Syaloom

Selamat datang bagi pengunjung blog ini, terima kasih atas kunjungan anda pada blog ini anda dapat download lagu-lagu rohani khusus quartet (male or ladies) termasuk partitur yang kami telah sediakan.

Blog ini khusus saya buat untuk membantu teman-teman yang mempunyai hobi menyanyi lagu-lagu rohani tetapi pada saat tertentu tidak mempunyai cukup partiture. Dan sesuai dengan judulnya maka blog ini khusus dibuat untuk quartet grup vokal, apakah itu male quartet atau ladies quartet.

Banyak orang didunia ini dan hampir semua orang yang ada di jagad raya ini menyukai musik. Sebab itu saya ingin mengajak semua teman-teman yang ingin partisipasi dalam blog ini saya persilahkan untuk memberi saran dan bahan untuk memajukan grup-grup quartet. Sering kita menyanyikan sebuah lagu dengan baik dan pendengar cuma menyukai harmoninya saja tetapi pekabaran dalam lagu itu sendiri tidak didapat karena pendengar tersebut tidak mengerti bahasa yang dinyanyikan dalam lagu tersebut untuk itu melalui blog ini saya sekali lagi mengajak siapapun untuk urung rembuk agar blog ini disukai dan dapat bermafaat buat kita semua.

Untuk itu saya akan mencoba untuk mentransfer dari partiture aslinya kedalam bahasa Indonesia. Shalom regards,

GBU
E. Nanlohy



TRANSLATORS...

Jumat, 08 Agustus 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT KE VI 9 AGUSTUS 2014: "MENJADI ORANG KRISTEN YANG BERTUMBUH"










Sabat Petang, 2 Agustus
PENDAHULUAN

Hidup baru. Salah satu ciri utama dari sebuah kehidupan ialah adanya pertumbuhan; suatu organisme dianggap mati kalau berhenti bertumbuh. Dalam Kekristenan pertumbuhan itu sangat penting sebab menyangkut keselamatan, sehingga rasul Petrus menasihati kita untuk menjadi seperti bayi "yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan" (1Ptr. 2:2). Kita harus bertumbuh dalam hal iman (2Kor. 10:15) dan dalam pengetahuan yang benar tentang Allah (Kol. 1:10).

Sampai pada batas manakah kita harus bertumbuh? Menurut rasul Paulus, setiap orang Kristen harus bertumbuh "sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala" (Ef. 4:13-15; huruf miring ditambahkan).

Kekristenan mengajarkan pertumbuhan baru dari titik awal sejak seseorang mengenal Kristus, yang istilah teologianya adalah "dilahirkan kembali." Seperti Yesus jelaskan kepada Nikodemus, seorang pemuka agama Yahudi yang datang kepada-Nya untuk mencari kepastian akan keselamatannya. Sebagai pemimpin dan cendekiawan agama dapat dipastikan bahwa Nikodemus adalah seorang yang taat hukum agama dan memiliki rekam-jejak yang baik, mungkin juga dalam hal kehidupan beragama dia menjadi panutan bagi banyak orang. Tetapi Yesus menasihatinya, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah" (Yoh. 3:3; ayat inti).

"Dengan sabar Yesus menjelaskan bahwa perubahan rohani adalah sebuah pekerjaan supra alami yang dihasilkan oleh Roh Kudus. Walaupun kita tidak bisa melihat atau memahami bagaimana hal itu terjadi, kita dapat merasakan hasilnya. Kita menyebutnya pertobatan, hidup baru di dalam Kristus. Meskipun kita selalu harus ingat bagaimana Tuhan memanggil kita dan mempertobatkan kita, tantangan kita ialah untuk tinggal teguh di dalam Dia setiap hari sehingga Ia dapat mengubah kita semakin lebih menyerupai citra-Nya" [dua alinea terakhir].

Dalam Kekristenan, keselamatan tidak ditentukan oleh kehidupan masa lalu seseorang melainkan pada kehidupannya di masa depan. Secara jasmani (aktual) hidup kekal itu akan dinikmati sepenuhnya di dunia baru, tetapi secara rohani (faktual) keselamatan harus sudah dimulai dalam kehidupan sekarang ini. Kekristenan adalah hidup baru di dalam Kristus dan bertumbuh di dalam Kristus.

Minggu, 3 Agustus
MEMILIKI HATI BARU (Dilahirkan Kembali)

Dilahirkan "dari atas." Nikodemus adalah seorang tokoh cukup berpengaruh di kalangan orang Yahudi pada zaman Yesus. Sebagai guru agama dan anggota Sanhedrin, mahkamah agama Yahudi yang memiliki otoritas besar, tentu saja Nikodemus adalah seorang yang cerdas dan menguasai hukum Taurat. Namanya muncul dalam kitab Yohanes pada tiga peristiwa berbeda, pertama ketika dia bertemu dengan Yesus pada tengah malam (3:1-21), kedua saat dia membela Yesus di hadapan kolega-koleganya sesama kaum Farisi (7:45-51), dan ketiga pada waktu dia bersama Yusuf orang Arimatea menurunkan mayat Yesus dari kayu salib untuk dimakamkan secara wajar (19:39-42). Dalam tradisi Yahudi, dan juga diyakini oleh banyak peneliti Alkitab, dirinya diidentikkan dengan Nikodemus ben Gurion yang adalah seorang yang berpengaruh dan kaya raya yang hidup di Yerusalem pada abad pertama. Nikodemus--artinya "penakluk banyak orang"--berayahkan seorang bernama Gurion.

Pokok pekabaran yang Yesus sampaikan kepada Nikodemus adalah juga pekabaran bagi setiap orang Kristen. "Manusia secara jasmani dilahirkan oleh orang tua, tetapi secara rohani dilahirkan oleh Roh Allah. Jangan heran kalau Aku mengatakan: kamu semua harus dilahirkan kembali," kata-Nya (Yoh. 3:6-7, BIMK; huruf miring ditambahkan). Frase "dilahirkan kembali" secara harfiah berarti "dilahirkan dari atas" yang merujuk kepada transformasi rohani. Rasul Paulus menjelaskan tentang hal ini ketika dia menulis, "Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu...Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus..." (Ef. 2:1, 4-5).

"Tidak diragukan bahwa Nikodemus, seorang guru di Israel, mengetahui Kitabsuci Perjanjian Lama yang bertutur tentang kebutuhan akan sebuah 'hati baru' serta kerinduan Allah untuk menciptakannya di dalam diri kita (Mzm. 51:10; Yeh. 36:26). Yesus menjelaskan kepada Nikodemus kebenaran ini dan bagaimana hal itu dapat terjadi" [alinea ketiga].

Baptisan dengan air dan roh. Kita mungkin bertanya: mana yang sebenarnya lebih dulu terjadi, baptisan dengan air atau dengan Roh? Logikanya, kalau Roh tidak bekerja lebih dulu di dalam hati mana mungkin seseorang mau menerima Kristus dan dibaptis--kecuali kalau orang itu dibaptis tanpa kesadaran yang benar atau karena motivasi tertentu. Baptisan dengan air seharusnya merupakan pengakuan kita di hadapan umum bahwa kita sudah menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi dan percaya kepada-Nya, tapi baptisan dengan Roh adalah yang mempersatukan kita dengan Kristus. Rasul Paulus menulis, "Begitu juga kita semua, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, hamba-hamba maupun orang-orang merdeka; kita semua sudah dibaptis oleh Roh yang sama itu, supaya kita dijadikan satu pada tubuh Kristus itu. Kita semua juga mengalami Roh yang satu itu sepenuhnya" (1Kor. 12:13, BIMK; huruf miring ditambahkan).

Pada waktu seseorang dibaptis dengan cara diselamkan di dalam air itu melambangkan berakhirnya kehidupan yang lama dan mulainya suatu kehidupan yang baru. Banyak orang Kristen yang dengan yakin merasa bahwa pada saat menerima baptisan itu dia benar-benar sudah bertobat, dan mungkin hal itu merupakan "modal" yang berharga bagi dia untuk memulai suatu hidup baru. Tetapi oleh sebab kita masih terus hidup di dunia yang penuh dosa ini maka dengan berjalannya waktu kita pun mulai kembali kepada cara hidup yang lama. Kenyataan ini menyadarkan kita bahwa kita masih memerlukan baptisan dengan Roh Kudus sampai hati kita benar-benar sudah diperbarui. Barangkali baptisan dengan air cukup satu kali, tetapi baptisan dengan roh harus berlangsung terus-menerus sampai kita dapat berkata bersama Paulus, "bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku" (Gal. 2:20).

"Ada persamaan antara kelahiran jasmani dan rohani. Keduanya menandai permulaan suatu kehidupan baru. Lagi pula, tidak ada dari kelahiran itu yang kita hasilkan sendiri; itu dilakukan bagi kita. Tetapi ada juga perbedaan penting di antara keduanya: kita tidak bisa memilih kalau kita ingin dilahirkan secara jasmani; namun, kita dapat memilih untuk dilahirkan secara rohani. Hanya mereka yang dengan bebas memutuskan untuk mengizinkan roh Kudus menghasilkan suatu pribadi rohani yang baru dalam diri mereka yang dilahirkan kembali. Allah menghormati kebebasan kita, dan meskipun sangat rindu untuk mengubah kita, Ia tidak mengubah kita dengan paksa" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang perlunya "dilahirkan kembali"?
1. Sebagai orang Kristen memiliki pengetahuan tentang Alkitab saja tidak cukup, tapi kita harus memiliki hati yang baru. Pengetahuan mengenai firman Allah tentu saja penting karena atas dasar itulah seorang Kristen mengetahui kebutuhannya untuk mengamalkan hati yang diubahkan. Mempunyai hati baru berarti mengamalkan cara hidup baru.
2. Tidak ada seorang manusia yang dapat memilih tentang kelahirannya secara jasmani, siapa orangtuanya atau di mana dia ingin dilahirkan. Namun, kelahiran baru secara rohani adalah pilihan setiap orang. Anda dan saya mempunyai kebebasan sepenuhnya untuk memilih ataupun menolak tawaran hati baru dari Allah.
3. Baptisan dengan air dapat dilakukan oleh manusia, yakni pendeta yang sudah diurapi dan memiliki otoritas dari gereja untuk melakukannya. Namun, baptisan dengan Roh hanya dapat dilakukan oleh Tuhan. Yohanes Pembaptis sendiri mengaku hanya bisa membaptiskan dengan air, tetapi Kristus lebih berkuasa membaptiskan dengan roh (Mrk. 1:8; Luk. 3:16; Kis. 1:5).

Senin, 4 Agustus
CIPTAAN BARU (Hidup Baru di Dalam Kristus)

Pekerjaan Roh Kudus. Kitabsuci memberikan definisi dari sebuah kelahiran baru secara rohani: "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2Kor. 5:17; huruf miring ditambahkan). Tidak mungkin ada kehidupan rohani yang baru di luar Kristus, dan hal itu hanya bisa terjadi oleh pekerjaan Roh Kudus yang mempengaruhi seorang berdosa untuk bertobat. Kelahiran baru berkaitan langsung dengan keselamatan sebab, seperti kata Yesus kepada Nikodemus, "jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah" (Yoh. 3:3).

Roh Kudus bekerja seperti angin, prosesnya di dalam hati tetapi hasilnya tampak dari luar melalui perilaku seseorang. "Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi," kata Yesus. "Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh" (Yoh. 3:8). Terkadang kita tidak dapat mengerti apa yang Roh Kudus dapat lakukan untuk mengubah diri kita sampai perubahan itu dapat kita rasakan dan alami.

"Roh bekerja tak terlihat, tetapi hasil kegiatannya terlihat. Orang-orang di sekitar kita akan mengetahui bahwa Yesus telah menciptakan satu hati yang baru dalam diri kita. Roh selaku menghasilkan penampilan lahiriah dari perubahan batiniah yang Ia lakukan dalam diri kita. Seperti Yesus katakan, 'dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka' (Mat. 7:20)" [alinea ketiga: empat kalimat terakhir].

Menjadi manusia baru. Kelahiran baru di dalam Kristus terjadi "oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus" (Tit. 3:5), dan dengan demikian kita menjadi ciptaan baru karena "yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2Kor. 5:17). Bahkan, bagi orang Yahudi yang menerima Yesus Kristus, "disunat atau tidak disunat, itu tidak penting. Yang penting ialah menjadi manusia baru" (Gal. 6:15, BIMK). Tapi, apa artinya menjadi manusia baru?

Alkitab mengajarkan tentang baptisan yang diselamkan di dalam air sebagai lambang dari "mati bagi dosa" (Rm. 6:2) dan dibaptis dalam kematian Kristus (ay. 3). "Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru" (ay. 4). Jadi, ketika tubuh kita dibenamkan di dalam air pada upacara baptisan hal itu mengibaratkan kematian terhadap dosa, dan dengan keluar dari air melambangkan bahwa kita sudah dibangkitkan sebagai manusia baru yang telah dibersihkan dari segala dosa.

