Syaloom

Selamat datang bagi pengunjung blog ini, terima kasih atas kunjungan anda pada blog ini anda dapat download lagu-lagu rohani khusus quartet (male or ladies) termasuk partitur yang kami telah sediakan.

Blog ini khusus saya buat untuk membantu teman-teman yang mempunyai hobi menyanyi lagu-lagu rohani tetapi pada saat tertentu tidak mempunyai cukup partiture. Dan sesuai dengan judulnya maka blog ini khusus dibuat untuk quartet grup vokal, apakah itu male quartet atau ladies quartet.

Banyak orang didunia ini dan hampir semua orang yang ada di jagad raya ini menyukai musik. Sebab itu saya ingin mengajak semua teman-teman yang ingin partisipasi dalam blog ini saya persilahkan untuk memberi saran dan bahan untuk memajukan grup-grup quartet. Sering kita menyanyikan sebuah lagu dengan baik dan pendengar cuma menyukai harmoninya saja tetapi pekabaran dalam lagu itu sendiri tidak didapat karena pendengar tersebut tidak mengerti bahasa yang dinyanyikan dalam lagu tersebut untuk itu melalui blog ini saya sekali lagi mengajak siapapun untuk urung rembuk agar blog ini disukai dan dapat bermafaat buat kita semua.

Untuk itu saya akan mencoba untuk mentransfer dari partiture aslinya kedalam bahasa Indonesia. Shalom regards,

GBU
E. Nanlohy



TRANSLATORS...

Jumat, 01 Agustus 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT DEWASA KE V AGUSTUS 2,2014: "MENGGAPAI KESELAMATAN"




Sabat Petang, 27 Juli
PENDAHULUAN

Ular tembaga dan keselamatan. Salah satu malapetaka yang menimpa bangsa Israel di tengah perjalanan menuju Kanaan adalah ketika Tuhan membiarkan ular-ular berbisa gurun Arabia menyerang mereka. Waktu itu rombongan sudah berada di dekat tanah perjanjian dan baru saja meninggalkan pegunungan Hor setelah menumpas suku Arad yang menyergap mereka, namun terpaksa mengambil jalan memutar ke arah barat karena raja Edom melarang mereka memotong jalan melewati wilayahnya. Mereka mengomel kepada Musa, menuding bahwa Tuhan membawa mereka keluar dari Mesir untuk membinasakan mereka di padang gurun itu. "Di sini tak ada makanan, dan air pun tak ada. Kami muak dengan makanan yang hambar ini!" sungut mereka (Bil. 21:5, BIMK). Hanya setelah mereka sadar dan bertobat, Allah berkenan menyelamatkan mereka dengan menyuruh Musa membuat ular-ularan dari tembaga dan memajangnya di atas tiang kayu supaya orang-orang yang sedang sekarat itu bisa sembuh oleh memandang kepada ular tembaga itu (ay. 8-9).

Dunia kedokteran memiliki simbol yang disebut "Tongkat Asclepius" (Staff of Asclepius) berupa sebuah tongkat yang dililiti seekor ular dengan posisi kepala di atas, seperti yang digunakan oleh IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Dalam mitologi Yunani purba, Asclepius adalah seorang manusia setengah dewa hasil perkawinan Appolo, dewa penyembuhan, dengan seorang wanita molek bernama Coronis. Konon di kuil tempat praktik menyembuhkan para pasiennya Asclepius memelihara banyak ular yang dianggapnya sebagai lambang kehidupan baru karena kebiasaan binatang melata ini yang suka berganti kulit. Sementara itu, dunia kedokteran Amerika maupun WHO (World Health Organization atau Organisasi Kesehatan Dunia) menggunakan simbol yang disebut "Tongkat Hermes" (The Karyceion of Hermes) berupa sebuah tongkat dengan sepasang sayap di bagian atas yang dililiti oleh dua ekor ular. Dalam mitologi Yunani purba, dewa Hermes sebenarnya tidak ada sangkut-pautnya dengan kesehatan atau penyembuhan penyakit, tetapi digambarkan sebagai pengantara para dewa dengan manusia sekaligus pelindung bagi para pengembara dan pembimbing roh-roh manusia yang sudah mati. Bangsa Romawi menamainya Dewa Merkurius, dan lambangnya disebut "Tongkat Merkuri" (The Caduceus of Mercury).

Kembali kepada kisah bangsa Israel di gurun Paran, jazirah Arabia, di mana Tuhan menghukum mereka dengan mendatangkan ular-ular berbisa yang memagut mereka sehingga banyak yang sekarat, bangsa itu hanya bisa selamat bila memandang ular tembaga buatan Musa yang dipajang di atas tiang kayu. Meskipun peristiwa ini berlangsung singkat, dan hanya tercatat dalam beberapa ayat saja pada kitab Bilangan, namun di sini Allah sedang mengajarkan mereka tentang Mesias, yaitu Yesus Kristus yang akan "ditinggikan" di atas salib supaya menyediakan keselamatan bagi manusia yang memandang-Nya. "Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal" (Yoh. 3:14-15; ayat inti).

