Syaloom

Selamat datang bagi pengunjung blog ini, terima kasih atas kunjungan anda pada blog ini anda dapat download lagu-lagu rohani khusus quartet (male or ladies) termasuk partitur yang kami telah sediakan.

Blog ini khusus saya buat untuk membantu teman-teman yang mempunyai hobi menyanyi lagu-lagu rohani tetapi pada saat tertentu tidak mempunyai cukup partiture. Dan sesuai dengan judulnya maka blog ini khusus dibuat untuk quartet grup vokal, apakah itu male quartet atau ladies quartet.

Banyak orang didunia ini dan hampir semua orang yang ada di jagad raya ini menyukai musik. Sebab itu saya ingin mengajak semua teman-teman yang ingin partisipasi dalam blog ini saya persilahkan untuk memberi saran dan bahan untuk memajukan grup-grup quartet. Sering kita menyanyikan sebuah lagu dengan baik dan pendengar cuma menyukai harmoninya saja tetapi pekabaran dalam lagu itu sendiri tidak didapat karena pendengar tersebut tidak mengerti bahasa yang dinyanyikan dalam lagu tersebut untuk itu melalui blog ini saya sekali lagi mengajak siapapun untuk urung rembuk agar blog ini disukai dan dapat bermafaat buat kita semua.

Untuk itu saya akan mencoba untuk mentransfer dari partiture aslinya kedalam bahasa Indonesia. Shalom regards,

GBU
E. Nanlohy



TRANSLATORS...

Jumat, 10 Oktober 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT KE II OKTOBER 11,2014: "BERJALAN DALAM IMAN, BERTINDAK DALAM PERCAYA"








PELAJARAN KE-II; 11 Oktober 2014
"MENYEMPURNAKAN IMAN KITA"


Sabat Petang, 4 Oktober
PENDAHULUAN

Bertumbuh supaya sempurna. Saya yakin, banyak di antara anda yang membaca ulasan Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa (PSSD) ini melalui ponsel cerdas (smartphone) atau ponsel tablet (phablet), sebuah perangkat komunikasi digital dwifungsi yang dapat digunakan sebagai telpon nirkabel dan sekaligus sebagai komputer mini di tangan anda. Sementara orang-orang sekarang ini kian terbiasa mengoperasikan telpon seluler yang peningkatan kecanggihannya semakin mengagumkan ini, banyak yang tidak tahu dan tidak dapat membayangkan seberapa "kuno" perangkat ini ketika pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat sekitar dua puluh tahun silam.

HP pertama saya tahun 1995 adalah jenis GSM, singkatan dari Global System for Mobile (tapi karena waktu itu sinyalnya masih sangat lemah sehingga sering diplesetkan menjadi "Geser Sedikit Mati"). Karena tuntutan pekerjaan maka saya harus menggunakan HP kedua jenis CDMA (Code Division Multiple Access) yang sinyalnya lebih bagus tapi tingkat radiasinya sangat tinggi sehingga berbicara lebih dari satu menit kuping terasa panas. Meskipun begitu, ketika HP hanya bisa berfungsi untuk komunikasi verbal saja seperti telpon rumah, belum ada fitur-fitur tambahan semacam SMS (short message service) apalagi kamera maupun aplikasi-aplikasi, dan ukuran fisiknya pun masih tebal dan berat, HP menjadi salah satu lambang status pemakainya. Pada masa itu bila anda bertelpon pakai HP di tengah banyak orang, semua akan menoleh kepada anda dengan tatapan kagum.

Produk apapun kalau baru ditemukan kondisinya selalu masih jauh dari sempurna dan membutuhkan waktu serta usaha untuk memperbaiki dan menyempurnakannya. Iman adalah "produk" rohani yang ditanamkan kepada orang-orang yang mendengar dan percaya kepada "firman Kristus" (Rm. 10:17). Alkitab mengatakan, "Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan" (Ibr. 12:2). Itulah sebabnya murid-murid pernah memohon kepada-Nya, "Tambahkanlah iman kami!" (Luk. 17:5). Iman bukan sesuatu yang diberikan kepada manusia dalam keadaannya yang sudah sempurna, tetapi iman adalah seumpama bibit yang harus terus bertumbuh (2Kor. 10:15).

"Iman di dalam Kristus yang seperti itu memungkinkan Dia untuk mengerjakan dalam diri kita 'baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya' (Flp. 2:13) dan menyelesaikan pekerjaan baik yang Ia telah mulaikan (Flp. 1:6). Tanpa iman, adalah mungkin untuk merasa sudah kalah bahkan sebelum kita mulai sebab kita memusatkan perhatian pada diri kita sendiri gantinya kepada Dia...Seperti Yesus katakan, 'Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah' (Yoh. 6:29). Yakobus, seperti yang akan kita lihat, menolong kita untuk mengerti kebenaran rohani yang penting ini" [alinea kedua: dua kalimat terakhir; alinea ketiga].

Minggu, 5 Oktober
BAHAGIA DALAM PENDERITAAN (Iman yang Tangguh)

Ujian kemurnian. Perjalanan hidup setiap orang Kristen memang penuh dengan cobaan. Yesus mengatakan, "Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya" (Mat. 7:13-14). Ketika mengucapkan perkataan ini, Yesus bukan sedang "menakut-nakuti" para pengikut-Nya, tetapi Ia sedang menyampaikan kata-kata pengharapan di balik penderitaan. Orang Kristen sejati harus siap mental untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan jalan yang berbatu dan berduri yang harus kita lalui selagi mengikut Dia di dunia ini.

Dalam kamus orang Kristen, kesusahan dan penderitaan bukanlah "cobaan hidup" tetapi "ujian iman." Itulah sebabnya rasul Yakobus menulis, "Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan" (Yak. 1:2-3; huruf miring ditambahkan). Rasul Petrus mendorong kita untuk bergembira atas cobaan-cobaan yang dialami sebab hal itu berguna untuk "membuktikan kemurnian iman" yang akan dibalas dengan "pujian dan kehormatan" pada hari kedatangan Tuhan Yesus (1Ptr. 1:6-7). Bahkan dia ingatkan kita untuk tidak terkejut atau heran dengan ujian-ujian itu, yang disebutnya sebagai sesuatu yang "sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus" (4:12-13).

Berdasarkan nasihat dan peringatan kedua pemimpin Gereja yang mula-mula itu maka sebagai orang Kristen anda dan saya harus mengembangkan sikap yang positif--bukan negatif--terhadap penderitaan hidup. Sebab hasilnya adalah positif, yakni demi memurnikan iman kita. "Petrus menyamakan ujian atau cobaan iman kita ini dengan cara api memurnikan emas; meskipun ujian demikian mungkin tidak menyenangkan, Allah mengharapkan suatu hasil yang sukses. Ujian-ujian tidak boleh mengecewakan kita; sebab kalau kita tetap setia, kita akan 'timbul seperti emas' (Ay. 23:10, bandingkan dengan Ams. 17:3)" [alinea kedua: dua kalimat terakhir].

Ujian ketabahan. Sementara penderitaan hidup dimaksudkan untuk menghasilkan iman yang murni, seorang yang tetap mempertahankan imannya di tengah penderitaan hidup akan menjadikan dirinya seorang yang tabah. Jadi, penderitaan hidup bagi orang Kristen akan menghasilkan dua hal penting: kemurnian iman dan ketabahan diri. Versi BIMK menerjemahkan Yakobus 1:2-3 seperti ini: "Kalau kalian mengalami bermacam-macam cobaan, hendaklah kalian merasa beruntung. Sebab kalian tahu, bahwa kalau kalian tetap percaya kepada Tuhan pada waktu mengalami cobaan, akibatnya ialah: kalian menjadi tabah" (huruf miring ditambahkan).