"Melalui Roh Kudus, Kristus menanamkan dalam diri kita pemikiran, perasaan, dan motivasi baru. Ia membangkitkan hati nurani kita, mengubah pikiran kita, menundukkan setiap keinginan yang tidak suci, dan mengisi kita dengan kedamaian surga yang manis. Meskipun perubahan itu tidak terjadi seketika, dari waktu ke waktu kita menjadi ciptaan baru di dalam Kristus" [alinea terakhir: tiga kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang hidup baru di dalam Kristus?
1. Hidup baru di dalam Kristus ialah manusia lama yang diciptakan baru oleh pekerjaan Roh Kudus setelah kita menerima baptisan dengan air. Walaupun baptisan itu adalah pilihan kita sendiri, menjadi manusia baru adalah kehendak Allah bagi diri kita supaya kita bisa memiliki hati baru dengan ciri tabiat yang baru pula.
2. Ciptaan baru artinya diciptakan kembali secara utuh, bukan sekadar renovasi yang bersifat tambal-sulam. Sebagai ciptaan baru kita menjadi "orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah" (Yoh. 1:13).
3. Sebelum seseorang yang sudah diselamatkan menerima tubuh yang baru, terlebih dulu orang itu harus diperbarui secara rohani. "Supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya" (Ef. 4:23-24).

Selasa, 5 Agustus
BERGANTUNG PADA YESUS (Tinggal di Dalam Kristus)

Pokok anggur yang benar. Wilayah Palestina di zaman Alkitab terkenal sebagai penghasil tiga jenis buah utama: ara, zaitun dan anggur. Itulah sebabnya ketiga jenis buah ini sangat sering disebut, terutama dalam PL, yang menandakan kesuburan tanah negeri ini. Budidaya tanaman anggur sudah dikenal sejak zaman Nuh (Kej. 9:20), khususnya untuk dijadikan sebagai minuman olahan yang karena kandungan alkoholnya bisa memabukkan (ay. 21). Menjelang musim panen, biasanya pada bulan Agustus atau September, pemilik kebun anggur sampai harus bermalam di kebun anggurnya untuk menjaga buah yang sering dijadikan simbol kemakmuran ini. Begitu berharganya tanaman anggur bagi orang Israel sehingga seorang peladang anggur boleh dibebaskan dari wajib militer (Ul. 20:6). Bahkan, hukum Musa mengatur cara bercocok-tanam buah anggur (Ul. 22:9). Kebun anggur sering menjadi inspirasi dalam menggubah syair pujian, khususnya untuk melambangkan Israel sebagai kebun anggur Tuhan (Mzm. 80:9-13; Yes. 5:1-7).

Yesus juga menggunakan kebun anggur sebagai bahan ilustrasi, di antaranya untuk menggambarkan tentang Kerajaan Surga (Mat. 20:1-16). Tetapi ilustrasi Yesus yang paling mengesankan bagi orang Kristen ialah ketika Ia menyebut diri-Nya adalah "pokok anggur yang benar" (Yoh. 15:1) dan umat-Nya sebagai ranting-ranting untuk menggambarkan ketergantungan kita kepada-Nya. "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (ay. 5). Seperti halnya cabang atau ranting pada tanaman anggur, kita akan menjadi kering lalu mati kalau tidak terhubung kepada-Nya sebagai pokok anggur (ay. 6).

"Sebuah cabang yang baru saja terpisah dari dari pokok anggur mungkin tampak hidup untuk sementara waktu, tetapi cabang itu pasti akan kering dan mati karena telah dikerat dari sumber kehidupan. Dengan tanda yang sama, kita dapat menerima kehidupan hanya melalui hubungan kita dengan Kristus. Tapi untuk menjadi efektif, kesatuan ini harus dipertahankan. Kebaktian di pagi hari itu penting, tetapi persekutuan kita dengan Tuhan harus terus berlanjut sepanjang hari" [alinea kedua: empat kalimat pertama].

Tetap bersama Kristus. Dalam menggambarkan hubungan antara diri-Nya dan umat-Nya, Yesus menyodorkan dua pilihan: bersatu dengan Dia dan berbuah atau terpisah dari Dia dan tidak berbuah. "Tetaplah bersatu dengan Aku dan Aku pun akan tetap bersatu dengan kalian. Cabang sendiri tak dapat berbuah, kecuali kalau ia tetap pada pohonnya. Demikian juga kalian hanya dapat berbuah kalau tetap bersatu dengan Aku" (Yoh. 15:4, BIMK). Kata "bersatu" (Grika: menō; Inggris: abide; TB: tinggal) dalam ayat ini mengandung makna "menantikan" atau "bertahan." Jadi, tinggal di dalam Kristus atau bersatu dengan Dia berarti menanti dan bertahan pada posisi kita, sebab untuk menjadi orang Kristen yang berbuah kita tidak mempunyai pilihan lain kecuali tetap bersama Kristus.

Ranting yang tidak tetap bersatu pada pokok anggur itu, sehingga "dibuang ke luar" dan "dicampakkan ke dalam api" (ay. 6), mungkin melambangkan tiga jenis orang Kristen. Pertama, orang-orang percaya yang tadinya setia tetapi karena tidak mampu bertahan dalam pergumulan iman sampai akhirnya mundur dan murtad; kedua, orang-orang percaya yang tidak mengalami kelahiran baru sehingga tidak dapat menghasilkan buah-buah kebenaran; ketiga, orang-orang percaya yang kelihatannya hidup seperti orang Kristen tetapi tidak pernah bertobat dengan sungguh-sungguh.

"Salah satu perangkap yang paling licik ialah berusaha untuk mengamalkan kehidupan Kristiani secara terpisah dari Tuhan. 'Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa' (Yoh. 15:5). Tanpa Dia kita tidak dapat menolak satu pencobaan sekalipun, mengalahkan satu dosa, atau mengambangkan satu tabiat yang serupa dengan Dia. Kehidupan rohani yang baru dapat bertumbuh hanya melalui suatu hubungan yang terus-menerus dengan Kristus" [alinea ketiga].

Apa yang kita pelajari tentang tetap tinggal di dalam Kristus?
1. Semua hal yang berhubungan dengan anggur--kebun anggur, pokok anggur, buah anggur dan air anggur--sangat dikenal dalam budaya bangsa Israel purba, bahkan dianggap sebagai bagian dari kehidupan mereka sehari-hari. Hubungan pokok anggur dan rantingnya yang Yesus gunakan merupakan ilustrasi yang sangat jitu.
2. Ranting-ranting adalah bagian dari pohon anggur yang menghasilkan buah, karena itu sebagai orang Kristen anda dan saya diharapkan untuk menghasilkan buah-buah kebenaran yang baik, yaitu tabiat dan akhlak yang terpuji. Sebagai ranting, kita hanya dapat berbuah selama tetap bersatu dan melekat pada Kristus.
3. Terkadang ranting-ranting yang kurang menghasilkan buah perlu dipangkas dan dibersihkan dari anasir-anasir yang menjadi penghalang, "supaya ia lebih banyak berbuah" (Yoh. 15:2). Kesombongan, rasa percaya diri yang berlebihan, sifat mau menang sendiri dan sebagainya sering menjadi penghalang utama untuk berbuah sehingga perlu dipangkas.

Rabu, 6 Agustus
GAYA HIDUP KRISTIANI (Doa)

Mengapa harus berdoa. Sebagai orang Kristen, kita mempunyai banyak alasan alkitabiah untuk berdoa. Tetapi dua alasan yang paling utama ialah karena berdoa adalah perintah Yesus, dan selama hidup-Nya di bumi ini Dia sendiri sering berdoa. Selain itu, Yesus juga menjamin bahwa apa saja yang kita minta di dalam doa dengan percaya seolah-olah kita sudah menerimanya maka apa yang kita minta itu pasti akan diberikan (Mrk. 11:24). Karena itu mintalah, carilah dan ketoklah, sebab kepada yang meminta akan diberikan, siapa yang mencari akan mendapat, dan siapa yang mengetok pintu akan dibukakan kepadanya (Luk. 11:9-10). Bagi orang Kristen, doa merupakan peluang istimewa yang terbesar tetapi juga bisa menjadi kegagalan terbesar, tergantung apakah kita tekun melakukannya atau tidak.

Meskipun Bapa surgawi sudah lebih dulu mengetahui segala kebutuhan kita sebelum kita meminta kepada-Nya (Mat. 6:8), namun Yesus menyarankan agar kita "harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu" (Luk. 18:1). Untuk menegaskan maksud-Nya akan hal tersebut, Yesus kemudian menceritakan sebuah perumpamaan tentang seorang perempuan janda yang tiada henti-hentinya mendesak seorang hakim yang lalim supaya memenangkan kasusnya, sampai permohonan itu dipenuhinya (ay. 2-5). Lalu kata Yesus, "Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?" (ay. 7). Oleh sebab itu, berdoa harus menjadi gaya hidup Kristiani.

"Seiring dengan mempelajari Alkitab, doa sangat diperlukan demi agar kita tinggal di dalam Kristus dan bertumbuh secara rohani. Bahkan Yesus sendiri perlu berdoa untuk dipersatukan dengan Bapa. Ia telah meninggalkan kepada kita suatu teladan kehidupan doa...Karena melalui doa, kita belajar untuk mengosongkan diri kita dari kedirian kita dan menjadi lebih bergantung kepada-Nya" [alinea pertama: tiga kalimat pertama; alinea kedua: kalimat terakhir].

Doa model. Tuhan Yesus bukan saja mengajarkan cara berdoa tapi juga memberikan satu doa contoh, sebagaimana tercatat dalam Matius 6:9-13 (bandingkan dengan Luk.11:2-4), yang kita sebut "Doa Bapa Kami" atau di Amerika disebut "Doa Tuhan Yesus" (The Lord's Prayer). Sebagai doa model yang diajarkan oleh Tuhan sendiri maka tentu saja di dalamnya terkandung unsur-unsur yang penting dan lengkap dari sebuah doa. Konon, pada acara hari raya Paskah tahun 2007 lalu doa yang paling populer dan paling disukai umat Kristen sejagad ini telah diucapkan oleh lebih dari dua milyar orang di dunia dalam satu hari yang sama. Teologi dari doa ini adalah pada konteksnya yang menempatkan Allah sebagai Bapa dan kita manusia sebagai layaknya anak-anak. Yesus sendiri menyapa Allah dengan "Abba" atau "Bapa" tatkala berdoa di Taman Getsemane (Mrk. 14:36). Rasul Paulus mengatakan, "semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak Allah" dan oleh Roh itu kita bisa berseru "ya Abba, ya Bapa!" sebab Roh itu bersaksi "bahwa kita adalah anak-anak Allah" (Rm. 8:14-16).

Susunan anatomis dari Doa Bapa Kami terdiri atas pemujaan di bagian awal, permohonan sebagai inti, dan ditutup dengan pujian. Kalimat pembuka "Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" (Mat. 6:9-10) merupakan kata-kata pemujaan (worship and adoration). Selanjutnya terdapat lima bentuk permohonan (petition and invocation) yang meliputi kebutuhan jasmani dan rohani, termasuk makanan dan pengampunan dosa serta perlindungan dari godaan, hal-hal yang menunjukkan kebergantungan kita pada Allah. Doa ini kemudian diakhiri dengan ucapan pujian (doxology), "Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin" (ay. 13).

"Kristus mengajarkan bahwa ada syarat-syarat tertentu supaya janji yang ajaib ini dipenuhi. Kita harus percaya bahwa Allah dapat menjawab doa kita (Mat. 21:22). Suatu sikap pengampunan terhadap sesama manusia dituntut (Mrk. 11:25). Paling penting, keinginan kita harus selalu tunduk pada kehendak Bapa (Mat. 6:10; Luk. 22:42). Suatu 'penundaan' dalam menjawab tidak boleh mengecilkan hati kita; sebaliknya, kita perlu selalu berdoa dan berserah (Luk. 18:1)" [alinea terakhir: lima kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang doa?
1. Kehidupan orang Kristen tidak terlepas dari doa, bahkan doa harus menjadi gaya hidup Kristiani. Mengapa? Karena Yesus memerintahkan kita untuk berdoa tak putus-putusnya, bahkan Dia telah memberi contoh tentang kehidupan berdoa yang diamalkan-Nya. Kewajiban orang Kristen adalah menaati ajaran Kristus dan mengikuti teladan-Nya.
2. Doa Bapa Kami (Doa Tuhan Yesus) merupakan model dari sebuah doa yang lengkap dan sempurna sejauh menyangkut substansi dan komposisi. Karena doa adalah komunikasi yang bersifat dinamis dan terbuka antara manusia dengan Tuhan, doa kita harus sederhana dan mengandung luapan isi hati yang jujur.
3. Yesus mengajarkan agar doa kita harus ditujukan langsung kepada Bapa semawi, tetapi disampaikan melalui Anak-Nya sebagai Pengantara. Yesus Kristus adalah jaminan dari jawaban Allah terhadap permohonan kita (Yoh. 16:23). Meskipun begitu, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum kita memanjatkan doa kepada Tuhan.