"Tuhan ingin mengajarkan mereka sebuah pelajaran rohani. Ia mengubah lambang kematian menjadi lambang kehidupan. Ular tembaga itu adalah simbol Kristus yang menjadi Penanggung dosa-dosa kita supaya menyelamatkan kita. Oleh iman kita semua boleh melihat kepada Kritus yang ditinggikan pada salib itu dan menemukan obat bagi sengatan yang mematikan dari si ular tua, Setan. Kalau tidak, kita ditakdirkan untuk mati di dalam dosa-dosa kita" [alinea ketiga: empat kalimat pertama].

Bagi dunia, salib adalah lambang kematian; bagi surga salib adalah lambang keselamatan. Bagi manusia yang akan binasa salib adalah simbol kehinaan, tapi bagi orang-orang yang hendak diselamatkan salib adalah simbol keagungan. Bagi mereka yang tidak percaya, salib adalah tanda yang tiada arti; bagi orang-orang yang percaya, salib adalah tanda dengan makna abadi.

Minggu, 27 Juli
KESADARAN MEMBAWA KESELAMATAN (Kenali Kebutuhanmu)

Siapa perlu keselamatan? Menyadari kebutuhan selalu diawali dengan menyadari keadaan yang sesungguhnya. Anda tidak akan tergerak untuk berolahraga secara teratur sampai anda menyadari bahwa anda memerlukan gerak badan untuk memelihara kebugaran tubuh, dan anda tidak akan berusaha mencari pengobatan kalau anda tidak menyadari bahwa anda mengidap sesuatu penyakit yang bisa berbahaya. Demikian pula, kita tidak akan mencari keselamatan kalau kita tidak menyadari keadaan kita yang akan binasa akibat dosa. Yesus sendiri berkata, "Orang yang sehat tidak memerlukan dokter; hanya orang yang sakit saja. Aku datang bukan untuk memanggil orang-orang yang menganggap dirinya sudah baik, melainkan orang-orang yang berdosa supaya mereka bertobat dari dosa-dosa mereka" (Luk. 5:31-32, BIMK).

Kita memerlukan keselamatan sebab kalau tidak maut sudah menanti di depan (Rm. 6:23). Bahkan, dosa tidak saja menimbulkan kebinasaan abadi tapi juga memisahkan kita dari Allah (Yes. 59:1-2) dan membuat kita dalam kondisi tanpa harapan (Ef. 2:12). Melalui Yesus Kristus kita memiliki pengharapan untuk selamat (Rm. 5:8-10) dan didekatkan kembali dengan Allah (Kol. 1:21-22). Keadaan manusia yang berdosa seumpama seseorang yang tubuhnya sudah babak belur (Yes. 1:4-6), tetapi Yesus Kristus telah bersedia menanggung penderitaan kita "dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh" (Yes. 53:5). Dosa adalah penyakit yang tak dapat disembuhkan selain oleh darah Kristus.

"Maka, langkah pertama untuk menerima kesembuhan dari dosa ialah mengenali keadaan kita yang berdosa dan ketidakmampuan kita sama sekali untuk menyembuhkan diri kita sendiri. Tetapi bagaimana kita dapat menyadari kebutuhan kita kalau kita buta? Bagaimana kita dapat mengakui bahwa kita adalah orang berdosa jika sesungguhnya dosa kitalah yang merintangi kita untuk menyadari keadaan kita yang sebenarnya?" [alinea kedua].

Salep mata. Sebelum Yesus Kristus naik ke surga, Ia telah berjanji kepada murid-murid akan mengutus Penghibur (=Roh Kudus) untuk menemani mereka sebagai pengganti diri-Nya. "Dan kalau Ia datang," kata Yesus, "Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman" (Yoh. 16:8; huruf miring ditambahkan). Tetapi bukan saja dunia yang Roh Kudus hendak insafkan, tapi juga umat Tuhan sekalipun. Sementara manusia pada umumnya akan diinsafkan tentang keadaan mereka yang berdosa, umat Tuhan akan diinsafkan mengenai keadaan kerohanian mereka yang merasa diri kaya dan berpakaian padahal sebenarnya miskin dan telanjang.