"Merasa beruntung" ketika mengalami cobaan hidup itu menyangkut sikap kita terhadap cobaan-cobaan itu. Kalau anda menganggap penderitaan hidup adalah suatu kerugian, maka dalam sekejap saja iman anda akan menjadi luntur. Sebaliknya, jika anda menerima penderitaan hidup itu sebagai suatu keberuntungan mengingat hasil akhir yang akan anda peroleh, maka anda akan menjadi semakin kuat untuk bertahan. Sebab ada suatu motivasi yang mendorong anda untuk tetap memelihara iman anda di tengah penderitaan itu. Seperti seorang atlet yang bersedia mengikuti petunjuk dari pelatihnya untuk menjalani berbagai latihan fisik yang berat dan melelahkan, sebab dia tahu semua itu berguna untuk membuat dirinya siap berlaga dalam pertandingan dan menang. Seperti pengakuan teman saya seorang pebulutangkis nasional tentang latihan fisik yang dijalaninya setiap hari di Pelatnas sungguh melelahkan dan membosankan, tetapi hasil dari ketekunannya berlatih telah membawa namanya tenar di seluruh dunia pada dasawarsa 1970-an itu.

"Singkatnya, kita perlu memandang jauh ke depan dari setiap cobaan dan membayangkan hasil yang Allah maksudkan. Dari situlah iman itu datang. Kita harus percaya kepada seorang Bapa yang pengasih, bersandar pada hikmat-Nya, dan bertindak berdasarkan pada Firman-Nya. Kita bisa aman mempercayakan masa depan kita kepada-Nya (baca Rm. 8:28). Bahkan, hanya melalui iman, dengan mengetahui sendiri kasih Allah itu dan hidup oleh iman dalam terang kasih itu, memungkinkan kita untuk bersukacita di dalam cobaan-cobaan kita" [alinea ketiga].

Apa yang kita pelajari tentang hubungan iman dan cobaan hidup?
1. Iman dan cobaan hidup datang dalam satu paket dari Tuhan, yang jika diterima dan dijalani dengan gembira dapat menghasilkan kemurnian iman dan ketabahan hati. Ibarat sebuah tanaman, iman diberikan kepada manusia dalam bentuk benih, bukan berupa sebatang pohon yang sudah menghasilkan buah dan tinggal dinikmati.
2. Sikap kita terhadap penderitaan hidup akan menentukan apakah kita berhasil menjalaninya atau tidak. Kalau kita menyikapi cobaan hidup itu sebagai "metode ilahi" bagi kita untuk menghasilkan iman yang murni dan jiwa yang tabah dalam diri kita, niscaya kita akan mampu menghadapi setiap cobaan dengan gembira karena merasa beruntung.
3. Seringkali Tuhan membiarkan seorang yang sangat kecewa untuk mengeluh dan berusaha dengan kemampuan sendiri mengatasi persoalan hidup yang dihadapinya, sampai dia kehabisan akal dan dalam keadaan putus asa kembali berserah kepada Tuhan. Tetapi Allah itu sangat baik dan berpengasihan untuk selalu siap menerima anda dan saya datang ke pangkuan-Nya!

Senin, 6 Oktober
TUJUAN IMAN (Kesempurnaan)

Pertumbuhan iman. Sebagai orang Kristen, hampir semua aspek kehidupan kita dipengaruhi oleh iman. Mulai dari hal-hal lebih besar seperti saat hendak menempuh ujian sekolah, melamar pekerjaan, mencari pasangan hidup, memilih tempat tinggal dan sebagainya, sampai kepada soal-soal yang dianggap sepele bagi banyak orang seperti saat mau mengadakan perjalanan atau hendak beristirahat tidur kita selalu melakukannya dengan berdoa lebih dulu. Mengapa? Karena kita percaya bahwa Allah mengendalikan hidup kita dan bahwa hidup kita bergantung kepada-Nya sehingga kita harus senantiasa berserah pada kehendak-Nya.

Yakobus mengatakan bahwa iman bertumbuh melalui "berbagai-bagai pencobaan" (1:2) yang "menghasilkan ketekunan" (ay. 3), dan pada gilirannya ketekunan [=kesabaran; ketabahan] itu akan memperoleh "buah yang matang" sehingga dengan demikian kita "menjadi sempurna" (ay. 4). Cobaan-cobaan itu sendiri tidak menghasilkan iman, melainkan melatih kesabaran kalau cobaan-cobaan itu diterima dengan iman. Melalui proses itulah maka iman kita bertumbuh mencapai kesempurnaan. Sebaliknya, jika cobaan-cobaan itu dihadapi dengan sikap menggerutu dan mengeluh, gantinya menghasilkan ketabahan hal itu akan menimbulkan kepahitan dan kekecewaan. Itulah sebabnya sang rasul menasihati kita agar menganggap cobaan-cobaan itu "sebagai suatu kebahagiaan" (ay. 2).

"Tujuan Allah bagi kita ialah 'supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun' (Yak. 1:4). Tidak ada bahasa yang lebih luhur. Kata sempurna (teleios) berarti kedewasaan rohani, sedangkan utuh (holokleros) merujuk kepada keutuhan dalam segala hal. Sungguh, kita dapat menjadi jauh lebih utuh di dalam Tuhan jika kita mau mati untuk diri sendiri dan mengizinkan Dia bekerja dalam diri kita 'baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya' (Flp. 2:13)" [alinea pertama: empat kalimat terakhir].

Sasaran pertumbuhan iman. Setiap orang memiliki tujuan-tujuan pribadi dalam hidupnya, tetapi sebagai umat Tuhan kita mempunyai tujuan rohani untuk "mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus" (Ef. 4:13). Sesungguhnya, inilah perjuangan hidup setiap anak Tuhan selama di dunia ini. Untuk mencapai tujuan itu anda dan saya dapat mencontoh kepada rasul Paulus yang telah bertekad: "Saya melupakan apa yang ada di belakang saya dan berusaha keras mencapai apa yang ada di depan. Itu sebabnya saya berlari terus menuju tujuan akhir untuk mendapatkan kemenangan, yaitu hidup di surga; untuk itulah Allah memanggil kita melalui Kristus Yesus. Kita semua yang sudah dewasa secara rohani, haruslah bersikap begitu" (Flp. 3:13-15, BIMK).

Tatkala Yesus bersama murid-murid menyeberangi danau Galilea lalu perahu mereka tiba-tiba ditimpa badai di tengah perjalanan, murid-murid yang ketakutan itu berteriak kepada Yesus yang sedang tidur: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" (Mrk. 4:38). Yesus pun terbangun, menenangkan angin ribut itu, lalu berkata kepada mereka, "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" (ay. 40). Murid-murid itu memperlihatkan iman yang kerdil. Ketika Daud yang hanya bersenjatakan ali-ali menghadapi Goliat, dia menanggpi cemoohan raksasa Filistin itu dengan berkata: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam" (1Sam. 17:45). Daud menunjukkan iman yang besar. Saat Abraham yang menaati perintah Allah hendak mempersembahkan Ishak di gunung Moria, tiba-tiba malaikat menghalanginya sambil berkata: "Sekarang Aku tahu bahwa engkau hormat dan taat kepada-Ku, karena engkau tidak menolak untuk menyerahkan anakmu yang tunggal itu kepada-Ku" (Kej. 22:12, BIMK). Abraham memperagakan iman yang sempurna.