Kamis, 7 Agustus
MEMIKUL SALIB PRIBADI (Mati Bagi Diri Setiap Hari)

Transformasi rohani. Ketika seseorang dengan sungguh-sungguh menerima Yesus Kristus dan dibaptiskan, melalui pekerjaan Roh Kudus terjadilah suatu transformasi dalam diri orang itu: dari manusia lama menjadi manusia baru. Istilah "manusia lama" dan "manusia baru" adalah konsep Alkitab mengenai perubahan rohani yang berlangsung di dalam hati dan pikiran seseorang yang menjadi murid Yesus. "Orang yang sudah bersatu dengan Kristus, menjadi manusia baru sama sekali. Yang lama sudah tidak ada lagi--semuanya sudah menjadi baru" (2Kor. 5:17, BIMK). Transformasi rohani ini terjadi sebagai konsekuensi logis dari proses "dilahirkan kembali" sebagaimana yang Yesus berusaha terangkan kepada Nikodemus, yaitu kelahiran baru yang hanya bisa terjadi setelah seseorang mengalami "kematian" terhadap manusia lamanya (Yoh. 3:3-7).

Rasul Paulus menasihati, "Kalian sudah mendengar tentang Dia! Dan sebagai pengikut-pengikut-Nya, kalian sudah diajar juga tentang sifat-sifat Allah yang ada pada-Nya! Sebab itu tanggalkanlah manusia lama dengan pola kehidupan lama yang sedang dirusakkan oleh keinginan-keinginannya yang menyesatkan. Hendaklah hati dan pikiranmu dibaharui seluruhnya. Hendaklah kalian hidup sebagai manusia baru yang diciptakan menurut pola Allah; yaitu dengan tabiat yang benar, lurus dan suci" (Ef. 4:21-24, BIMK; huruf miring ditambahkan). Hal ini menyangkut sikap hidup, dan sikap itu diperlukan untuk penyempurnaan implementasi kehendak Allah dalam diri kita. Kata sang rasul lagi, "Kalian sekarang sudah diberi hidup yang baru. Kalian adalah manusia baru, yang sedang diperbarui terus-menerus oleh Penciptanya, yaitu Allah, menurut rupa-Nya sendiri. Maksudnya ialah supaya kalian mengenal Allah dengan sempurna" (Kol. 3:10, BIMK).

"Tentu akan menjadi sangat bagus jika manusia lama yang berdosa sudah mati untuk selama-lamanya ketika kita terkubur di bawah air baptisan. Akan tetapi, cepat atau lambat kita semua sudah membuktikan bahwa kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan-kecenderungan kita di masa lalu masih tetap hidup dan berusaha untuk kembali mengendalikan hidup kita. Sesudah pembaptisan kita, sifat lama kita harus dimatikan berulang-ulang. Itulah sebabnya Yesus mengaitkan kehidupan Kekristenan dengan salib" [alinea pertama: empat kalimat terakhir].

Menyangkal diri. Yesus berkata, "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku" (Mat. 10:38). Memang, Yesus sudah memikul salib Golgota sebagai cara yang ditentukan Allah untuk menebus manusia dari dosa, tetapi setiap orang yang ingin selamat harus bersedia memikul salibnya sendiri. Bukan berarti kita beroleh keselamatan berkat memikul salib pribadi kita, tetapi ini merupakan "lambang partisipasi" kita selaku pengikut Kristus sebagai tanda kesiapan untuk menjalani kehidupan sebagai manusia baru. "Setiap orang yang mau mengikut Aku," kata Yesus lagi, "ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya" (Luk. 9:23-24; huruf miring ditambahkan).

Kata Grika yang diterjemahkan dengan "menyangkal" dalam ayat ini adalah aparneomai, sebuah kata kerja yang dalam arti sempit sama dengan "menolak" tuduhan tentang adanya hubungan atau keterkaitan antara diri sendiri dengan orang lain, seperti digunakan dalam ayat-ayat yang berkisah tentang Petrus yang menyangkal Yesus (Mat. 26:75; Mrk. 14:72; Luk. 22:61). Tetapi dalam pengertian yang lebih luas, kata itu berarti "melupakan diri sendiri atau kehilangan minat pada kepentingan diri sendiri" (Strong; G533).

"Di zaman purba, korban-korban penyaliban tidak langsung mati. Biasanya mereka menderita selama berjam-jam, terkadang beberapa hari, sambil tergantung di kayu salib. Sifat lama kita, meskipun sudah disalibkan, berjuang untuk bertahan hidup dan turun dari salib...Tidaklah mudah menyangkal diri sendiri. Sifat lama kita terus bertahan; manusia lama kita tidak mau mati. Lagi pula, kita tidak dapat memakukan diri kita sendiri pada salib" [alinea ketiga: tiga kalimat terakhir; alinea keempat: tiga kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang mati bagi diri sendiri?
1. "Mati bagi diri sendiri" adalah konsep alkitabiah tentang penyangkalan diri, yaitu meninggalkan "manusia lama" (sifat yang dikuasai oleh dosa) untuk hidup sebagai "manusia baru" (sifat yang sudah disucikan). Seorang pengikut Kristus sejati harus hidup dituntun oleh Roh Kudus dengan kecenderungan untuk berlaku benar dan suci.
2. Untuk bisa "mati bagi diri sendiri" seseorang harus lebih dulu mengalami apa yang disebut "dilahirkan kembali" atau "ciptaan baru" di dalam Kristus. Sementara kelahiran baru dapat menjadi peristiwa yang hanya satu kali terjadi dalam hidup, mati bagi diri sendiri atau penyangkalan diri merupakan proses seumur hidup.
3. Makna dari "memikul salib setiap hari" adalah kesediaan dan ketahanan untuk menanggung kesusahan serta cobaan hidup. Sementara bagi banyak orang Kristen penderitaan lahir-batin akibat masalah ekonomi dan hubungan sosial sudah cukup berat, kita masih harus bergumul dengan perjuangan rohani menaklukkan sifat-sifat lama.

Jumat, 8 Agustus
PENUTUP

Bertarung dengan diri sendiri. Hampir setiap orang dewasa pernah mengalami--dan mengakui--bahwa musuh terbesar adalah diri sendiri. Kita bertarung melawan diri sendiri hampir dalam semua aspek kehidupan: temperamen, selera makan, hati nurani, pertemanan, cita-cita, kaidah agama, ambisi, termasuk juga dalam percintaan maupun pertandingan olahraga, dan lain-lain. Peperangan menghadapi diri sendiri ini bisa berlangsung setiap hari dan seumur hidup, bahkan tumpang-tindih pada hari yang sama.

"Peperangan melawan diri sendiri adalah peperangan terbesar yang pernah berlangsung. Penyerahan diri sendiri, memasrahkan segalanya pada kehendak Allah, menuntut suatu pergumulan; tetapi jiwa harus diserahkan kepada Allah sebelum itu diperbarui dalam kekudusan" [alinea pertama].

Dalam pertarungan apapun di dunia ini seringkali keberhasilan maupun kegagalan kita terletak pada dua hal utama, yakni motivasi dan stamina. Apakah keduanya tersedia dengan cukup dan berimbang dalam diri kita, atau tidak. Motivasi besar tapi stamina rendah, atau sebaliknya stamina tinggi tapi motivasi kecil, acapkali hanya menuai kegagalan. Dalam pertarungan rohani, kemenangan tidak semata-mata dicapai dengan motivasi (keselamatan) dan stamina (iman) dari pihak diri kita sendiri, tetapi lebih ditentukan oleh penyerahan pada kuasa Allah. Bahkan, kebergantungan kepada Tuhan sering merupakan satu-satunya sumberdaya untuk menaklukkan diri sendiri.

"Kita tidak dapat mempertahankan diri kita sendiri dan dipenuhi dengan kelengkapan Allah. Kita harus menghampakan diri. Kalau surga pada akhirnya kita peroleh, itu hanya akan melalui penolakan diri dan dengan menerima pikiran, roh, dan kehendak Yesus Kristus" [alinea kedua].

"Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" (Flp. 4:13).

(Oleh Loddy Lintong/California, 7 Agustus 2014).

Jumat, 01 Agustus 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT DEWASA KE V AGUSTUS 2,2014: "MENGGAPAI KESELAMATAN"




Sabat Petang, 27 Juli
PENDAHULUAN

Ular tembaga dan keselamatan. Salah satu malapetaka yang menimpa bangsa Israel di tengah perjalanan menuju Kanaan adalah ketika Tuhan membiarkan ular-ular berbisa gurun Arabia menyerang mereka. Waktu itu rombongan sudah berada di dekat tanah perjanjian dan baru saja meninggalkan pegunungan Hor setelah menumpas suku Arad yang menyergap mereka, namun terpaksa mengambil jalan memutar ke arah barat karena raja Edom melarang mereka memotong jalan melewati wilayahnya. Mereka mengomel kepada Musa, menuding bahwa Tuhan membawa mereka keluar dari Mesir untuk membinasakan mereka di padang gurun itu. "Di sini tak ada makanan, dan air pun tak ada. Kami muak dengan makanan yang hambar ini!" sungut mereka (Bil. 21:5, BIMK). Hanya setelah mereka sadar dan bertobat, Allah berkenan menyelamatkan mereka dengan menyuruh Musa membuat ular-ularan dari tembaga dan memajangnya di atas tiang kayu supaya orang-orang yang sedang sekarat itu bisa sembuh oleh memandang kepada ular tembaga itu (ay. 8-9).

Dunia kedokteran memiliki simbol yang disebut "Tongkat Asclepius" (Staff of Asclepius) berupa sebuah tongkat yang dililiti seekor ular dengan posisi kepala di atas, seperti yang digunakan oleh IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Dalam mitologi Yunani purba, Asclepius adalah seorang manusia setengah dewa hasil perkawinan Appolo, dewa penyembuhan, dengan seorang wanita molek bernama Coronis. Konon di kuil tempat praktik menyembuhkan para pasiennya Asclepius memelihara banyak ular yang dianggapnya sebagai lambang kehidupan baru karena kebiasaan binatang melata ini yang suka berganti kulit. Sementara itu, dunia kedokteran Amerika maupun WHO (World Health Organization atau Organisasi Kesehatan Dunia) menggunakan simbol yang disebut "Tongkat Hermes" (The Karyceion of Hermes) berupa sebuah tongkat dengan sepasang sayap di bagian atas yang dililiti oleh dua ekor ular. Dalam mitologi Yunani purba, dewa Hermes sebenarnya tidak ada sangkut-pautnya dengan kesehatan atau penyembuhan penyakit, tetapi digambarkan sebagai pengantara para dewa dengan manusia sekaligus pelindung bagi para pengembara dan pembimbing roh-roh manusia yang sudah mati. Bangsa Romawi menamainya Dewa Merkurius, dan lambangnya disebut "Tongkat Merkuri" (The Caduceus of Mercury).

Kembali kepada kisah bangsa Israel di gurun Paran, jazirah Arabia, di mana Tuhan menghukum mereka dengan mendatangkan ular-ular berbisa yang memagut mereka sehingga banyak yang sekarat, bangsa itu hanya bisa selamat bila memandang ular tembaga buatan Musa yang dipajang di atas tiang kayu. Meskipun peristiwa ini berlangsung singkat, dan hanya tercatat dalam beberapa ayat saja pada kitab Bilangan, namun di sini Allah sedang mengajarkan mereka tentang Mesias, yaitu Yesus Kristus yang akan "ditinggikan" di atas salib supaya menyediakan keselamatan bagi manusia yang memandang-Nya. "Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal" (Yoh. 3:14-15; ayat inti).

"Tuhan ingin mengajarkan mereka sebuah pelajaran rohani. Ia mengubah lambang kematian menjadi lambang kehidupan. Ular tembaga itu adalah simbol Kristus yang menjadi Penanggung dosa-dosa kita supaya menyelamatkan kita. Oleh iman kita semua boleh melihat kepada Kritus yang ditinggikan pada salib itu dan menemukan obat bagi sengatan yang mematikan dari si ular tua, Setan. Kalau tidak, kita ditakdirkan untuk mati di dalam dosa-dosa kita" [alinea ketiga: empat kalimat pertama].

Bagi dunia, salib adalah lambang kematian; bagi surga salib adalah lambang keselamatan. Bagi manusia yang akan binasa salib adalah simbol kehinaan, tapi bagi orang-orang yang hendak diselamatkan salib adalah simbol keagungan. Bagi mereka yang tidak percaya, salib adalah tanda yang tiada arti; bagi orang-orang yang percaya, salib adalah tanda dengan makna abadi.

