Syaloom

Selamat datang bagi pengunjung blog ini, terima kasih atas kunjungan anda pada blog ini anda dapat download lagu-lagu rohani khusus quartet (male or ladies) termasuk partitur yang kami telah sediakan.

Blog ini khusus saya buat untuk membantu teman-teman yang mempunyai hobi menyanyi lagu-lagu rohani tetapi pada saat tertentu tidak mempunyai cukup partiture. Dan sesuai dengan judulnya maka blog ini khusus dibuat untuk quartet grup vokal, apakah itu male quartet atau ladies quartet.

Banyak orang didunia ini dan hampir semua orang yang ada di jagad raya ini menyukai musik. Sebab itu saya ingin mengajak semua teman-teman yang ingin partisipasi dalam blog ini saya persilahkan untuk memberi saran dan bahan untuk memajukan grup-grup quartet. Sering kita menyanyikan sebuah lagu dengan baik dan pendengar cuma menyukai harmoninya saja tetapi pekabaran dalam lagu itu sendiri tidak didapat karena pendengar tersebut tidak mengerti bahasa yang dinyanyikan dalam lagu tersebut untuk itu melalui blog ini saya sekali lagi mengajak siapapun untuk urung rembuk agar blog ini disukai dan dapat bermafaat buat kita semua.

Untuk itu saya akan mencoba untuk mentransfer dari partiture aslinya kedalam bahasa Indonesia. Shalom regards,

GBU
E. Nanlohy



TRANSLATORS...

Jumat, 15 Agustus 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT KE VII 16 AGUSTUS 2014: "MENGASIHI SEPERTI YESUS MENGASIHI"




"HIDUP SEPERTI YESUS"


Sabat Petang, 9 Agustus
PENDAHULUAN

Mengasihi sesama. Alkitab membuktikan bahwa perintah untuk saling mengasihi di antara sesama manusia sudah ada dalam PL. Namun Yesus mengulangi perintah itu dengan memberi penekanan baru ketika Ia berkata: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi" (Yoh. 13:34, ayat inti; huruf miring ditambahkan).

Kata Grika kainos (=baru) yang digunakan dalam ayat ini adalah sebuah kata sifat yang mengandung dua makna, yaitu bentuk dan substansi. Secara bentuk artinya "baru dibuat" atau "belum pernah digunakan," sedangkan secara substansif berarti "jenis baru" atau "belum pernah ada" (Strong; G2537). Dalam hal ini, dengan bukti bahwa perintah yang sama sudah pernah ada sebelumnya dalam hukum Musa (Im. 19:18), maka apa yang Yesus maksudkan dengan "perintah baru" di sini adalah sikap saling mengasihi sesama manusia dalam "bentuk dan pengertian yang baru."

"Sebelum penjelmaan Kristus, manusia tidak memiliki penyataan kasih Allah yang lengkap. Sekarang, melalui kehidupan-Nya yang tanpa pamrih dan kematian-Nya, Yesus menunjukkan makna yang sesungguhnya dan yang terdalam tentang kasih itu...Pekan ini, sementara kita memikirkan kelembutan Yesus dan kehidupan-Nya yang simpatik, penuh perhatian dan penuh pengasihan, biarlah hati kita terjamah dan dibentuk oleh prinsip yang aktif dari kasih ilahi-Nya yang merupakan tanda-air (watermark) dari Kekristenan sejati" [alinea kedua: dua kalimat terakhir; alinea terakhir].

Sesungguhnya, perintah Yesus untuk saling mengasihi di antara sesama manusia itu bukan saja ditujukan kepada murid-murid-Nya yang pertama pada abad pertama, melainkan itu ditujukan juga kepada semua murid Yesus sepanjang zaman--termasuk anda dan saya. Khususnya bagi orang Kristen, hidup saling mengasihi di antara saudara seiman adalah perintah Tuhan yang mesti diamalkan.

Minggu, 10 Agustus
BERCERMIN PADA HIDUP YESUS (Bagaimana Yesus Hidup)

Yesus dan kaum marginal. Kehidupan Yesus selama di dunia ini dekat dengan kaum marginal, yaitu golongan orang-orang yang terpinggirkan di masyarakat pada masa itu. Tradisi budaya bangsa Yahudi yang merupakan masyarakat patriarki, yaitu sistem sosial di mana lelaki dewasa adalah pusat otoritas kemasyarakatan, menempatkan kaum perempuan dan anak-anak sebagai warga masyarakat kelas dua yang tidak memiliki hak-hak sosial tertentu. Selain itu, keyakinan umum pada masa itu yang menganggap penyakit dan cacat jasmani sebagai kutukan dosa membuat masyarakat menganggap rendah orang-orang yang menderita sakit dan cacat tubuh, seperti halnya mereka memperlakukan kaum pendatang yang dianggap sebagai orang buangan karena tidak mempunyai tanah air sendiri, serta para pemungut cukai yang bekerja untuk penjajah sebagai pengkhianat dan pemeras bangsa sendiri.

Tetapi Yesus menegaskan bahwa Ia telah datang ke dunia ini bagi semua manusia, yaitu orang-orang yang sakit jasmani maupun rohani. "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa," kata-Nya (Mrk. 2:17). Pernyataan ini dibuktikan-Nya melalui pelayanan-pelayanan yang Ia lakukan bagi banyak orang, bahkan tak jarang dalam suatu pelayanan khusus untuk satu orang tertentu yang memerlukan pertolongan-Nya.

"Tangan-Nya yang penuh kerelaan selalu siap meringankan setiap kasus penderitaan yang Ia lihat. Dengan penuh kasih sayang Ia merawat orang-orang yang dianggap sepele oleh masyarakat, seperti anak-anak, kaum wanita, orang asing, penderita kusta, dan para pemungut cukai...Simpati dan perhatian-Nya yang murah hati terhadap kesejahteraan orang lain lebih penting bagi Dia daripada kebutuhan fisik-Nya sendiri akan makanan atau tempat berteduh. Sesungguhnya, bahkan di kayu salib Ia lebih peduli pada ibu-Nya ketimbang pada penderitaan-Nya sendiri (Yoh. 19:25-27)" [alinea pertama: kalimat keempat hingga kelima, dan dua kalimat terakhir].

Belas kasihan Yesus. Kepedulian Yesus terhadap kebutuhan manusia selalu didasari dan digerakkan oleh rasa belas kasihan, termasuk pada kebutuhan jasmani mereka. Ke mana saja Yesus pergi orang banyak mengikuti Dia, bukan semata-mata karena keperluan lahiriah mereka tapi seringkali karena rindu akan pengajaran-pengajaran-Nya yang menyegarkan dan memberi pengharapan. Matius mencatat, "Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala" (Mat. 9:36; huruf miring ditambahkan).

Kerapkali orang banyak itu betah mengikuti Yesus sampai berhari-hari lamanya dengan membawa kerabat dan sahabat mereka yang sakit untuk disembuhkan, sembari mendengarkan khotbah-khotbah Yesus sampai lupa makan seperti yang terjadi pada suatu hari di pesisir danau Galilea. "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu," kata Yesus kepada murid-murid-Nya. "Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan" (Mat. 15:32).

"Yesus peka pada kebutuhan manusia dan Ia sungguh peduli terhadap mereka. Hati-Nya menjangkau dengan belas kasihan kepada orang banyak itu yang lelah dan terlantar. Ia tergerak dengan belas kasihan terhadap pribadi-pribadi yang tak berdaya seperti dua orang buta di dekat kota Yerikho (Mat. 20:34), seorang penderita kusta yang memohon (Mrk. 1:40-41), dan seorang janda yang telah kehilangan putra satu-satunya (Luk. 7:12-13)...Setiap tindakan kemurahan, setiap mujizat, setiap perkataan Yesus didorong oleh kasih-Nya yang tak terbatas" [alinea kedua; alinea ketiga: kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang kehidupan Yesus yang penuh belas kasihan?
1. Selama masa hidup-Nya di atas bumi ini Yesus telah memberi keteladanan tentang belas kasihan dan kepedulian pada setiap kebutuhan manusia, khususnya golongan masyarakat yang terpinggirkan. Meskipun kebutuhan rohani manusia menjadi perhatian utama-Nya, Yesus juga peduli pada kebutuhan jasmani mereka.
2. Orang Kristen sejati bukan saja mengikuti ajaran-ajaran Yesus Kristus tetapi juga meneladani kehidupan-Nya, dalam hal ini adalah meniru belas kasihan dan kepedulian Yesus terhadap keadaan manusia. Secara rohani kita peduli akan keselamatan mereka, secara jasmani kita peduli pada kebutuhan fisik mereka.
3. Substansi dari kepedulian selalu bersifat aktif atau terdorong untuk bertindak, bukan pasif. Demikian pula, inti dari belas kasihan ialah kasih yang menemukan ujudnya dalam pelayanan dan pertolongan kepada sesama. Jiwa dari "kepedulian" dan "belas kasihan" adalah tindakan nyata, bukan sekadar perasaan.

Senin, 11 Agustus
MENGAMALKAN KEHIDUPAN YESUS (Kasihilah Sesamamu)

Mengasihi sesama. Pengajaran Yesus tentang kasih disampaikan-Nya dalam berbagai cara. Melalui khotbah, pengajaran, perumpamaan, dan terutama dinyatakan dalam tindakan keteladanan. Sebagai orang Kristen kita bukan saja menjadi penyambung lidah Kristus tapi juga penerus dari tindakan-tindakan kemanusiaan yang pernah Ia lakukan di dunia ini, khususnya dalam mengamalkan ajaran untuk mengasihi sesama manusia. "Untuk hidup seperti Yesus berarti menunjukkan kasih yang sama seperti Ia telah tunjukkan. Ia menggambarkan jenis kasih ini melalui perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Luk. 10:30-37)" [alinea pertama: dua kalimat pertama].

Yesus menyampaikan perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati sebagai jawaban atas pertanyaan seorang ahli Taurat yang pura-pura bertanya kepada Yesus bagaimana caranya untuk mendapatkan hidup kekal, tapi sebenarnya dia mau mencobai Yesus (Luk. 10:25). Tentu saja Yesus mengetahui niat tersembunyi ini, meski begitu Ia tetap saja melayani ahli Taurat itu. Tampaknya, tanpa disadarinya Yesus sedang menggunakan kesempatan itu untuk balas menguji pengetahuan sang pakar hukum tersebut mengenai esensi dari Hukum Allah. Ahli Taurat itu cukup cerdas ketika dia menjawab Yesus dengan mengutarakan inti dari Sepuluh Perintah, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (ay. 27).

Intisari dari Sepuluh Perintah sebagai hukum moral Allah bagi manusia ialah kasih vertikal terhadap Allah (empat hukum bagian pertama) dan kasih horisontal terhadap sesama manusia (enam hukum bagian kedua). Mengasihi Allah berarti melibatkan segenap diri kita seutuhnya--baik fisik, mental, sosial, dan spiritual; mengasihi sesama manusia berarti memperlakukan orang lain seakan-akan pada diri sendiri, dalam cara yang sama dan pada waktu yang sama--baik perhatian, kepedulian, dan keinginan.

Siapakah sesamaku manusia? Inilah pertanyaan yang diajukan ahli Taurat itu kepada Yesus. Pertanyaan ini kedengaran agak aneh, sebab pakar hukum Taurat itu bisa merangkum dengan tepat intisari dari Sepuluh Perintah itu tetapi tidak mengerti uraiannya sendiri. Kemampuan intelektualitas ahli Taurat ini jelas lebih baik dari orang muda kaya yang datang kepada Yesus dengan maksud serupa, yang ketika Yesus menyinggung tentang kewajiban menuruti perintah Allah dia hanya bisa menyebutkan isi hukum-hukum itu dan penurutannya secara normatif (Mat. 19:17-19). Sebagai pakar hukum Musa ahli Taurat tersebut dapat menyimpulkan esensi dari hukum itu, bagaimana mungkin dia tidak mengerti "siapakah sesama manusia" itu? Namun Alkitab mengatakan bahwa sang ahli Taurat hanya berpura-pura tidak tahu "untuk membenarkan dirinya" (Luk. 10:29).

Setiap orang Kristen tahu dan mengerti tentang makna dari perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati, sehingga di Amerika ungkapan "Good Samaritan" digunakan terhadap orang yang pertama kali memberi pertolongan kepada korban kecelakaan di jalan raya sebelum polisi dan petugas resmi tiba di lokasi. Tetapi makna dari "Orang Samaria yang Baik Hati" tentu jauh lebih mendalam dari itu, sebab hal itu berarti suatu sikap untuk berbuat baik kepada orang lain sekalipun orang itu memusuhi kita. "Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian," kata Yesus (Luk. 6:32-33). "Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka..." (ay. 35).