Yesus menasihati, "Dan belilah pula obat untuk dioles di matamu supaya kalian dapat melihat" (Why. 3:18, BIMK). Tentu saja nasihat yang bersifat kiasan ini maksudnya ialah bahwa pandangan rohani kita perlu dipulihkan agar dapat melihat keadaan rohani kita sebagaimana apa adanya. Tetapi fakta bahwa nasihat ini ditujukan kepada jemaat Laodikia, yang sering diidentifikasikan sebagai gereja kita, menandakan bahwa umat Tuhan zaman ini masih belum seluruhnya ataupun sepenuhnya menyadari keadaan kerohanian mereka yang tidak memuaskan dalam pemandangan Tuhan. Nasihat ini dimaksudkan untuk mengatasi keadaan umat Tuhan di zaman akhir yang secara rohani "miskin, buta dan telanjang" (ay. 17). Secara historis, Laodikia pada abad permulaan dikenal sebagai kota di mana terdapat sebuah sekolah tinggi kedokteran mata yang dipimpin seorang dokter spesialis optalmologi ternama, dan juga tersohor sebagai kota penghasil obat mata yang sangat mujarab.

"Satu-satunya salep mata yang dapat membuat kita melihat keadaan kerohanian kita yang sebenarnya adalah Roh Kudus. Sebelum pekerjaan lain yang mungkin Ia hendak lakukan bagi kita, Ia harus meyakinkan kita akan dosa. Terus-menerus Ia menyerukan kepada hati nurani kita untuk menghasilkan dalam diri kita suatu kesadaran mutlak akan dosa-dosa kita serta perasaan bersalah yang mendalam, yang menuntun kita kepada kerinduan akan Juruselamat. Bila kita mendengar seruan itu, kita harus memperhatikan dan menurutinya; kalau tidak, cepat atau lambat kita akan begitu dikeraskan terhadap Roh Kudus sehingga tidak ada lagi yang bisa dilakukan bagi kita. Sungguh sebuah pemikiran yang menakutkan!" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang mengenali kebutuhan kita?
1. Keselamatan adalah tawaran paling berharga dari Allah kepada manusia yang sedang binasa karena dosa, maka penolakan terhadap keselamatan yang sangat berharga itu pada hakikatnya adalah penolakan kepada Allah. Dosa adalah penyakit yang paling mematikan, tetapi Yesus Kristus adalah satu-satunya obat yang paling mujarab.
2. Menolak tawaran keselamatan dari Allah berarti meremehkan akibat serius dari dosa yang dapat membawa kebinasaan, kecuali memang tidak menginginkan hidup kekal sebab merasa sudah cukup untuk hidup sementara sekarang ini. Orang berdosa yang sadar akan akibat dosa pasti mau menerima keselamatan yang Allah tawarkan.
3. Yesus berkata, "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" (Mat. 16:26). Masalahnya adalah mana yang lebih menarik, surga atau dunia; apakah kita menganggap bahwa keselamatan itu lebih berharga dari dunia ini atau tidak.

Senin, 28 Juli
LANGKAH MENUJU KESELAMATAN (Bertobat)

Penyesalan melahirkan pertobatan. Martin Luther, sang reformator, pernah berkata: "Kita diselamatkan hanya oleh iman, tetapi iman tidak datang sendirian." Apa yang dia maksudkan ialah bahwa meskipun manusia selamat hanya oleh iman kepada Yesus Kristus, tetapi selain iman ada hal-hal lain yang terkait dengan keselamatan itu, di antaranya adalah pertobatan dari dosa. Namun, pertobatan hanya bisa terjadi setelah ada penyesalan. Sesudah menyadari keadaan kita yang berdosa, dan bahwa akibat dosa adalah kebinasaan abadi, maka langkah selanjutnya untuk memperoleh keselamatan ialah bertobat. Pertobatan merupakan syarat bagi pengampunan dosa, dan bertobat artinya berhenti berbuat dosa. Rasul Petrus berkata, "Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan" (Kis. 3:19).

"Menyadari dosa-dosa kita tidaklah cukup; itu harus disertai dengan pertobatan. Makna alkitabiah dari pertobatan meliputi tiga aspek: pengakuan dosa seseorang, penyesalan karena telah berbuat dosa, dan kerinduan untuk tidak berbuat dosa lagi. Jika salah satu kurang, tidak ada pertobatan sejati...Kita bisa melihat pentingnya pertobatan oleh kenyataan bahwa Yohanes Pembaptis dan Yesus memulai pelayanan mereka oleh mengkhotbahkan: 'Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat' (Mat. 3:2; 4:17)" [alinea pertama: tiga kalimat pertama; alinea kedua, kalimat pertama].