Minggu, 27 Juli
KESADARAN MEMBAWA KESELAMATAN (Kenali Kebutuhanmu)

Siapa perlu keselamatan? Menyadari kebutuhan selalu diawali dengan menyadari keadaan yang sesungguhnya. Anda tidak akan tergerak untuk berolahraga secara teratur sampai anda menyadari bahwa anda memerlukan gerak badan untuk memelihara kebugaran tubuh, dan anda tidak akan berusaha mencari pengobatan kalau anda tidak menyadari bahwa anda mengidap sesuatu penyakit yang bisa berbahaya. Demikian pula, kita tidak akan mencari keselamatan kalau kita tidak menyadari keadaan kita yang akan binasa akibat dosa. Yesus sendiri berkata, "Orang yang sehat tidak memerlukan dokter; hanya orang yang sakit saja. Aku datang bukan untuk memanggil orang-orang yang menganggap dirinya sudah baik, melainkan orang-orang yang berdosa supaya mereka bertobat dari dosa-dosa mereka" (Luk. 5:31-32, BIMK).

Kita memerlukan keselamatan sebab kalau tidak maut sudah menanti di depan (Rm. 6:23). Bahkan, dosa tidak saja menimbulkan kebinasaan abadi tapi juga memisahkan kita dari Allah (Yes. 59:1-2) dan membuat kita dalam kondisi tanpa harapan (Ef. 2:12). Melalui Yesus Kristus kita memiliki pengharapan untuk selamat (Rm. 5:8-10) dan didekatkan kembali dengan Allah (Kol. 1:21-22). Keadaan manusia yang berdosa seumpama seseorang yang tubuhnya sudah babak belur (Yes. 1:4-6), tetapi Yesus Kristus telah bersedia menanggung penderitaan kita "dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh" (Yes. 53:5). Dosa adalah penyakit yang tak dapat disembuhkan selain oleh darah Kristus.

"Maka, langkah pertama untuk menerima kesembuhan dari dosa ialah mengenali keadaan kita yang berdosa dan ketidakmampuan kita sama sekali untuk menyembuhkan diri kita sendiri. Tetapi bagaimana kita dapat menyadari kebutuhan kita kalau kita buta? Bagaimana kita dapat mengakui bahwa kita adalah orang berdosa jika sesungguhnya dosa kitalah yang merintangi kita untuk menyadari keadaan kita yang sebenarnya?" [alinea kedua].

Salep mata. Sebelum Yesus Kristus naik ke surga, Ia telah berjanji kepada murid-murid akan mengutus Penghibur (=Roh Kudus) untuk menemani mereka sebagai pengganti diri-Nya. "Dan kalau Ia datang," kata Yesus, "Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman" (Yoh. 16:8; huruf miring ditambahkan). Tetapi bukan saja dunia yang Roh Kudus hendak insafkan, tapi juga umat Tuhan sekalipun. Sementara manusia pada umumnya akan diinsafkan tentang keadaan mereka yang berdosa, umat Tuhan akan diinsafkan mengenai keadaan kerohanian mereka yang merasa diri kaya dan berpakaian padahal sebenarnya miskin dan telanjang.

Yesus menasihati, "Dan belilah pula obat untuk dioles di matamu supaya kalian dapat melihat" (Why. 3:18, BIMK). Tentu saja nasihat yang bersifat kiasan ini maksudnya ialah bahwa pandangan rohani kita perlu dipulihkan agar dapat melihat keadaan rohani kita sebagaimana apa adanya. Tetapi fakta bahwa nasihat ini ditujukan kepada jemaat Laodikia, yang sering diidentifikasikan sebagai gereja kita, menandakan bahwa umat Tuhan zaman ini masih belum seluruhnya ataupun sepenuhnya menyadari keadaan kerohanian mereka yang tidak memuaskan dalam pemandangan Tuhan. Nasihat ini dimaksudkan untuk mengatasi keadaan umat Tuhan di zaman akhir yang secara rohani "miskin, buta dan telanjang" (ay. 17). Secara historis, Laodikia pada abad permulaan dikenal sebagai kota di mana terdapat sebuah sekolah tinggi kedokteran mata yang dipimpin seorang dokter spesialis optalmologi ternama, dan juga tersohor sebagai kota penghasil obat mata yang sangat mujarab.

"Satu-satunya salep mata yang dapat membuat kita melihat keadaan kerohanian kita yang sebenarnya adalah Roh Kudus. Sebelum pekerjaan lain yang mungkin Ia hendak lakukan bagi kita, Ia harus meyakinkan kita akan dosa. Terus-menerus Ia menyerukan kepada hati nurani kita untuk menghasilkan dalam diri kita suatu kesadaran mutlak akan dosa-dosa kita serta perasaan bersalah yang mendalam, yang menuntun kita kepada kerinduan akan Juruselamat. Bila kita mendengar seruan itu, kita harus memperhatikan dan menurutinya; kalau tidak, cepat atau lambat kita akan begitu dikeraskan terhadap Roh Kudus sehingga tidak ada lagi yang bisa dilakukan bagi kita. Sungguh sebuah pemikiran yang menakutkan!" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang mengenali kebutuhan kita?
1. Keselamatan adalah tawaran paling berharga dari Allah kepada manusia yang sedang binasa karena dosa, maka penolakan terhadap keselamatan yang sangat berharga itu pada hakikatnya adalah penolakan kepada Allah. Dosa adalah penyakit yang paling mematikan, tetapi Yesus Kristus adalah satu-satunya obat yang paling mujarab.
2. Menolak tawaran keselamatan dari Allah berarti meremehkan akibat serius dari dosa yang dapat membawa kebinasaan, kecuali memang tidak menginginkan hidup kekal sebab merasa sudah cukup untuk hidup sementara sekarang ini. Orang berdosa yang sadar akan akibat dosa pasti mau menerima keselamatan yang Allah tawarkan.
3. Yesus berkata, "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" (Mat. 16:26). Masalahnya adalah mana yang lebih menarik, surga atau dunia; apakah kita menganggap bahwa keselamatan itu lebih berharga dari dunia ini atau tidak.

Senin, 28 Juli
LANGKAH MENUJU KESELAMATAN (Bertobat)

Penyesalan melahirkan pertobatan. Martin Luther, sang reformator, pernah berkata: "Kita diselamatkan hanya oleh iman, tetapi iman tidak datang sendirian." Apa yang dia maksudkan ialah bahwa meskipun manusia selamat hanya oleh iman kepada Yesus Kristus, tetapi selain iman ada hal-hal lain yang terkait dengan keselamatan itu, di antaranya adalah pertobatan dari dosa. Namun, pertobatan hanya bisa terjadi setelah ada penyesalan. Sesudah menyadari keadaan kita yang berdosa, dan bahwa akibat dosa adalah kebinasaan abadi, maka langkah selanjutnya untuk memperoleh keselamatan ialah bertobat. Pertobatan merupakan syarat bagi pengampunan dosa, dan bertobat artinya berhenti berbuat dosa. Rasul Petrus berkata, "Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan" (Kis. 3:19).

"Menyadari dosa-dosa kita tidaklah cukup; itu harus disertai dengan pertobatan. Makna alkitabiah dari pertobatan meliputi tiga aspek: pengakuan dosa seseorang, penyesalan karena telah berbuat dosa, dan kerinduan untuk tidak berbuat dosa lagi. Jika salah satu kurang, tidak ada pertobatan sejati...Kita bisa melihat pentingnya pertobatan oleh kenyataan bahwa Yohanes Pembaptis dan Yesus memulai pelayanan mereka oleh mengkhotbahkan: 'Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat' (Mat. 3:2; 4:17)" [alinea pertama: tiga kalimat pertama; alinea kedua, kalimat pertama].

Apa itu pertobatan? Kalau pertobatan adalah berhenti berbuat dosa, apakah itu artinya berhenti secara perlahan-lahan dan bertahap, atau harus berhenti secara mendadak? Mengenai pertobatan Alkitab mengajarkan, "hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan" (Luk. 3:8; huruf miring ditambahkan). Selain itu juga, "harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu" (Kis. 26:20; huruf miring ditambahkan). Jadi, pertobatan itu bersifat aktif (berbuat), bukan pasif (tidak berbuat). Hakikat dari pertobatan adalah berubah pikiran dan tindakan, dari melakukan hal-hal yang jahat dan melawan kehendak Tuhan menjadi perbuatan yang baik dan selaras dengan kehendak Tuhan.

Bertobat atau binasa. Latar belakang dari Lukas 13:1-5 ialah dua peristiwa berbeda yang menimbulkan korban jiwa di antara orang-orang Galilea, pertama adalah pembantaian atas perintah Pilatus dan kedua akibat bencana alam. Menurut sebuah cerita, Pilatus yang menaruh dendam pada orang-orang Galilea yang menentang rencananya untuk membangun saluran air dari kolam Salomo ke istananya atas bantuan dana dari Bait Suci telah memerintahkan pasukannya untuk membunuh mereka saat sedang mempersembahkan kurban bakaran di Bait Suci, lalu darah mereka dicampurkannya dengan darah hewan kurban. Pada peristiwa kedua, runtuhnya menara Siloam yang menimpa sebagian penduduk Yerusalem yang kebetulan sedang berada di bawahnya sehingga menimbulkan korban jiwa sebanyak 18 orang. Menurut konsep berpikir orang Yahudi waktu itu, terbunuhnya orang-orang itu adalah akibat dari dosa-dosa mereka. Tetapi Yesus berkata kepada orang-orang yang melaporkan peristiwa itu kepada-Nya, "Sama sekali tidak! Tetapi ingatlah: kalau kalian tidak bertobat dari dosa-dosamu, kalian semua akan mati juga, seperti mereka" (Luk. 13:3, 5, BIMK; huruf miring ditambahkan).

Kebinasaan (=kematian kekal) adalah akibat dari penolakan terhadap tawaran keselamatan dari Allah, dan penolakan terhadap tawaran itu menunjukkan kesombongan manusia. Sebaliknya, menyambut tawaran keselamatan dari Allah dengan cara menyesali dosa-dosa dan bertobat menunjukkan kerendahan hati serta penyerahan diri kepada-Nya. Pertobatan dari dosa menghasilkan keselamatan abadi, tetapi menolak untuk bertobat berarti memilih kebinasaan kekal.

"Yesus menegaskan keberdosaan semua orang. Karena itu, Ia mendesak para pendengar-Nya: 'jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa' (ay. 5). Tanpa pertobatan penebusan adalah mustahil, karena tidak adanya pertobatan menunjukkan bahwa orang banyak itu menolak untuk berserah kepada Tuhan...Kita tidak bertobat supaya Allah mengasihi kita, tetapi Ia menyatakan kasih-Nya kepada kita supaya kita boleh bertobat" [alinea ketiga dan kelima].

Apa yang kita pelajari tentang pertobatan?
1. Bertobat adalah hasil dari rasa bersalah dan penyesalan atas dosa, dan hanya dengan pertobatan yang sesungguhnya maka keselamatan bisa diraih. Dosa melahirkan kebinasaan, tetapi pertobatan menghasilkan keselamatan. Kebinasaan adalah lawan dari keselamatan, maka orang berdosa yang ingin selamat harus bertobat dari dosa-dosanya.
2. Pertobatan sejati bukan sekadar berhenti berbuat dosa, tetapi berubah pikiran dari melawan perintah Allah menjadi melakukan hal-hal yang sesuai dengan perintah-Nya. Seseorang yang pikiran serta hatinya telah diubahkan akan menjadi seorang yang tadinya giat berbuat dosa menjadi rajin melakukan kehendak Allah.
3. Pertobatan merupakan bukti dari kerendahan hati dan perasaan kasih kepada Allah. Tidak ada orang yang sombong dan membenci Allah bisa menyesali dosa-dosanya lalu bertobat, sebab penyesalan dan pertobatan berasal dari hati. Menerima keselamatan adalah menyambut kasih Allah.

Selasa, 29 Juli
IMAN DAN KESELAMATAN (Percaya pada Yesus)

Apa itu iman? Iman, sudah pasti, adalah dasar dari keselamatan. Kita diselamatkan oleh kasih karunia Allah yang kita terima oleh iman (Ef. 2:8) sebab oleh iman itu kita dibenarkan (Gal. 2:16), dan sebagai orang yang dibenarkan kita "berhak menerima hidup yang kekal" (Tit. 3:7). Karena keselamatan itu adalah kasih karunia Allah yang harus diterima melalui iman, yaitu percaya kepada Yesus Kristus, maka oleh iman kepada Yesus itu kita dibenarkan dan dengan itu kita berhak menerima hidup kekal. Jadi, keselamatan adalah hasil dari percaya kepada Yesus Kristus sebagai ujud kasih Allah kepada dunia ini (Yoh. 3:16). Nah, apa itu iman dan dari mana datangnya?

Kitabsuci menegaskan bahwa iman ialah percaya kepada "sesuatu yang kita harapkan" meskipun hal itu "tidak kita lihat" (Ibr. 11:1). Iman itu timbul dari mendengar firman atau pekabaran tentang Kristus (Rm. 10:17), dan iman merupakan pemberian dari Roh Kudus (1Kor. 12:9). Itulah sebabnya murid-murid memohon kepada Tuhan, "Tambahkanlah iman kami!" (Luk. 17:5). Kata "iman" dalam ayat-ayat ini berasal dari bahasa Grika, pistis, sebuah kata benda feminin yang berarti "keyakinan akan kebenaran dari sesuatu hal" yang dalam hal ini berkaitan dengan Tuhan (Strong; G4102). Dari kata ini lahirlah kata bentukan pisteuō (=orang percaya) dan kata kerja pistos (=setia/kesetiaan).

