Syaloom

Selamat datang bagi pengunjung blog ini, terima kasih atas kunjungan anda pada blog ini anda dapat download lagu-lagu rohani khusus quartet (male or ladies) termasuk partitur yang kami telah sediakan.

Blog ini khusus saya buat untuk membantu teman-teman yang mempunyai hobi menyanyi lagu-lagu rohani tetapi pada saat tertentu tidak mempunyai cukup partiture. Dan sesuai dengan judulnya maka blog ini khusus dibuat untuk quartet grup vokal, apakah itu male quartet atau ladies quartet.

Banyak orang didunia ini dan hampir semua orang yang ada di jagad raya ini menyukai musik. Sebab itu saya ingin mengajak semua teman-teman yang ingin partisipasi dalam blog ini saya persilahkan untuk memberi saran dan bahan untuk memajukan grup-grup quartet. Sering kita menyanyikan sebuah lagu dengan baik dan pendengar cuma menyukai harmoninya saja tetapi pekabaran dalam lagu itu sendiri tidak didapat karena pendengar tersebut tidak mengerti bahasa yang dinyanyikan dalam lagu tersebut untuk itu melalui blog ini saya sekali lagi mengajak siapapun untuk urung rembuk agar blog ini disukai dan dapat bermafaat buat kita semua.

Untuk itu saya akan mencoba untuk mentransfer dari partiture aslinya kedalam bahasa Indonesia. Shalom regards,

GBU
E. Nanlohy



TRANSLATORS...

Jumat, 28 November 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT DEWASA KE IX 29 NOVEMBER 2014: "PENGHAKIMAN KASIH DAN KESELAMATAN"








Sabat Petang, 22 November
PENDAHULUAN

Sikap terhadap hukum. Dalam ilmu hukum dikenal apa yang disebut "hukum positif" (ius constitutum), yaitu hukum yang berlaku di suatu negara pada waktu tertentu. Hukum positif merupakan kumpulan peraturan-peraturan yang bersifat mengikat dan mengandung unsur pemaksaan untuk ditaati, serta sangsi-sangsi berupa hukuman bagi siapa saja yang tidak menaatinya atau yang terbukti melakukan pelanggaran terhadap hukum. Tujuan dari pembuatan hukum itu sendiri ialah untuk memelihara ketertiban serta ketenteraman dalam masyarakat dan untuk memenuhi rasa keadilan di kalangan masyarakat. Maka dalam perspektif hukum positif, ketertiban hukum yang dikehendaki itu membutuhkan sikap positif dari masyarakat terhadap keberadaan hukum tersebut.

Menyangkut hukum positif ini, Theodore Roosevelt, presiden AS ke-26 [1901-1909], membuat sebuah pernyataan yang terkenal: "Tidak seorang pun berada di atas hukum dan tidak seorang pun berada di bawahnya; kita tidak meminta izin dari siapa pun ketika kita meminta dia untuk menaatinya." Pernyataan ini merupakan gagasan dasar dari Konstitusi (Undang-undang Dasar) Amerika Serikat sebagai sebuah negara berhaluan republik yang berbeda dengan paham pemerintahan monarki absolut seperti di negara-negara Eropa hingga abad ke-19 di mana raja adalah pemegang kekuasaan mutlak. Pada zaman di mana seorang raja berkuasa penuh, dialah pembuat hukum untuk dipatuhi oleh seluruh rakyat sehingga berlaku apa yang disebut rex lex, "raja adalah hukum." Karena seorang raja adalah pembuat undang-undang maka dia berhak pula untuk mengubah undang-undang itu kapan dia mau, dan dengan demikian dia sama sekali tidak tunduk pada hukum yang dibuatnya.

Bagaimana dengan "kedudukan" orang-orang kaya di hadapan hukum? Kita sering menaruh kecurigaan akan adanya perilaku istimewa yang dinikmati orang-orang kaya ketika berurusan dengan hukum, bahkan di negara-negara yang mengaku menjunjung tinggi hukum. Bulan Desember tahun lalu seorang hakim di Texas, AS dicaci karena hanya mengganjar hukuman percobaan kepada seorang remaja anak orang kaya yang mengemudikan mobil dalam keadaan mabuk sehingga menabrak empat orang sampai tewas. Dalam amar putusannya sang hakim tampaknya terpengaruh dengan dalil pembela bahwa remaja itu mengalami apa yang disebut gejala “affluenza,” yaitu masalah psikologis yang konon dapat menimpa anak-anak orang kaya. Karena itu, tuntutan 20 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum tidak dipenuhi dan gantinya adalah hukuman percobaan 10 tahun ditambah perawatan kejiwaan. Hukuman percobaan berarti tidak mengharuskan anak remaja 16 tahun itu masuk penjara, kecuali jika melakukan pelanggaran hukum selama masa percobaan itu. (Baca di sini-->http://www.nytimes.com/2013/12/14/us/teenagers-sentence-in-fatal-drunken-driving-case-stirs-affluenza-debate.html).