Apa itu pertobatan? Kalau pertobatan adalah berhenti berbuat dosa, apakah itu artinya berhenti secara perlahan-lahan dan bertahap, atau harus berhenti secara mendadak? Mengenai pertobatan Alkitab mengajarkan, "hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan" (Luk. 3:8; huruf miring ditambahkan). Selain itu juga, "harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu" (Kis. 26:20; huruf miring ditambahkan). Jadi, pertobatan itu bersifat aktif (berbuat), bukan pasif (tidak berbuat). Hakikat dari pertobatan adalah berubah pikiran dan tindakan, dari melakukan hal-hal yang jahat dan melawan kehendak Tuhan menjadi perbuatan yang baik dan selaras dengan kehendak Tuhan.

Bertobat atau binasa. Latar belakang dari Lukas 13:1-5 ialah dua peristiwa berbeda yang menimbulkan korban jiwa di antara orang-orang Galilea, pertama adalah pembantaian atas perintah Pilatus dan kedua akibat bencana alam. Menurut sebuah cerita, Pilatus yang menaruh dendam pada orang-orang Galilea yang menentang rencananya untuk membangun saluran air dari kolam Salomo ke istananya atas bantuan dana dari Bait Suci telah memerintahkan pasukannya untuk membunuh mereka saat sedang mempersembahkan kurban bakaran di Bait Suci, lalu darah mereka dicampurkannya dengan darah hewan kurban. Pada peristiwa kedua, runtuhnya menara Siloam yang menimpa sebagian penduduk Yerusalem yang kebetulan sedang berada di bawahnya sehingga menimbulkan korban jiwa sebanyak 18 orang. Menurut konsep berpikir orang Yahudi waktu itu, terbunuhnya orang-orang itu adalah akibat dari dosa-dosa mereka. Tetapi Yesus berkata kepada orang-orang yang melaporkan peristiwa itu kepada-Nya, "Sama sekali tidak! Tetapi ingatlah: kalau kalian tidak bertobat dari dosa-dosamu, kalian semua akan mati juga, seperti mereka" (Luk. 13:3, 5, BIMK; huruf miring ditambahkan).

Kebinasaan (=kematian kekal) adalah akibat dari penolakan terhadap tawaran keselamatan dari Allah, dan penolakan terhadap tawaran itu menunjukkan kesombongan manusia. Sebaliknya, menyambut tawaran keselamatan dari Allah dengan cara menyesali dosa-dosa dan bertobat menunjukkan kerendahan hati serta penyerahan diri kepada-Nya. Pertobatan dari dosa menghasilkan keselamatan abadi, tetapi menolak untuk bertobat berarti memilih kebinasaan kekal.

"Yesus menegaskan keberdosaan semua orang. Karena itu, Ia mendesak para pendengar-Nya: 'jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa' (ay. 5). Tanpa pertobatan penebusan adalah mustahil, karena tidak adanya pertobatan menunjukkan bahwa orang banyak itu menolak untuk berserah kepada Tuhan...Kita tidak bertobat supaya Allah mengasihi kita, tetapi Ia menyatakan kasih-Nya kepada kita supaya kita boleh bertobat" [alinea ketiga dan kelima].

Apa yang kita pelajari tentang pertobatan?
1. Bertobat adalah hasil dari rasa bersalah dan penyesalan atas dosa, dan hanya dengan pertobatan yang sesungguhnya maka keselamatan bisa diraih. Dosa melahirkan kebinasaan, tetapi pertobatan menghasilkan keselamatan. Kebinasaan adalah lawan dari keselamatan, maka orang berdosa yang ingin selamat harus bertobat dari dosa-dosanya.
2. Pertobatan sejati bukan sekadar berhenti berbuat dosa, tetapi berubah pikiran dari melawan perintah Allah menjadi melakukan hal-hal yang sesuai dengan perintah-Nya. Seseorang yang pikiran serta hatinya telah diubahkan akan menjadi seorang yang tadinya giat berbuat dosa menjadi rajin melakukan kehendak Allah.
3. Pertobatan merupakan bukti dari kerendahan hati dan perasaan kasih kepada Allah. Tidak ada orang yang sombong dan membenci Allah bisa menyesali dosa-dosanya lalu bertobat, sebab penyesalan dan pertobatan berasal dari hati. Menerima keselamatan adalah menyambut kasih Allah.

Selasa, 29 Juli
IMAN DAN KESELAMATAN (Percaya pada Yesus)

Apa itu iman? Iman, sudah pasti, adalah dasar dari keselamatan. Kita diselamatkan oleh kasih karunia Allah yang kita terima oleh iman (Ef. 2:8) sebab oleh iman itu kita dibenarkan (Gal. 2:16), dan sebagai orang yang dibenarkan kita "berhak menerima hidup yang kekal" (Tit. 3:7). Karena keselamatan itu adalah kasih karunia Allah yang harus diterima melalui iman, yaitu percaya kepada Yesus Kristus, maka oleh iman kepada Yesus itu kita dibenarkan dan dengan itu kita berhak menerima hidup kekal. Jadi, keselamatan adalah hasil dari percaya kepada Yesus Kristus sebagai ujud kasih Allah kepada dunia ini (Yoh. 3:16). Nah, apa itu iman dan dari mana datangnya?