"Itu lebih dari sekadar perasaan yang samar-samar bahwa sesuatu akan benar-benar terjadi. Itu lebih dari sekadar sebuah latihan pikiran. Iman yang menyelamatkan bukanlah tanpa isi. Sebaliknya, iman memiliki suatu obyek yang pasti: Yesus Kristus. Iman ialah percaya bukan saja pada sesuatu tapi khusus pada Seseorang. Iman adalah percaya kepada Yesus dan kematian-Nya bagi kita" [alinea kedua: kalimat kedua hingga ketujuh].

Hasil dari iman. Dalam pelayanan-Nya semasa hidup di dunia ini Yesus beberapa kali mengaitkan penyembuhan orang-orang sakit dengan iman mereka. Fakta bahwa orang-orang itu datang kepada Yesus untuk memohon kesembuhan menunjukkan bahwa mereka percaya bahwa Yesus berkuasa untuk menyembuhkan penyakit mereka. Tetapi dengan mengatakan, "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau" seperti yang diucapkan-Nya kepada perempuan yang menderita sakit perdarahan menahun itu (Mat. 9:22), Yesus menyatakan bahwa iman bukan saja memberikan keselamatan di kemudian hari tetapi juga kesejahteraan dalam kehidupan sekarang ini. Iman membuat seseorang tergerak untuk datang kepada Yesus, dan dengan menghampiri Yesus seseorang tidak saja disembuhkan dari penyakit jasmani tetapi juga dari penyakit rohani yang lebih berbahaya.

"Dengan mengucapkan perkataan ini, Ia bukan memperuntukkan kuasa penyembuhan apapun terhadap iman mereka. Iman mereka itu hanyalah suatu kepercayaan sepenuhnya pada kuasa Yesus untuk menyembuhkan mereka. Kuasa iman tidak datang dari seorang yang percaya melainkan dari Allah terhadap siapa orang itu percaya" [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir].

Kepada perempuan yang datang kepada Yesus di rumah Simon dan meminyaki kepala Yesus dan membasuh kaki-Nya dengan parfum, Tuhan berkata: "Dosamu telah diampuni...Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" (Luk. 7:48, 50). Alkitab tidak memberikan keterangan yang tegas mengenai latar belakang kehidupan perempuan itu, selain indikasi bahwa wanita ini adalah seorang yang sangat terbebani oleh dosa-dosanya tetapi Yesus sudah memberinya pengampunan dan dengan demikian membuat dia merasa lega. Kata-kata "pergilah dengan selamat" adalah ungkapan yang lazim di kalangan bangsa Israel sebagai tanda merestui (baca 1Sam. 1:17-18).

Apa yang kita pelajari tentang perlunya percaya kepada Yesus Kristus dan keselamatan?
1. Kitabsuci mengajarkan dengan tegas bahwa keselamatan (=hidup kekal) hanya diperoleh dengan iman, itu bukan hasil usaha kita tetapi pemberian Allah (Ef. 2:8). Iman itu sendiri berasal dari Allah, bukan suatu kapasitas alamiah (=benih) dalam diri kita yang akan tumbuh dengan sendirinya bila ada pemicunya.
2. Iman adalah kemampuan untuk percaya bahwa sesuatu itu ada meski tidak kelihatan, percaya terhadap janji-janji Allah meskipun tampaknya "tidak logis" menurut akal manusia. Iman adalah suatu hal yang pasti; keragu-raguan anda dan saya tidak pernah akan membatalkan kepastian itu.
3. Iman menghasilkan keselamatan di akhirat dan juga kesejahteraan di dunia ini, termasuk kesembuhan dari penyakit. Iman bukan sesuatu untuk menguji Allah, sebaliknya iman adalah sarana oleh mana Tuhan menguji manusia. Iman adalah substansi dari setiap doa yang kita layangkan, tanpa iman maka doa kita sia-sia.

Rabu, 30 Juli
MENGENAKAN KEBENARAN KRISTUS (Pakaian Pesta)

Kebenaran yang dianugerahkan. Sebutan "orang Farisi" mungkin menjadi cibiran bagi banyak orang Kristen sekarang ini, antara lain karena stigma "munafik" seperti tercermin dalam ungkapan Yesus tentang mereka yang disamakan-Nya seperti kuburan, "yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran" (Mat. 23:27). Namun sebenarnya cara beragama orang Farisi itu sendiri, sejauh menyangkut ketaatan pada hukum Musa, selalu berusaha untuk sempurna sampai kepada hal-hal sepele. Masalahnya, dalam beragama orang Farisi lebih mementingkan penampilan luar ketimbang di dalam hati, atau yang kita sebut beragama secara formalitas.

Keberagamaan orang Farisi dan ahli Taurat lebih bersifat liturgis atau tatacara, bukan pengamalan yang substansial dari ajaran agama. Tidak heran kalau Yesus berkata bahwa cara beragama seperti para ahli Taurat dan kaum Farisi itu tidak akan menghasilkan keselamatan di akhirat (Mat. 5:20). Rasul Paulus menyebut keberagamaan secara lahiriah adalah sia-sia ketika dia mengatakan, "Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan" (Flp. 3:8-9; huruf miring ditambahkan).

"Beberapa orang lebih cermat dalam memelihara hukum itu secara harfiah daripada orang-orang Farisi. Namun demikian, mereka gagal sebab perilaku mereka lebih dimaksudkan untuk mengesankan manusia ketimbang menyenangkan Allah. Yesus mengamarkan kita agar tidak berbuat hal yang sama (Mat. 6:1). Lalu, bagaimanakah kita bisa menjadi benar di hadapan Allah? Perumpamaan tentang pesta pernikahan memberi petunjuk kepada kita dalam menemukan sumber kebenaran sejati" [alinea pertama: empat kalimat terakhir].

Kebenaran yang menyelamatkan. Mungkin perumpamaan Yesus tentang perjamuan kawin anak raja dalam Matius 22:2-14 di luar kelaziman budaya, sebab tidak ada masyarakat yang mempunyai tradisi menyediakan pakaian pesta untuk para tamu yang diundang. Biasanya para undangan datang dari rumah sudah mengenakan pakaian pesta mereka sendiri, yaitu pakaian yang paling bagus dengan model paling baru. Tetapi justeru di sinilah letaknya keistimewaan dari hakikat kisah ini, bahkan soal pakaian pesta yang disediakan oleh tuan rumah itulah inti pekabarannya. Ini perumpamaan tentang keselamatan, bukan cerita dongeng sebelum tidur.

Kalau anda menjenguk pasien yang sedang dirawat di ruang perawatan intensif (ICU) dan perawatan intensif jantung (ICCU), ruang perawatan bayi atau pasien-pasien dengan penyakit tertentu, biasanya rumahsakit mengharuskan pengunjung untuk memakai gaun atau jubah khusus yang disediakan sebelum diperbolehkan memasuki ruangan, terkadang bahkan harus mengganti alas kaki dengan sandal yang disediakan. Ada dua ciri utama dari gaun atau jubah yang disediakan itu, yakni kebersihan dan keseragaman. Barangkali pakaian yang anda pakai dari rumah itu lebih indah dan modis, bersih bahkan mungkin juga wangi, tetapi keindahan dan kebersihan pakaian anda itu tidak ada artinya. Rumahsakit memiliki standar mereka sendiri mengenai pakaian pengunjung, yaitu harus steril dan serupa bahan serta modelnya. Gaun milik rumahsakit itulah yang membuat anda dan saya boleh masuk ke ruang pasien yang hendak kita jenguk, tanpa itu kita akan ditolak dan tidak bisa memaksa masuk.

"Seperti dalam perumpamaan itu, Allah menyediakan pakaian yang kita perlukan. Ia telah membuat pakaian untuk Adam dan Hawa dan mengenakannya pada mereka (Why. 19:8), sebuah lambang tentang kebenaran-Nya yang membungkus orang berdosa. Tuhan juga menyediakan pakaian kebenaran Kristus bagi gereja-Nya, supaya gereja boleh 'dipersiapkan dalam kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih' (Why. 19:8), 'tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu' (Ef. 5:27). Pakaian ini, 'yakni kebenaran Kristus, tabiat-Nya sendiri yang tidak bercacat cela, yang melalui iman diberikan kepada semua orang yang menerima Dia sebagai Juruselamat pribadinya' (Ellen G. White, Perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus, hlm. 226" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang hubungan "pakaian pesta" dengan keselamatan?
1. Pakaian pesta dalam perumpamaan Yesus melambangkan kebenaran Kristus. Tak seorangpun dapat masuk ke dalam kerajaan surga dengan mengenakan kebenarannya sendiri, yaitu keberagamaan menurut pandangannya sendiri. Keselamatan adalah hasil dari kebenaran Kristus yang menutupi keberdosaan kita.
2. Kebenaran Kristus adalah sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma dan dipakaikan langsung oleh Allah sendiri, menandakan bahwa manusia tidak memiliki jasa apapun untuk dikreditkan pada keselamatan kita. Setiap orang yang percaya menerima kebenaran itu tanpa menghiraukan kondisi rohaninya.
3. Ada dua ciri utama dari "pakaian pesta" yang Allah sediakan untuk kita, yakni tanpa cacat atau cela dan juga seragam atau sama. Kebenaran Kristus adalah standar surgawi, sempurna dan serupa. Tidak ada orang yang masuk surga dengan kebenaran yang lebih baik dan berbeda dari orang lain, semuanya sama kualitasnya.

Kamis, 31 Juli
PENYANGKALAN DIRI (Mengikut Yesus)

Meninggalkan segalanya. Konsekuensi dari mengikut Yesus ialah meninggalkan segalanya, termasuk penyangkalan diri. Alkitab mencatat bahwa tatkala Yesus memanggil murid-murid-Nya yang pertama mereka langsung berdiri lalu berjalan dan meninggalkan apa saja yang sedang mereka kerjakan untuk kepentingan diri sendiri. Bahkan, ketika seseorang menyatakan kerinduannya untuk mengikut Yesus tetapi meminta izin untuk mengurus jasad orangtuanya yang baru meninggal, Yesus menjawab dengan tegas: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka" (Mat. 8:22). Mengikut Yesus bukan sekadar pilihan tetapi keputusan yang menuntut tindak lanjut segera tanpa basa-basi; mengikut Yesus adalah sebuah tindakan yang revolusioner.

Tentu saja keputusan untuk menjadi pengikut Yesus harus didasarkan pada iman, sebab hanya dengan percaya kepada Yesus kita bisa menjadi pengikut-Nya yang benar. Kepada orang-orang Yahudi yang mendengar khotbah-Nya dan percaya kepada-Nya, Yesus berkata: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku..." (Yoh. 8:31). Versi BIMK menerjemahkan bagian ini, "Kalau kalian hidup menurut ajaran-Ku kalian sungguh-sungguh pengikut-Ku..." Percaya kepada Yesus akan membuat kita tekun dalam menuruti ajaran-ajaran-Nya, dan ketekunan itu menunjukkan bahwa kita adalah murid (=pengikut) Kristus yang sejati. Kata Grika untuk murid atau pengikut pada ayat ini adalah mathētēs, sebuah kata benda maskulin yang juga berarti pembelajar (Strong; G3101).

"Sebagian orang berusaha untuk memisahkan iman pada Yesus dari ketaatan pada pengajaran-pengajaran Yesus, seolah-olah yang pertama itu lebih penting dari yang kedua. Tetapi Yesus tidak membuat perbedaan seperti itu. Bagi Dia, kedua aspek ini terkait dengan sangat erat dan merupakan dasar bagi pemuridan sejati. Seorang murid Yesus komit (=terikat janji) kepada Pribadi-Nya maupun kepada perkataan-Nya" [alinea kedua: empat kalimat pertama].

Risiko sebagai murid. Menjadi murid Yesus mengandung risiko sosial yang tidak kecil terhadap kehidupan seseorang, bukan saja dia mungkin akan dimusuhi oleh masyarakat dan sanak keluarganya, tetapi dia bahkan dituntut untuk "membenci" kaum keluarganya sendiri. Yesus berkata, "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku" (Luk. 14:26). Kata Grika yang diterjemahkan dengan membenci dalam ayat ini adalah miseō, sebuah kata kerja yang sebenarnya mengandung makna aktif dan pasif, yaitu "membenci" dan "dibenci" (Strong; G3404). Dalam pengertian aktif, membenci maksudnya ialah menyangkal atau menomorduakan. Jadi, risiko sebagai murid atau pengikut Yesus Kristus ialah "tidak menghiraukan" keluarga maupun diri sendiri tetapi "mengutamakan pengabdian" kepada Kristus.