"Tidak pernah ada suatu waktu dalam perjalanan Kristiani di mana kita dapat mengatakan, 'Saya sudah sampai,' setidaknya sejauh pertumbuhan tabiat itu. (Pernahkah anda perhatikan juga bahwa mereka yang berkata bahwa mereka sudah 'sampai' pada umumnya memuakkan dan membenarkan diri?) Kita ini seperti sebuah karya seni; selalu kita dapat diperbaiki, dan Allah berjanji melakukan seperti itu selama kita terus maju dalam iman, berusaha untuk berserah kepada-Nya setiap hari dalam percaya dan penurutan" [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang kesempurnaan iman sebagai tujuan?
1. Iman bertumbuh melalui latihan-latihan rohani dengan cara tetap percaya dan bersandar kepada Tuhan dalam menghadapi cobaan-cobaan hidup. Dengan menjadikan cara ini sebagai kebiasaan akan melatih sikap kita terhadap setiap cobaan hidup yang datang. Setiap latihan rohani akan membuat iman kita bertumbuh menjadi semakin sempurna.
2. Kitabsuci menyatakan, "tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah" (Ibr. 11:6). Kalau kita ingin bertumbuh di dalam iman, kita harus tetap bersandar kepada-Nya dalam segala permasalahan hidup. Meski percaya kepada Tuhan tapi kita juga berusaha dengan cara sendiri, maka kita mengintervensi rencana dan maksud Allah.
3. Yesus berkata: "Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu" (Mat. 17:20). "Gunung" sering diibaratkan sebagai masalah atau tantangan hidup.

Selasa, 7 Oktober
PERCAYA TANPA BIMBANG (Meminta Dalam Iman)

Iman dan hikmat. Adalah hal yang menarik bahwa Yakobus mengaitkan iman dengan hikmat. "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah," katanya seraya menambahkan, "Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang..." (Yak. 1:5-6). Kata Grika yang diterjemahkan dengan hikmat di sini adalah sophia, sebuah kata benda feminin yang jika merujuk kepada Tuhan itu berarti "kecerdasan tertinggi" dan jika merujuk kepada manusia berarti "kearifan" (Strong; G4678). Sepintas lalu perkataan ini bisa diartikan bahwa kalau seseorang merasa kurang bijaksana boleh meminta kearifan itu dari Tuhan, namun itu harus diminta dengan iman atau percaya tanpa keraguan. Akan tetapi dalam konteks ini sang rasul tidak sedang berbicara mengenai kebijaksanaan ataupun kearifan manusia, tetapi tentang iman.

Pada waktu kita mengalami masalah kehidupan yang berat dan pelik, kita perlu menghadapinya dengan sikap bijaksana. Jangan-jangan masalah itu timbul sebagai akibat dari kesalahan kita sendiri, mungkin karena tindakan atau ucapan kita sebelumnya, atau dampak dari keputusan keliru yang kita buat terdahulu. Kalau persoalannya bersifat "sebab dan akibat" seperti itu tentu kita harus menerimanya sebagai suatu konsekuensi. Tetapi jika masalah itu tidak berkaitan dengan perbuatan atau keputusan kita sebelumnya, barangkali kita baru bisa menganggapnya sebagai cobaan hidup. Untuk dapat membedakan apakah suatu masalah terjadi sebagai akibat dari suatu sebab, atau apakah itu merupakan kejadian di luar dugaan dan tak disangka-sangka, maka anda dan saya membutuhkan hikmat untuk bisa menentukannya.

"Mungkin terlihat ganjil bahwa Yakobus berkata, 'Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat.' Siapa pula yang berpikir kalau dia memiliki hikmat yang cukup? Salomo, misalnya, mengakui kebutuhannya dan dengan rendah hati meminta 'hati yang faham...membedakan antara yang baik dan yang jahat' (1Raj. 3:9). Belakangan dia menulis: 'Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan' (Ams. 9:10)" [alinea pertama].

Allah sumber hikmat. Hikmat yang dimaksud dalam surat Yakobus di atas adalah kemampuan untuk menilai secara tepat berdasarkan pengetahuan dan ajaran Firman Tuhan, bukan menurut perasaan dan pandangan diri sendiri. Kita menyebutnya sebagai hikmat rohani (spiritual wisdom), dan hikmat seperti itu bersumber hanya pada Allah. Hikmat rohani ditunjukkan melalui sikap, termasuk "cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah" (Yak. 1:19). Bahkan, hikmat rohani juga dinyatakan dalam perbuatan yang lemah lembut. Yakobus berkata, "Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan...Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik" (3:13, 17).

"Tentu oleh sebab Allah adalah sumber dari segala hikmat yang benar maka kita memperoleh hikmat itu oleh mendengarkan Dia--membaca Firman-Nya dan menggunakan waktu dengan bijaksana merenungkan kehidupan Kristus 'yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita' (1Kor. 1:30). Dengan belajar memantulkan tabiat Kristus dalam kehidupan kita sendiri, kita menghidupkan kebenaran seperti di dalam Yesus. Itulah hikmat yang sejati" [alinea terakhir].

Dalam perspektif alkitabiah, hikmat berbeda dari pengetahuan. Bertutur tentang pengenalan akan rahasia Allah, rasul Paulus menulis: "Sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan" (Kol. 2:3). Pengetahuan (Grika: gnōsis) ialah kemampuan yang bersifat intuisi dan naluriah untuk memahami sesuatu yang kita dengar atau lihat; hikmat (sophia) adalah kemampuan untuk memastikan dan menghargai kebenaran secara bijak dan cerdas begitu suatu kebenaran dipahami. Menurut William Barclay [1907-1978], teolog dan komentator Alkitab asal Skotlandia, gnōsis adalah "apa yang seseorang pahami tentang kebenaran" sedangkan sophia ialah "dengan apa seseorang sanggup memberi suatu alasan atas pengharapan yang ada dalam dirinya."

Apa yang kita pelajari tentang hikmat yang harus diminta dari Allah dalam iman?
1. Setiap orang dewasa pernah menghadapi masalah hidup, ada yang terjadi akibat kesalahan sendiri dan ada yang terjadi karena maksud Tuhan yang tidak kita pahami. Tidak semua penderitaan hidup yang kita alami adalah cobaan untuk menguji iman kita, tetapi setiap penderitaan harus dihadapi dalam iman.
2. Iman adalah karunia Allah kepada manusia untuk menyanggupkan anda dan saya bertahan dalam cobaan hidup; hikmat adalah pemberian Allah kepada manusia untuk memahami kebenaran dari kehendak Allah. Karena iman kita dapat bersyukur untuk setiap cobaan, dan dengan hikmat kita dapat mengerti maksud setiap cobaan itu.
3. Hanya Allah sumber segala hikmat yang benar, dan hal itu diberikan-Nya "dengan murah hati dan dengan perasaan belas kasihan" (Yak. 1:5, BIMK). Setiap orang yang memintanya dengan percaya dan tidak bimbang pasti menerimanya (ay. 6). Iman dan hikmat adalah pemberian Allah yang secara bersama-sama menjadi dasar kekuatan rohani kita.

Rabu, 8 Oktober
ALASAN UNTUK PERCAYA (Sisi Lain Dari Iman)

Jauhi kebimbangan. Saya pernah dibuat tercengang oleh seorang ayah yang dengan rasa percaya diri yang cukup mengagumkan berani meminta bantuan beasiswa untuk anaknya yang kuliah di luar negeri kepada teman saya, seorang pengusaha sukses yang baru dikenalnya beberapa menit sebelumnya. Saya tahu cerita ini bukan dari sahabat saya tersebut, tapi justru dari bapak itu sendiri yang mengungkapkannya kepada saya. "Bagi kami yang penting sudah minta," ujarnya. "Soal dikasih atau tidak, itu urusan lain." Sebuah sikap optimistik yang jarang ditemukan. Tiada kebimbangan sama sekali. Optimisme berlebihan terkadang tampak seperti sesuatu yang tidak masuk akal bagi banyak orang, tetapi seringkali keajaiban bisa menjadi milik segelintir orang yang sangat yakin.