Di negara-negara miskin dan sebagian negara berkembang yang korup, fenomena orang kaya kebal hukum kerap terlihat begitu jelas. Hukum seakan bisa "dibeli" atau "diatur" oleh kaum berduit untuk keuntungan mereka. Pemeo bahwa "orang kaya mempunyai aturannya sendiri" menjadi pemandangan sehari-hari, sementara orang miskin yang berbuat kesalahan kecil didera habis-habisan oleh hukum. Keadilan seringkali seakan hanya berpihak kepada orang kaya dan terkenal, tetapi sangat jauh dari jangkauan orang-orang miskin.

Lalu, bagaimana dengan Hukum Allah? Seperti halnya hukum positif, hukum itu diberikan demi menumbuhkan ketertiban di antara umat manusia dan untuk menciptakan hubungan yang harmonis di kalangan masyarakat secara horisontal dan juga antara manusia dengan Tuhan secara vertikal. Intisari dari hukum moral Allah, yaitu Sepuluh Perintah, adalah kasih secara vertikal dan horisontal. Yesus memerintahkan umat-Nya, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Mat. 22:37-39). Rasul Paulus menambahkan, "Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat" (Rm. 13:10).

"Pelajaran pekan ini diawali dengan sebuah tinjauan hukum tapi kemudian menuntun kepada beberapa kata penting tentang sebuah bentuk kesombongan dan percaya diri yang mungkin tidak kita sadari tetapi terhadap mana kita diamarkan mengenai jadi berdosa, suatu pelanggaran hukum Allah. Bahkan, dalam kitab Yakobus, di sini kepada kita diberikan cara lain untuk memandang dosa" [alinea terakhir].

Minggu, 23 November
JANGAN MENGHAKIMI (Penghakiman atau Kearifan?)

Memfitnah berarti menghakimi. Yakobus menulis: "Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya" (Yak. 4:11; huruf miring ditambahkan). Kata Grika yang diterjemahkan dengan "saling memfitnah" dalam ayat ini adalah katalaleō, sebuah kata kerja yang berarti "berbicara jahat, mencela, mengumpat" (Strong; G2635). Versi lainnya menerjemahkan frase ini, "janganlah saling mencela atau saling menyalahkan" (BIMK=Bahasa Indonesia Masa Kini); dan "jangan seorang mencela orang" (TL=Terjemalan Lama). NKJV (New King James Version) menerjemahkannya, "do not speak evil of one another" (jangan berbicara jahat tentang satu sama lain); NIV (New International Version), "do not slander one another" (jangan saling memfitnah); dan TEV (Today's English Version), "do not criticize one another" (jangan saling mengkritik).

Dalam pengertian Bahasa Indonesia, "fitnah" sebagai kata benda adalah "perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang," sedangkan "memfitnah" sebagai bentuk kata kerja ialah "menjelekkan nama orang" (KBBI=Kamus Besar Bahasa Indonesia). Tetapi dari sejumlah versi terjemahan Alkitab di atas kita bisa menyimpulkan bahwa nasihat sang rasul kepada umat Kristen agar "tidak saling memfitnah" mengandung makna yang luas sekali. Tidak saja berkata bohong tentang orang lain untuk menjelekkan namanya, tetapi "mencela" dan "mempersalahkan" seseorang atas perbuatannya yang memang dia lakukan itu pun tidak sepatutnya terjadi di antara sesama umat percaya. Tentu saja yang dimaksud di sini adalah mengata-katai seseorang di belakangnya, atau menyebarkan kesalahannya--benar maupun tidak benar--kepada orang-orang lain secara bisik-bisik.

"Di satu sisi, tampaknya Yakobus menggunakan bahasa yang lebih halus di sini daripada dalam pasal 3; namun, dampak dari 'saling memfitnah' kelihatannya lebih serius sehingga melakukan hal itu menimbulkan kesangsian pada hukum itu sendiri. Dengan menempatkan diri kita di kursi untuk menghakimi, kita mengabaikan kelemahan-kelemahan kita sendiri (baca Mat. 7:1-3) dan sebaliknya memusatkan perhatian pada kesalahan orang lain, seolah-olah kita berada di luar atau di atas hukum" [alinea pertama: kalimat kedua dan ketiga].