"Yesus menggunakan kata kerja 'membenci' sebagai makna hiperbola dari 'kurang mengasihi.' Perikop yang paralel dalam injil Matius menjelaskan arti perkataan Yesus ini: 'Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku' (Mat. 10:37). Yesus harus mendapat tempat pertama dalam kehidupan kita kalau kita ingin menjadi murid-murid-Nya" [alinea terakhir].

Pena inspirasi menulis: "Mereka yang mau menjadi para pemenang harus merenungkan dan menghitung harga dari keselamatan. Dorongan kegairahan manusiawi yang kuat harus ditaklukkan; kebebasan berkehendak harus terbelenggu dalam Kristus. Orang Kristen mesti menyadari bahwa dirinya bukanlah miliknya sendiri. Dia akan menghadapi godaan-godaan untuk dilawan, dan pergumulan-pergumulan melawan kecenderungan-kecenderungannya sendiri; sebab Tuhan tidak menerima pelayanan setengah hati. Kemunafikan adalah suatu kebencian bagi-Nya. Pengikut Kristus harus berjalan oleh iman sementara memandang Dia yang tidak kelihatan. Kristus akan menjadi hartanya yang terindah, segala-galanya" (Ellen G. White, Review and Herald, 16 Juni 1896).

Apa yang kita pelajari tentang arti mengikut Yesus?
1. Menjadi pengikut Kristus yang sejati mengandung risiko dan konsekuensi yang besar dan berat, tetapi hal-hal itulah justeru yang menjadi keistimewaan dan kebanggaan rohani seorang murid Yesus. Kalau musuh terbesar untuk ditaklukkan adalah diri sendiri, maka orang Kristen tulen akan berhasil mengalahkannya.
2. Setiap pengikut Kristus sejati menyadari dua kewajiban ini: melayani Kristus tanpa pamrih dan mengamalkan ajaran-ajaran Kristus tanpa ragu. Kehidupan Kristiani adalah kehidupan penuh pergumulan yang sengit, oleh sebab perjalanan hidup orang Kristen adalah perjalanan yang berbatu dan terjal (2Kor. 12:10).
3. Kekristenan menuntut sikap militansi dan sifat sebagai syuhada, tetapi bukan untuk menyakiti orang lain melainkan untuk menanggung penderitaan sendiri. Kalau anda belum pernah mengalami kesengsaraan hidup demi mempertahankan iman Kristiani, mungkin anda belum menjadi seorang Kristen yang sesungguhnya.

Jumat, 1 Agustus
PENUTUP

Salib dan pertobatan. Pengalaman terbesar dan termulia bagi seorang Kristen adalah pengalaman pertobatan, yaitu ketika seseorang berhasil melepaskan diri dari cengkeraman dosa kesayangan yang kukuh justeru di saat dia merasa tidak berdaya. Pertobatan adalah pengalaman yang tidak menyenangkan pada waktu yang dianggap tidak tepat, karena itu hasilnya seringkali amat mencengangkan bagi orang yang bersangkutan maupun mereka yang menyaksikannya. Acapkali kita tidak pernah tahu seberapa kuatnya kita, sampai kita menyadari bahwa menjadi kuat adalah satu-satunya pilihan bagi kita!

Tidak ada orang yang sungguh-sungguh bertobat tanpa bantuan kekuatan Roh Kudus, dan tidak ada orang yang benar-benar diampuni dosanya tanpa bayangan salib Kristus yang menaunginya. Terkadang pertobatan terjadi tanpa kehendak kita sendiri, namun itu terjadi karena Allah dengan cara-Nya yang ajaib menggerakkan hati sanubari kita dan menyinari kita dengan kasih-Nya. Seorang yang terinspirasi oleh salib Kristus niscaya akan tergerak untuk bertobat karena kehangatan cahaya kasih Allah yang terpancar dari salib itu berkuasa mencairkan dosa-dosa yang sudah membatu sehingga meleleh dan terlepas jatuh.

"Sementara kita memandang Anak Domba Allah di atas salib Golgota, rahasia penebusan mulai terkuak dalam pikiran kita dan kebaikan Allah menuntun kepada pertobatan. Dalam kematian bagi orang-orang berdosa, Kristus menyatakan suatu kasih yang tak terduga; dan sementara orang berdosa memandang kasih ini hatinya dilembutkan, pikirannya dipengaruhi, dan penyesalan timbul di dalam jiwanya" [alinea kedua].

"Bila seorang yang jahat tidak berbuat dosa lagi, dan mulai menaati hukum-hukum-Ku, serta melakukan perbuatan yang baik dan benar, ia tidak akan mati. Semua dosanya akan diampuni; ia akan hidup, karena melakukan yang benar. Apakah kau pikir Aku, Tuhan Yang Mahatinggi, senang kalau orang yang jahat mati? Sama sekali tidak! Aku ingin ia meninggalkan dosa-dosanya supaya ia tetap hidup" (Yeh. 18:21-23, BIMK).

(Oleh Loddy Lintong/California, 31 Juli 2014)

Jumat, 25 Juli 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT KE IV JULY 26,2014: "MENYAMBUT KESELAMATAN DARI SURGA"



Sabat Petang, 19 Juli
PENDAHULUAN

Kematian dan keselamatan. Marcus Aurelius, filsuf sekaligus kaisar Romawi yang berkuasa tahun 161-180, dalam bukunya Meditation (Grika: Ta eis heauton), menulis: "Kematian tersenyum kepada kita semua, dan apa yang dapat dilakukan oleh semua orang hanyalah balas tersenyum." Kematian memang tidak diskriminatif, siapa saja didatanginya tanpa pandang buluh. Karena kenyataan inilah maka sebagian orang telah menerima kematian itu sebagai bagian dari kehidupan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kematian itu diperlukan dalam kehidupan manusia untuk memberi jalan bagi regenerasi dan pembaruan. Suka atau tidak, siap maupun tidak, kematian adalah peristiwa keseharian kita.

Tetapi "kematian" dalam perspektif iman Kristiani terbagi ke dalam dua pengertian, yaitu kematian sementara dan kematian abadi. Akibat dosa maka semua manusia harus mati, namun bukan mati satu kali saja tetapi ada kematian kedua bahkan ketiga bagi orang-orang yang tidak beroleh keselamatan. Orang-orang jahat yang tidak bertobat dan sudah mati sekarang ini akan dibangkitkan pada kedatangan Yesus Kristus kedua kali untuk kemudian mati lagi tertimpa cahaya kemuliaan-Nya, dan akan bangkit kembali sesudah masa seribu tahun untuk dibinasakan selamanya dalam api neraka. Orang-orang jahat yang masih hidup pada kedatangan Kristus kedua kali akan mengalami kematian dua kali, yaitu akibat tertimpa cahaya kemuliaan Kristus saat itu dan hangus dalam api neraka seribu tahun kemudian.

Orang-orang benar, yaitu orang berdosa yang sudah bertobat dan menerima keselamatan oleh kasih karunia Allah, yang sekarang ini sudah mati akan dibangkitkan pada hari kedatangan Yesus Kristus kedua kali untuk menerima tubuh yang baka. Sedangkan orang-orang benar yang masih hidup pada hari kedatangan Kristus kedua kali tidak akan pernah mengalami kematian, tetapi langsung diubahkan dan menerima tubuh yang baka lalu diangkat ke surga bersama Kristus. "Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah" (1Kor. 15:51-52).

"Alkitab begitu jelas. Kita hanya mempunyai dua pilihan sehubungan dengan dosa-dosa kita: apakah kita membayar dosa-dosa kita di lautan api, atau kita menerima pembayaran dari Kristus bagi mereka di kayu salib. Sementara kita mengulas anugerah kasih karunia Allah melalui Kristus, marilah kita sekali lagi dengan rendah hati memperbarui iman kita kepada Yesus sebagai Juruselamat pribadi kita" [alinea terakhir].

Minggu, 20 Juli
KASIH ALLAH YANG MENYELAMATKAN (Keselamatan adalah Anugerah dari Allah)

Keunggulan pemberian Allah. Kalau ada satu ayat Alkitab yang paling populer serta paling dihafal oleh orang Kristen maka ayat itu adalah Yohanes 3:16, sebuah ayat yang sering disebut sebagai intisari dari seluruh isi Kitabsuci: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Pada ayat ini terkandung hal-hal yang bersifat superlatif ("yang paling" atau "yang ter-"): 1. Allah (kuasa terbesar); 2. kasih Allah (sifat teragung); 3. Anak Allah yang tunggal (karunia terbesar); 4. kepada setiap orang (sasaran terluas); 5. percaya kepada Yesus (keyakinan terbesar); 6. tidak binasa (kelepasan terbesar); dan 7. hidup kekal (pemberian terbesar). Tidak ada yang dapat menandingi keunggulan dari setiap hal yang disebutkan dalam ayat ini: tidak ada yang lebih besar dari Allah; tidak ada yang lebih agung dari kasih Allah; tidak ada karunia yang lebih berharga dari Anak Allah; tidak ada distribusi kasih yang lebih luas dari yang ditujukan kepada setiap manusia; tidak ada keyakinan yang lebih besar dari percaya kepada Kristus; tidak ada kelepasan yang lebih berarti dibanding luput dari kebinasaan; dan tidak ada hadiah yang lebih besar dari hidup kekal.

"Kata kerja bahasa Inggris mencintai, khususnya cara sederhana yang sering digunakan sekarang ini, sama sekali tidak memadai untuk mengungkapkan kedalaman hasrat yang dinyatakan dalam kata kerja bahasa Grika agapaō, yakni 'mengasihi.' Dalam Perjanjian Baru istilah ini dan kata kerja yang berkaitan dengan itu, agape, menyingkapkan kasih Allah yang dalam dan tetap terhadap ciptaan-Nya, yang sama sekali tidak layak akan kasih ini. Kasih merupakan ciri yang unggul dari sifat Allah. Ia bukan saja mengasihi kita, tapi Dia adalah kasih (1Yoh. 4:8)" [alinea kesatu].

Dalam PB terdapat beberapa kata Grika berbeda yang berkaitan dengan "pemberian." Misalnya dōron, kata benda yang diterjemahkan dengan hadiah sebagai ungkapan rasa hormat yang ditujukan kepada Tuhan, misalnya yang terdapat dalam Mat. 2:11; 5:23-24; Luk. 21:1, 4. Dari kata ini muncul kata bentukan dōrea yang mengandung arti pemberian cuma-cuma yang berasal dari Allah, seperti digunakan dalam Yoh. 4:10; Kis. 2:38; 8:20; 2Kor. 9:15; Ef. 4:7; Ibr. 6:4. Kata lainnya adalah charisma, yaitu kata benda yang berhubungan dengan karunia ilahi untuk menolong manusia menunaikan pekerjaan Tuhan, seperti yang digunakan dalam Rm. 1:11; 12:6; 1Kor. 12:4, 9; 1Ptr. 4:10. Tetapi pada Rm. 5:15-17 dan Rm. 6:23 yang bertutur tentang kasih karunia Allah dalam konteks hidup kekal atau keselamatan bagi manusia, kata dōrea dan charisma digunakan secara bersama-sama.

Menyambut kasih karunia Allah. Perumpamaan Yesus tentang dua orang yang berdoa di Bait Allah, yaitu orang Farisi dan pemungut cukai, merupakan sindiran tajam terhadap orang-orang yang merasa dirinya paling benar di hadapan Tuhan. Bahkan kesan tentang hal ini sudah tercetus di awal penuturan oleh Lukas yang menulis, "Yesus menceritakan juga perumpamaan ini yang ditujukan-Nya kepada orang yang memandang rendah orang lain, tetapi yakin bahwa dirinya sendiri baik"  (Luk. 18:9, BIMK; huruf miring ditambahkan).

Sebenarnya, apa salahnya bersyukur kepada Tuhan sekiranya kita bisa mengamalkan suatu kehidupan yang saleh dan taat hukum seperti orang Farisi itu (ay. 11-12)? Bukankah kita harus bersyukur atas segala sesuatu (Ef. 5:20; 1Tes. 5:18), dan khususnya sebagai orang Kristen kita juga harus hidup sempurna dan kudus (Mat. 5:48; 1Ptr. 1:15)? Orang Farisi itu berkata benar tentang kehidupan rohani dirinya sendiri dan tidak mengada-ada tentang kelakuan si pemungut cukai. Masalahnya, dengan merasa dirinya sudah suci dan sempurna maka orang Farisi tersebut sudah puas dengan kehidupan kerohaniannya oleh usahanya sendiri dan dengan demikian tidak membutuhkan karunia Tuhan. Sebaliknya, pemungut cukai itu menyadari dosa-dosanya sambil memohon karunia pengampunan dari Allah, sehingga "orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak" (ay. 14).