Namun demikian, Allah tentu berbeda dari manusia. Dia sendiri justru yang menawarkan kepada manusia untuk meminta dari pada-Nya. Ia berfirman, "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu" (Mrk. 11:24). Yakobus mendorong kita agar "memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang" (Yak. 1:6). Orang yang bimbang, katanya, "janganlah mengira ia akan menerima sesuatu dari Tuhan" (ay. 7). Bahkan, sang rasul berkata bahwa orang yang bimbang itu sama dengan "mendua hati" dan hidupnya tidak akan tenang (ay. 8). Sebab meminta sesuatu kepada Tuhan tapi disertai kebimbangan berarti meragukan kuasa dan kasih Allah, dan hal itu sama dengan melecehkan Tuhan.

"Kata 'bimbang' merujuk kepada seseorang yang hatinya terbagi; ini membantu kita untuk memahami hubungannya dengan mendua hati. Kita melihat sebuah contoh yang jelas tentang hal ini di Kadesh-Barnea. Di sana Israel menghadapi sebuah pilihan: maju dalam iman atau memberontak melawan Tuhan. Hebatnya, mereka memilih untuk memberontak dan ingin kembali ke perbudakan di Mesir. Bilamana  Allah campur tangan dan mengumumkan melalui Musa bahwa mereka akan mati di padang gurun, tiba-tiba orang banyak itu 'percaya'! Mereka berkata, 'Sekarang kita hendak maju ke negeri yang difirmankan Tuhan itu; memang kita telah berbuat dosa' (Bil. 14:40)" [alinea pertama].

Iman sebiji sawi. Menjawab permohonan murid-murid-Nya untuk beroleh lebih banyak iman, Yesus berkata: "Kalau kalian mempunyai iman sebesar biji sawi, kalian dapat berkata kepada pohon murbei ini, 'Tercabutlah engkau dan tertanamlah di laut,' pasti pohon ini akan menurut perintahmu" (Luk. 17:6, BIMK). Biji sawi [TB: sesawi] dalam ayat ini adalah terjemahan dari kata Grika sinapi, yaitu sejenis tumbuhan liar di Timur Tengah. Pohon yang bernama Latin Brassica nigra (moster hitam) ini bisa mencapai ketinggian sekitar tiga meter yang tumbuh dari biji sangat kecil bergaris tengah satu milimeter. Pada kesempatan lain Yesus juga menggunakan istilah iman sebiji sawi ini ketika berkata kepada murid-murid-Nya bahwa dengan iman sekecil itu mereka bisa "memindahkan gunung" (Mat. 17:20).

Tentu saja Yesus sedang berbicara dalam arti kiasan, bukan dalam pengertian harfiah. Untuk apa mendemonstrasikan iman dengan cara memindahkan pohon murbei atau gunung? Pelajarannya di sini ialah bahwa bukan ukuran iman yang penting tapi jenisnya; bukan kuantitasnya tapi kualitasnya. Iman yang kecil tapi berkualitas dapat melakukan perkara-perkara yang besar, sebab di dalam iman kecil yang sejati terpantul kuasa Allah yang dahsyat. Iman bertumbuh bukan dalam hal ukuran melainkan dalam pengharapan di hati kita.

"Ketika para murid meminta lebih banyak iman, Yesus berkata iman sebesar biji sesawi itu banyak. Yang penting ialah apakah iman kita itu hidup dan bertumbuh, dan hal ini bisa dan akan terjadi hanya apabila kita terus melatih iman itu oleh menjangkau dan percaya kepada Allah di dalam segala sesuatu" [alinea ketiga].

Apa yang kita pelajari tentang sisi lain dari iman?
1. Iman dan bimbang adalah dua hal yang tidak mungkin dipersandingkan karena sifat kedua hal itu sangat bertolak belakang, khususnya dalam mengatasi masalah hidup. Iman terfokus kepada Tuhan, bimbang terfokus kepada masalah; iman berorientasi pada kebulatan hati, bimbang berorientasi pada kemenduaan hati.
2. Definisi Alkitab mengenai iman ialah seperti ini: "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibr. 11:1). Iman tidak berlawanan dengan akal sehat; iman melampaui akal sehat. Iman adalah semacam "indera rohani" yang mampu melihat suatu pengharapan yang tersembunyi.
3. Karena iman adalah kemampuan untuk melihat sesuatu yang tidak kelihatan, maka iman sejati tidak ditentukan oleh ukurannya tetapi efeknya. Seperti kata Blaise Pascal [1623-1662], cendekiawan dan filsuf Kristen asal Prancis: "Dalam iman ada cukup terang bagi mereka yang mau percaya dan cukup bayangan untuk membutakan mereka yang tidak percaya."

Kamis, 9 Oktober
AMARAN TENTANG KEKAYAAN DAN KEMISKINAN (Orang Kaya dan Orang Miskin)

Susah dan senang silih berganti. Kita mengenal sebuah pemeo lama yang mengatakan, "Hidup ini seperti roda yang berputar." Maksudnya, selama kehidupan ini terus berputar maka selamanya akan ada masa yang senang dan masa yang susah datang silih berganti. Jalan kehidupan bukanlah seperti ruas jalan tol yang lurus dan mulus sampai berkilo-kilo meter jauhnya, bebas hambatan dan tanpa mendaki atau tikungan tajam. Kata orang, kita tidak hidup dalam sebuah dunia yang sempurna. Meski sering kita merasa seolah-olah kehidupan kita terus saja susah, pasti ada masa-masa di mana kita merasa senang. Masalahnya, kita bisa terobsesi dengan kekayaan dan apriori terhadap kemiskinan.

Seringkali susah dan senang itu diidentikkan dengan keadaan yang miskin dan kaya, seakan-akan orang miskin hidupnya selalu susah dan orang kaya hidupnya selalu senang. Tetapi simaklah perkataan rasul Yakobus ini: "Orang Kristen yang miskin hendaklah merasa gembira kalau Allah meninggikannya. Dan orang Kristen yang kaya hendaklah merasa gembira juga, kalau Allah merendahkannya. Sebab orang kaya akan lenyap seperti bunga rumput. Pada waktu matahari terbit dengan panasnya yang terik, maka rumput itu akan menjadi layu sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah pula keindahannya. Begitulah juga dengan orang yang kaya; ia akan hancur pada waktu ia sedang menjalankan usahanya" (Yak. 1:9-11, BIMK).

"Dalam surat yang pendek ini Yakobus menunjukkan kepedulian yang besar terhadap orang-orang miskin; sebagian bahkan menganggapnya sebagai temanya yang utama. Tapi bagi telinga moderen kecamannya terhadap orang kaya dan pembelaannya pada orang miskin kelihatannya ekstrem bahkan mengagetkan. Namun pada saat yang sama Yakobus tidak mengatakan sesuatu yang jauh berbeda dari apa yang Yesus sudah katakan" [alinea pertama].

Bahaya kekayaan dan kemiskinan. Kerajaan surga adalah untuk semua orang yang beriman dan bergantung kepada Tuhan, tidak peduli latar belakang status sosial dan ekonominya. Meskipun Yesus pernah berkata bahwa "lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah" (Mat. 19:24), bukan berarti bahwa orang kaya pasti tidak selamat dan orang miskin pasti masuk surga. Kekayaan maupun kemiskinan sama-sama berpotensi menghalangi kita untuk masuk surga, tergantung pada bagaimana anda dan saya "mengelola" dampak dari kekayaan ataupun kemiskinan itu pada sikap kita terhadap sesama manusia dan hubungan kita dengan Tuhan. Sebab banyak orang kaya yang rendah hati, dan banyak pula orang miskin yang sombong.