Kitabsuci menegaskan bahwa iman ialah percaya kepada "sesuatu yang kita harapkan" meskipun hal itu "tidak kita lihat" (Ibr. 11:1). Iman itu timbul dari mendengar firman atau pekabaran tentang Kristus (Rm. 10:17), dan iman merupakan pemberian dari Roh Kudus (1Kor. 12:9). Itulah sebabnya murid-murid memohon kepada Tuhan, "Tambahkanlah iman kami!" (Luk. 17:5). Kata "iman" dalam ayat-ayat ini berasal dari bahasa Grika, pistis, sebuah kata benda feminin yang berarti "keyakinan akan kebenaran dari sesuatu hal" yang dalam hal ini berkaitan dengan Tuhan (Strong; G4102). Dari kata ini lahirlah kata bentukan pisteuō (=orang percaya) dan kata kerja pistos (=setia/kesetiaan).

"Itu lebih dari sekadar perasaan yang samar-samar bahwa sesuatu akan benar-benar terjadi. Itu lebih dari sekadar sebuah latihan pikiran. Iman yang menyelamatkan bukanlah tanpa isi. Sebaliknya, iman memiliki suatu obyek yang pasti: Yesus Kristus. Iman ialah percaya bukan saja pada sesuatu tapi khusus pada Seseorang. Iman adalah percaya kepada Yesus dan kematian-Nya bagi kita" [alinea kedua: kalimat kedua hingga ketujuh].

Hasil dari iman. Dalam pelayanan-Nya semasa hidup di dunia ini Yesus beberapa kali mengaitkan penyembuhan orang-orang sakit dengan iman mereka. Fakta bahwa orang-orang itu datang kepada Yesus untuk memohon kesembuhan menunjukkan bahwa mereka percaya bahwa Yesus berkuasa untuk menyembuhkan penyakit mereka. Tetapi dengan mengatakan, "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau" seperti yang diucapkan-Nya kepada perempuan yang menderita sakit perdarahan menahun itu (Mat. 9:22), Yesus menyatakan bahwa iman bukan saja memberikan keselamatan di kemudian hari tetapi juga kesejahteraan dalam kehidupan sekarang ini. Iman membuat seseorang tergerak untuk datang kepada Yesus, dan dengan menghampiri Yesus seseorang tidak saja disembuhkan dari penyakit jasmani tetapi juga dari penyakit rohani yang lebih berbahaya.

"Dengan mengucapkan perkataan ini, Ia bukan memperuntukkan kuasa penyembuhan apapun terhadap iman mereka. Iman mereka itu hanyalah suatu kepercayaan sepenuhnya pada kuasa Yesus untuk menyembuhkan mereka. Kuasa iman tidak datang dari seorang yang percaya melainkan dari Allah terhadap siapa orang itu percaya" [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir].

Kepada perempuan yang datang kepada Yesus di rumah Simon dan meminyaki kepala Yesus dan membasuh kaki-Nya dengan parfum, Tuhan berkata: "Dosamu telah diampuni...Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" (Luk. 7:48, 50). Alkitab tidak memberikan keterangan yang tegas mengenai latar belakang kehidupan perempuan itu, selain indikasi bahwa wanita ini adalah seorang yang sangat terbebani oleh dosa-dosanya tetapi Yesus sudah memberinya pengampunan dan dengan demikian membuat dia merasa lega. Kata-kata "pergilah dengan selamat" adalah ungkapan yang lazim di kalangan bangsa Israel sebagai tanda merestui (baca 1Sam. 1:17-18).

Apa yang kita pelajari tentang perlunya percaya kepada Yesus Kristus dan keselamatan?
1. Kitabsuci mengajarkan dengan tegas bahwa keselamatan (=hidup kekal) hanya diperoleh dengan iman, itu bukan hasil usaha kita tetapi pemberian Allah (Ef. 2:8). Iman itu sendiri berasal dari Allah, bukan suatu kapasitas alamiah (=benih) dalam diri kita yang akan tumbuh dengan sendirinya bila ada pemicunya.
2. Iman adalah kemampuan untuk percaya bahwa sesuatu itu ada meski tidak kelihatan, percaya terhadap janji-janji Allah meskipun tampaknya "tidak logis" menurut akal manusia. Iman adalah suatu hal yang pasti; keragu-raguan anda dan saya tidak pernah akan membatalkan kepastian itu.
3. Iman menghasilkan keselamatan di akhirat dan juga kesejahteraan di dunia ini, termasuk kesembuhan dari penyakit. Iman bukan sesuatu untuk menguji Allah, sebaliknya iman adalah sarana oleh mana Tuhan menguji manusia. Iman adalah substansi dari setiap doa yang kita layangkan, tanpa iman maka doa kita sia-sia.