Kearifan rohani. Sebagai orang Kristen kita telah diajar oleh Yesus, "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat" (Mat. 5:37). Jadi, pengikut Kristus harus menjunjung tinggi kebenaran dan tidak berkompromi dengan fakta. Dalam hal hubungan dengan sesama manusia pun kita harus berani berkata benar, "ya" kalau itu benar dan "tidak" kalau itu salah, sekalipun harus menelan akibat yang pahit.

Menyangkut apa yang disebut kebenaran--baik itu tentang ajaran firman Tuhan maupun cerita mengenai seseorang--kita harus lebih dulu menyelidik kebenarannya sebelum mengambil suatu kesimpulan (Kis. 17:11; 1Yoh. 4:1). Bahkan, terkait dengan kesalahan seorang anggota jemaat, kalaupun cerita itu benar kita tidak akan mempermalukan jemaat dengan mencari penyelesaian di luar jemaat melainkan menangani sendiri masalah itu (1Kor. 6:1-5), sementara kita juga melakukan introspeksi diri (2Kor. 13:5; Gal. 6:1). Dengan berbuat demikian, kita "makin mengasihi Allah dan sesama dan terus bertambah dalam pengetahuan yang benar dan pandangan yang bijaksana" (Flp. 1:9, BIMK). Ini merupakan karunia "kearifan rohani" yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang Kristen.

"Kita harus membandingkan apa yang orang-orang ajarkan dan khotbahkan dengan Firman Allah. Kita juga sejauh mungkin harus mendorong anggota-anggota gereja untuk membereskan perbedaan-perbedaan di antara mereka sendiri gantinya dibawa ke pengadilan di mana hakim-hakimnya mungkin dituntun oleh Firman Allah dan mungkin juga tidak. Tetapi yang paling penting kita harus memeriksa diri kita sendiri menyangkut kesehatan hubungan iman kita dan apakah pendirian kita itu meninggikan serta sangat baik atau merugikan bagi pengalaman Kristiani kita" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang sikap menghakimi dan kearifan rohani?
1. Setiap orang bisa melakukan kesalahan atau berbuat dosa, tetapi ada yang diketahui orang dan ada yang tidak diketahui. Kalau kita kebetulan mengetahui kelemahan seseorang, Yesus mengajarkan agar kita menegurnya secara pribadi sebelum bertindak lebih jauh (baca Mat. 18:15-17). Jadi, semua itu tergantung pada itikad kita.
2. Kearifan rohani orang Kristen ditunjukkan melalui sikap kita sebagai orang-orang yang berpandangan luas yang tidak gampang terpengaruh dengan "cerita bisik-bisik" mengenai seseorang atau sesuatu. Mungkin semangat "check and recheck" (periksa dan periksa ulang) dalam arti kata yang sebenarnya perlu ditumbuhkan.
3. Khususnya dalam hal kebenaran pengajaran Firman Allah, "kita tidak menjadi anak-anak lagi yang terombang-ambing dan terbawa-bawa ke sana ke mari oleh arus bermacam-macam pengajaran dari orang-orang yang licik...Tidak! Sebaliknya kita harus menyatakan hal-hal yang benar dengan hati penuh kasih..." (Ef. 4:14-15, BIMK).

Senin, 24 November
MENGHAKIMI DAN MENYELAMATKAN (Pembuat Hukum adalah Hakim)

Yesus sebagai Pemberi Hukum. Yakobus menulis, "Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan..." (Yak. 4:12; huruf miring ditambahkan). Di sini sang rasul menggemakan kembali perkataan nabi Yesaya, "Sebab Tuhan ialah Hakim kita, Tuhan ialah yang memberi hukum bagi kita; Tuhan ialah Raja kita, Dia akan menyelamatkan kita" (Yes. 33:22; huruf miring ditambahkan). Kedua ayat ini sebenarnya merujuk kepada satu Pribadi yang sama, yaitu pembuat hukum dan sekaligus hakim. Dalam pernyataan Yakobus, Pribadi yang membuat hukum dan hakim itu adalah juga "berkuasa meyelamatkan"; sedangkan dalam pernyataan Yesaya, hakim dan pemberi hukum bagi kita itu adalah juga "Raja" yang "akan menyelamatkan kita." Informasi-informasi tambahan itu mengarahkan kita kepada Yesus Kristus, yaitu "Raja segala raja" (1Tim. 6:15; Why. 17:14; 19:16) yang akan menyelamatkan kita (2Tim. 1:9-10; Kis. 16:31).

Istilah "Pembuat hukum" dalam surat Yakobus di atas adalah terjemahan dari kata Grika nomothetēs, dan merupakan satu-satunya ayat di seluruh PB yang menggunakan kata ini. Tetapi dalam terjemahan bahasa Grika dari Perjanjian Lama--disebut "Septuagint" atau sering disingkat dengan "LXX" karena pekerjaan penerjemahan itu dikerjakan oleh 70 pakar bahasa, dilaksanakan antara tahun 300-200 SM--nomothetēs (kata benda) dan nomothetēo (kata kerja) digunakan sebanyak 9 kali di seluruh PL.