"Tentu saja Yakobus tidak menutup pintu kerajaan itu terhadap semua orang kaya. Akan tetapi, seperti Yesus, dia mengakui penggodaan-penggodaan berbahaya yang datang bersama kekayaan. Kaya atau miskin, kita perlu menjaga mata kita tetap pada upah yang nyata. Permasalahan dengan uang ialah bahwa hal itu cenderung menipu kita untuk memusatkan perhatian kepada hal-hal duniawi ketimbang hal-hal yang kekal (2Kor. 4:18)" [alinea kedua].

Pena inspirasi menulis: "Kristus telah menjadi sahabat orang miskin. Ia memilih kemiskinan dan menghormatinya dengan menjadikan kemiskinan sebagai nasib-Nya...Oleh mengabdikan Diri-Nya kepada kehidupan yang miskin Ia menebus kemiskinan itu dari kehinaannya. Ia mengambil posisi bersama orang miskin agar Ia boleh mengangkat dari kemiskinan itu aib yang dunia sematkan pada kemiskinan itu. Ia tahu bahaya dari cinta akan kekayaan. Ia tahu bahwa kecintaan seperti ini merusak banyak jiwa. Kekayaan itu menempatkan orang-orang yang kaya di mana mereka memanjakan setiap keinginan akan kemegahan. Kekayaan itu mengajar mereka untuk meremehkan orang-orang yang menderita tekanan kemiskinan. Kekayaan itu membangun kelemahan pikiran manusia dan menunjukkan bahwa meskipun bergelimang kekayaan orang kaya itu tidak kaya terhadap Tuhan" (Ellen G. White, Welfare Ministry, hlm. 172).

Apa yang kita pelajari tentang pendapat Yakobus terhadap kekayaan dan kemiskinan?
1. Kekayaan telah memaksa banyak orang berlomba untuk memburunya. Bahkan tak sedikit yang mempertaruhkan segalanya, termasuk kesehatan, demi kekayaan. Namun Alkitab berkata, "Percuma saja bekerja keras mencari nafkah, bangun pagi-pagi dan tidur larut malam; sebab Tuhan menyediakannya bagi mereka yang dikasihi-Nya sementara mereka sedang tidur" (Mzm. 127:2, BIMK).
2. Allah tidak memusuhi kekayaan atau membenci orang kaya, tapi Ia memusuhi dan membenci mereka yang menggunakan kekayaan untuk menindas orang miskin. Allah dapat mencabut kekayaan dari orang yang sombong dan memberikannya kepada orang yang rendah hati. "Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya" (Ams. 10:22).
3. Meskipun Tuhan adalah Sumber kekayaan dan berkuasa untuk menganugerahkan kekayaan kepada manusia, seringkali Ia memilih untuk tidak memberikan kekayaan itu kepada sebagian dari kita demi kebaikan kita sendiri. Yesus bertanya, "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" (Mat. 16:26).

Jumat, 10 Oktober
PENUTUP

Ujian kehidupan. Banyak orang yang mungkin merasakan bahwa menjalani kehidupan Kristiani ibarat mengikuti pendidikan di sebuah sekolah yang sistem pengajarannya padat dan sarat dengan ujian, tetapi tidak pernah menerbitkan ijazah ataupun diploma bagi peserta didik. Memang kehidupan Kristen adalah pendidikan sepanjang hayat dengan Firman Tuhan adalah textbook (buku pelajaran), alam menjadi alat peraga, dan cobaan hidup sebagai ujian. Yesus Kristus, Guru Agung kita itu, bersama Roh Kudus yang menjadi pengganti-Nya, tidak pernah berhenti mengajar serta mendidik kita supaya semua bisa lulus dan layak mengikuti "upacara wisuda" pada hari kedatangan-Nya yang kedua kali. "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia" (Yak. 1:12).

"Ujian-ujian kehidupan adalah alat Tuhan untuk menghilangkan kekotoran, kelemahan, dan kekasaran dari tabiat kita, dan melayakkannya bagi perhimpunan malaikat-malaikat surgawi yang suci dalam kemuliaan. Lalu, sementara kita melewati ujian, sementara api penderitaan dinyalakan atas kita, tidakkah kita akan memelihara mata kita terpusat pada perkara-perkara yang tak kelihatan, pada warisan yang kekal, hidup kekal, kemuliaan yang jauh lebih berbobot dan abadi?" [kalimat ketiga dan keempat].

Kehidupan orang Kristen yang penuh dengan cobaan hanya bisa dijalani dengan berhasil oleh iman, dan pada waktu yang sama iman kita akan semakin teguh dan murni setelah diasah dengan ujian. Allah ingin agar anda dan saya mengerti bahwa hidup oleh iman itulah yang berkenan kepada-Nya, bukan kehidupan dengan emosi yang menggebu-gebu. Iman menolong kita untuk menghadapi cobaan hidup dalam keheningan dan kesenyapan.

"Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia" (Ibr. 11:6).

(Oleh Loddy Lintong/California, 8 Oktober 2014; unggahan kedua, 9 Oktober 2014)

Jumat, 26 September 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT DEWASA KE XIII 27 SEPTEMBER 2014 "PUNCAK PENGHARAPAN UMAT PERCAYA"




Sabat Petang, 20 September
PENDAHULUAN

Akhir sebuah penantian. Untuk apa anda beragama kalau akhirnya tidak masuk surga, bukan? Sebagai orang Kristen, apa yang lebih penting dan lebih menggairahkan bagi kita selain menantikan kedatangan Yesus Kristus untuk membawa kita ke surga? Setiap umat percaya yang setia pasti merindukan kedatangan Tuhan kita sebab pada waktu itu ada janji-janji besar yang telah lama kita tunggu akan digenapi-Nya bagi anda dan saya.

Seperti yang telah kita pelajari pekan lalu bahwa pada hari itu akan ada kebangkitan orang mati, dan khusus bagi orang-orang saleh akan diubahkan dari kondisi "yang dapat binasa" kepada kondisi "yang tidak dapat binasa" (1Kor. 15:53) sehingga tubuh kita yang hina ini jadi "serupa dengan tubuh-Nya yang mulia" (Flp. 3:21). Bukan itu saja, umat tebusan akan diangkat "dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa" (1Tes. 4:17), dan pada saat itulah Ia akan memenuhi janji-Nya, "Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada" (Yoh. 14:3).

"Kedatangan Yesus kedua kali, yang lebih dari tiga ratus kali disebutkan dalam Perjanjian Baru, merupakan batu penjuru pengajaran kita. Hal ini penting bagi jatidiri kita sebagai umat Masehi Advent Hati Ketujuh. Doktrin ini terukir dalam nama kita, dan itu adalah bagian penting dari injil yang mana kita terpanggil untuk mengumandangkannya. Tanpa janji kedatangan-Nya, iman kita akan menjadi sia-sia. Kebenaran mulia ini memberi kita suatu perasaan takdir dan memotivasi missi jangkauan keluar kita" [alinea pertama].

Bagi orang-orang yang percaya kepada Yesus, kedatangan-Nya yang kedua kali adalah akhir dari sebuah penantian yang panjang dan mungkin bagi banyak orang begitu melelahkan. Tidak sedikit dari antara kita yang dalam penantian selama ini telah melalui berbagai penderitaan yang hampir tak tertahankan dan nyaris membuat iman kita rontok. Tetapi kita semua telah bertekad untuk bertahan, sama seperti rasul Paulus juga sudah bertahan, "Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita" (Rm. 8:18).

