalam pikiran dan hati sanubari seluruh warga kerajaan itu membuat moral setiap orang secara otomatis dikendalikan oleh prinsip-prinsip hukum itu, dan dengan demikian pelanggaran terhadap hukum menjadi mustahil. Bukan berarti bahwa warganegara kerajaan kekal itu akan terdiri atas manusia-manusia robot, tetapi moralitas penduduk dunia baru itu sudah sedemikian rupa sehingga kemungkinan pelanggaran menjadi nihil.

"Dengan pemikiran ini, ketiadaan maut dan dosa dalam kerajaan Allah tidak menuntut ketiadaan hukum...Bilamana Allah menuliskan hukum-Nya di dalam hati umat tebusan, maksud satu-satunya ialah menyegel keputusan mereka berjalan dalam jalan kebenaran untuk selama-lamanya. Karena itu, hukum-Nya menjadi esensi utama dari kerajaan-Nya. Jadi, kita memiliki segala alasan untuk percaya bahwa prinsip-prinsip hukum moral Allah akan ada di dalam kerajaan Allah yang kekal. Bedanya, tentu saja, bahwa di sana prinsip-prinsip itu tidak akan pernah dilanggar seperti yang sudah terjadi di sini" [alinea terakhir: kalimat pertama dan empat kalimat terakhir].

Pena inspirasi menulis: "Kepada saya telah ditunjukkan bahwa hukum Allah akan tegak untuk selama-lamanya, dan eksis di dunia baru sepanjang masa kekekalan" (Ellen G. White, Early Writings, hlm. 217). "Tidak lama lagi kita akan melihat Dia yang menjadi pusat dari pengharapan kita akan hidup kekal. Dan di hadirat-Nya segala cobaan dan penderitaan hidup sekarang ini akan menjadi tidak berarti apa-apa...Pandanglah ke atas, pandanglah ke atas, dan biarlah imanmu terus bertambah. Hendaklah iman ini membimbingmu sepanjang jalan sempit yang menuntun ke gerbang kota Allah, ke dalam kemuliaan masa depan yang agung dan luas serta tak terbatas yang disediakan bagi umat tebusan" (Ellen G. White, Our Father Cares, hlm. 89).

Apa yang kita pelajari tentang kerajaan dan hukum Allah yang kekal?
1. Dosa bukan saja telah membawa kematian bagi manusia tapi juga menghadirkan keadaan "setengah mati" dalam kehidupan manusia, suatu kondisi yang seringkali terasa jauh lebih berat dari kematian itu sendiri. Tidak sedikit umat Tuhan yang gagal di tengah jalan karena tidak tahan menderita. Sebab itu, "Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah" (Yes. 35:3).
2. Untuk menjamin tidak ada lagi pelanggaran di dunia baru nanti, sebenarnya Allah mempunyai dua pilihan: meniadakan hukum-Nya, atau menjadikan umat tebusan sebagai "manusia robot." Allah tidak memilih salah satu di antara alternatif itu, tetapi menghilangkan kedua pilihan tersebut. Di dunia baru nanti, hukum Allah itu akan tetap ada dan penghuninya pun bukan robot.
3. Satu jaminan yang menggembirakan kita pelajari dalam pelajaran ini, yaitu di dunia baru nanti tak seorang pun dari umat tebusan itu yang akan melanggar hukum Allah dan berdosa, sebab prinsip-prinsip hukum moral Allah akan ditanamkan ke dalam hati sanubari kita masing-masing. Sekarang pun kita dapat meminta kuasa Allah untuk mengalahkan godaan dosa.

Jumat, 27 Juni
PENUTUP

Keteladanan Kristus. Dalam keadaan di mana dosa merupakan sifat bawaan kita manusia, dan hidup di lingkungan berdosa dengan kehadiran si penggoda yang setiap saat membuntuti kita, tak seorang pun bisa luput dari dosa. Keberdosaan adalah kutukan terbesar dalam kehidupan manusia, tapi dalam hal ini kita tak dapat menyalahkan siapa pun kecuali merenungi nasib sendiri. Namun ada hal yang dapat kita lakukan dan mungkin untuk dilakukan, ialah berharap pada pengasihan Allah. Pada waktu yang sama, kita juga dapat belajar dari keteladanan Kristus yang dalam keadaan kemanusiaan telah berhasil menuruti hukum Allah itu dan tidak berdosa. Keteladanan apa yang bisa kita pelajari dari Dia?

"Setan telah menyatakan bahwa mustahil bagi manusia untuk menaati perintah-perintah Allah, dan adalah benar bahwa dengan kekuatan kita sendiri kita tidak dapat menurutinya. Tetapi Kristus sudah datang dalam wujud manusia, dan oleh penurutan-Nya yang sempurna Ia membuktikan bahwa perpaduan kemanusiaan dan keilahian dapat menaati setiap peraturan Allah itu..." [alinea pertama].

Dalam cara apa dan bagaimana kita dapat memadukan "kemanusiaan dan keilahian" supaya sanggup menuruti perintah-perintah Allah dan hukum-hukum-Nya? Sisi keilahian itu berhubungan dengan kuasa, dan sisi kemanusiaan berkaitan dengan tekad. Untuk dapat menaati hukum Allah dengan sempurna membutuhkan kuasa Allah dan tekad manusia. Kuasa ilahi sudah pasti lebih ampuh dari kekuatan pengaruh dosa, tetapi untuk mengaktifkan kuasa itu dalam diri anda dan saya harus ada kemauan yang sungguh di pihak kita untuk menuruti hukum-hukum itu serta kesediaan untuk menerima kuasa penurutan dari Allah. Seperti bila anda hendak berselancar di dunia maya, ketersediaan hot spot di tempat anda berada harus diikuti dengan setelan wi-fi pada perangkat elektronik (ponsel atau komputer) anda yang sudah dihidupkan baru hubungan internet bisa berlangsung dengan sukses. Pemutusan hubungan sewaktu-waktu dapat terjadi bila anda keluar dari wilayah liputan, atau jika anda mematikan setelan pada piranti keras milik anda!

Sebagaimana telah kita pelajari bahwa umat tebusan akan memerintah bersama Kristus di dalam kerajaan-Nya di dunia baru nanti. Memerintah ada hubungannya dengan kemenangan, sebab hanya mereka yang sudah menang dalam suatu pertarungan berhak untuk memerintah. Umat tebusan adalah orang-orang yang sudah memenangkan pertarungan di dunia ini, yaitu menang dalam pergumulan iman dan dari melawan pengaruh dosa. Para penghuni dunia baru adalah setiap orang yang sudah menang bersama Yesus Kristus.

"Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya" (Why. 3:21).

(Oleh Loddy Lintong/California, 26 Juni 2014)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...