"Semua hukum dari Perjanjian Lama adalah dari Yesus. Hukum-hukum itu terkadang disebut hukum Musa karena hukum-hukum itu diberikan melalui dia (2Taw. 33:8; Neh. 10:29), tetapi adalah Yesus yang telah memimpin bangsa Israel melalui padang gurun dan mengucapkan Sepuluh Perintah itu kepada mereka di Bukit Sinai (baca 1Kor. 10:1-4). Dalam Khotbah di Atas Bukit, Yesus menjelaskan dan mempertegas hukum itu" [alinea pertama: tiga kalimat pertama].

Yesus sebagai Hakim. Dari antara berbagai kitab dalam PL yang menubuatkan tentang Yesus Kristus atau berkaitan dengan Mesias, kitab Yesaya adalah yang paling penting dan lengkap. Setidaknya ada 20 nubuatan tentang Yesus tersebar di berbagai pasal dari kitab Yesaya yang semuanya telah digenapi, khususnya dalam pasal 53. Kitab-kitab PL lainnya yang juga mengandung nubuatan penting tentang Yesus Kristus di antaranya adalah Mikha, Zakharia, Mazmur, dan tentu saja Kejadian 3:15 yang berisi pernyataan Allah Bapa sendiri dan sering disebut sebagai "injil pertama" (protoevangelium).

Berkenaan dengan nubuatan mengenai Yesus sebagai Hakim, khususnya tercatat dalam Yesaya 11:1-5 di mana Yesus disebut sebagai "tunas" dari keturunan Isai (versi BIMK menyebutnya "tunas baru...dari keturunan Daud") yang akan menghakimi dengan adil. Sebagai hakim yang adil, "Ia tidak mengadili sekilas pandang atau berdasarkan kata orang. Orang miskin dihakiminya dengan adil, orang tak berdaya dibelanya dengan jujur; orang bersalah dihukum atas perintahnya, orang jahat ditumpasnya. Ia bertindak dengan adil dan setia dalam segala-galanya" (ay. 3-5, BIMK).

"Hanya seseorang yang mengenal hukum itu dengan baik layak untuk menghakimi apakah hukum itu sudah dilanggar atau tidak...Tetapi sebagai Pemberi hukum-hukum itu, Ia secara khusus layak untuk menjelaskan apa yang hukum-hukum itu maksudkan dan untuk menilai apakah hukum-hukum itu sudah dilanggar atau tidak. Maka pada waktu Ia datang kembali, upah yang dibawa-Nya untuk diberikan kepada semua orang menurut perbuatan mereka (Why. 22:12). Lebih jauh lagi, dengan mengambil rupa manusia, menghidupkan kehidupan tanpa dosa, mati menggantikan kita, dan bangkit mengalahkan dosa dan maut, Yesus sanggup untuk menyelamatkan kita dari dosa" [alinea kedua: kalimat pertama dan tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Yesus sebagai Pembuat hukum dan juga Hakim?
1. Sebutan Yakobus bahwa Yesus adalah "pembuat hukum" dan sekaligus "hakim" hanya bisa dipahami dari sudut pandang rohani berdasarkan iman. Pendekatan dengan menggunakan sistem demokrasi duniawi--di mana pembuat hukum adalah legislatif dan eksekutif, dengan yudikatif sebagai pelaksana--tentu tidak relevan dengan Alkitab.
2. Alkitab mengajarkan bahwa Yesus Kristus kelak akan datang sebagai Hakim untuk menghakimi malaikat-malaikat jahat dan orang jahat (sekarang ini Dia berperan sebagai Pembela bagi umat-Nya dalam penghakiman surgawi), dan Yesus berhak serta layak untuk menghakimi manusia sebab Dia adalah Pemberi hukum moral (Sepuluh Perintah) itu.
3. Pada kedatangan-Nya yang pertama sebagai "Anak Manusia" Yesus telah mengamalkan kehidupan menurut hukum itu, dengan demikian Dia mendapat legitimasi dari Allah Bapa untuk menghakimi dunia ini (Yoh. 5:22, 27; Kis. 10:42; 2Kor. 5:10). Jadi, kualifikasi Kristus sebagai Hakim berdasarkan: (1) pengetahuan-Nya tentang hukum itu, (2) pengalaman-Nya hidup dalam hukum itu, dan (3) atas penunjukkan Allah Bapa.