"Kita perlu secara khusus mengingat bahwa prinsip ini tidak mengatakan kepada kita untuk memperlakukan orang lain seperti mereka memperlakukan kita. Lagi pula, adalah mudah untuk bersikap baik kepada orang-orang yang baik terhadap kita atau berbuat jahat kepada orang-orang yang bersikap jahat kepada kita; hampir semua orang dapat berbuat begitu. Gantinya, kasih kita terhadap sesama manusia harus selalu terpisah dari cara kita memperlakukan sesama kita" [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang mengasihi sesama kita manusia?
1. Inti dari Sepuluh Perintah sebagai hukum moral Allah ialah kasih; kasih secara vertikal kepada Allah, dan kasih secara horisontal kepada sesama manusia. Yesus sendiri yang mengatakan hal itu (Mat. 22:36-40), dan hal yang sama dikemukakan oleh ahli Taurat yang berbicara dengan Yesus (Luk. 10:27).
2. Konsep Yesus tentang "sesama manusia" digambarkan dalam perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati, yakni setiap orang yang memerlukan perhatian dan pertolongan kita tanpa peduli apakah orang itu teman atau musuh. Orang Kristen sejati juga harus memiliki dan menerapkan "konsep sesama manusia" seperti itu.
3. Prinsip dari "sesama manusia" adalah bersifat independen atau netral, yaitu bebas dari pertimbangan maupun pengaruh. Ketika seseorang memerlukan pertolongan atau perhatian dan berada dalam jangkauan kita untuk menolong atau memberi perhatian, siapapun orang itu, orang Kristen sejati akan berbuat kebajikan itu tanpa pamrih.

Selasa, 12 Agustus
BERBUAT KEBAJIKAN UNTUK KRISTUS (Pelayanan Kasih*)

(*Judul asli: Loving Service)

Domba atau Kambing. Dalam khotbah-Nya Yesus memaparkan sebuah pratinjauan (preview) tentang suasana kedatangan kedua kali yang berkaitan dengan penggolongan manusia, antara yang akan selamat dengan yang akan binasa. "Apabila Anak Manusia datang sebagai Raja diiringi semua malaikat-Nya, Ia akan duduk di atas takhta-Nya yang mulia," kata Yesus. "Segala bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya. Lalu Ia akan memisahkan mereka menjadi dua kumpulan seperti gembala memisahkan domba dari kambing. Orang-orang yang melakukan kehendak Allah akan dikumpulkan di sebelah kanan-Nya, dan yang lain di sebelah kiri-Nya" (Mat. 25:31-33, BIMK; huruf miring ditambahkan).

Pokok pekabaran dari perumpamaan eskatologis ini terdapat pada pernyataan Yesus: "Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku" (ay. 40). Jadi, perbuatan kebajikan apapun yang kita lakukan atau yang lalai kita lakukan terhadap orang lain pada hakikatnya hal itu ditujukan kepada Yesus sendiri. Frase "saudara-Ku yang paling hina" dalam ayat ini merujuk kepada kaum marginal, yaitu orang-orang yang terpinggirkan atau disepelekan dalam jemaat maupun masyarakat luas.

"Pada akhir zaman akan ada banyak kejutan. Mereka yang berada pada sisi kanan Anak Manusia tidak pernah membayangkan bahwa manifestasi kasih mereka yang tidak mementingkan diri akan sangat menentukan. Kristus tidak akan memuji mereka karena khotbah-khotbah mengesankan yang mereka sampaikan, pekerjaan berharga yang mereka sudah lakukan, atau sumbangan-sumbangan kedermawanan yang mereka telah berikan. Gantinya, Kristus akan menyambut mereka ke dalam surga karena perhatian-perhatian sepele yang mereka lakukan terhadap saudara-saudara-Nya yang paling rendah...Mereka yang berada pada sisi kanan juga akan terkejut dengan alasan yang diberikan oleh Sang Raja atas keputusan-Nya" [alinea pertaa; alinea kedua: kalimat pertama].

"Saudara-Ku yang paling hina." Berbagai penafsiran telah muncul berkenaan dengan siapakah mereka yang Yesus maksudkan sebagai "saudara-Ku yang paling hina" dalam ayat di atas. Kata Grika elachistos yang diterjemahkan dengan "paling hina" di sini adalah sebuah kata sifat yang jika dikaitkan dengan manusia merujuk kepada seseorang yang paling rendah kedudukannya atau yang paling tidak diperhitungkan (Strong; G1646). Jadi, ini menyangkut penilaian dan perlakuan yang bersifat diskriminatif terhadap seseorang ataupun sekelompok orang. Ketika kita meremehkan seseorang atau sekelompok orang oleh karena status sosial mereka yang dianggap rendah, pada waktu itulah Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan orang atau kelompok itu. Sehingga perlakuan kita terhadap orang atau kelompok itu akan diperhitungkan Yesus sebagai perlakuan kita terhadap diri-Nya sendiri, untuk mana Dia akan menuntut pertanggungjawaban dari anda dan saya.

Dalam setiap komunitas selalu ada seseorang atau segolongan orang yang dianggap rendah dan disepelekan, baik di lingkungan masyarakat luas maupun di dalam persekutuan jemaat. Bahkan, disadari atau tidak, dalam struktur kepengurusan jemaat ada jabatan-jabatan yang oleh sebagian orang dipandang rendah dan seolah-olah jabatan-jabatan itu hanya untuk orang-orang dengan tingkat sosial tertentu. Sehingga kita sungkan untuk menempatkan orang-orang dari "kalangan atas" pada jabatan tersebut, atau mereka akan tersinggung jika jemaat memilihi mereka pada jabatan-jabatan itu. Sikap yang meremehkan seseorang ataupun sesuatu jabatan pada hakikatnya adalah menyepelekan Kristus yang sangat rendah hati itu.

"Para komentator telah menyodorkan berbagai penafsiran perihal siapakah 'saudara-Ku yang paling hina' (Mat. 25:40). Adalah penting untuk menentukan siapa mereka untuk mengetahui sejauh mana tanggungjawab Kristiani kita...Tidak disangsikan bahwa semua murid Yesus adalah saudara-saudara-Nya; tetapi ruang lingkup perkataan Yesus kelihatannya lebih luas lagi. Kristus 'menyamakan diri-Nya dengan setiap anak manusia...Dia adalah Anak Manusia, dan dengan demikian menjadi saudara bagi setiap anak laki-laki dan perempuan dari Adam" [alinea terakhir: dua kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang makna dari pelayanan kasih?
1. Pelayanan yang didasarkan pada kasih sejati adalah netral, tanpa pamrih, dan tidak pandang buluh. Ketika kita melayani seseorang atau sekelompok orang, sebagai orang Kristen yang benar kita mesti melakukannya dengan pemikiran bahwa kita sedang melayani Kristus sendiri. Pelayanan kasih Kristiani mengedepankan ketulusan hati, bukan pilih kasih.
2. Pada waktu Yesus datang kedua kali segala perbuatan kebajikan kita akan dinilai dan mendapat balasan. Hanya ada dua golongan, domba atau kambing; domba di sebelah kanan menerima pahala, kambing di sebelah kiri mendapat kutukan. Tidak ada kelompok "dom-bing" (setengah domba dan setengah kambing).
3. Seperti Kristus, setiap orang Kristen harus melayani dengan kasih kepada siapa saja, terutama kepada seseorang atau sekelompok orang yang karena keadaan mereka sering dianggap rendah. Orang-orang Kristen harus sadar dan waspada bahwa Yesus ada pada diri seorang atau sekelompok orang yang "hina" itu.

Rabu, 13 Agustus
KEMUSTAHILAN ATAU KENISCAYAAN (Kasihilah Musuhmu)

Melawan asas? Adalah mustahil untuk tidak mempunyai musuh sama sekali oleh sebab sikap permusuhan acapkali muncul dari pihak lain tanpa kita ingini dan yang tak dapat kita intervensi, tetapi mengasihi musuh selalu menjadi hak privasi kita yang juga tak dapat diintervensi oleh orang lain. Artinya, orang lain bisa saja memusuhi saya kalau dia mau, tetapi saya berhak untuk mengasihi dia kapan saja saya mau.

Menurut paham duniawi, mengasihi musuh adalah suatu kelemahan terbesar, tapi dalam Kekristenan justru itu suatu kejayaan. Bagi dunia mengasihi musuh adalah kemustahilan, bagi orang Kristen hal itu adalah keniscayaan. Mengasihi musuh melawan asas duniawi, namun hal itu selaras dengan asas surgawi. Gilbert K. Chesterton [1874-1936], penulis besar kelahiran Kensington, Inggris menulis: "Alkitab menyuruh kita untuk mengasihi sesama manusia dan mengasihi musuh kita karena mungkin pada umumnya mereka adalah orang-orang yang sama." Maksudnya, musuh kita itu adalah juga sesama manusia terhadap siapa kita harus mengasihi (Im. 19:18; Mat. 19:19).

Fakta bahwa perintah untuk mengasihi sesama manusia telah diturunkan sebagai hukum Allah melalui Musa, dan kemudian menjadi doktrin agama melalui pengajaran Yesus Kristus, menunjukkan bahwa aturan saling mengasihi di antara sesama manusia itu merupakan prinsip ilahi yang tidak pernah berubah. "Bukti tertinggi dari Kekristenan sejati ialah mengasihi musuh-musuh kita. Yesus menetapkan standar yang tinggi ini bertentangan dengan gagasan yang lazim pada zaman-Nya. Dari perintah, 'kasihilah sesama manusia seperti dirimua sendiri' (Im. 19:18), banyak yang telah menyimpulkan sesuatu yang Tuhan tidak pernah katakan atau rencanakan: kamu harus membenci musuhmu. Tentu saja itu tidak tersirat dalam ayat itu sendiri" [alinea pertama].

Mengapa mengasihi musuh? Kekristenan lahir di tengah memuncaknya agama legalistik Yahudi yang kaku dan kurang berbelas kasihan, di mana nilai kerohanian seseorang diukur lebih berdasarkan formalitas ketimbang ketulusan hati. Pada waktu itu masyarakat begitu materialistik, praktik peras-memeras berlangsung marak di antara sesama warga, dan kesenjangan sosial meluas di bawah tekanan kekuatan penjajah. Rakyat biasa yang kebanyakan adalah kaum miskin menjadi sasaran empuk pemilik modal yang tamak. Maka ketika Yesus Kristus tampil dengan ajaran-Nya yang lebih menekankan pada perbuatan kasih di atas dogma yang kering dan kaku, masyarakat luas menyambutnya dengan antusias dan para pemimpin agama jadi seperti kebakaran jenggot.

"Tetapi kepada kalian yang mendengar Aku sekarang ini, Aku beri pesan ini: kasihilah musuh-musuhmu, dan berbuatlah baik kepada orang yang membencimu. Berkatilah orang yang mengutukmu, dan doakanlah orang yang jahat terhadapmu," kata Yesus (Luk. 6:27-28, BIMK). "Dan kalau kalian meminjamkan uang hanya kepada orang-orang yang dapat mengembalikannya, apa jasamu? Orang berdosa pun meminjamkan uang kepada orang berdosa, lalu memintanya kembali! Seharusnya bukan begitu! Kalian sebaliknya harus mengasihi musuhmu dan berbuat baik kepada mereka. Kalian harus memberi pinjam, dan jangan mengharap mendapat kembali. Bila demikian, upahmu akan besar dan kalian akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi. Sebab Allah baik hati terhadap orang yang tidak tahu terima kasih, dan terhadap yang jahat juga. Hendaklah kalian berbelaskasihan seperti Bapamu juga berbelaskasihan!" (ay. 34-36, BIMK).

"Untuk membantu kita memahami perintah yang agung ini, Tuhan menggunakan tiga argumen. Pertama, kita harus hidup di atas standar dunia yang rendah. Bahkan orang-orang berdosa saling mengasihi, dan para penjahat pun saling tolong-menolong. Kalau mengikut Kristus tidak mengangkat kita untuk hidup dan mengasihi dalam cara yang lebih unggul dari kebaikan anak-anak dunia ini, lalu apa yang menjadi nilai lebihnya? Kedua, Allah akan membalas kita karena mengasihi musuh-musuh kita; walaupun kita tidak mengasihi karena upah, Ia akan menganugerahkannya kepada kita dengan sukacita. Dan ketiga, jenis kasih seperti ini adalah bukti dari hubungan kita dengan Bapa semawi kita, yang 'baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih, dan terhadap orang-orang jahat' (Luk. 6:35)" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang ajaran Kristus untuk mengasihi musuh?
1. Bagi orang Kristen sejati, mengasihi musuh bukan semata-mata pengamalan ajaran Yesus tetapi lebih dari itu adalah sebuah kesempatan istimewa untuk mengamalkan kasih surgawi yang lebih unggul dari standar duniawi. Kekristenan mengangkat manusia berdosa ke taraf moral yang tak mungkin dijangkau oleh dunia.
2. Argumentasi yang paling jitu tentang alasan mengapa kita harus mengasihi musuh ialah berdasarkan fakta bahwa Allah sendiri menunjukkan kasih-Nya kepada semua orang, baik atau jahat (Mat. 5:45). Kalau Allah tidak membeda-bedakan orang, apakah mereka mengasihi atau memusuhi Dia, mengapa umat-Nya membeda-bedakan orang?
3. "Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?" (Mat. 5:46-47).