Dalam pelajaran terakhir triwulan ini kita akan mendalami berbagai hal tentang janji kedatangan Yesus yang kedua kali itu, termasuk maksud kedatangan-Nya, bagaimana peristiwa itu akan terjadi, kapan waktunya, dan bagaimana kita sebagai umat percaya harus menyiapkan diri mengantisipasi kedatangan Juruselamat kita itu.

Minggu, 21 September
"AKU AKAN DATANG KEMBALI" (Janji)

Perpisahan sementara. Kata-kata perpisahan Yesus dengan murid-murid disampaikan beberapa saat sebelum penangkapan dan penyaliban-Nya. Sebenarnya ini bukan pernyataan yang pertama sebab sebelumnya Yesus sudah pernah memberitahukan kepada mereka mengenai hal itu. "Anak-anak-Ku, Aku tidak akan tinggal lama lagi dengan kalian. Kalian akan mencari Aku, tetapi seperti yang sudah Kukatakan kepada para penguasa Yahudi, begitu juga Kukatakan kepada kalian; ke tempat Aku pergi, kalian tak dapat datang" (Yoh. 13:33, BIMK; huruf miring ditambahkan).

Sementara murid-murid lain masih bingung dan terkesima, Petrus murid yang berwatak spontanitas itu langsung bertanya, "Tuhan, mengapa saya tidak dapat mengikuti Tuhan sekarang? Saya rela mati untuk Tuhan!" (ay. 37, BIMK). Tentu saja Petrus tidak mengerti, atau saat itu belum mengerti, ke mana Yesus hendak pergi. Yesus akan terpisah dari mereka sebab Ia harus menunaikan missi penebusan manusia di kayu salib, mati untuk dibangkitkan pada hari ketiga.

"Sesudah Perjamuan Terakhir, Yesus mengatakan kepada murid-murid bahwa Ia akan pergi ke suatu tempat di mana mereka, setidaknya untuk saat itu, tidak dapat pergi (Yoh. 13:33). Pemikiran dipisahkan dari Sang Guru memenuhi hati mereka dengan kesedihan dan rasa takut...Kristus mengetahui kerinduan mereka yang meyakinkan mereka bahwa perpisahan itu hanya untuk sementara" [alinea pertama: dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].

Janji yang pasti. Beberapa hari setelah kebangkitan-Nya dari kubur Yesus mengadakan pertemuan khusus dengan murid-murid-Nya, hanya dalam rangka untuk berpamitan karena Ia akan berpisah dari mereka untuk waktu yang panjang. Simaklah kata-kata perjanjian ini: "Jangan hatimu gelisah," kata Yesus kepada mereka. "Percayalah kepada Allah, dan percayalah kepada-Ku juga. Di rumah Bapa-Ku ada banyak tempat tinggal. Aku pergi ke sana untuk menyediakan tempat bagi kalian. Aku tidak akan berkata begitu kepadamu, sekiranya itu tidak demikian. Sesudah Aku pergi menyediakan tempat untuk kalian, Aku akan kembali dan menjemput kalian, supaya di mana Aku berada, di situ juga kalian berada. Ke tempat Aku pergi kalian tahu jalannya" (Yoh. 14:1-4, BIMK; huruf miring ditambahkan).

Perhatikan beberapa hal penting yang saling berkaitan dalam ayat-ayat di atas. Gelisah, dari kata Grika tarassō, berarti "membingungkan pikiran dengan menimbulkan keragu-raguan" (Strong; G5015). Percaya, dari kata pisteuō, artinya "yakin bahwa hal itu benar" atau "mengakuinya sebagai suatu kenyataan: iman intelektual" (Strong; G4102). Menyediakan, dari kata hetoimazō, artinya "mengadakan persiapan-persiapan yang perlu" atau dalam arti kiasan "menyiapkan pikiran manusia untuk menerima Mesias" (Strong, G2092). Menjemput, dari kata paralambanō, artinya "mengajak bersama-sama" atau "mengakui mereka sebagai milik" (Strong; G3844). Injil Lukas menyatakan, "Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya" (Luk. 21:27). Kitab Wahyu menubuatkan, "Lihat, Ia datang diliputi awan! Semua orang akan melihat Dia, termasuk juga mereka yang telah menikam-Nya. Segala bangsa di bumi akan meratap karena Dia. Ya, pasti! Amin!" (Why. 1:7, BIMK; huruf miring ditambahkan).

"Kenyataan dari kedatangan-Nya yang pertama menopang kepastian dari kedatangan-Nya yang kedua...Kalau Tuhan kita menghormati semua janji-janji-Nya di masa lalu, bahkan janji-janji yang dari sudut pandang seorang manusia tampak mustahil, maka kita bisa pastikan bahwa Ia akan menepati janji-Nya untuk datang kembali" [alinea kelima: kalimat terakhir; alinea terakhir: kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang janji Yesus untuk datang kembali?
1. Setelah bersama-sama kurang-lebih tiga setengah tahun, Yesus berpisah dari murid-murid-Nya selama kurang-lebih tiga hari ketika Juruselamat itu harus menuntaskan missi-Nya terakhir di kayu salib. Tapi pada hari ketiga Ia memenuhi janji-Nya, bahwa "tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit" (Mrk.9:31).
2. Perpisahan sementara selama tiga hari itu saja sudah cukup membuat murid-murid dan orang-orang percaya lainnya gelisah dan seakan kehilangan pegangan, tapi kebangkitan-Nya telah menghapus keraguan dan kecemasan mereka. Tetapi perpisahan sementara itu mendahului sebuah perpisahan yang panjang bilamana Yesus diangkat ke surga.
3. Selama kebersamaan mereka dengan Yesus murid-murid itu sudah berkali-kali mengalami kegenapan janji-janji Guru mereka itu, dan semuanya menjadi "modal" bagi keyakinan mereka bahwa Ia juga akan menggenapi janji-Nya untuk kembali. Dalam pengalaman hidup anda, berapa kali anda merasakan janji-janji Tuhan digenapi, dan bagaimana hal itu dapat menjadi "modal" bagi iman anda?

Senin, 22 September
REALISASI RENCANA KESELAMATAN (Maksud Kedatangan Yesus Kedua Kali)

Ketidakadilan hidup. Salah satu pengajaran Yesus yang sangat paradoksal (bersifat melawan asas) adalah ketika Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya" (Mat. 16:25). Sebelumnya Ia telah berkata bahwa setiap orang yang hendak menjadi pengikut-Nya harus siap untuk menyangkal diri dan memikul salib (ay. 24). Artinya, seorang pengikut Kristus harus siap untuk "kehilangan" hidup demi "memperoleh" hidup. Kehidupan seperti apa yang harus kita relakan untuk hilang, dan kehidupan bagaimana yang akan kita dapatkan sebagai gantinya?

"Hidup tidak selalu adil; bahkan, lebih sering tidak adil. Kita tidak selalu melihat keadilan di masyarakat kita. Orang-orang yang tidak bersalah menderita sementara orang-orang yang jahat tampaknya makmur. Banyak orang tidak menerima apa yang layak bagi mereka. Tetapi kejahatan dan dosa tidak akan berkuasa selamanya. Yesus akan datang 'membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya' (Why. 22:12)" [alinea kedua].

Untuk mengakhiri ketidakadilan hidup ini maka Yesus harus datang kembali, "Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya" (ay. 27; huruf miring ditambahkan). Kata Grika apodidōmi, yang dalam ayat ini diterjemahkan dengan membalas, adalah sebuah kata kerja yang dapat berarti "melunasi hutang yang sudah jatuh tempo" atau juga "membalas dalam pengertian hal yang baik atau buruk" (Strong; G591). Dalam PB versi King James kata ini digunakan sebanyak 50 kali dalam 46 ayat, termasuk "Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya" (Rm. 2:6; huruf miring ditambahkan).