Selasa, 25 November
BERSERAH PADA PEMELIHARAAN ALLAH (Perencanaan ke Depan)

"Rencana" masa depan. Kehidupan manusia penuh dengan rencana-rencana, bahkan manusia memang harus punya rencana hidup. Menyangkut rencana masa depan, Salomo berkata: "Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan" (Ams. 21:5). Tindakan yang tergesa-gesa dan tanpa perhitungan bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kesulitan hidup ketika dia tidak siap menghadapi risiko dari pilihan dan keputusannya. Yesus sendiri menyinggung soal perlunya berpikir masak-masak dan mempertimbangkan "kalkulasi untung-rugi" (risk/reward calculation) sebelum seseorang memutuskan untuk menjadi pengikut Dia (baca Luk. 14:27-33).

Yakobus mempunyai amaran penting bagi orang-orang Kristen yang berkata, "'Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung,' sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok" (Yak. 4:13-14). Sebagai manusia kita bisa saja membuat "investasi bisnis" dengan berbagai cara yang dianggap menguntungkan. Banyak orang Kristen yang pindah ke kota lain bahkan ke negara lain untuk memperluas usahanya, atau sekadar mencari kehidupan yang lebih baik, dan mereka berhasil sehingga menjadi penyumbang-penyumbang potensial bagi jemaat di tempat mana mereka tinggal. Sementara merencanakan kehidupan yang lebih baik adalah hal yang normal dan logis, kita harus menyadari bahwa hidup itu sendiri lebih penting daripada kekayaan. Yesus berkata: "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kau sediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah" (Luk. 12:20-21).

"Mungkin tampaknya sangat masuk akal untuk merencanakan setahun sebelumnya atau bahkan lebih. Umumnya usaha bisnis mempunyai rencana-rencana jangka pendek, menengah, dan panjang. Secara perorangan maupun keluarga-keluarga perlu menabung bagi masa depan serta membuat persediaan untuk biaya-biaya tak terduga. Sebaliknya, kita juga harus percaya bahwa Yesus segera datang dan bahwa sekali kelak semua harta duniawi kita akan dihanguskan oleh api (baca 2Ptr. 3:10-12)" [alinea pertama].

"Insya Allah." Seseorang pernah berkata, "Dalam hidup ini satu-satunya hal yang pasti adalah ketidakpastian." Dalam perspektif ini setiap langkah yang kita rencanakan seharusnya bergantung pada Tuhan, sebab kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Karena itu rasul Yakobus menyarankan bilamana kita merencanakan sesuatu harus didahului dengan perkataan: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu" (Yak. 4:15; huruf miring ditambahkan). Konsep berpikir yang sama juga dimiliki oleh rasul Paulus ketika dia menulis kepada jemaat di Korintus, "Tetapi aku akan segera datang kepadamu, kalau Tuhan menghendakinya..." (1Kor. 4:19; huruf miring ditambahkan). Kata Grika yang diterjemahkan dengan "menghendakinya" dalam kedua ayat ini adalah thelō, sebuah kata kerja yang juga dapat berarti "bermaksud" atau "berkenan" (Strong; G2309).

Frase "jika/kalau Tuhan menghendakinya" dalam bahasa Latin adalah Deo Volente atau sering disingkat "d.v." yang pernah populer di kalangan orang Kristen abad ke-18 (menurut Kamus Merriam-Webster, frase ini diketahui telah digunakan pertama kali pada tahun 1763; menurut Dictionary.com tahun 1767). Sebagaimana kita ketahui, frase ini sangat populer di kalangan saudara-saudara kita kaum muslimin dan muslimah yang selalu melafalkannya dalam bahasa Arab, إن شاء الله, In sya' Allah (kata nun dan syin dipisahkan sesuai dengan aslinya, sehingga mendapatkan arti yang sesungguhnya "jika Allah mengizinkan"). Setelah istilah ini dipungut menjadi bagian dari kosakata Bahasa Indonesia yang resmi, dua kata pertama disatukan sehingga frase yang aslinya terdiri atas tiga kata itu berubah menjadi hanya dua kata, "Insya Allah."