"Ya, hal itu sama sekali tidak sepantasnya. Begitulah jalan keselamatan. Itulah karunia dari Allah. Karunia-karunia itu tidak diusahakan; itu hanya sekadar diterima. Kita tidak dapat membeli keselamatan; kita cuma menerima saja. Meskipun Yesus tidak pernah menggunakan istilah kasih karunia, Ia dengan jelas mengajarkan bahwa keselamatan adalah oleh kasih karunia, dan kasih karunia itu sedang diberikan meski anda tidak pantas menerimanya" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang keselamatan sebagai karunia dari Allah?
1. Keselamatan abadi adalah karunia Allah terbesar yang pernah diberikan kepada manusia, bahkan karunia itu menjadi lebih besar lagi oleh karena hal itu diberikan secara cuma-cuma kepada manusia yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Keselamatan abadi jauh lebih berharga daripada keselamatan dalam kehidupan sementara di dunia ini.
2. Karunia keselamatan adalah efek dari tabiat Allah yang maha kasih, bukan upah dari amal ibadah kita. Karena itu, sementara kita harus terus berusaha untuk menyempurnakan hidup kita selaras dengan kehendak Allah, jangan sekali-kali kita melecehkan atau menganggap enteng orang lain yang kita anggap kurang dari kita.
3. Keselamatan merupakan pemberian Allah yang ajaib, bukan saja karena keselamatan itu diberikan secara cuma-cuma kepada siapa saja yang percaya tetapi karena itu dianugerahkan kepada orang berdosa yang sebenarnya tidak pantas untuk menerimanya. Iman sajalah yang membuat kita layak memperoleh keselamatan abadi yang tak ternilai itu.

Senin, 21 Juli
MENYELAMATKAN MANUSIA YANG MEMBERONTAK (Keselamatan: Prakarsa Allah)

Diutus oleh Bapa. Alkitab mengajarkan kepada kita melalui tulisan rasul Paulus: "Allah mengasihi kalian, itu sebabnya Ia menyelamatkan kalian karena kalian percaya kepada Yesus. Keselamatan kalian itu bukanlah hasil usahamu sendiri. Itu adalah anugerah Allah. Jadi, tidak ada seorang pun yang dapat menyombongkan dirinya mengenai hal itu" (Ef. 2:8-9, BIMK). Kalimat pertama dari ayat ini merupakan konfirmasi atas apa yang ditulis oleh rasul Yohanes seperti yang kita pelajari kemarin (Yoh. 3:16). Namun pada kalimat berikutnya Paulus lebih menandaskan lagi tentang keselamatan sebagai "anugerah Allah" dan sama sekali kita manusia tidak mempunyai kredit apapun dalam hal ini. Keselamatan adalah murni pemberian Allah secara gratis.

Oleh karena keselamatan itu memang dirancang sebagai suatu pemberian yang semata-mata berasal dari Allah, tanpa partisipasi dalam bentuk apapun dari manusia, maka tentu saja keselamatan merupakan hasil dari prakarsa Allah sendiri. Keselamatan itu sudah dicanangkan-Nya di Taman Eden tak lama setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, ketika Allah berfirman, "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya" (Kej. 3:15). Berdasarkan pengumuman ini, yang di kalangan Kristen disebut sebagai "Injil Pertama" (proto evangelium), maka pada waktu yang telah ditentukan Allah telah "mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus...supaya Ia memberkati kamu dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu" (Kis. 3:20, 26).

"Yesus tidak datang ke dunia ini karena kita mengundang-Nya, tetapi oleh sebab Bapa, karena kasih kepada kita, sudah mengutus Dia. Prakarsa Bapa itu ditegaskan oleh kalimat yang sering digunakan Kristus 'Dia yang mengutus Aku' dan 'Bapa yang mengutus aku' (Baca Yoh. 7:28; 8:29; 12;49)...Bukan hanya Bapa yang terlibat, tapi Anak juga memiliki peran sangat aktif dalam keselamatan kita. Ia sudah datang dengan suatu missi yang pasti" [alinea pertama: dua kalimat terakhir; alinea ketiga: dua kalimat pertama].

Tindakan Allah yang aktif. Seperti pada pelajaran Sabat pertama triwulan ini yang telah kita pelajari beberapa pekan lalu, bahwa tiga perumpamaan Yesus yang tercatat dalam Lukas pasal 15 melambangkan tiga jenis manusia yang bertobat kepada Tuhan. "Mereka yang digambarkan sebagai 'domba yang hilang' (ay. 4-7) adalah orang-orang berdosa yang menyadari dirinya tersesat tapi tidak dapat pulang sendiri karena belenggu dosa yang menjerat; mereka yang digambarkan sebagai 'dirham yang hilang' (ay. 8-10) adalah orang-orang berdosa yang tidak menyadari keadaan mereka; sedangkan mereka yang digambarkan sebagai 'anak bungsu yang hilang' (ay. 11-24) adalah orang-orang berdosa yang sadar serta menyesal akan keadaan mereka dan memutuskan untuk pulang." (Lihat ulasan saya untuk Pelajaran hari Selasa, 1 Juli; "MENGENAL TABIAT BAPA--Kasih Bapa Surgawi Kita").

Adalah sesuatu yang tidak lazim pada zaman dulu bagi seorang ayah yang masih hidup untuk memberi warisan seperti yang diminta oleh anaknya yang bungsu, maka perumpamaan Yesus ini menegaskan tentang kebaikan Bapa itu di satu pihak dan sikap keras kepala manusia di pihak lain. Menuntut hak warisan dari ayah yang masih hidup adalah suatu tindakan memberontak terhadap orangtua, tapi dalam hal ini Allah digambarkan sebagai Bapa surgawi yang baik dan "mengizinkan" manusia menggunakan hak kebebasan memilih mereka sekalipun itu berarti membiarkan pemberontakan dengan segala akibatnya. Seperti ayah yang baik hati itu, Allah pun tahu bahwa pilihan manusia akan mencelakakan diri mereka sendiri dan juga membuat-Nya bersedih. Bahkan, Allah juga sudah tahu bahwa membiarkan manusia memberontak itu bakal menuntut harga penebusan yang sangat mahal sekiranya Ia mau menyelamatkan mereka dari kebinasaan. Namun, Allah tetap melakukannya!

"Perumpamaan-perumpamaan kembaran ini menunjukkan bahwa Allah tidak menunggu secara pasif agar kita datang kepada-Nya, tetapi secara aktif mencari kita. Kita memiliki Allah yang berusaha mencari. Tidak menjadi soal bahwa kita tersesat jauh di tempat yang berbahaya atau bahkan hilang di rumah; Tuhan akan mencari kita tanpa kenal lelah sampai Ia menemukan kita" [alinea keempat].

Apa yang kita pelajari tentang keselamatan manusia sebagai inisiatif Allah?
1. Kedatangan Yesus Kristus ke dunia ini yang pertama kali, yaitu Anak Allah dalam sosok manusia, adalah untuk melakukan tindakan penyelamatan manusia. Kristus adalah ujud dari kegenapan janji Allah kepada nenek moyang pertama manusia di Taman Eden, dan Ia datang sebagai "utusan" Bapa surgawi.
2. Allah kita bukan saja Allah yang maha pengasih tapi juga sangat konsekuen. Ia tahu ketidakmampuan manusia untuk menyelamatkan diri sendiri dari akibat dosa, dan kasih-Nya mendorong Dia untuk bertindak mengambil inisiatif demi keselamatan manusia. Allah bukan saja memanggil kita pulang, tapi juga menjemput kita pulang kepada-Nya.
3. Manusia berdosa bahkan tidak menyadari keadaan mereka yang akan binasa kalau bukan karena tindakan Allah yang didorong oleh kasih. "Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita" (1Yoh. 4:10).

Selasa, 22 Juli
MATI GANTI KITA (Kematian yang Diwajibkan)

Anak Domba Allah. Istilah "anak domba" (Grika: amnos) digunakan sebanyak empat kali dalam empat ayat di PB, seluruhnya dikaitkan dengan Allah (Grika: theos) dan merujuk kepada Yesus Kristus sebagai Mesias. Adalah Yohanes Pembaptis yang pertama kali menggunakan istilah "Anak Domba Allah" yang ditujukannya kepada Kristus (Yoh. 1:29, 39). Bagi masyarakat Yahudi yang hingga zaman Yesus Kristus tetap menyelenggarakan ritual kurban bakaran di kaabah sebagai lambang penghapusan dosa berdasarkan hukum Musa, anak domba (Ibrani: seh) adalah hewan kurban sehari-hari dan karena itu mereka sangat paham tentang artinya. Namun mereka tidak mengerti bahwa anak domba yang melambangkan kurban penebusan dosa itu sudah datang dan hidup di antara mereka dalam sosok Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah.

Ketika menteri keuangan Etiopia berkunjung ke Yerusalem dia telah membeli sebuah salinan kitab Yesaya yang dibacanya sepanjang perjalanan pulang meskipun dia tidak mengerti apa yang dibacanya, sampai Roh Tuhan membawa Filipus kepadanya untuk memberi penjelasan (Kis. 8:27-31). Pada saat itu pembantu terdekat Kandake--sebutan untuk ratu negeri Etiopia, mungkin dalam hal ini Amanikhatashan yang berkuasa tahun 62-85 TM--tersebut sedang membaca bagian yang berbunyi: "Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya" (ay. 32; bandingkan dengan Yes. 53:7).

"Oleh karena itu, dengan memperkenalkan Yesus sebagai 'Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia' (Yoh. 1:29), Yohanes Pembaptis sedang mengungkapkan sifat pengganti dari kematian penebusan Kristus...Selama pelayanan-Nya, Yesus berulang kali mengumumkan kematian-Nya meskipun bagi murid-murid itu sulit untuk mengerti mengapa Ia harus mati (Mat. 16:22). Secara bertahap Yesus menjelaskan tujuan agung dari kematian-Nya" [alinea pertama: kalimat terakhir; alinea kedua].

Gembala yang baik. Kalau Yohanes Pembaptis menyebut Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah, Yesus sendiri sering menyebut diri-Nya sebagai Gembala. "Akulah Gembala yang baik," kata-Nya. "Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya" (Yoh. 10:11). Penyebutan yang berbeda bahkan berlawanan ini bukan berarti suatu kontroversi, melainkan menunjukkan perbedaan perspektif (=sudut pandang). Yohanes Pembaptis melihat Yesus Kristus dari sudut missi penebusan, sedangkan Yesus memandang dari sudut maksud penebusan. Kristus sudah datang ke dunia ini untuk menjalankan missi mati sebagai Penebus, dan melalui kematian-Nya itu maksud dari penebusan demi menyediakan jalan keselamatan bagi manusia dapat tercapai.

Untuk menjalankan missi-Nya maka Yesus harus menjadi Anak Domba sebagai kurban penebusan; untuk menyelamatkan manusia Yesus rela menjadi Gembala yang Baik dengan menyerahkan nyawa-Nya. Kesediaan menyerahkan diri-Nya menjadi sebagai Anak Domba Allah berkorelasi dengan kerelaan untuk menjadikan diri-Nya sebagai Gembala yang Baik. Kematian pengganti yang dijalani Yesus itu adalah tuntutan hukum sebab "upah dosa adalah maut" (Rm. 6:23), dan kesediaan-Nya "untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mat. 20:28) membuktikan bahwa Yesus pantas menyebut diri-Nya sebagai Gembala yang Baik, yaitu gembala yang mengenal dan dikenal oleh "domba-domba" untuk siapa Dia sudah mati (Yoh. 10:14).

"Penting untuk diperhatikan bahwa Yesus mati secara sukarela. Seperti Bapa sudah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, demikianlah Anak itu telah memberikan nyawa-Nya sendiri untuk menebus umat manusia. Tidak ada yang memaksa Dia untuk melakukannya. 'Tidak ada seorang pun mengambilnya (nyawa-Ku) dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri,' Yesus menyatakan (Yoh. 10:18)...Bahkan Kayafas, yang secara terbuka menolak Yesus dan memimpin komplotan untuk membunuh Dia, tanpa sadar mengakui kematian pengganti Yesus (Yoh. 11:49-51)" [dua alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang kematian Yesus Kristus?
1. Kematian Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah adalah bukti kepatuhan-Nya terhadap kehendak Allah dan tuntutan hukum Allah; kerelaan-Nya untuk menyerahkan nyawa-Nya adalah bukti kelayakan-Nya sebagai Gembala yang Baik. Pada kematian penebusan Kristus bertumpu seluruh pembuktian tentang kasih Allah kepada manusia.
2. Kematian Yesus Kristus adalah konsekuensi dari sebuah pilihan dan kesepakatan, ketika Allah Bapa memilih untuk menyelamatkan manusia yang berdosa dan Allah Anak sepakat untuk melaksanakannya. Banyak pelajar Alkitab percaya bahwa ketetapan itu telah dibuat di surga sebelum Allah menjenguk Adam dan Hawa di Taman Eden sesudah mereka berdosa.
3. Pergumulan sangat luar biasa yang dialami Yesus Kristus di Taman Getsemane sebelum penyaliban-Nya menandakan bahwa meskipun kematian penebusan itu sudah ditetapkan oleh Bapa, keterlaksanaannya diserahkan sepenuhnya kepada Yesus yang akan menjalaninya (Mrk. 14:36). Yesus harus meminum isi "cawan" yang semestinya untuk kita.