Kamis, 14 Agustus
TANTANGAN TERBESAR ORANG KRISTEN (Bagaimana Untuk Hidup Seperti Yesus)

Mengikut jejak Kristus. Alkitab menegaskan, "Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup" (1Yoh. 2:6). Versi BIMK menerjemahkan ayat ini: "Barangsiapa berkata bahwa ia hidup bersatu dengan Allah, ia harus hidup mengikuti jejak Kristus." Mengikut jejak Kristus berarti mengamalkan cara hidup Yesus secara utuh, bagaimana Dia menjalin hubungan-Nya dengan Allah maupun berinteraksi dengan manusia. Lebih jauh rasul Yohanes menulis, "Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya" (ay. 10-11).

Pertanyaannya, mungkinkah bagi seorang manusia berdosa untuk hidup seperti Tuhan? Pertanyaan yang sangat klasik ini menyiratkan kemustahilan bagi mereka yang tidak percaya, tapi sebaliknya mengandung tantangan bagi mereka yang percaya. Manakala Yesus berkata, "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna" (Mat. 5:48), tentu saja Ia tidak sedang menyuruh kita untuk melakukan sesuatu yang mustahil melainkan sebuah tantangan yang mampu kita laksanakan. Begitu juga, tatkala Firman Tuhan mewajibkan kita untuk mengamalkan kehidupan seperti Kristus, itu lebih sebagai dorongan untuk mencapai standar kehidupan yang Yesus inginkan.

"Ajaran Yesus menentukan suatu idaman kehidupan mengasihi dan tidak mementingkan yang sedemikian tinggi sehingga kebanyakan dari kita mungkin merasa kewalahan dan putus asa. Bagaimanakah kita yang secara alami adalah egoistis dapat mengasihi sesama kita tanpa pamrih? Lagi pula, apakah mungkin bagi kita untuk mengasihi musuh-musuh kita? Dari sudut pandang manusiawi hal itu sama sekali tidak mungkin" [alinea pertama].

Tinggal di dalam Kristus. Ada korelasi positif antara tinggal di dalam Kristus dengan mengikut jejak Kristus, di mana yang pertama menyediakan "energi" yang diperlukan untuk menjalankan yang kedua. Tinggal di dalam Kristus, seperti yang telah kita pelajari pekan lalu, melambangkan kebergantungan kita manusia terhadap kuasa ilahi supaya dapat berbuat sesuatu. "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu," kata Yesus. "Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku" (Yoh. 15:4).

"Kebutuhan kita setiap hari bukan hanya menerima lagi kematian Kristus bagi kita, tetapi menyerahkan keinginan kita kepada-Nya dan tinggal di dalam Dia. Dalam cara di mana Yesus sendiri tidak mencari keinginan-Nya sendiri tetapi kehendak Bapa (Yoh. 5:30), demikianlah kita harus bergantung pada Yesus dan kehendak-Nya. Sebab tanpa Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa" [alinea keempat].

Pena inspirasi menulis: "Allah menuntut penyerahan seutuhnya. Anda tidak dapat menerima Roh Kudus sampai anda mematahkan setiap kuk perhambaan, segala sesuatu yang mengikat anda pada ciri-ciri tabiat anda yang lama dan tak disukai. Inilah rintangan-rintangan besar bagi anda untuk memikul kuk Kristus dan belajar dari pada-Nya (Mat. 11:29). Ketenteraman abadi--siapa yang memiliki itu? Ketenteraman itu didapatkan bilamana semua sifat membenarkan diri, semua pertimbangan dari pendirian yang mementingkan diri, disingkirkan. Kedekatan dengan Kristus membuat anda mau tinggal di dalam Dia, dan Dia di dalam anda. Penyerahan diri sepenuhnya dituntut" (Ellen G. White, Bible Training School, 1 Agustus 1903).

Apa yang kita pelajari tentang bagaimana untuk hidup seperti Yesus?
1. Selama Yesus hidup di dunia ini banyak orang yang memusuhi Dia, tetapi Yesus tidak membenci mereka tetapi mengasihi mereka. Orang banyak yang atas pengaruh para pemimpin agama telah meneriakkan, "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!" (Yoh. 19:15), tidak membuat Yesus membatalkan kesediaan-Nya untuk mati juga bagi orang-orang itu.
2. Mengasihi musuh adalah tidak logis, tapi dalam Kekristenan logika bukan ukuran. Tapi bagaimana kita dapat mengasihi musuh kalau terhadap saudara sendiri saja kita menaruh benci? Rasul Yohanes mengibaratkan orang yang membenci saudaranya seperti sedang hidup dalam kegelapan dan tersesat (1Yoh. 2:11).
3. Rahasia keberhasilan untuk hidup seperti Yesus, dan dengan demikian mampu mengasihi musuh, adalah bila kita tetap tinggal di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita. Sebaliknya, mustahil bagi seorang manusia untuk hidup seperti Yesus kalau Yesus tidak tinggal di dalam hatinya dan dia sendiri tidak tinggal di dalam Yesus.

Jumat, 15 Agustus
PENUTUP

Rasa simpati. Dalam psikologi dikenal apa yang disebut "sympathy pains," yaitu sensasi nyeri yang dirasakan seseorang karena melihat orang lain menderita rasa sakit, khususnya di antara dua orang yang memiliki keintiman hubungan. Misalnya suami yang turut merasakan sakit yang dialami sang istri yang hendak melahirkan, atau di antara anggota keluarga lainnya maupun sahabat karib. Hasil penelitian para ilmuwan menunjukkan bahwa fenomena ini terjadi akibat terjadinya peningkatan aktivitas di bagian "sistem saraf cermin" (mirror neuron system) pada otak orang yang menyaksikan penderitaan orang lain itu sehingga memicu gejala rasa nyeri pada dirinya sendiri. Jadi semacam rasa sakit yang mengandung sifat imitasi (meniru), di mana semakin erat hubungan antara orang yang menyaksikan dengan penderita maka kian berat pula rasa nyeri yang turut dirasakan.

Ayub sempat mengeluh ketika dalam penderitaannya yang hebat itu dia merasa seakan ditinggalkan sendirian, sehingga dia berkata kepada Tuhan: "Sesungguhnya, masakan orang tidak akan mengulurkan tangannya kepada yang rebah, jikalau ia dalam kecelakaannya tidak ada penolongnya? Bukankah aku menangis karena orang yang mengalami hari kesukaran? Bukankah susah hatiku karena orang miskin?" (Ay. 30:24-25). Ayub mengeluh, kenapa manusia yang secara alami dilahirkan dengan rasa simpati dan empati tetapi tak ada seorangpun yang datang kepadanya untuk menghibur dirinya dengan menunjukkan rasa simpati dan empati?

"Semua orang di sekeliling kita adalah jiwa-jiwa yang malang dan menghadapi ujian yang memerlukan kata-kata simpati dan tindakan pertolongan. Ada perempuan janda yang membutuhkan simpati dan bantuan. Ada anak yatim yang Kristus telah tawarkan kepada para pengikut-Nya untuk terima sebagai tanggungjawab dari Allah...Bukanlah besarnya pekerjaan yang kita lakukan, tetapi kasih dan kesetiaan dengan mana kita melakukannya itulah yang mendapat perkenan Juruselamat" [alinea pertama: tiga kalimat pertama; alinea kedua].

Turut merasakan penderitaan yang dialami oleh orang lain adalah bagian dari aspek afektif seorang manusia normal, semacam rasa peri kemanusiaan yang secara alami terdapat dalam diri kita. Sayangnya, ada sebagian orang yang justru merasa senang kalau melihat orang lain susah, dan merasa susah kalau melihat orang lain senang!

"Kesimpulannya ialah: hendaklah Saudara-saudara seia sekata dan seperasaan. Hendaklah kalian saling sayang-menyayangi seperti orang-orang yang bersaudara. Dan hendaklah kalian saling berbelaskasihan dan bersikap rendah hati. Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki; sebaliknya balaslah dengan memohonkan berkat dari Allah. Sebab Allah memanggil kalian justru supaya kalian menerima berkat daripada-Nya" (1Ptr. 3:8-9, BIMK).

(Oleh Loddy Lintong/California, 13 Agustus 2014)

Jumat, 08 Agustus 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT KE VI 9 AGUSTUS 2014: "MENJADI ORANG KRISTEN YANG BERTUMBUH"










Sabat Petang, 2 Agustus
PENDAHULUAN

Hidup baru. Salah satu ciri utama dari sebuah kehidupan ialah adanya pertumbuhan; suatu organisme dianggap mati kalau berhenti bertumbuh. Dalam Kekristenan pertumbuhan itu sangat penting sebab menyangkut keselamatan, sehingga rasul Petrus menasihati kita untuk menjadi seperti bayi "yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan" (1Ptr. 2:2). Kita harus bertumbuh dalam hal iman (2Kor. 10:15) dan dalam pengetahuan yang benar tentang Allah (Kol. 1:10).

Sampai pada batas manakah kita harus bertumbuh? Menurut rasul Paulus, setiap orang Kristen harus bertumbuh "sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala" (Ef. 4:13-15; huruf miring ditambahkan).

Kekristenan mengajarkan pertumbuhan baru dari titik awal sejak seseorang mengenal Kristus, yang istilah teologianya adalah "dilahirkan kembali." Seperti Yesus jelaskan kepada Nikodemus, seorang pemuka agama Yahudi yang datang kepada-Nya untuk mencari kepastian akan keselamatannya. Sebagai pemimpin dan cendekiawan agama dapat dipastikan bahwa Nikodemus adalah seorang yang taat hukum agama dan memiliki rekam-jejak yang baik, mungkin juga dalam hal kehidupan beragama dia menjadi panutan bagi banyak orang. Tetapi Yesus menasihatinya, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah" (Yoh. 3:3; ayat inti).

"Dengan sabar Yesus menjelaskan bahwa perubahan rohani adalah sebuah pekerjaan supra alami yang dihasilkan oleh Roh Kudus. Walaupun kita tidak bisa melihat atau memahami bagaimana hal itu terjadi, kita dapat merasakan hasilnya. Kita menyebutnya pertobatan, hidup baru di dalam Kristus. Meskipun kita selalu harus ingat bagaimana Tuhan memanggil kita dan mempertobatkan kita, tantangan kita ialah untuk tinggal teguh di dalam Dia setiap hari sehingga Ia dapat mengubah kita semakin lebih menyerupai citra-Nya" [dua alinea terakhir].

Dalam Kekristenan, keselamatan tidak ditentukan oleh kehidupan masa lalu seseorang melainkan pada kehidupannya di masa depan. Secara jasmani (aktual) hidup kekal itu akan dinikmati sepenuhnya di dunia baru, tetapi secara rohani (faktual) keselamatan harus sudah dimulai dalam kehidupan sekarang ini. Kekristenan adalah hidup baru di dalam Kristus dan bertumbuh di dalam Kristus.

Minggu, 3 Agustus
MEMILIKI HATI BARU (Dilahirkan Kembali)

Dilahirkan "dari atas." Nikodemus adalah seorang tokoh cukup berpengaruh di kalangan orang Yahudi pada zaman Yesus. Sebagai guru agama dan anggota Sanhedrin, mahkamah agama Yahudi yang memiliki otoritas besar, tentu saja Nikodemus adalah seorang yang cerdas dan menguasai hukum Taurat. Namanya muncul dalam kitab Yohanes pada tiga peristiwa berbeda, pertama ketika dia bertemu dengan Yesus pada tengah malam (3:1-21), kedua saat dia membela Yesus di hadapan kolega-koleganya sesama kaum Farisi (7:45-51), dan ketiga pada waktu dia bersama Yusuf orang Arimatea menurunkan mayat Yesus dari kayu salib untuk dimakamkan secara wajar (19:39-42). Dalam tradisi Yahudi, dan juga diyakini oleh banyak peneliti Alkitab, dirinya diidentikkan dengan Nikodemus ben Gurion yang adalah seorang yang berpengaruh dan kaya raya yang hidup di Yerusalem pada abad pertama. Nikodemus--artinya "penakluk banyak orang"--berayahkan seorang bernama Gurion.