"Itu artinya kita harus menyerahkan semua rencana kita kepada Allah. Kita bisa berdoa: 'Allah, aku mau mengetahui kehendak-Mu. Jika Engkau tidak berkenan dengan rencana-rencana ini, tunjukkanlah kiranya kepada saya.' Kemudian, kalau rencana-rencana kita itu tidak baik, maka Allah akan menunjukkan hal itu kepada kita--selama kita tetap menaruh perhatian dan rela memperbaiki rencana-rencana kita atau bahkan mengubahnya secara keseluruhan" [alinea terakhir: empat kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang membuat rencana masa depan?
1. Tuhan telah menganugerahkan kita manusia dengan kemampuan berpikir dan kesanggupan untuk menyusun rencana-rencana. Tetapi sementara perencanaan sebelum bertindak adalah bijaksana, kita harus membawa semua rencana itu kepada Tuhan. "Percayakanlah kepada Tuhan semua rencanamu, maka kau akan berhasil melaksanakannya" (Ams. 16:3, BIMK).
2. Hidup di dunia yang penuh ketidakpastian hanya bisa berhasil jika bersandar pada Allah yang pasti. Sebagai umat percaya kita harus melibatkan Tuhan dalam setiap rencana kita, baik secara peorangan, keluarga, terlebih sebagai gereja. Tanpa campur tangan Tuhan segala rencana dan usaha kita akan sia-sia (baca Mzm. 127:1).
3. Kalau Yakobus dan Paulus sebagai para pemimpin Gereja mula-mula menerapkan konsep "kalau Tuhan menghendakinya" dalam setiap perencanaan mereka, tidakkah umat Kristen zaman ini juga harus mempraktikkan konsep berpikir yang sama? Sering kita terlalu "PD" (=percaya diri) dengan iman kita sehingga mengira bahwa Tuhan pasti akan mengabulkan apa saja yang kita doakan.

Rabu, 26 November
MANUSIA YANG FANA (Asap)

Kefanaan hidup. Yakobus menekankan kefanaan manusia ketika dalam suratnya dia menulis, "Apa yang akan terjadi dengan kehidupanmu besok, kalian sendiri pun tidak mengetahuinya! Kalian hanya seperti asap yang sebentar saja kelihatan, kemudian lenyap" (Yak. 4:14, BIMK). Asap, uap, kabut, ulat, rumput, bunga rumput, bayangan dan lain-lain yang sifatnya rapuh serta tidak bertahan lama adalah gambaran Alkitab tentang kefanaan manusia. Maka, adalah suatu hal yang bodoh untuk merasa pasti akan hari esok kita. Salomo menasihati, "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu" (Ams. 27:1).

Kita semua telah menyaksikan, bahkan sebagian dari kita mengalaminya sendiri, betapa kematian itu bisa datang secara tiba-tiba dan tak disangka-sangka merenggut jiwa sahabat, anggota keluarga, dan orang-orang yang kita kasihi. Ada yang meninggal begitu mendadak sehingga kita tidak percaya bahwa kejadian itu benar, mungkin karena kita baru saja ketemu beberapa jam yang lalu atau baru berbicara dengan dia lewat telpon beberapa menit sebelumnya. Kematian adalah tamu yang tak diundang dan tak dapat ditolak dalam kehidupan manusia, tamu tak berperasaan yang bisa mampir menjenguk kita tanpa basa-basi.

"Dengan kata lain, selalu akan ada kematian seketika. Kita semua hanya sejauh satu detak jantung dari kematian. Siapa saja dari kita, pada saat mana saja, karena satu dari banyak alasan, dapat mati dalam sesaat. Alangkah tepatnya Yakobus berkata, 'Sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok' (Yak. 4:14, TB), termasuk kematian" [alinea kedua: empat kalimat terakhir].

Ketidakadilan hidup. Bukan saja hidup ini fana, tapi kerapkali hidup ini juga tidak adil. Barangkali memang benar bahwa hidup ini hanya menyediakan kehidupan, tetapi tidak mempunyai kewajiban untuk memberi kehidupan yang adil. Sehingga pemazmur mengeluh, "Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain. Sebab itu mereka berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan" (Mzm. 73:2-6).

Salomo, orang paling berhikmat yang pernah hidup di Bumi ini, seperti putus asa dengan nasib manusia ketika dia berkata: "Dan, ah, orang yang berhikmat mati juga seperti orang yang bodoh! Oleh sebab itu aku membenci hidup, karena aku menganggap menyusahkan apa yang dilakukan di bawah matahari, sebab segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari, sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku. Dan siapakah yang mengetahui apakah orang itu berhikmat atau bodoh?" (Pkh. 2:16-19). Kematian hanyalah soal waktu, dan kemalangan hanyalah giliran. "Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba" (Pkh. 9:12).