Rabu, 23 Juli
KRISTUS SEBAGAI PEMBEBAS (Bebas dari Dosa)

Hamba dosa. Dalam Perjanjian Baru, kata Grika (bahasa asli PB) yang digunakan untuk "hamba" adalah doulos, yang secara harfiah berarti "orang yang melayani." Kata ini sekarang menjadi populer dengan adanya sebuah profesi khusus kaum hawa yang disebut "doula" (diartikan sebagai "seorang wanita yang melayani"), yaitu perempuan dewasa yang sudah dilatih dengan ketrampilan khusus untuk menyediakan bantuan fisik dan emosional maupun informasi-informasi kepada ibu-ibu muda yang sedang hamil tua, khususnya pada kehamilan pertama, agar siap menjalani persalinan dengan lancar dan nyaman. Jadi, pada prinsipnya kata yang diambil dari bahasa Yunani ini berkaitan dengan pelayanan atau melayani. Kata lainnya yang berkaitan dengan itu adalah pais, yang secara harfiah berarti "budak" dan dalam PB digunakan untuk anak kecil (misalnya: Mat. 17:18; Luk. 9:42) maupun pelayan atau hamba (Mat. 10:24; Mrk. 13:4).

Kepada orang Kristen di kota Roma rasul Paulus menulis, "Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran...Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal" (Rm. 6:20, 22). Di sini kata asli yang digunakan untuk hamba adalah doulos, jadi "hamba dosa" artinya "seorang yang melayani dosa" atau orang yang tertawan oleh dosa dan tunduk kepada kemauan dari dosa itu. Sesuai dengan nubuatan nabi Yesaya, Kristus telah datang ke dunia ini "untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan...untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang" (Luk. 4:19).

"Tanpa Kristus, kita adalah hamba dosa, hamba terhadap dorongan-dorongan jahat dari sifat alamiah manusia yang telah jatuh. Kita hidup dalam cara yang mementingkan diri, menyenangkan diri kita sendiri gantinya hidup bagi kemuliaan Allah. Akibat yang tak terelakkan dari perhambaan rohani ini adalah kematian, karena upah dosa ialah maut" [alinea pertama].

Merdeka dari dosa. Berbicara kepada orang Yahudi di halaman Bait Allah, Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka" (Yoh. 8:34-36; huruf miring ditambahkan). Kata Grika yang diterjemahkan dengan "benar-benar" di sini adalah ontōs, satu-satunya di seluruh injil Yohanes, sebuah kata keterangan yang juga berarti sesungguhnya atau faktanya sebagai lawan kata dari pura-pura atau palsu. Jadi, kemerdekaan dari dosa yang Kristus sediakan adalah kebebasan sejati dari pengaruh dosa.

"Para pendengar Yesus percaya pada faktor keturunan mereka dari Abraham sebagai pengharapan mereka bagi kemerdekaan. Kita pun menghadapi risiko yang sama. Musuh itu ingin agar kita mengandalkan pada apa saja--contohnya: pengetahuan doktrin kita, kesalehan diri kita, atau catatan pelayanan kita bagi Allah--apa saja selain Kristus untuk kesalamatan kita. Tetapi tak satupun dari semua ini, betapapun itu kelihatan penting, memiliki kuasa untuk membebaskan kita dari dosa dan hukumannya. Satu-satunya Pembebas sejati adalah Anak itu yang tidak pernah diperbudak oleh dosa" [alinea ketiga: lima kalimat terakhir].

Seseorang yang dosa-dosanya diampuni adalah orang yang sangat berbahagia, terutama jika dia menyadari bahwa kepahitan hidupnya berkaitan langsung dengan dosa-dosanya di masa lampau. Dalam keyakinan seperti itulah maka seorang wanita tak dikenal yang tampaknya sudah lama ingin bertemu dengan Yesus itu telah datang sambil membawa satu buli-buli pualam berisi minyak wangi untuk mengurapi Yesus yang sedang berada di rumah Simon orang Farisi itu (Luk. 7:36-38). Yesus yang membaca pikiran Simon lalu menegur dan menyadarkan dia tentang arti pengampunan dosa, dengan berkata: "Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih" (ay. 47). Kemudian Yesus berpaling kepada perempuan itu, "Dosamu telah diampuni" (ay. 48).

Apa yang kita pelajari tentang dibebaskan dari dosa?
1. Menjadi "hamba dosa" adalah situasi di mana kita telah kehilangan kemampuan untuk mengamalkan kehidupan yang selaras dengan kehendak Tuhan, sebuah situasi di mana manusia tertawan oleh dosa dan di dalam dosa. Seperti Paulus kita pun akan berkata, "bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat" (Rm. 7:15).
2. Kedatangan Anak Allah yang pertama bukan saja untuk menyediakan jalan keselamatan bagi manusia, tetapi terutama untuk membebaskan kita dari belenggu dosa yang tak mampu dilawan oleh kekuatan kita. Kematian adalah akibat yang sah dari dosa; keselamatan adalah konsekuensi logis dari pengampunan dosa.
3. Dibebaskan dari dosa lebih luas dan dalam dari sekadar diampuni dari dosa, namun dibebaskan dari dosa selalu diawali dengan pengampunan dari dosa. Keadaan "diampuni dari dosa" membersihkan masa lalu seseorang, sedangkan "dibebaskan dari dosa" menyanggupkan dia mengalahkan dosa di masa depan.

Kamis, 24 Juli
BERKAT PENGAMPUNAN DOSA (Kristus Memberikan Hidup Kekal kepada Kita)

Janji hidup kekal. Bagi orang-orang yang hidup dalam perjuangan untuk bisa bertahan hidup, khususnya mereka yang terus-menerus bergumul dengan masalah ekonomi dan penyakit, mungkin janji hidup kekal tidak terlalu menarik kedengarannya ketimbang bagi mereka yang hidup bergelimang kekayaan dan sehat tanpa penyakit. Logikanya, hidup senang membuat seseorang lebih menghargai kehidupan dan menimbulkan keinginan untuk umur panjang, tetapi hidup susah cenderung mematikan hasrat terhadap kehidupan dan untuk hidup lama. Bagaimana supaya janji hidup kekal ini bisa menjadi tawaran yang menarik bagi semua orang, dan dengan demikian memicu keinginan mereka untuk percaya kepada Yesus Kristus, "supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal" (Yoh. 3:15)?

Secara aktual hidup kekal memang baru bisa dinikmati setelah kedatangan Yesus Kristus kedua kali ketika orang saleh diubahkan kepada kesempurnaan dan tubuh mereka mengenakan keadaan yang tidak akan binasa (1Kor. 15:52), tetapi secara faktual hidup kekal itu sudah dimiliki oleh setiap orang sejak mereka berada di bawah kasih karunia dan tidak dikuasai lagi oleh dosa selagi hidup di dunia sekarang ini (Rm. 6:14-15). Jadi, hidup kekal yang Yesus tawarkan bukan janji yang baru akan dipenuhi nanti tetapi itu adalah janji yang sudah bisa dinikmati sekarang juga.

"Bilamana Yesus menjadi Juruselamat kita, hidup kita memperoleh suatu makna yang sepenuhnya baru dan kita dapat menikmati kehidupan yang lebih kaya dan lebih lengkap. 'Aku datang,' Yesus berkata, 'supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan' (Yoh. 10:10). Gantinya kesenangan dunia yang fana, yang memenuhi kita tanpa benar-benar memuaskan kita, Ia menawarkan kepada kita suatu kehidupan yang diamalkan dalam cara yang sama sekali berbeda, penuh dengan kepuasan yang tiada habis-habisnya di dalam Dia. Hidup baru yang berkelimpahan ini mencakup seluruh keberadaan kita" [alinea ketiga: empat kalimat pertama].

Roti hidup. Yesus berkata, "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi...Inilah roti yang turun dari surga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia" (Yoh. 6:35, 50-51). Yesus mengucapkan kata-kata ini kepada orang banyak yang kemarin baru dikenyangkan oleh memakan roti jelai dan ikan dengan cara yang sangat ajaib sehingga mereka berniat hendak menobatkan-Nya sebagai raja (ay. 15).

Roti adalah makanan pokok masyarakat pada zaman itu, dan dengan menyebut diri-Nya sebagai "roti hidup" Yesus sedang meyakinkan orang banyak itu bahwa mereka sangat memerlukan Dia setiap hari. Roti yang mereka makan sehari sebelumnya itu hanya bisa memuaskan rasa lapar secara fisik yang bersifat sementara, tetapi roti hidup yang Yesus tawarkan kepada mereka akan memuaskan kebutuhan rohani yang berujung pada hidup kekal. Tawaran itu adalah pilihan yang dihadapkan kepada manusia, bukan paksaan. "Semua orang yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku. Aku tidak akan menolak siapa pun yang datang kepada-Ku," Yesus menjamin. Namun Ia juga menegaskan, "Tak seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa yang mengutus Aku tidak membawa dia kepada-Ku; dan siapa yang datang, akan Kubangkitkan pada Hari Kiamat" (ay. 37, 44, BIMK).

Pena inspirasi menulis: "Allah mengasihi mereka yang ditebus melalui Kristus, bahkan seperti Ia mengasihi Putra-Nya. Betapa sebuah pemikiran yang luar biasa! Dapatkah Allah mengasihi orang berdosa sebagaimana Ia mengasihi Putra-Nya sendiri? Ya; Kristus sudah mengatakannya, dan Ia mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Ia akan menghargai semua tuntutan kita kalau kita mau menggenggam janji-Nya oleh iman yang hidup dan menaruh percaya kita pada-Nya. Pandanglah kepada-Nya, dan hidup...Kebenaran yang ajaib, terlalu sukar bagi manusia untuk memahaminya!" (Ellen G. White, Selected Messages, Bk. I, hlm. 300).

Apa yang kita pelajari tentang janji hidup kekal yang akan diberikan oleh Kristus?
1. Hidup kekal yang Yesus tawarkan kepada anda dan saya tidak ada kaitannya dan tak sebanding dengan kehidupan sementara yang kita jalani sekarang ini. "Sebab aku yakin," kata Paulus, "bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita" (Rm. 8:18).
2. Secara jasmaniah hidup kekal yang dijanjikan Kristus itu akan dialami oleh semua orang saleh yang setia pada hari kedatangan-Nya yang kedua kali nanti, tetapi secara rohaniah setiap orang percaya yang menerima Dia sekarang sudah dapat menikmatinya. Kehidupan rohani yang kita amalkan sekarang akan bermuara kepada kehidupan jasmani yang akan datang.
3. Kristus adalah "roti hidup" yang akan mengenyangkan kebutuhan rohani apabila kita "memakan" roti hidup itu seperti memakan roti sehari-hari. 
Seperti kata Yesus, "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah" (Mat. 4:4; bandingkan dengan Ul. 8:3).

Jumat, 25 Juli
PENUTUP

Salib Kristus dan keangkuhan manusia. Tidak seperti Lusifer yang "hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi" (Yes. 14:14), Kristus sebaliknya telah "mengambil rupa seorang hamba, dan dalam keadaan sebagai manusia Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Flp. 2:7-8). Akibat dosa maka kita manusia mewarisi sifat kesombongan Lusifer, tetapi berkat pengaruh dari salib maka kita bisa mengembangkan tabiat Yesus Kristus yang rendah hati.

"Rencana keselamatan diagungkan di hadapan kita, dan pemikiran tentang Golgota menggugah perasaan-perasaan yang hidup dan suci di hati kita. Puji-pujian kepada Allah dan Anak Domba akan terdapat dalam hati kita dan bibir kita; karena kesombongan dan pemujaan diri sendiri tidak dapat tumbuh subur dalam jiwa yang senantiasa mengenang peristiwa Golgota" [alinea kesatu: dua kalimat terakhir].

Barangkali, dosa utama yang paling sulit ditaklukkan oleh manusia adalah kesombongan. Sejak kecil kepada kita sudah diajarkan dan ditanamkan rasa percaya diri yang memang diperlukan untuk menghadapi tantangan-tantangan hidup, tetapi di mata awam antara rasa percaya diri dan kesombongan batasnya sangat tipis bahkan seringkali saling bertumpang-tindih. Sementara untuk menjadi pengikut Kristus sejati kepada kita dituntut untuk rendah hati yang memang dibutuhkan dalam kehidupan rohani, padahal dalam pemandangan awam antara rendah hati dan rendah diri pun batasnya tipis sekali bahkan nyaris sulit dibedakan. Tetapi kunci kemenangan atas keangkuhan adalah pada salib Kristus yang sanggup menyerap dan meniadakan kesombongan manusia.

"Semakin kita merenungkan salib Kristus, kian sempurna kita akan meniru gaya bahasa sang rasul ketika dia mengatakan, 'tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.' Gal. 6:14" [alinea kedua: kalimat terakhir].

"Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku'" (Mat. 16:24).

(Oleh Loddy Lintong/California, 23 Juli 2014)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...