Pokok pekabaran yang Yesus sampaikan kepada Nikodemus adalah juga pekabaran bagi setiap orang Kristen. "Manusia secara jasmani dilahirkan oleh orang tua, tetapi secara rohani dilahirkan oleh Roh Allah. Jangan heran kalau Aku mengatakan: kamu semua harus dilahirkan kembali," kata-Nya (Yoh. 3:6-7, BIMK; huruf miring ditambahkan). Frase "dilahirkan kembali" secara harfiah berarti "dilahirkan dari atas" yang merujuk kepada transformasi rohani. Rasul Paulus menjelaskan tentang hal ini ketika dia menulis, "Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu...Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus..." (Ef. 2:1, 4-5).

"Tidak diragukan bahwa Nikodemus, seorang guru di Israel, mengetahui Kitabsuci Perjanjian Lama yang bertutur tentang kebutuhan akan sebuah 'hati baru' serta kerinduan Allah untuk menciptakannya di dalam diri kita (Mzm. 51:10; Yeh. 36:26). Yesus menjelaskan kepada Nikodemus kebenaran ini dan bagaimana hal itu dapat terjadi" [alinea ketiga].

Baptisan dengan air dan roh. Kita mungkin bertanya: mana yang sebenarnya lebih dulu terjadi, baptisan dengan air atau dengan Roh? Logikanya, kalau Roh tidak bekerja lebih dulu di dalam hati mana mungkin seseorang mau menerima Kristus dan dibaptis--kecuali kalau orang itu dibaptis tanpa kesadaran yang benar atau karena motivasi tertentu. Baptisan dengan air seharusnya merupakan pengakuan kita di hadapan umum bahwa kita sudah menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi dan percaya kepada-Nya, tapi baptisan dengan Roh adalah yang mempersatukan kita dengan Kristus. Rasul Paulus menulis, "Begitu juga kita semua, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, hamba-hamba maupun orang-orang merdeka; kita semua sudah dibaptis oleh Roh yang sama itu, supaya kita dijadikan satu pada tubuh Kristus itu. Kita semua juga mengalami Roh yang satu itu sepenuhnya" (1Kor. 12:13, BIMK; huruf miring ditambahkan).

Pada waktu seseorang dibaptis dengan cara diselamkan di dalam air itu melambangkan berakhirnya kehidupan yang lama dan mulainya suatu kehidupan yang baru. Banyak orang Kristen yang dengan yakin merasa bahwa pada saat menerima baptisan itu dia benar-benar sudah bertobat, dan mungkin hal itu merupakan "modal" yang berharga bagi dia untuk memulai suatu hidup baru. Tetapi oleh sebab kita masih terus hidup di dunia yang penuh dosa ini maka dengan berjalannya waktu kita pun mulai kembali kepada cara hidup yang lama. Kenyataan ini menyadarkan kita bahwa kita masih memerlukan baptisan dengan Roh Kudus sampai hati kita benar-benar sudah diperbarui. Barangkali baptisan dengan air cukup satu kali, tetapi baptisan dengan roh harus berlangsung terus-menerus sampai kita dapat berkata bersama Paulus, "bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku" (Gal. 2:20).

"Ada persamaan antara kelahiran jasmani dan rohani. Keduanya menandai permulaan suatu kehidupan baru. Lagi pula, tidak ada dari kelahiran itu yang kita hasilkan sendiri; itu dilakukan bagi kita. Tetapi ada juga perbedaan penting di antara keduanya: kita tidak bisa memilih kalau kita ingin dilahirkan secara jasmani; namun, kita dapat memilih untuk dilahirkan secara rohani. Hanya mereka yang dengan bebas memutuskan untuk mengizinkan roh Kudus menghasilkan suatu pribadi rohani yang baru dalam diri mereka yang dilahirkan kembali. Allah menghormati kebebasan kita, dan meskipun sangat rindu untuk mengubah kita, Ia tidak mengubah kita dengan paksa" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang perlunya "dilahirkan kembali"?
1. Sebagai orang Kristen memiliki pengetahuan tentang Alkitab saja tidak cukup, tapi kita harus memiliki hati yang baru. Pengetahuan mengenai firman Allah tentu saja penting karena atas dasar itulah seorang Kristen mengetahui kebutuhannya untuk mengamalkan hati yang diubahkan. Mempunyai hati baru berarti mengamalkan cara hidup baru.
2. Tidak ada seorang manusia yang dapat memilih tentang kelahirannya secara jasmani, siapa orangtuanya atau di mana dia ingin dilahirkan. Namun, kelahiran baru secara rohani adalah pilihan setiap orang. Anda dan saya mempunyai kebebasan sepenuhnya untuk memilih ataupun menolak tawaran hati baru dari Allah.
3. Baptisan dengan air dapat dilakukan oleh manusia, yakni pendeta yang sudah diurapi dan memiliki otoritas dari gereja untuk melakukannya. Namun, baptisan dengan Roh hanya dapat dilakukan oleh Tuhan. Yohanes Pembaptis sendiri mengaku hanya bisa membaptiskan dengan air, tetapi Kristus lebih berkuasa membaptiskan dengan roh (Mrk. 1:8; Luk. 3:16; Kis. 1:5).

Senin, 4 Agustus
CIPTAAN BARU (Hidup Baru di Dalam Kristus)

Pekerjaan Roh Kudus. Kitabsuci memberikan definisi dari sebuah kelahiran baru secara rohani: "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2Kor. 5:17; huruf miring ditambahkan). Tidak mungkin ada kehidupan rohani yang baru di luar Kristus, dan hal itu hanya bisa terjadi oleh pekerjaan Roh Kudus yang mempengaruhi seorang berdosa untuk bertobat. Kelahiran baru berkaitan langsung dengan keselamatan sebab, seperti kata Yesus kepada Nikodemus, "jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah" (Yoh. 3:3).

Roh Kudus bekerja seperti angin, prosesnya di dalam hati tetapi hasilnya tampak dari luar melalui perilaku seseorang. "Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi," kata Yesus. "Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh" (Yoh. 3:8). Terkadang kita tidak dapat mengerti apa yang Roh Kudus dapat lakukan untuk mengubah diri kita sampai perubahan itu dapat kita rasakan dan alami.

"Roh bekerja tak terlihat, tetapi hasil kegiatannya terlihat. Orang-orang di sekitar kita akan mengetahui bahwa Yesus telah menciptakan satu hati yang baru dalam diri kita. Roh selaku menghasilkan penampilan lahiriah dari perubahan batiniah yang Ia lakukan dalam diri kita. Seperti Yesus katakan, 'dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka' (Mat. 7:20)" [alinea ketiga: empat kalimat terakhir].

Menjadi manusia baru. Kelahiran baru di dalam Kristus terjadi "oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus" (Tit. 3:5), dan dengan demikian kita menjadi ciptaan baru karena "yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2Kor. 5:17). Bahkan, bagi orang Yahudi yang menerima Yesus Kristus, "disunat atau tidak disunat, itu tidak penting. Yang penting ialah menjadi manusia baru" (Gal. 6:15, BIMK). Tapi, apa artinya menjadi manusia baru?

Alkitab mengajarkan tentang baptisan yang diselamkan di dalam air sebagai lambang dari "mati bagi dosa" (Rm. 6:2) dan dibaptis dalam kematian Kristus (ay. 3). "Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru" (ay. 4). Jadi, ketika tubuh kita dibenamkan di dalam air pada upacara baptisan hal itu mengibaratkan kematian terhadap dosa, dan dengan keluar dari air melambangkan bahwa kita sudah dibangkitkan sebagai manusia baru yang telah dibersihkan dari segala dosa.

"Melalui Roh Kudus, Kristus menanamkan dalam diri kita pemikiran, perasaan, dan motivasi baru. Ia membangkitkan hati nurani kita, mengubah pikiran kita, menundukkan setiap keinginan yang tidak suci, dan mengisi kita dengan kedamaian surga yang manis. Meskipun perubahan itu tidak terjadi seketika, dari waktu ke waktu kita menjadi ciptaan baru di dalam Kristus" [alinea terakhir: tiga kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang hidup baru di dalam Kristus?
1. Hidup baru di dalam Kristus ialah manusia lama yang diciptakan baru oleh pekerjaan Roh Kudus setelah kita menerima baptisan dengan air. Walaupun baptisan itu adalah pilihan kita sendiri, menjadi manusia baru adalah kehendak Allah bagi diri kita supaya kita bisa memiliki hati baru dengan ciri tabiat yang baru pula.
2. Ciptaan baru artinya diciptakan kembali secara utuh, bukan sekadar renovasi yang bersifat tambal-sulam. Sebagai ciptaan baru kita menjadi "orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah" (Yoh. 1:13).
3. Sebelum seseorang yang sudah diselamatkan menerima tubuh yang baru, terlebih dulu orang itu harus diperbarui secara rohani. "Supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya" (Ef. 4:23-24).

Selasa, 5 Agustus
BERGANTUNG PADA YESUS (Tinggal di Dalam Kristus)

Pokok anggur yang benar. Wilayah Palestina di zaman Alkitab terkenal sebagai penghasil tiga jenis buah utama: ara, zaitun dan anggur. Itulah sebabnya ketiga jenis buah ini sangat sering disebut, terutama dalam PL, yang menandakan kesuburan tanah negeri ini. Budidaya tanaman anggur sudah dikenal sejak zaman Nuh (Kej. 9:20), khususnya untuk dijadikan sebagai minuman olahan yang karena kandungan alkoholnya bisa memabukkan (ay. 21). Menjelang musim panen, biasanya pada bulan Agustus atau September, pemilik kebun anggur sampai harus bermalam di kebun anggurnya untuk menjaga buah yang sering dijadikan simbol kemakmuran ini. Begitu berharganya tanaman anggur bagi orang Israel sehingga seorang peladang anggur boleh dibebaskan dari wajib militer (Ul. 20:6). Bahkan, hukum Musa mengatur cara bercocok-tanam buah anggur (Ul. 22:9). Kebun anggur sering menjadi inspirasi dalam menggubah syair pujian, khususnya untuk melambangkan Israel sebagai kebun anggur Tuhan (Mzm. 80:9-13; Yes. 5:1-7).

Yesus juga menggunakan kebun anggur sebagai bahan ilustrasi, di antaranya untuk menggambarkan tentang Kerajaan Surga (Mat. 20:1-16). Tetapi ilustrasi Yesus yang paling mengesankan bagi orang Kristen ialah ketika Ia menyebut diri-Nya adalah "pokok anggur yang benar" (Yoh. 15:1) dan umat-Nya sebagai ranting-ranting untuk menggambarkan ketergantungan kita kepada-Nya. "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (ay. 5). Seperti halnya cabang atau ranting pada tanaman anggur, kita akan menjadi kering lalu mati kalau tidak terhubung kepada-Nya sebagai pokok anggur (ay. 6).

"Sebuah cabang yang baru saja terpisah dari dari pokok anggur mungkin tampak hidup untuk sementara waktu, tetapi cabang itu pasti akan kering dan mati karena telah dikerat dari sumber kehidupan. Dengan tanda yang sama, kita dapat menerima kehidupan hanya melalui hubungan kita dengan Kristus. Tapi untuk menjadi efektif, kesatuan ini harus dipertahankan. Kebaktian di pagi hari itu penting, tetapi persekutuan kita dengan Tuhan harus terus berlanjut sepanjang hari" [alinea kedua: empat kalimat pertama].

Tetap bersama Kristus. Dalam menggambarkan hubungan antara diri-Nya dan umat-Nya, Yesus menyodorkan dua pilihan: bersatu dengan Dia dan berbuah atau terpisah dari Dia dan tidak berbuah. "Tetaplah bersatu dengan Aku dan Aku pun akan tetap bersatu dengan kalian. Cabang sendiri tak dapat berbuah, kecuali kalau ia tetap pada pohonnya. Demikian juga kalian hanya dapat berbuah kalau tetap bersatu dengan Aku" (Yoh. 15:4, BIMK). Kata "bersatu" (Grika: menō; Inggris: abide; TB: tinggal) dalam ayat ini mengandung makna "menantikan" atau "bertahan." Jadi, tinggal di dalam Kristus atau bersatu dengan Dia berarti menanti dan bertahan pada posisi kita, sebab untuk menjadi orang Kristen yang berbuah kita tidak mempunyai pilihan lain kecuali tetap bersama Kristus.

Ranting yang tidak tetap bersatu pada pokok anggur itu, sehingga "dibuang ke luar" dan "dicampakkan ke dalam api" (ay. 6), mungkin melambangkan tiga jenis orang Kristen. Pertama, orang-orang percaya yang tadinya setia tetapi karena tidak mampu bertahan dalam pergumulan iman sampai akhirnya mundur dan murtad; kedua, orang-orang percaya yang tidak mengalami kelahiran baru sehingga tidak dapat menghasilkan buah-buah kebenaran; ketiga, orang-orang percaya yang kelihatannya hidup seperti orang Kristen tetapi tidak pernah bertobat dengan sungguh-sungguh.