"Kita melihat begitu banyak ketidakadilan, begitu banyak kecurangan, begitu banyak yang tidak masuk akal dalam hidup ini. Tidak heran kita semua merindukan janji hidup kekal yang diberikan kepada kita melalui Yesus. Tanpa itu, kita hanyalah sekadar asap yang akan berlalu dan terlupakan untuk selamanya" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang nasib manusia yang seperti asap?
1. Kefanaan adalah kodrat manusia sebagai akibat dosa (Rm. 6:23), dan bagi banyak orang kelahiran tidak lain daripada awal perjalanan menuju kematian. Sehingga raja Daud yang risau sampai berseru dalam angan-angannya, "Tuhan, beritahukanlah kapan ajalku supaya aku tahu betapa pendek hidupku" (Mzm. 39:5, BIMK).
2. Bagi orang yang tidak percaya kematian adalah akhir dari segalanya, bagi umat percaya kematian hanyalah akhir dari kefanaannya. Kematian orang percaya bukan terminasi [=kesudahan], tapi transisi [=peralihan]. Karena itu sebagai orang Kristen seyogianya kita tidak takut pada kematian, asalkan kita memelihara kepastian dalam Kristus (Rm. 8:11).
3. Selain kefanaan hidup kita juga menghadapi ketidakadilan hidup, apakah itu akibat perlakuan orang lain maupun karena nasib yang tidak beruntung. Tidak heran kalau Salomo sampai beranggapan "orang-orang mati...lebih bahagia dari pada orang-orang hidup" bahkan, "yang lebih bahagia daripada kedua-duanya itu kuanggap orang yang belum ada..." (Pkh. 4:2-3).

Kamis, 27 November
KEWAJIBAN "ANAK-ANAK TERANG" (Mengetahui dan Melakukan Apa yang Baik)

Dosa kelalaian. Berhubung dengan kefanaan manusia dan ketidakpastian hidup, rasul Yakobus menasihatkan umat percaya agar menyerahkan setiap rencana kita kepada Tuhan dan tidak bersikap pongah dengan rasa percaya diri yang berlebihan. "Sebenarnya kamu harus berkata: 'Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.' Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah" (Yak. 4:15-16). Perhatikan, sang rasul menyebut sikap kemandirian manusia, yang merasa dapat melakukan apa saja tanpa meminta pertimbangan Tuhan, sebagai kecongkakan dan hal itu salah. Menurut rasul Paulus, dengan mengutip Yeremia 9:23-24, "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan" (1Kor. 1:31).

Kemudian Yakobus melanjutkan, "Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa" (Yak. 4:17; huruf miring ditambahkan). Di sini sang rasul sedang berbicara kepada orang-orang Kristen pada zamannya, yang pada hematnya mereka itu sudah mengerti bahwa dalam merencanakan sesuatu harus lebih dulu meminta perkenan Tuhan. Yakobus menyebut sikap seperti itu sebagai perbuatan baik, dan tahu "berbuat baik" tetapi tidak melakukannya adalah dosa. Seperti pernah disebutkan dalam ulasan pelajaran SS terdahulu, dengan ayat ini sang rasul menyodorkan kepada kita wawasan yang lebih luas tentang dosa, bahwa selain "dosa karena perbuatan" (sin of commission) ada pula "dosa karena kelalaian" (sin of omission). Tentang dosa kelalaian ini Yesus menerangkan, "segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku," dan akibatnya adalah kebinasaan (baca Mat. 25:41-46).

"Alkitab merumuskan dosa dalam dua cara: (1) berbuat salah; (2) tidak berbuat benar. Definisi pertama diberikan oleh Yohanes: 'dosa adalah pelanggaran hukum Allah' (1Yoh. 3:4). Banyak versi moderen yang menerjemahkannya 'dosa adalah pelanggaran hukum,' tetapi kata Grika anomia merujuk kepada pelanggaran-pelanggaran hukum yang spesifik daripada sekadar kebiasaan berperilaku durhaka (baca penggunaannya dalam Rm. 4:7, Tit. 2:14, Ibr. 10:17). Definisi kedua diberikan dalam Yakobus 4:17: 'Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.' Karena itu kita harus lebih dari sekadar menolak godaan untuk berbuat salah" [alinea kedua: kalimat kedua hingga enam].

Berbuat baik. Secara umum, teologi tentang "berbuat baik" terbagi ke dalam dua pengertian: perbuatan yang menyenangkan hati sesama manusia (kebajikan), dan perbuatan yang menyenangkan hati Allah (penurutan hukum). Melalui Timotius, rasul Paulus menasihatkan: "Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan...Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi..." (1Tim. 6:17-18; huruf miring ditambahkan). Yakobus sendiri memberi penekanan pada penurutan hukum sebagai perbuatan baik ketika dia menulis, "Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: 'Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,' kamu berbuat baik" (Yak. 2:8; huruf miring ditambahkan).

"Tentunya seseorang bisa dengan mudah kecewa oleh sebab, bagaimana pun, siapa yang secara terus-menerus berbuat semua kebaikan yang mungkin dapat mereka lakukan tiap-tiap hari? Tapi bukan itu persoalannya. Bahkan kehidupan Yesus pun bukan sebuah putaran aktivitas tanpa henti...Sebagaimana ada batasnya untuk berapa banyak kita bisa makan sekali duduk, demikian juga ada batasnya berapa banyak dapat kita lakukan. Itulah sebabnya Yesus lebih jauh mengatakan bahwa sebagian orang menabur sedangkan yang lain menuai, tapi keduanya 'bersukacita bersama' (ay. 36-38). Sementara kita bekerja bagi Tuhan, kita akan dikuatkan untuk berbuat lebih banyak lagi dan akan berdoa bagi kerelaan yang lebih besar untuk digunakan dalam setiap cara yang mungkin" [alinea terakhir: dua kalimat pertama dan tiga kalimat terakhir].