Keadilan akan ditegakkan. Dalam kehidupan sehari-hari ketidakadilan hidup sering hanya bisa dikeluhkan, atau dalam cara yang agak politis ialah dengan cara melakukan "demonstrasi" sebagai tanda protes atau penolakan, tapi bagi banyak orang hanya bisa dihadapi dengan mengelus dada saja. Namun, pada akhirnya keadilan akan ditegakkan ketika setiap perbuatan manusia akan menuai pembalasa. Alkitab menyatakan, "Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya" (Why. 22:12; huruf miring ditambahkan). Masalahnya ialah bahwa kita harus sabar menunggu bilamana saat itu akan tiba.

Sebagai umat beragama, khususnya orang Kristen, kita percaya bahwa Allah tetap memegang kendali atas segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. Terkadang, dalam hikmat-Nya yang tak terduga itu Ia membiarkan hal-hal yang buruk tejadi dalam kehidupan pribadi kita, dan mengizinkan peristiwa-peristiwa serta bencana-bencana yang lebih besar menimpa umat manusia sehingga menelan korban orang-orang yang tidak bersalah. Namun, sebagai umat percaya, kita tidak pernah kehilangan pengharapan bahwa pada akhirnya Tuhan akan bertindak dan keadilan ditegakkan. Tidak selamanya kita harus menunggu sampai hari kiamat, seringkali Allah bertindak lebih cepat selama kita menyerahkan semua itu kepada Dia yang berkata, "Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan" (Ibr. 10:30).

"Juga, pada kedatangan yang kedua itu mereka yang tidur di dalam Kristus akan dibangkitkan untuk hidup kekal. Seperti yang kita lihat terdahulu--sebab kita tahu bahwa orang mati itu tidur di dalam kubur--janji Kedatangan Kedua dan kebangkitan untuk hidup kekal yang mengikutinya itu sangat penting bagi kita...Dan orang-orang benar yang masih hidup dan orang-orang kudus yang dibangkitkan itu menyatukan suara mereka dalam pekik kemenangan yang panjang dan penuh kegembiraan" [alinea keempat; alinea terakhir: kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang maksud dari kedatangan Yesus kedua kali nanti?
1. Kedatangan Yesus kedua kali merupakan realisasi dari rencana keselamatan yang Allah telah canangkan di Taman Eden, yaitu bilamana Yesus akan datang untuk membangkitkan orang-orang saleh yang sudah mati dan bersama mereka yang masih hidup akan diubahkan lalu dibawa ke surga bersama Dia.
2. Kedatangan kedua kali itu juga sekaligus untuk mengakhiri ketidakadilan yang merajalela di muka bumi ini, dan yang telah menimpa umat Allah dan orang-orang benar. Yesus datang kedua kali untuk "membalas" segala perbuatan manusia, kepada orang-orang saleh dengan upah hidup kekal, kepada orang-orang jahat dengan kebinasaan kekal.
3. Sistem hukum manusia yang berlaku dalam dunia yang beradab memang sudah menyediakan "pembalasan" terhadap tindakan kejahatan atau perbuatan melanggar hukum, namun sangsi yang diberikan itu acapkali jauh dari rasa keadilan masyarakat. Pada kedatangan-Nya yang kedua, Yesus akan membalas secara adil.

Selasa, 23 September
PERISTIWA SPEKTAKULER (Bagaimana Yesus Akan Datang?)

Awas tertipu! Kedatangan Yesus kedua kali juga merupakan puncak dari semua nubuatan alkitabiah, dan berkaitan dengan nubuatan primer itu ada beberapa nubuatan sekunder yang akan lebih dulu digenapi. Adalah Yesus sendiri yang bernubuat perihal kedatangan-Nya yang kedua kali, dengan segala tanda-tanda yang mendahuluinya, sebagaimana dapat kita bahwa dalam Matius pasal 24. Salah satunya adalah tentang bagaimana peristiwa itu akan terjadi dan amaran kepada kita. "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang," kata Yesus. "Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia" (ay. 24-25, 27).

"Petir tidak dapat disembunyikan atau dipalsukan. Itu bercahaya dan bersinar di seantero langit dengan cara sedemikian rupa sehingga semua orang bisa melihatnya. Akan seperti itulah kedatangan Yesus yang kedua kali. Tidak perlu iklan untuk menarik perhatian orang banyak terhadap hal itu. Setiap manusia, baik atau jahat, yang selamat maupun yang binasa, bahkan 'mereka yang telah menikam Dia' (Why. 1:7), akan melihat Dia datang (Mat. 26:24)" [alinea kedua].

Pada malam hari tanggal 15 Februari 2013, ketika sebuah meteor yang berasal dari asteroid dekat menembus atmosfir Bumi di atas wilayah Rusia dalam kecepatan kecepatan 69.000 Km per jam kemudian meledak di ketinggian sekitar 29,7 Km, cahaya yang ditimbulkan oleh benda angkasa yang dinamai "Meteor Chelyabinsk" itu jauh lebih menyilaukan dari cahaya matahari pada siang hari. Begitu juga, badai petir yang terjadi di langit kota Hebron, Maryland, AS pada hari Sabtu pagi tanggal 30 Juni 2012, dalam terik matahari ketika suhu musim kemarau mencapai sekitar 100 derajat Fahrenheit (37,8 C), cahaya yang berpendar di langit mengalahkan benderangnya sinar matahari. Namun, gemerlapnya cahaya kemuliaan berlaksa-laksa malaikat yang menemani Yesus pada kedatangan-Nya yang kedua nanti akan membuat dahsyatnya cahaya dari dua fenomena alam yang pernah disaksikan manusia itu menjadi tak berarti.

Dua pemandangan dahsyat. Kata yang diterjemahkan dengan "kedatangan" dalam Matius 24:27 di atas berasal dari kata Grika parousia, sebuah kata benda feminin yang juga berarti tiba atau hadir. Kata ini digunakan sebanyak 24 kali di seluruh Perjanjian Baru, 16 di antaranya merujuk kepada kedatangan Yesus kedua kali. Pada hari itu akan berlangsung dua pemandangan dahsyat yang terjadi di planet kita ini, satu di darat dan satu di angkasa. Pemandangan di darat ialah terbelahnya kubur-kubur dan bangkitnya orang-orang yang sudah mati, bahkan mereka yang terkubur di dalam laut maupun tertimbun tanah akibat kecelakaan atau sebab lain yang selama ini jasadnya tidak pernah ditemukan, semuanya akan bermunculan keluar "pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi" (1Tes. 4:16).

Pemandangan dahsyat lainnya, yang terjadi di angkasa, ialah gemuruhnya kedatangan rombongan Raja Surga bersama seluruh malaikat pengawal yang tak terhitung jumlahnya. Berpatokan pada apa yang Alkitab katakan, kita mungkin bisa membayangkan bahwa pada waktu itu surga yang biasanya ramai tiba-tiba menjadi lengang karena yang ada di atas sana cuma Allah Bapa bersama Elia, Musa, Henokh, dan segelintir orang-orang yang barangkali telah dibangkitkan sebelumnya dalam "kebangkitan istimewa" dan diangkat ke surga. Kedatangan Yesus kedua kali pasti terjadi sebab hal itu menyangkut integritas Kristus yang sudah berjanji, "Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku" (Yoh. 14:3). Bahkan soal kedatangan Yesus itu juga menyangkut reputasi Bapa itu sendiri, sebab "Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia" (1Kor. 1:9).