"Salah satu perangkap yang paling licik ialah berusaha untuk mengamalkan kehidupan Kristiani secara terpisah dari Tuhan. 'Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa' (Yoh. 15:5). Tanpa Dia kita tidak dapat menolak satu pencobaan sekalipun, mengalahkan satu dosa, atau mengambangkan satu tabiat yang serupa dengan Dia. Kehidupan rohani yang baru dapat bertumbuh hanya melalui suatu hubungan yang terus-menerus dengan Kristus" [alinea ketiga].

Apa yang kita pelajari tentang tetap tinggal di dalam Kristus?
1. Semua hal yang berhubungan dengan anggur--kebun anggur, pokok anggur, buah anggur dan air anggur--sangat dikenal dalam budaya bangsa Israel purba, bahkan dianggap sebagai bagian dari kehidupan mereka sehari-hari. Hubungan pokok anggur dan rantingnya yang Yesus gunakan merupakan ilustrasi yang sangat jitu.
2. Ranting-ranting adalah bagian dari pohon anggur yang menghasilkan buah, karena itu sebagai orang Kristen anda dan saya diharapkan untuk menghasilkan buah-buah kebenaran yang baik, yaitu tabiat dan akhlak yang terpuji. Sebagai ranting, kita hanya dapat berbuah selama tetap bersatu dan melekat pada Kristus.
3. Terkadang ranting-ranting yang kurang menghasilkan buah perlu dipangkas dan dibersihkan dari anasir-anasir yang menjadi penghalang, "supaya ia lebih banyak berbuah" (Yoh. 15:2). Kesombongan, rasa percaya diri yang berlebihan, sifat mau menang sendiri dan sebagainya sering menjadi penghalang utama untuk berbuah sehingga perlu dipangkas.

Rabu, 6 Agustus
GAYA HIDUP KRISTIANI (Doa)

Mengapa harus berdoa. Sebagai orang Kristen, kita mempunyai banyak alasan alkitabiah untuk berdoa. Tetapi dua alasan yang paling utama ialah karena berdoa adalah perintah Yesus, dan selama hidup-Nya di bumi ini Dia sendiri sering berdoa. Selain itu, Yesus juga menjamin bahwa apa saja yang kita minta di dalam doa dengan percaya seolah-olah kita sudah menerimanya maka apa yang kita minta itu pasti akan diberikan (Mrk. 11:24). Karena itu mintalah, carilah dan ketoklah, sebab kepada yang meminta akan diberikan, siapa yang mencari akan mendapat, dan siapa yang mengetok pintu akan dibukakan kepadanya (Luk. 11:9-10). Bagi orang Kristen, doa merupakan peluang istimewa yang terbesar tetapi juga bisa menjadi kegagalan terbesar, tergantung apakah kita tekun melakukannya atau tidak.

Meskipun Bapa surgawi sudah lebih dulu mengetahui segala kebutuhan kita sebelum kita meminta kepada-Nya (Mat. 6:8), namun Yesus menyarankan agar kita "harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu" (Luk. 18:1). Untuk menegaskan maksud-Nya akan hal tersebut, Yesus kemudian menceritakan sebuah perumpamaan tentang seorang perempuan janda yang tiada henti-hentinya mendesak seorang hakim yang lalim supaya memenangkan kasusnya, sampai permohonan itu dipenuhinya (ay. 2-5). Lalu kata Yesus, "Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?" (ay. 7). Oleh sebab itu, berdoa harus menjadi gaya hidup Kristiani.

"Seiring dengan mempelajari Alkitab, doa sangat diperlukan demi agar kita tinggal di dalam Kristus dan bertumbuh secara rohani. Bahkan Yesus sendiri perlu berdoa untuk dipersatukan dengan Bapa. Ia telah meninggalkan kepada kita suatu teladan kehidupan doa...Karena melalui doa, kita belajar untuk mengosongkan diri kita dari kedirian kita dan menjadi lebih bergantung kepada-Nya" [alinea pertama: tiga kalimat pertama; alinea kedua: kalimat terakhir].

Doa model. Tuhan Yesus bukan saja mengajarkan cara berdoa tapi juga memberikan satu doa contoh, sebagaimana tercatat dalam Matius 6:9-13 (bandingkan dengan Luk.11:2-4), yang kita sebut "Doa Bapa Kami" atau di Amerika disebut "Doa Tuhan Yesus" (The Lord's Prayer). Sebagai doa model yang diajarkan oleh Tuhan sendiri maka tentu saja di dalamnya terkandung unsur-unsur yang penting dan lengkap dari sebuah doa. Konon, pada acara hari raya Paskah tahun 2007 lalu doa yang paling populer dan paling disukai umat Kristen sejagad ini telah diucapkan oleh lebih dari dua milyar orang di dunia dalam satu hari yang sama. Teologi dari doa ini adalah pada konteksnya yang menempatkan Allah sebagai Bapa dan kita manusia sebagai layaknya anak-anak. Yesus sendiri menyapa Allah dengan "Abba" atau "Bapa" tatkala berdoa di Taman Getsemane (Mrk. 14:36). Rasul Paulus mengatakan, "semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak Allah" dan oleh Roh itu kita bisa berseru "ya Abba, ya Bapa!" sebab Roh itu bersaksi "bahwa kita adalah anak-anak Allah" (Rm. 8:14-16).

Susunan anatomis dari Doa Bapa Kami terdiri atas pemujaan di bagian awal, permohonan sebagai inti, dan ditutup dengan pujian. Kalimat pembuka "Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" (Mat. 6:9-10) merupakan kata-kata pemujaan (worship and adoration). Selanjutnya terdapat lima bentuk permohonan (petition and invocation) yang meliputi kebutuhan jasmani dan rohani, termasuk makanan dan pengampunan dosa serta perlindungan dari godaan, hal-hal yang menunjukkan kebergantungan kita pada Allah. Doa ini kemudian diakhiri dengan ucapan pujian (doxology), "Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin" (ay. 13).

"Kristus mengajarkan bahwa ada syarat-syarat tertentu supaya janji yang ajaib ini dipenuhi. Kita harus percaya bahwa Allah dapat menjawab doa kita (Mat. 21:22). Suatu sikap pengampunan terhadap sesama manusia dituntut (Mrk. 11:25). Paling penting, keinginan kita harus selalu tunduk pada kehendak Bapa (Mat. 6:10; Luk. 22:42). Suatu 'penundaan' dalam menjawab tidak boleh mengecilkan hati kita; sebaliknya, kita perlu selalu berdoa dan berserah (Luk. 18:1)" [alinea terakhir: lima kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang doa?
1. Kehidupan orang Kristen tidak terlepas dari doa, bahkan doa harus menjadi gaya hidup Kristiani. Mengapa? Karena Yesus memerintahkan kita untuk berdoa tak putus-putusnya, bahkan Dia telah memberi contoh tentang kehidupan berdoa yang diamalkan-Nya. Kewajiban orang Kristen adalah menaati ajaran Kristus dan mengikuti teladan-Nya.
2. Doa Bapa Kami (Doa Tuhan Yesus) merupakan model dari sebuah doa yang lengkap dan sempurna sejauh menyangkut substansi dan komposisi. Karena doa adalah komunikasi yang bersifat dinamis dan terbuka antara manusia dengan Tuhan, doa kita harus sederhana dan mengandung luapan isi hati yang jujur.
3. Yesus mengajarkan agar doa kita harus ditujukan langsung kepada Bapa semawi, tetapi disampaikan melalui Anak-Nya sebagai Pengantara. Yesus Kristus adalah jaminan dari jawaban Allah terhadap permohonan kita (Yoh. 16:23). Meskipun begitu, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum kita memanjatkan doa kepada Tuhan.

Kamis, 7 Agustus
MEMIKUL SALIB PRIBADI (Mati Bagi Diri Setiap Hari)

Transformasi rohani. Ketika seseorang dengan sungguh-sungguh menerima Yesus Kristus dan dibaptiskan, melalui pekerjaan Roh Kudus terjadilah suatu transformasi dalam diri orang itu: dari manusia lama menjadi manusia baru. Istilah "manusia lama" dan "manusia baru" adalah konsep Alkitab mengenai perubahan rohani yang berlangsung di dalam hati dan pikiran seseorang yang menjadi murid Yesus. "Orang yang sudah bersatu dengan Kristus, menjadi manusia baru sama sekali. Yang lama sudah tidak ada lagi--semuanya sudah menjadi baru" (2Kor. 5:17, BIMK). Transformasi rohani ini terjadi sebagai konsekuensi logis dari proses "dilahirkan kembali" sebagaimana yang Yesus berusaha terangkan kepada Nikodemus, yaitu kelahiran baru yang hanya bisa terjadi setelah seseorang mengalami "kematian" terhadap manusia lamanya (Yoh. 3:3-7).

Rasul Paulus menasihati, "Kalian sudah mendengar tentang Dia! Dan sebagai pengikut-pengikut-Nya, kalian sudah diajar juga tentang sifat-sifat Allah yang ada pada-Nya! Sebab itu tanggalkanlah manusia lama dengan pola kehidupan lama yang sedang dirusakkan oleh keinginan-keinginannya yang menyesatkan. Hendaklah hati dan pikiranmu dibaharui seluruhnya. Hendaklah kalian hidup sebagai manusia baru yang diciptakan menurut pola Allah; yaitu dengan tabiat yang benar, lurus dan suci" (Ef. 4:21-24, BIMK; huruf miring ditambahkan). Hal ini menyangkut sikap hidup, dan sikap itu diperlukan untuk penyempurnaan implementasi kehendak Allah dalam diri kita. Kata sang rasul lagi, "Kalian sekarang sudah diberi hidup yang baru. Kalian adalah manusia baru, yang sedang diperbarui terus-menerus oleh Penciptanya, yaitu Allah, menurut rupa-Nya sendiri. Maksudnya ialah supaya kalian mengenal Allah dengan sempurna" (Kol. 3:10, BIMK).

"Tentu akan menjadi sangat bagus jika manusia lama yang berdosa sudah mati untuk selama-lamanya ketika kita terkubur di bawah air baptisan. Akan tetapi, cepat atau lambat kita semua sudah membuktikan bahwa kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan-kecenderungan kita di masa lalu masih tetap hidup dan berusaha untuk kembali mengendalikan hidup kita. Sesudah pembaptisan kita, sifat lama kita harus dimatikan berulang-ulang. Itulah sebabnya Yesus mengaitkan kehidupan Kekristenan dengan salib" [alinea pertama: empat kalimat terakhir].

Menyangkal diri. Yesus berkata, "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku" (Mat. 10:38). Memang, Yesus sudah memikul salib Golgota sebagai cara yang ditentukan Allah untuk menebus manusia dari dosa, tetapi setiap orang yang ingin selamat harus bersedia memikul salibnya sendiri. Bukan berarti kita beroleh keselamatan berkat memikul salib pribadi kita, tetapi ini merupakan "lambang partisipasi" kita selaku pengikut Kristus sebagai tanda kesiapan untuk menjalani kehidupan sebagai manusia baru. "Setiap orang yang mau mengikut Aku," kata Yesus lagi, "ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya" (Luk. 9:23-24; huruf miring ditambahkan).

Kata Grika yang diterjemahkan dengan "menyangkal" dalam ayat ini adalah aparneomai, sebuah kata kerja yang dalam arti sempit sama dengan "menolak" tuduhan tentang adanya hubungan atau keterkaitan antara diri sendiri dengan orang lain, seperti digunakan dalam ayat-ayat yang berkisah tentang Petrus yang menyangkal Yesus (Mat. 26:75; Mrk. 14:72; Luk. 22:61). Tetapi dalam pengertian yang lebih luas, kata itu berarti "melupakan diri sendiri atau kehilangan minat pada kepentingan diri sendiri" (Strong; G533).

"Di zaman purba, korban-korban penyaliban tidak langsung mati. Biasanya mereka menderita selama berjam-jam, terkadang beberapa hari, sambil tergantung di kayu salib. Sifat lama kita, meskipun sudah disalibkan, berjuang untuk bertahan hidup dan turun dari salib...Tidaklah mudah menyangkal diri sendiri. Sifat lama kita terus bertahan; manusia lama kita tidak mau mati. Lagi pula, kita tidak dapat memakukan diri kita sendiri pada salib" [alinea ketiga: tiga kalimat terakhir; alinea keempat: tiga kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang mati bagi diri sendiri?
1. "Mati bagi diri sendiri" adalah konsep alkitabiah tentang penyangkalan diri, yaitu meninggalkan "manusia lama" (sifat yang dikuasai oleh dosa) untuk hidup sebagai "manusia baru" (sifat yang sudah disucikan). Seorang pengikut Kristus sejati harus hidup dituntun oleh Roh Kudus dengan kecenderungan untuk berlaku benar dan suci.
2. Untuk bisa "mati bagi diri sendiri" seseorang harus lebih dulu mengalami apa yang disebut "dilahirkan kembali" atau "ciptaan baru" di dalam Kristus. Sementara kelahiran baru dapat menjadi peristiwa yang hanya satu kali terjadi dalam hidup, mati bagi diri sendiri atau penyangkalan diri merupakan proses seumur hidup.
3. Makna dari "memikul salib setiap hari" adalah kesediaan dan ketahanan untuk menanggung kesusahan serta cobaan hidup. Sementara bagi banyak orang Kristen penderitaan lahir-batin akibat masalah ekonomi dan hubungan sosial sudah cukup berat, kita masih harus bergumul dengan perjuangan rohani menaklukkan sifat-sifat lama.