Pena inspirasi menulis: "Hukum Allah mempersalahkan bukan saja atas apa yang kita telah lakukan tapi juga apa yang kita tidak lakukan. Pada hari perhitungan terakhir, kita akan mendapat suatu daftar dari dosa-dosa kelalaian dan juga dosa-dosa perbuatan. Allah akan membawa setiap perbuatan ke dalam penghakiman, dengan setiap hal yang rahasia. Tidaklah cukup bahwa oleh ukuran tabiatmu sendiri anda membuktikan tidak melakukan kesalahan yang positif. Fakta bahwa seseorang tidak melakukan kebaikan yang positif sudah cukup untuk mempersalahkan dia sebagai seorang hamba yang jahat dan malas" (Ellen G. White, Manuscript Releases, jld. 6, hlm. 141).

Apa yang kita pelajari tentang akibat dari mengetahui apa yang baik tapi tidak melakukannya?
1. Sejak semula manusia tidak diciptakan sebagai makhluk yang independen (mandiri) dan terlepas dari pengendalian Tuhan. Sebagai umat Tuhan kebergantungan kita bahkan lebih besar lagi, sampai pada tahap di mana kita tidak dapat berbuat apa-apa sendirian. Kata Yesus: "Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yoh. 15:5).
2. Penyerahan diri kepada Tuhan secara tuntas adalah kewajiban setiap "anak-anak terang" untuk menghasilkan "kebaikan dan keadilan dan kebenaran" (Ef. 5:8-9). Melalui perbuatan-perbuatan kebajikan itu anda membiarkan terang itu "bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga" (Mat. 5:16).
3. Yakobus membuka wawasan kita tentang dosa menjadi kian luas dengan menyingkapkan bahwa kita berdosa bukan karena perbuatan saja tapi juga karena kelalaian untuk berbuat hal yang baik. Kita berbuat baik kepada sesama manusia dengan melakukan kebajikan, dan kita berbuat baik kepada Tuhan dengan menaati hukum-hukum-Nya.

Jumat, 28 November
PENUTUP

Jangan membanggakan kebenaran. Manusia sangat rentan terhadap godaan untuk membanggakan diri, dan kita semua selalu mempunyai banyak hal untuk dibanggakan. Bahkan, ada sebagian orang yang suka membanggakan kerendahan hatinya. Kebanggaan apapun selalu menyenangkan sebab hal itu memancing kekaguman serta pujian dari orang lain, dan pujian memuaskan ego anda dan saya. Namun, batas antara kebanggaan dan kesombongan sangat tipis, sehingga kita sering tidak dapat membedakan lagi di antara keduanya.

Doktrin-doktrin gereja kita mengandung kebenaran-kebenaran alkitabiah, dan kita patut merasa bangga akan hal itu. Tetapi seringkali kita terlalu bangga dengan kebenaran-kebenaran itu sampai lupa mengamalkannya, bahkan yang lebih buruk lagi adalah merasa bahwa hanya kita yang memiliki kebenaran. Sikap seperti itu membuat kita acapkali merasa selalu benar dan orang lain selalu salah.

"Jangan lagi ada di antara kamu yang mengagungkan kebenaran oleh menyatakan bahwa roh ini (tentang memahami motif-motif jahat orang lain) adalah konsekuensi yang perlu untuk secara tepat berurusan dengan orang-orang yang berbuat salah dan untuk berdiri membela kebenaran. Kearifan seperti itu mempunyai banyak pengagum, tetapi hal itu sangat menipu dan membahayakan. Itu tidak datang dari atas, tapi adalah buah dari hati yang belum diperbarui. Pencetusnya adalah Setan sendiri" [alinea pertama: empat kalimat pertama].

Kebenaran sebuah doktrin tidak berarti apa-apa dan menjadi mubazir kalau hal itu tidak berkontribusi kepada penguatan iman kita tetapi hanya sekadar menjadi bahan pengetahuan saja. Lebih penting lagi, kebenaran sesuatu ajaran harus memperkokoh keteguhan hati kita untuk mempertahankan keselamatan yang telah dikaruniakan kepada kita semua.

"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya" (Ef. 2:8-10).

(Oleh Loddy Lintong/California, 27 November 2014)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...