Rabu, 30 Juli
MENGENAKAN KEBENARAN KRISTUS (Pakaian Pesta)

Kebenaran yang dianugerahkan. Sebutan "orang Farisi" mungkin menjadi cibiran bagi banyak orang Kristen sekarang ini, antara lain karena stigma "munafik" seperti tercermin dalam ungkapan Yesus tentang mereka yang disamakan-Nya seperti kuburan, "yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran" (Mat. 23:27). Namun sebenarnya cara beragama orang Farisi itu sendiri, sejauh menyangkut ketaatan pada hukum Musa, selalu berusaha untuk sempurna sampai kepada hal-hal sepele. Masalahnya, dalam beragama orang Farisi lebih mementingkan penampilan luar ketimbang di dalam hati, atau yang kita sebut beragama secara formalitas.

Keberagamaan orang Farisi dan ahli Taurat lebih bersifat liturgis atau tatacara, bukan pengamalan yang substansial dari ajaran agama. Tidak heran kalau Yesus berkata bahwa cara beragama seperti para ahli Taurat dan kaum Farisi itu tidak akan menghasilkan keselamatan di akhirat (Mat. 5:20). Rasul Paulus menyebut keberagamaan secara lahiriah adalah sia-sia ketika dia mengatakan, "Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan" (Flp. 3:8-9; huruf miring ditambahkan).

"Beberapa orang lebih cermat dalam memelihara hukum itu secara harfiah daripada orang-orang Farisi. Namun demikian, mereka gagal sebab perilaku mereka lebih dimaksudkan untuk mengesankan manusia ketimbang menyenangkan Allah. Yesus mengamarkan kita agar tidak berbuat hal yang sama (Mat. 6:1). Lalu, bagaimanakah kita bisa menjadi benar di hadapan Allah? Perumpamaan tentang pesta pernikahan memberi petunjuk kepada kita dalam menemukan sumber kebenaran sejati" [alinea pertama: empat kalimat terakhir].

Kebenaran yang menyelamatkan. Mungkin perumpamaan Yesus tentang perjamuan kawin anak raja dalam Matius 22:2-14 di luar kelaziman budaya, sebab tidak ada masyarakat yang mempunyai tradisi menyediakan pakaian pesta untuk para tamu yang diundang. Biasanya para undangan datang dari rumah sudah mengenakan pakaian pesta mereka sendiri, yaitu pakaian yang paling bagus dengan model paling baru. Tetapi justeru di sinilah letaknya keistimewaan dari hakikat kisah ini, bahkan soal pakaian pesta yang disediakan oleh tuan rumah itulah inti pekabarannya. Ini perumpamaan tentang keselamatan, bukan cerita dongeng sebelum tidur.

Kalau anda menjenguk pasien yang sedang dirawat di ruang perawatan intensif (ICU) dan perawatan intensif jantung (ICCU), ruang perawatan bayi atau pasien-pasien dengan penyakit tertentu, biasanya rumahsakit mengharuskan pengunjung untuk memakai gaun atau jubah khusus yang disediakan sebelum diperbolehkan memasuki ruangan, terkadang bahkan harus mengganti alas kaki dengan sandal yang disediakan. Ada dua ciri utama dari gaun atau jubah yang disediakan itu, yakni kebersihan dan keseragaman. Barangkali pakaian yang anda pakai dari rumah itu lebih indah dan modis, bersih bahkan mungkin juga wangi, tetapi keindahan dan kebersihan pakaian anda itu tidak ada artinya. Rumahsakit memiliki standar mereka sendiri mengenai pakaian pengunjung, yaitu harus steril dan serupa bahan serta modelnya. Gaun milik rumahsakit itulah yang membuat anda dan saya boleh masuk ke ruang pasien yang hendak kita jenguk, tanpa itu kita akan ditolak dan tidak bisa memaksa masuk.