Jumat, 8 Agustus
PENUTUP

Bertarung dengan diri sendiri. Hampir setiap orang dewasa pernah mengalami--dan mengakui--bahwa musuh terbesar adalah diri sendiri. Kita bertarung melawan diri sendiri hampir dalam semua aspek kehidupan: temperamen, selera makan, hati nurani, pertemanan, cita-cita, kaidah agama, ambisi, termasuk juga dalam percintaan maupun pertandingan olahraga, dan lain-lain. Peperangan menghadapi diri sendiri ini bisa berlangsung setiap hari dan seumur hidup, bahkan tumpang-tindih pada hari yang sama.

"Peperangan melawan diri sendiri adalah peperangan terbesar yang pernah berlangsung. Penyerahan diri sendiri, memasrahkan segalanya pada kehendak Allah, menuntut suatu pergumulan; tetapi jiwa harus diserahkan kepada Allah sebelum itu diperbarui dalam kekudusan" [alinea pertama].

Dalam pertarungan apapun di dunia ini seringkali keberhasilan maupun kegagalan kita terletak pada dua hal utama, yakni motivasi dan stamina. Apakah keduanya tersedia dengan cukup dan berimbang dalam diri kita, atau tidak. Motivasi besar tapi stamina rendah, atau sebaliknya stamina tinggi tapi motivasi kecil, acapkali hanya menuai kegagalan. Dalam pertarungan rohani, kemenangan tidak semata-mata dicapai dengan motivasi (keselamatan) dan stamina (iman) dari pihak diri kita sendiri, tetapi lebih ditentukan oleh penyerahan pada kuasa Allah. Bahkan, kebergantungan kepada Tuhan sering merupakan satu-satunya sumberdaya untuk menaklukkan diri sendiri.

"Kita tidak dapat mempertahankan diri kita sendiri dan dipenuhi dengan kelengkapan Allah. Kita harus menghampakan diri. Kalau surga pada akhirnya kita peroleh, itu hanya akan melalui penolakan diri dan dengan menerima pikiran, roh, dan kehendak Yesus Kristus" [alinea kedua].

"Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" (Flp. 4:13).

(Oleh Loddy Lintong/California, 7 Agustus 2014).

Jumat, 01 Agustus 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT DEWASA KE V AGUSTUS 2,2014: "MENGGAPAI KESELAMATAN"




Sabat Petang, 27 Juli
PENDAHULUAN

Ular tembaga dan keselamatan. Salah satu malapetaka yang menimpa bangsa Israel di tengah perjalanan menuju Kanaan adalah ketika Tuhan membiarkan ular-ular berbisa gurun Arabia menyerang mereka. Waktu itu rombongan sudah berada di dekat tanah perjanjian dan baru saja meninggalkan pegunungan Hor setelah menumpas suku Arad yang menyergap mereka, namun terpaksa mengambil jalan memutar ke arah barat karena raja Edom melarang mereka memotong jalan melewati wilayahnya. Mereka mengomel kepada Musa, menuding bahwa Tuhan membawa mereka keluar dari Mesir untuk membinasakan mereka di padang gurun itu. "Di sini tak ada makanan, dan air pun tak ada. Kami muak dengan makanan yang hambar ini!" sungut mereka (Bil. 21:5, BIMK). Hanya setelah mereka sadar dan bertobat, Allah berkenan menyelamatkan mereka dengan menyuruh Musa membuat ular-ularan dari tembaga dan memajangnya di atas tiang kayu supaya orang-orang yang sedang sekarat itu bisa sembuh oleh memandang kepada ular tembaga itu (ay. 8-9).

Dunia kedokteran memiliki simbol yang disebut "Tongkat Asclepius" (Staff of Asclepius) berupa sebuah tongkat yang dililiti seekor ular dengan posisi kepala di atas, seperti yang digunakan oleh IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Dalam mitologi Yunani purba, Asclepius adalah seorang manusia setengah dewa hasil perkawinan Appolo, dewa penyembuhan, dengan seorang wanita molek bernama Coronis. Konon di kuil tempat praktik menyembuhkan para pasiennya Asclepius memelihara banyak ular yang dianggapnya sebagai lambang kehidupan baru karena kebiasaan binatang melata ini yang suka berganti kulit. Sementara itu, dunia kedokteran Amerika maupun WHO (World Health Organization atau Organisasi Kesehatan Dunia) menggunakan simbol yang disebut "Tongkat Hermes" (The Karyceion of Hermes) berupa sebuah tongkat dengan sepasang sayap di bagian atas yang dililiti oleh dua ekor ular. Dalam mitologi Yunani purba, dewa Hermes sebenarnya tidak ada sangkut-pautnya dengan kesehatan atau penyembuhan penyakit, tetapi digambarkan sebagai pengantara para dewa dengan manusia sekaligus pelindung bagi para pengembara dan pembimbing roh-roh manusia yang sudah mati. Bangsa Romawi menamainya Dewa Merkurius, dan lambangnya disebut "Tongkat Merkuri" (The Caduceus of Mercury).

Kembali kepada kisah bangsa Israel di gurun Paran, jazirah Arabia, di mana Tuhan menghukum mereka dengan mendatangkan ular-ular berbisa yang memagut mereka sehingga banyak yang sekarat, bangsa itu hanya bisa selamat bila memandang ular tembaga buatan Musa yang dipajang di atas tiang kayu. Meskipun peristiwa ini berlangsung singkat, dan hanya tercatat dalam beberapa ayat saja pada kitab Bilangan, namun di sini Allah sedang mengajarkan mereka tentang Mesias, yaitu Yesus Kristus yang akan "ditinggikan" di atas salib supaya menyediakan keselamatan bagi manusia yang memandang-Nya. "Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal" (Yoh. 3:14-15; ayat inti).

"Tuhan ingin mengajarkan mereka sebuah pelajaran rohani. Ia mengubah lambang kematian menjadi lambang kehidupan. Ular tembaga itu adalah simbol Kristus yang menjadi Penanggung dosa-dosa kita supaya menyelamatkan kita. Oleh iman kita semua boleh melihat kepada Kritus yang ditinggikan pada salib itu dan menemukan obat bagi sengatan yang mematikan dari si ular tua, Setan. Kalau tidak, kita ditakdirkan untuk mati di dalam dosa-dosa kita" [alinea ketiga: empat kalimat pertama].

Bagi dunia, salib adalah lambang kematian; bagi surga salib adalah lambang keselamatan. Bagi manusia yang akan binasa salib adalah simbol kehinaan, tapi bagi orang-orang yang hendak diselamatkan salib adalah simbol keagungan. Bagi mereka yang tidak percaya, salib adalah tanda yang tiada arti; bagi orang-orang yang percaya, salib adalah tanda dengan makna abadi.

Minggu, 27 Juli
KESADARAN MEMBAWA KESELAMATAN (Kenali Kebutuhanmu)

Siapa perlu keselamatan? Menyadari kebutuhan selalu diawali dengan menyadari keadaan yang sesungguhnya. Anda tidak akan tergerak untuk berolahraga secara teratur sampai anda menyadari bahwa anda memerlukan gerak badan untuk memelihara kebugaran tubuh, dan anda tidak akan berusaha mencari pengobatan kalau anda tidak menyadari bahwa anda mengidap sesuatu penyakit yang bisa berbahaya. Demikian pula, kita tidak akan mencari keselamatan kalau kita tidak menyadari keadaan kita yang akan binasa akibat dosa. Yesus sendiri berkata, "Orang yang sehat tidak memerlukan dokter; hanya orang yang sakit saja. Aku datang bukan untuk memanggil orang-orang yang menganggap dirinya sudah baik, melainkan orang-orang yang berdosa supaya mereka bertobat dari dosa-dosa mereka" (Luk. 5:31-32, BIMK).

Kita memerlukan keselamatan sebab kalau tidak maut sudah menanti di depan (Rm. 6:23). Bahkan, dosa tidak saja menimbulkan kebinasaan abadi tapi juga memisahkan kita dari Allah (Yes. 59:1-2) dan membuat kita dalam kondisi tanpa harapan (Ef. 2:12). Melalui Yesus Kristus kita memiliki pengharapan untuk selamat (Rm. 5:8-10) dan didekatkan kembali dengan Allah (Kol. 1:21-22). Keadaan manusia yang berdosa seumpama seseorang yang tubuhnya sudah babak belur (Yes. 1:4-6), tetapi Yesus Kristus telah bersedia menanggung penderitaan kita "dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh" (Yes. 53:5). Dosa adalah penyakit yang tak dapat disembuhkan selain oleh darah Kristus.

"Maka, langkah pertama untuk menerima kesembuhan dari dosa ialah mengenali keadaan kita yang berdosa dan ketidakmampuan kita sama sekali untuk menyembuhkan diri kita sendiri. Tetapi bagaimana kita dapat menyadari kebutuhan kita kalau kita buta? Bagaimana kita dapat mengakui bahwa kita adalah orang berdosa jika sesungguhnya dosa kitalah yang merintangi kita untuk menyadari keadaan kita yang sebenarnya?" [alinea kedua].

Salep mata. Sebelum Yesus Kristus naik ke surga, Ia telah berjanji kepada murid-murid akan mengutus Penghibur (=Roh Kudus) untuk menemani mereka sebagai pengganti diri-Nya. "Dan kalau Ia datang," kata Yesus, "Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman" (Yoh. 16:8; huruf miring ditambahkan). Tetapi bukan saja dunia yang Roh Kudus hendak insafkan, tapi juga umat Tuhan sekalipun. Sementara manusia pada umumnya akan diinsafkan tentang keadaan mereka yang berdosa, umat Tuhan akan diinsafkan mengenai keadaan kerohanian mereka yang merasa diri kaya dan berpakaian padahal sebenarnya miskin dan telanjang.

Yesus menasihati, "Dan belilah pula obat untuk dioles di matamu supaya kalian dapat melihat" (Why. 3:18, BIMK). Tentu saja nasihat yang bersifat kiasan ini maksudnya ialah bahwa pandangan rohani kita perlu dipulihkan agar dapat melihat keadaan rohani kita sebagaimana apa adanya. Tetapi fakta bahwa nasihat ini ditujukan kepada jemaat Laodikia, yang sering diidentifikasikan sebagai gereja kita, menandakan bahwa umat Tuhan zaman ini masih belum seluruhnya ataupun sepenuhnya menyadari keadaan kerohanian mereka yang tidak memuaskan dalam pemandangan Tuhan. Nasihat ini dimaksudkan untuk mengatasi keadaan umat Tuhan di zaman akhir yang secara rohani "miskin, buta dan telanjang" (ay. 17). Secara historis, Laodikia pada abad permulaan dikenal sebagai kota di mana terdapat sebuah sekolah tinggi kedokteran mata yang dipimpin seorang dokter spesialis optalmologi ternama, dan juga tersohor sebagai kota penghasil obat mata yang sangat mujarab.

"Satu-satunya salep mata yang dapat membuat kita melihat keadaan kerohanian kita yang sebenarnya adalah Roh Kudus. Sebelum pekerjaan lain yang mungkin Ia hendak lakukan bagi kita, Ia harus meyakinkan kita akan dosa. Terus-menerus Ia menyerukan kepada hati nurani kita untuk menghasilkan dalam diri kita suatu kesadaran mutlak akan dosa-dosa kita serta perasaan bersalah yang mendalam, yang menuntun kita kepada kerinduan akan Juruselamat. Bila kita mendengar seruan itu, kita harus memperhatikan dan menurutinya; kalau tidak, cepat atau lambat kita akan begitu dikeraskan terhadap Roh Kudus sehingga tidak ada lagi yang bisa dilakukan bagi kita. Sungguh sebuah pemikiran yang menakutkan!" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang mengenali kebutuhan kita?
1. Keselamatan adalah tawaran paling berharga dari Allah kepada manusia yang sedang binasa karena dosa, maka penolakan terhadap keselamatan yang sangat berharga itu pada hakikatnya adalah penolakan kepada Allah. Dosa adalah penyakit yang paling mematikan, tetapi Yesus Kristus adalah satu-satunya obat yang paling mujarab.
2. Menolak tawaran keselamatan dari Allah berarti meremehkan akibat serius dari dosa yang dapat membawa kebinasaan, kecuali memang tidak menginginkan hidup kekal sebab merasa sudah cukup untuk hidup sementara sekarang ini. Orang berdosa yang sadar akan akibat dosa pasti mau menerima keselamatan yang Allah tawarkan.
3. Yesus berkata, "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" (Mat. 16:26). Masalahnya adalah mana yang lebih menarik, surga atau dunia; apakah kita menganggap bahwa keselamatan itu lebih berharga dari dunia ini atau tidak.

Senin, 28 Juli
LANGKAH MENUJU KESELAMATAN (Bertobat)

Penyesalan melahirkan pertobatan. Martin Luther, sang reformator, pernah berkata: "Kita diselamatkan hanya oleh iman, tetapi iman tidak datang sendirian." Apa yang dia maksudkan ialah bahwa meskipun manusia selamat hanya oleh iman kepada Yesus Kristus, tetapi selain iman ada hal-hal lain yang terkait dengan keselamatan itu, di antaranya adalah pertobatan dari dosa. Namun, pertobatan hanya bisa terjadi setelah ada penyesalan. Sesudah menyadari keadaan kita yang berdosa, dan bahwa akibat dosa adalah kebinasaan abadi, maka langkah selanjutnya untuk memperoleh keselamatan ialah bertobat. Pertobatan merupakan syarat bagi pengampunan dosa, dan bertobat artinya berhenti berbuat dosa. Rasul Petrus berkata, "Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan" (Kis. 3:19).

"Menyadari dosa-dosa kita tidaklah cukup; itu harus disertai dengan pertobatan. Makna alkitabiah dari pertobatan meliputi tiga aspek: pengakuan dosa seseorang, penyesalan karena telah berbuat dosa, dan kerinduan untuk tidak berbuat dosa lagi. Jika salah satu kurang, tidak ada pertobatan sejati...Kita bisa melihat pentingnya pertobatan oleh kenyataan bahwa Yohanes Pembaptis dan Yesus memulai pelayanan mereka oleh mengkhotbahkan: 'Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat' (Mat. 3:2; 4:17)" [alinea pertama: tiga kalimat pertama; alinea kedua, kalimat pertama].

Apa itu pertobatan? Kalau pertobatan adalah berhenti berbuat dosa, apakah itu artinya berhenti secara perlahan-lahan dan bertahap, atau harus berhenti secara mendadak? Mengenai pertobatan Alkitab mengajarkan, "hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan" (Luk. 3:8; huruf miring ditambahkan). Selain itu juga, "harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu" (Kis. 26:20; huruf miring ditambahkan). Jadi, pertobatan itu bersifat aktif (berbuat), bukan pasif (tidak berbuat). Hakikat dari pertobatan adalah berubah pikiran dan tindakan, dari melakukan hal-hal yang jahat dan melawan kehendak Tuhan menjadi perbuatan yang baik dan selaras dengan kehendak Tuhan.

Bertobat atau binasa. Latar belakang dari Lukas 13:1-5 ialah dua peristiwa berbeda yang menimbulkan korban jiwa di antara orang-orang Galilea, pertama adalah pembantaian atas perintah Pilatus dan kedua akibat bencana alam. Menurut sebuah cerita, Pilatus yang menaruh dendam pada orang-orang Galilea yang menentang rencananya untuk membangun saluran air dari kolam Salomo ke istananya atas bantuan dana dari Bait Suci telah memerintahkan pasukannya untuk membunuh mereka saat sedang mempersembahkan kurban bakaran di Bait Suci, lalu darah mereka dicampurkannya dengan darah hewan kurban. Pada peristiwa kedua, runtuhnya menara Siloam yang menimpa sebagian penduduk Yerusalem yang kebetulan sedang berada di bawahnya sehingga menimbulkan korban jiwa sebanyak 18 orang. Menurut konsep berpikir orang Yahudi waktu itu, terbunuhnya orang-orang itu adalah akibat dari dosa-dosa mereka. Tetapi Yesus berkata kepada orang-orang yang melaporkan peristiwa itu kepada-Nya, "Sama sekali tidak! Tetapi ingatlah: kalau kalian tidak bertobat dari dosa-dosamu, kalian semua akan mati juga, seperti mereka" (Luk. 13:3, 5, BIMK; huruf miring ditambahkan).

Kebinasaan (=kematian kekal) adalah akibat dari penolakan terhadap tawaran keselamatan dari Allah, dan penolakan terhadap tawaran itu menunjukkan kesombongan manusia. Sebaliknya, menyambut tawaran keselamatan dari Allah dengan cara menyesali dosa-dosa dan bertobat menunjukkan kerendahan hati serta penyerahan diri kepada-Nya. Pertobatan dari dosa menghasilkan keselamatan abadi, tetapi menolak untuk bertobat berarti memilih kebinasaan kekal.

"Yesus menegaskan keberdosaan semua orang. Karena itu, Ia mendesak para pendengar-Nya: 'jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa' (ay. 5). Tanpa pertobatan penebusan adalah mustahil, karena tidak adanya pertobatan menunjukkan bahwa orang banyak itu menolak untuk berserah kepada Tuhan...Kita tidak bertobat supaya Allah mengasihi kita, tetapi Ia menyatakan kasih-Nya kepada kita supaya kita boleh bertobat" [alinea ketiga dan kelima].

Apa yang kita pelajari tentang pertobatan?
1. Bertobat adalah hasil dari rasa bersalah dan penyesalan atas dosa, dan hanya dengan pertobatan yang sesungguhnya maka keselamatan bisa diraih. Dosa melahirkan kebinasaan, tetapi pertobatan menghasilkan keselamatan. Kebinasaan adalah lawan dari keselamatan, maka orang berdosa yang ingin selamat harus bertobat dari dosa-dosanya.
2. Pertobatan sejati bukan sekadar berhenti berbuat dosa, tetapi berubah pikiran dari melawan perintah Allah menjadi melakukan hal-hal yang sesuai dengan perintah-Nya. Seseorang yang pikiran serta hatinya telah diubahkan akan menjadi seorang yang tadinya giat berbuat dosa menjadi rajin melakukan kehendak Allah.
3. Pertobatan merupakan bukti dari kerendahan hati dan perasaan kasih kepada Allah. Tidak ada orang yang sombong dan membenci Allah bisa menyesali dosa-dosanya lalu bertobat, sebab penyesalan dan pertobatan berasal dari hati. Menerima keselamatan adalah menyambut kasih Allah.

Selasa, 29 Juli
IMAN DAN KESELAMATAN (Percaya pada Yesus)

Apa itu iman? Iman, sudah pasti, adalah dasar dari keselamatan. Kita diselamatkan oleh kasih karunia Allah yang kita terima oleh iman (Ef. 2:8) sebab oleh iman itu kita dibenarkan (Gal. 2:16), dan sebagai orang yang dibenarkan kita "berhak menerima hidup yang kekal" (Tit. 3:7). Karena keselamatan itu adalah kasih karunia Allah yang harus diterima melalui iman, yaitu percaya kepada Yesus Kristus, maka oleh iman kepada Yesus itu kita dibenarkan dan dengan itu kita berhak menerima hidup kekal. Jadi, keselamatan adalah hasil dari percaya kepada Yesus Kristus sebagai ujud kasih Allah kepada dunia ini (Yoh. 3:16). Nah, apa itu iman dan dari mana datangnya?

Kitabsuci menegaskan bahwa iman ialah percaya kepada "sesuatu yang kita harapkan" meskipun hal itu "tidak kita lihat" (Ibr. 11:1). Iman itu timbul dari mendengar firman atau pekabaran tentang Kristus (Rm. 10:17), dan iman merupakan pemberian dari Roh Kudus (1Kor. 12:9). Itulah sebabnya murid-murid memohon kepada Tuhan, "Tambahkanlah iman kami!" (Luk. 17:5). Kata "iman" dalam ayat-ayat ini berasal dari bahasa Grika, pistis, sebuah kata benda feminin yang berarti "keyakinan akan kebenaran dari sesuatu hal" yang dalam hal ini berkaitan dengan Tuhan (Strong; G4102). Dari kata ini lahirlah kata bentukan pisteuō (=orang percaya) dan kata kerja pistos (=setia/kesetiaan).

"Itu lebih dari sekadar perasaan yang samar-samar bahwa sesuatu akan benar-benar terjadi. Itu lebih dari sekadar sebuah latihan pikiran. Iman yang menyelamatkan bukanlah tanpa isi. Sebaliknya, iman memiliki suatu obyek yang pasti: Yesus Kristus. Iman ialah percaya bukan saja pada sesuatu tapi khusus pada Seseorang. Iman adalah percaya kepada Yesus dan kematian-Nya bagi kita" [alinea kedua: kalimat kedua hingga ketujuh].

Hasil dari iman. Dalam pelayanan-Nya semasa hidup di dunia ini Yesus beberapa kali mengaitkan penyembuhan orang-orang sakit dengan iman mereka. Fakta bahwa orang-orang itu datang kepada Yesus untuk memohon kesembuhan menunjukkan bahwa mereka percaya bahwa Yesus berkuasa untuk menyembuhkan penyakit mereka. Tetapi dengan mengatakan, "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau" seperti yang diucapkan-Nya kepada perempuan yang menderita sakit perdarahan menahun itu (Mat. 9:22), Yesus menyatakan bahwa iman bukan saja memberikan keselamatan di kemudian hari tetapi juga kesejahteraan dalam kehidupan sekarang ini. Iman membuat seseorang tergerak untuk datang kepada Yesus, dan dengan menghampiri Yesus seseorang tidak saja disembuhkan dari penyakit jasmani tetapi juga dari penyakit rohani yang lebih berbahaya.

"Dengan mengucapkan perkataan ini, Ia bukan memperuntukkan kuasa penyembuhan apapun terhadap iman mereka. Iman mereka itu hanyalah suatu kepercayaan sepenuhnya pada kuasa Yesus untuk menyembuhkan mereka. Kuasa iman tidak datang dari seorang yang percaya melainkan dari Allah terhadap siapa orang itu percaya" [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir].

Kepada perempuan yang datang kepada Yesus di rumah Simon dan meminyaki kepala Yesus dan membasuh kaki-Nya dengan parfum, Tuhan berkata: "Dosamu telah diampuni...Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" (Luk. 7:48, 50). Alkitab tidak memberikan keterangan yang tegas mengenai latar belakang kehidupan perempuan itu, selain indikasi bahwa wanita ini adalah seorang yang sangat terbebani oleh dosa-dosanya tetapi Yesus sudah memberinya pengampunan dan dengan demikian membuat dia merasa lega. Kata-kata "pergilah dengan selamat" adalah ungkapan yang lazim di kalangan bangsa Israel sebagai tanda merestui (baca 1Sam. 1:17-18).

Apa yang kita pelajari tentang perlunya percaya kepada Yesus Kristus dan keselamatan?
1. Kitabsuci mengajarkan dengan tegas bahwa keselamatan (=hidup kekal) hanya diperoleh dengan iman, itu bukan hasil usaha kita tetapi pemberian Allah (Ef. 2:8). Iman itu sendiri berasal dari Allah, bukan suatu kapasitas alamiah (=benih) dalam diri kita yang akan tumbuh dengan sendirinya bila ada pemicunya.
2. Iman adalah kemampuan untuk percaya bahwa sesuatu itu ada meski tidak kelihatan, percaya terhadap janji-janji Allah meskipun tampaknya "tidak logis" menurut akal manusia. Iman adalah suatu hal yang pasti; keragu-raguan anda dan saya tidak pernah akan membatalkan kepastian itu.
3. Iman menghasilkan keselamatan di akhirat dan juga kesejahteraan di dunia ini, termasuk kesembuhan dari penyakit. Iman bukan sesuatu untuk menguji Allah, sebaliknya iman adalah sarana oleh mana Tuhan menguji manusia. Iman adalah substansi dari setiap doa yang kita layangkan, tanpa iman maka doa kita sia-sia.

Rabu, 30 Juli
MENGENAKAN KEBENARAN KRISTUS (Pakaian Pesta)

Kebenaran yang dianugerahkan. Sebutan "orang Farisi" mungkin menjadi cibiran bagi banyak orang Kristen sekarang ini, antara lain karena stigma "munafik" seperti tercermin dalam ungkapan Yesus tentang mereka yang disamakan-Nya seperti kuburan, "yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran" (Mat. 23:27). Namun sebenarnya cara beragama orang Farisi itu sendiri, sejauh menyangkut ketaatan pada hukum Musa, selalu berusaha untuk sempurna sampai kepada hal-hal sepele. Masalahnya, dalam beragama orang Farisi lebih mementingkan penampilan luar ketimbang di dalam hati, atau yang kita sebut beragama secara formalitas.