"Seperti dalam perumpamaan itu, Allah menyediakan pakaian yang kita perlukan. Ia telah membuat pakaian untuk Adam dan Hawa dan mengenakannya pada mereka (Why. 19:8), sebuah lambang tentang kebenaran-Nya yang membungkus orang berdosa. Tuhan juga menyediakan pakaian kebenaran Kristus bagi gereja-Nya, supaya gereja boleh 'dipersiapkan dalam kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih' (Why. 19:8), 'tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu' (Ef. 5:27). Pakaian ini, 'yakni kebenaran Kristus, tabiat-Nya sendiri yang tidak bercacat cela, yang melalui iman diberikan kepada semua orang yang menerima Dia sebagai Juruselamat pribadinya' (Ellen G. White, Perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus, hlm. 226" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang hubungan "pakaian pesta" dengan keselamatan?
1. Pakaian pesta dalam perumpamaan Yesus melambangkan kebenaran Kristus. Tak seorangpun dapat masuk ke dalam kerajaan surga dengan mengenakan kebenarannya sendiri, yaitu keberagamaan menurut pandangannya sendiri. Keselamatan adalah hasil dari kebenaran Kristus yang menutupi keberdosaan kita.
2. Kebenaran Kristus adalah sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma dan dipakaikan langsung oleh Allah sendiri, menandakan bahwa manusia tidak memiliki jasa apapun untuk dikreditkan pada keselamatan kita. Setiap orang yang percaya menerima kebenaran itu tanpa menghiraukan kondisi rohaninya.
3. Ada dua ciri utama dari "pakaian pesta" yang Allah sediakan untuk kita, yakni tanpa cacat atau cela dan juga seragam atau sama. Kebenaran Kristus adalah standar surgawi, sempurna dan serupa. Tidak ada orang yang masuk surga dengan kebenaran yang lebih baik dan berbeda dari orang lain, semuanya sama kualitasnya.

Kamis, 31 Juli
PENYANGKALAN DIRI (Mengikut Yesus)

Meninggalkan segalanya. Konsekuensi dari mengikut Yesus ialah meninggalkan segalanya, termasuk penyangkalan diri. Alkitab mencatat bahwa tatkala Yesus memanggil murid-murid-Nya yang pertama mereka langsung berdiri lalu berjalan dan meninggalkan apa saja yang sedang mereka kerjakan untuk kepentingan diri sendiri. Bahkan, ketika seseorang menyatakan kerinduannya untuk mengikut Yesus tetapi meminta izin untuk mengurus jasad orangtuanya yang baru meninggal, Yesus menjawab dengan tegas: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka" (Mat. 8:22). Mengikut Yesus bukan sekadar pilihan tetapi keputusan yang menuntut tindak lanjut segera tanpa basa-basi; mengikut Yesus adalah sebuah tindakan yang revolusioner.

Tentu saja keputusan untuk menjadi pengikut Yesus harus didasarkan pada iman, sebab hanya dengan percaya kepada Yesus kita bisa menjadi pengikut-Nya yang benar. Kepada orang-orang Yahudi yang mendengar khotbah-Nya dan percaya kepada-Nya, Yesus berkata: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku..." (Yoh. 8:31). Versi BIMK menerjemahkan bagian ini, "Kalau kalian hidup menurut ajaran-Ku kalian sungguh-sungguh pengikut-Ku..." Percaya kepada Yesus akan membuat kita tekun dalam menuruti ajaran-ajaran-Nya, dan ketekunan itu menunjukkan bahwa kita adalah murid (=pengikut) Kristus yang sejati. Kata Grika untuk murid atau pengikut pada ayat ini adalah mathētēs, sebuah kata benda maskulin yang juga berarti pembelajar (Strong; G3101).

"Sebagian orang berusaha untuk memisahkan iman pada Yesus dari ketaatan pada pengajaran-pengajaran Yesus, seolah-olah yang pertama itu lebih penting dari yang kedua. Tetapi Yesus tidak membuat perbedaan seperti itu. Bagi Dia, kedua aspek ini terkait dengan sangat erat dan merupakan dasar bagi pemuridan sejati. Seorang murid Yesus komit (=terikat janji) kepada Pribadi-Nya maupun kepada perkataan-Nya" [alinea kedua: empat kalimat pertama].

Risiko sebagai murid. Menjadi murid Yesus mengandung risiko sosial yang tidak kecil terhadap kehidupan seseorang, bukan saja dia mungkin akan dimusuhi oleh masyarakat dan sanak keluarganya, tetapi dia bahkan dituntut untuk "membenci" kaum keluarganya sendiri. Yesus berkata, "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku" (Luk. 14:26). Kata Grika yang diterjemahkan dengan membenci dalam ayat ini adalah miseō, sebuah kata kerja yang sebenarnya mengandung makna aktif dan pasif, yaitu "membenci" dan "dibenci" (Strong; G3404). Dalam pengertian aktif, membenci maksudnya ialah menyangkal atau menomorduakan. Jadi, risiko sebagai murid atau pengikut Yesus Kristus ialah "tidak menghiraukan" keluarga maupun diri sendiri tetapi "mengutamakan pengabdian" kepada Kristus.

"Yesus menggunakan kata kerja 'membenci' sebagai makna hiperbola dari 'kurang mengasihi.' Perikop yang paralel dalam injil Matius menjelaskan arti perkataan Yesus ini: 'Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku' (Mat. 10:37). Yesus harus mendapat tempat pertama dalam kehidupan kita kalau kita ingin menjadi murid-murid-Nya" [alinea terakhir].