Keberagamaan orang Farisi dan ahli Taurat lebih bersifat liturgis atau tatacara, bukan pengamalan yang substansial dari ajaran agama. Tidak heran kalau Yesus berkata bahwa cara beragama seperti para ahli Taurat dan kaum Farisi itu tidak akan menghasilkan keselamatan di akhirat (Mat. 5:20). Rasul Paulus menyebut keberagamaan secara lahiriah adalah sia-sia ketika dia mengatakan, "Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan" (Flp. 3:8-9; huruf miring ditambahkan).

"Beberapa orang lebih cermat dalam memelihara hukum itu secara harfiah daripada orang-orang Farisi. Namun demikian, mereka gagal sebab perilaku mereka lebih dimaksudkan untuk mengesankan manusia ketimbang menyenangkan Allah. Yesus mengamarkan kita agar tidak berbuat hal yang sama (Mat. 6:1). Lalu, bagaimanakah kita bisa menjadi benar di hadapan Allah? Perumpamaan tentang pesta pernikahan memberi petunjuk kepada kita dalam menemukan sumber kebenaran sejati" [alinea pertama: empat kalimat terakhir].

Kebenaran yang menyelamatkan. Mungkin perumpamaan Yesus tentang perjamuan kawin anak raja dalam Matius 22:2-14 di luar kelaziman budaya, sebab tidak ada masyarakat yang mempunyai tradisi menyediakan pakaian pesta untuk para tamu yang diundang. Biasanya para undangan datang dari rumah sudah mengenakan pakaian pesta mereka sendiri, yaitu pakaian yang paling bagus dengan model paling baru. Tetapi justeru di sinilah letaknya keistimewaan dari hakikat kisah ini, bahkan soal pakaian pesta yang disediakan oleh tuan rumah itulah inti pekabarannya. Ini perumpamaan tentang keselamatan, bukan cerita dongeng sebelum tidur.

Kalau anda menjenguk pasien yang sedang dirawat di ruang perawatan intensif (ICU) dan perawatan intensif jantung (ICCU), ruang perawatan bayi atau pasien-pasien dengan penyakit tertentu, biasanya rumahsakit mengharuskan pengunjung untuk memakai gaun atau jubah khusus yang disediakan sebelum diperbolehkan memasuki ruangan, terkadang bahkan harus mengganti alas kaki dengan sandal yang disediakan. Ada dua ciri utama dari gaun atau jubah yang disediakan itu, yakni kebersihan dan keseragaman. Barangkali pakaian yang anda pakai dari rumah itu lebih indah dan modis, bersih bahkan mungkin juga wangi, tetapi keindahan dan kebersihan pakaian anda itu tidak ada artinya. Rumahsakit memiliki standar mereka sendiri mengenai pakaian pengunjung, yaitu harus steril dan serupa bahan serta modelnya. Gaun milik rumahsakit itulah yang membuat anda dan saya boleh masuk ke ruang pasien yang hendak kita jenguk, tanpa itu kita akan ditolak dan tidak bisa memaksa masuk.

"Seperti dalam perumpamaan itu, Allah menyediakan pakaian yang kita perlukan. Ia telah membuat pakaian untuk Adam dan Hawa dan mengenakannya pada mereka (Why. 19:8), sebuah lambang tentang kebenaran-Nya yang membungkus orang berdosa. Tuhan juga menyediakan pakaian kebenaran Kristus bagi gereja-Nya, supaya gereja boleh 'dipersiapkan dalam kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih' (Why. 19:8), 'tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu' (Ef. 5:27). Pakaian ini, 'yakni kebenaran Kristus, tabiat-Nya sendiri yang tidak bercacat cela, yang melalui iman diberikan kepada semua orang yang menerima Dia sebagai Juruselamat pribadinya' (Ellen G. White, Perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus, hlm. 226" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang hubungan "pakaian pesta" dengan keselamatan?
1. Pakaian pesta dalam perumpamaan Yesus melambangkan kebenaran Kristus. Tak seorangpun dapat masuk ke dalam kerajaan surga dengan mengenakan kebenarannya sendiri, yaitu keberagamaan menurut pandangannya sendiri. Keselamatan adalah hasil dari kebenaran Kristus yang menutupi keberdosaan kita.
2. Kebenaran Kristus adalah sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma dan dipakaikan langsung oleh Allah sendiri, menandakan bahwa manusia tidak memiliki jasa apapun untuk dikreditkan pada keselamatan kita. Setiap orang yang percaya menerima kebenaran itu tanpa menghiraukan kondisi rohaninya.
3. Ada dua ciri utama dari "pakaian pesta" yang Allah sediakan untuk kita, yakni tanpa cacat atau cela dan juga seragam atau sama. Kebenaran Kristus adalah standar surgawi, sempurna dan serupa. Tidak ada orang yang masuk surga dengan kebenaran yang lebih baik dan berbeda dari orang lain, semuanya sama kualitasnya.

Kamis, 31 Juli
PENYANGKALAN DIRI (Mengikut Yesus)

Meninggalkan segalanya. Konsekuensi dari mengikut Yesus ialah meninggalkan segalanya, termasuk penyangkalan diri. Alkitab mencatat bahwa tatkala Yesus memanggil murid-murid-Nya yang pertama mereka langsung berdiri lalu berjalan dan meninggalkan apa saja yang sedang mereka kerjakan untuk kepentingan diri sendiri. Bahkan, ketika seseorang menyatakan kerinduannya untuk mengikut Yesus tetapi meminta izin untuk mengurus jasad orangtuanya yang baru meninggal, Yesus menjawab dengan tegas: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka" (Mat. 8:22). Mengikut Yesus bukan sekadar pilihan tetapi keputusan yang menuntut tindak lanjut segera tanpa basa-basi; mengikut Yesus adalah sebuah tindakan yang revolusioner.

Tentu saja keputusan untuk menjadi pengikut Yesus harus didasarkan pada iman, sebab hanya dengan percaya kepada Yesus kita bisa menjadi pengikut-Nya yang benar. Kepada orang-orang Yahudi yang mendengar khotbah-Nya dan percaya kepada-Nya, Yesus berkata: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku..." (Yoh. 8:31). Versi BIMK menerjemahkan bagian ini, "Kalau kalian hidup menurut ajaran-Ku kalian sungguh-sungguh pengikut-Ku..." Percaya kepada Yesus akan membuat kita tekun dalam menuruti ajaran-ajaran-Nya, dan ketekunan itu menunjukkan bahwa kita adalah murid (=pengikut) Kristus yang sejati. Kata Grika untuk murid atau pengikut pada ayat ini adalah mathētēs, sebuah kata benda maskulin yang juga berarti pembelajar (Strong; G3101).

"Sebagian orang berusaha untuk memisahkan iman pada Yesus dari ketaatan pada pengajaran-pengajaran Yesus, seolah-olah yang pertama itu lebih penting dari yang kedua. Tetapi Yesus tidak membuat perbedaan seperti itu. Bagi Dia, kedua aspek ini terkait dengan sangat erat dan merupakan dasar bagi pemuridan sejati. Seorang murid Yesus komit (=terikat janji) kepada Pribadi-Nya maupun kepada perkataan-Nya" [alinea kedua: empat kalimat pertama].

Risiko sebagai murid. Menjadi murid Yesus mengandung risiko sosial yang tidak kecil terhadap kehidupan seseorang, bukan saja dia mungkin akan dimusuhi oleh masyarakat dan sanak keluarganya, tetapi dia bahkan dituntut untuk "membenci" kaum keluarganya sendiri. Yesus berkata, "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku" (Luk. 14:26). Kata Grika yang diterjemahkan dengan membenci dalam ayat ini adalah miseō, sebuah kata kerja yang sebenarnya mengandung makna aktif dan pasif, yaitu "membenci" dan "dibenci" (Strong; G3404). Dalam pengertian aktif, membenci maksudnya ialah menyangkal atau menomorduakan. Jadi, risiko sebagai murid atau pengikut Yesus Kristus ialah "tidak menghiraukan" keluarga maupun diri sendiri tetapi "mengutamakan pengabdian" kepada Kristus.

"Yesus menggunakan kata kerja 'membenci' sebagai makna hiperbola dari 'kurang mengasihi.' Perikop yang paralel dalam injil Matius menjelaskan arti perkataan Yesus ini: 'Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku' (Mat. 10:37). Yesus harus mendapat tempat pertama dalam kehidupan kita kalau kita ingin menjadi murid-murid-Nya" [alinea terakhir].

Pena inspirasi menulis: "Mereka yang mau menjadi para pemenang harus merenungkan dan menghitung harga dari keselamatan. Dorongan kegairahan manusiawi yang kuat harus ditaklukkan; kebebasan berkehendak harus terbelenggu dalam Kristus. Orang Kristen mesti menyadari bahwa dirinya bukanlah miliknya sendiri. Dia akan menghadapi godaan-godaan untuk dilawan, dan pergumulan-pergumulan melawan kecenderungan-kecenderungannya sendiri; sebab Tuhan tidak menerima pelayanan setengah hati. Kemunafikan adalah suatu kebencian bagi-Nya. Pengikut Kristus harus berjalan oleh iman sementara memandang Dia yang tidak kelihatan. Kristus akan menjadi hartanya yang terindah, segala-galanya" (Ellen G. White, Review and Herald, 16 Juni 1896).

Apa yang kita pelajari tentang arti mengikut Yesus?
1. Menjadi pengikut Kristus yang sejati mengandung risiko dan konsekuensi yang besar dan berat, tetapi hal-hal itulah justeru yang menjadi keistimewaan dan kebanggaan rohani seorang murid Yesus. Kalau musuh terbesar untuk ditaklukkan adalah diri sendiri, maka orang Kristen tulen akan berhasil mengalahkannya.
2. Setiap pengikut Kristus sejati menyadari dua kewajiban ini: melayani Kristus tanpa pamrih dan mengamalkan ajaran-ajaran Kristus tanpa ragu. Kehidupan Kristiani adalah kehidupan penuh pergumulan yang sengit, oleh sebab perjalanan hidup orang Kristen adalah perjalanan yang berbatu dan terjal (2Kor. 12:10).
3. Kekristenan menuntut sikap militansi dan sifat sebagai syuhada, tetapi bukan untuk menyakiti orang lain melainkan untuk menanggung penderitaan sendiri. Kalau anda belum pernah mengalami kesengsaraan hidup demi mempertahankan iman Kristiani, mungkin anda belum menjadi seorang Kristen yang sesungguhnya.

Jumat, 1 Agustus
PENUTUP

Salib dan pertobatan. Pengalaman terbesar dan termulia bagi seorang Kristen adalah pengalaman pertobatan, yaitu ketika seseorang berhasil melepaskan diri dari cengkeraman dosa kesayangan yang kukuh justeru di saat dia merasa tidak berdaya. Pertobatan adalah pengalaman yang tidak menyenangkan pada waktu yang dianggap tidak tepat, karena itu hasilnya seringkali amat mencengangkan bagi orang yang bersangkutan maupun mereka yang menyaksikannya. Acapkali kita tidak pernah tahu seberapa kuatnya kita, sampai kita menyadari bahwa menjadi kuat adalah satu-satunya pilihan bagi kita!

Tidak ada orang yang sungguh-sungguh bertobat tanpa bantuan kekuatan Roh Kudus, dan tidak ada orang yang benar-benar diampuni dosanya tanpa bayangan salib Kristus yang menaunginya. Terkadang pertobatan terjadi tanpa kehendak kita sendiri, namun itu terjadi karena Allah dengan cara-Nya yang ajaib menggerakkan hati sanubari kita dan menyinari kita dengan kasih-Nya. Seorang yang terinspirasi oleh salib Kristus niscaya akan tergerak untuk bertobat karena kehangatan cahaya kasih Allah yang terpancar dari salib itu berkuasa mencairkan dosa-dosa yang sudah membatu sehingga meleleh dan terlepas jatuh.

"Sementara kita memandang Anak Domba Allah di atas salib Golgota, rahasia penebusan mulai terkuak dalam pikiran kita dan kebaikan Allah menuntun kepada pertobatan. Dalam kematian bagi orang-orang berdosa, Kristus menyatakan suatu kasih yang tak terduga; dan sementara orang berdosa memandang kasih ini hatinya dilembutkan, pikirannya dipengaruhi, dan penyesalan timbul di dalam jiwanya" [alinea kedua].

"Bila seorang yang jahat tidak berbuat dosa lagi, dan mulai menaati hukum-hukum-Ku, serta melakukan perbuatan yang baik dan benar, ia tidak akan mati. Semua dosanya akan diampuni; ia akan hidup, karena melakukan yang benar. Apakah kau pikir Aku, Tuhan Yang Mahatinggi, senang kalau orang yang jahat mati? Sama sekali tidak! Aku ingin ia meninggalkan dosa-dosanya supaya ia tetap hidup" (Yeh. 18:21-23, BIMK).

(Oleh Loddy Lintong/California, 31 Juli 2014)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...