Pena inspirasi menulis: "Mereka yang mau menjadi para pemenang harus merenungkan dan menghitung harga dari keselamatan. Dorongan kegairahan manusiawi yang kuat harus ditaklukkan; kebebasan berkehendak harus terbelenggu dalam Kristus. Orang Kristen mesti menyadari bahwa dirinya bukanlah miliknya sendiri. Dia akan menghadapi godaan-godaan untuk dilawan, dan pergumulan-pergumulan melawan kecenderungan-kecenderungannya sendiri; sebab Tuhan tidak menerima pelayanan setengah hati. Kemunafikan adalah suatu kebencian bagi-Nya. Pengikut Kristus harus berjalan oleh iman sementara memandang Dia yang tidak kelihatan. Kristus akan menjadi hartanya yang terindah, segala-galanya" (Ellen G. White, Review and Herald, 16 Juni 1896).

Apa yang kita pelajari tentang arti mengikut Yesus?
1. Menjadi pengikut Kristus yang sejati mengandung risiko dan konsekuensi yang besar dan berat, tetapi hal-hal itulah justeru yang menjadi keistimewaan dan kebanggaan rohani seorang murid Yesus. Kalau musuh terbesar untuk ditaklukkan adalah diri sendiri, maka orang Kristen tulen akan berhasil mengalahkannya.
2. Setiap pengikut Kristus sejati menyadari dua kewajiban ini: melayani Kristus tanpa pamrih dan mengamalkan ajaran-ajaran Kristus tanpa ragu. Kehidupan Kristiani adalah kehidupan penuh pergumulan yang sengit, oleh sebab perjalanan hidup orang Kristen adalah perjalanan yang berbatu dan terjal (2Kor. 12:10).
3. Kekristenan menuntut sikap militansi dan sifat sebagai syuhada, tetapi bukan untuk menyakiti orang lain melainkan untuk menanggung penderitaan sendiri. Kalau anda belum pernah mengalami kesengsaraan hidup demi mempertahankan iman Kristiani, mungkin anda belum menjadi seorang Kristen yang sesungguhnya.

Jumat, 1 Agustus
PENUTUP

Salib dan pertobatan. Pengalaman terbesar dan termulia bagi seorang Kristen adalah pengalaman pertobatan, yaitu ketika seseorang berhasil melepaskan diri dari cengkeraman dosa kesayangan yang kukuh justeru di saat dia merasa tidak berdaya. Pertobatan adalah pengalaman yang tidak menyenangkan pada waktu yang dianggap tidak tepat, karena itu hasilnya seringkali amat mencengangkan bagi orang yang bersangkutan maupun mereka yang menyaksikannya. Acapkali kita tidak pernah tahu seberapa kuatnya kita, sampai kita menyadari bahwa menjadi kuat adalah satu-satunya pilihan bagi kita!

Tidak ada orang yang sungguh-sungguh bertobat tanpa bantuan kekuatan Roh Kudus, dan tidak ada orang yang benar-benar diampuni dosanya tanpa bayangan salib Kristus yang menaunginya. Terkadang pertobatan terjadi tanpa kehendak kita sendiri, namun itu terjadi karena Allah dengan cara-Nya yang ajaib menggerakkan hati sanubari kita dan menyinari kita dengan kasih-Nya. Seorang yang terinspirasi oleh salib Kristus niscaya akan tergerak untuk bertobat karena kehangatan cahaya kasih Allah yang terpancar dari salib itu berkuasa mencairkan dosa-dosa yang sudah membatu sehingga meleleh dan terlepas jatuh.

"Sementara kita memandang Anak Domba Allah di atas salib Golgota, rahasia penebusan mulai terkuak dalam pikiran kita dan kebaikan Allah menuntun kepada pertobatan. Dalam kematian bagi orang-orang berdosa, Kristus menyatakan suatu kasih yang tak terduga; dan sementara orang berdosa memandang kasih ini hatinya dilembutkan, pikirannya dipengaruhi, dan penyesalan timbul di dalam jiwanya" [alinea kedua].

"Bila seorang yang jahat tidak berbuat dosa lagi, dan mulai menaati hukum-hukum-Ku, serta melakukan perbuatan yang baik dan benar, ia tidak akan mati. Semua dosanya akan diampuni; ia akan hidup, karena melakukan yang benar. Apakah kau pikir Aku, Tuhan Yang Mahatinggi, senang kalau orang yang jahat mati? Sama sekali tidak! Aku ingin ia meninggalkan dosa-dosanya supaya ia tetap hidup" (Yeh. 18:21-23, BIMK).

(Oleh Loddy Lintong/California, 31 Juli 2014)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...