"Pada kedatangan-Nya yang kedua kali, Kristus akan tampak dengan segala kemuliaan ilahi-Nya sebagai 'RAJA DI ATAS SEGALA RAJA, DAN TUHAN DI ATAS SEGALA TUAN' (Why. 19:16). Dalam penjelmaan, Anak itu datang sendiri tanpa kemegangan lahiriah, dan 'tak ada yang indah padanya untuk kita pandang; tak ada yang menarik untuk kita inginkan' (Yes. 53:2, BIMK). Tetapi kali ini Ia akan turun dengan seluruh keagungan dan kemegahan-Nya, dikelilingi oleh 'semua malaikat' (Mat. 25:31) dan dengan 'sangkakala yang dahsyat bunyinya' (Mat. 24:31). Kalau semua itu belum cukup, orang yang mati di dalam Kristus akan bangkit kepada kekekalan" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang bagaimana rupanya kedatangan Yesus kedua kali?
1. Kedatangan Yesus kedua kali merupakan tema pokok dari Alkitab PB. Subyek ini disinggung sebanyak lebih dari enam puluh kali, termasuk beberapa kali diucapkan oleh Yesus sendiri, dengan lebih dari 300 ayat rujukan. (Klik di sini---> http://www.jesus.org/early-church-history/promise-of-the-second-coming/does-the-bible-teach-that-jesus-will-return.html).
2. Tidak seperti kemunculan benda-benda angkasa seperti meteor ataupun sambaran petir yang hanya terlihat secara lokal, peristiwa kedatangan Yesus kedua kali akan menjadi pemandangan yang meliputi seantero Bumi sehingga dapat disaksikan oleh semua manusia dari belahan dan sudut manapun dia berada.
3. Kedatangan Yesus kedua kali bakal menjadi peristiwa paling spektakuler yang dapat disaksikan umat manusia sejak penciptaan, dan itu akan merupakan demonstrasi tentang kemegahan surga. Mungkin peristiwa itu hanya bisa tertandingi dengan pemandangan turunnya kota Yerusalem Baru di akhir masa seribu tahun.

Rabu, 24 September
MENANTI DENGAN PERSIAPAN (Kapan Yesus Akan Datang)

Kehancuran Yerusalem dan kiamat dunia. Pertanyaan tentang kapan Yesus akan datang kembali sudah menjadi bahan perbincangan banyak orang sejak lama dan tak urung telah melahirkan berbagai spekulasi berdasarkan cara penghitungan dan pendapat masing-masing yang ternyata tidak pernah terbukti. Semua itu cuma membuktikan kebenaran Alkitab bahwa "tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri" (Mat. 24:36). Namun, meskipun tidak ada waktu yang definitif mengenai hari kedatangan-Nya, Yesus sempat mengutarakan tanda-tanda yang akan terjadi menjelang hari itu. Menariknya lagi, Yesus memberitahukan pertunjuk-petunjuk menjelang penghancuran kota Yerusalem purba secara bersamaan dengan tanda-tanda datangnya hari kiamat.

Sebelumnya, saat Yesus dan murid-murid baru keluar dari Bait Suci di Yerusalem, murid-murid dengan rasa bangga telah berusaha menarik perhatian Yesus kepada bangunan yang megah itu, tetapi Ia menanggapinya dengan bernubuat bahwa bangunan yang hebat itu akan dihancurkan sampai rata dengan tanah (Mat. 24:1-2). Ini adalah Kaabah Kedua yang dibangun oleh Zerubabel dan Ezra (Ez. 6:15), dan kemudian telah direnovasi oleh raja Herodes sehingga menjadi jauh lebih indah dan luas, sebuah proyek pemugaran yang berlangsung selama 82 tahun (19 SM-63 TM). Menurut Yosepus, seorang sejarahwan Yahudi terpercaya, sebagian besar dari dinding luar bangunan itu dilapisi emas sehingga bila ditimpa cahaya matahari tampak sangat menyilaukan mata, sedangkan bagian-bagian yang berlapiskan pualam putih akan tampak dari kejauhan seakan bagian-bagian itu tertutup salju.

Pada hari yang sama itu, ketika Yesus dan murid-murid sedang bercengkerama di Bukit Zaitun sambil memandang ke arah kota Yerusalem, murid-murid yang masih penasaran dengan pernyataan Yesus perihal nasib buruk yang akan menimpa kota kebanggaan mereka itupun langsung bertanya, "Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?" (Mat. 24:3). Untuk menjawabnya Yesus pun mulai membeberkan berbagai peristiwa yang akan mendahului dua kejadian itu. "Jawaban Yesus dengan cekatan menggabungkan tanda-tanda untuk dua peristiwa: kejatuhan Yerusalem pada tahun 70 TM dan kedatangan-Nya yang kedua kali, sebab murid-murid belum siap untuk memahami perbedaan di antara keduanya. Adalah penting bagi kita untuk mengerti sifat dan maksud dari tanda-tanda ini...Sementara kita jangan pernah menjadi penentu tanggal, kita pun jangan pernah mengabaikan waktu di mana kita hidup" [alinea kedua: dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].

Tanda dekatnya Hari Tuhan. Kepada umat Tuhan abad pertama di kota Tesalonika, rasul Paulus menulis: "Mengenai kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus, dan mengenai akan dikumpulkannya kita untuk tinggal bersama Dia, inilah yang saya minta dengan sangat dari kalian: Janganlah cepat-cepat bingung atau gelisah karena adanya berita bahwa sudah sampai harinya Tuhan Yesus datang kembali. Mungkin berita itu berasal dari suatu nubuat, atau dari suatu ajaran; atau boleh jadi ada yang berkata bahwa kami pernah menulis yang demikian di dalam salah satu surat kami. Bagaimanapun juga, jangan membiarkan orang menipu kalian. Sebab sebelum tiba Hari itu, haruslah terjadi hal ini terlebih dahulu: Banyak orang akan murtad, mengingkari Kristus; dan Manusia Jahat yang ditakdirkan untuk masuk ke neraka, akan menampilkan diri" (2Tes. 2:1-3, BIMK; huruf miring ditambahkan).

Ayat-ayat ini mengindikasikan bahwa telah terjadi keresahan di kalangan orang Kristen mula-mula di kota Tesalonika itu sehingga Paulus perlu menghibur mereka sembari menegaskan tentang tanda-tanda yang mesti terjadi menjelang kedatangan Yesus. Beberapa komentator Alkitab menyebut bahwa bagian dari surat rasul Paulus ini berbicara tentang dua peristiwa berbeda, sebagaimana tersirat pada kalimat pertama: kedatangan Yesus sebelum masa seribu tahun untuk umat-Nya, dan kedatangan Yesus sesudah masa seribu tahun bersama umat-Nya. Sedangkan mengenai identitas "Manusia Jahat" (Grika: anthrōpos tēs anomias; KJV: man of sin; NASB dan beberapa versi lain: man of lawlessness) yang disebutkan dalam ayat-ayat di atas, sebagian komentator merujuknya kepada "naga" dalam kitab Wahyu (12:4, 7), yaitu Iblis; sebagian lagi mengidentifikasikannya dengan "tanduk kecil" dalam kitab Daniel, yaitu kepausan, yang telah berani "menentang Yang Mahatinggi...menganiaya orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi, dan berusaha mengubah waktu dan hukum" (Dan. 7:25).

"Ide paling penting yang Yesus ingin tanamkan pada pikiran murid-murid ialah bahwa kedatangan-Nya sudah dekat. Sesungguhnya, keseluruhan khotbah nubuatan-Nya ditujukan kepada rasul-rasul seolah-olah mereka masih tetap hidup waktu Ia datang (baca Mat. 24:32-33, 42)...Dalam arti sebenarnya, dari sudut pandang pribadi kita masing-masing, Kedatangan Kedua itu tidak pernah lebih jauh dari saat sesudah kematian kita...Bagi kita masing-masing, secara pribadi, kedatangan-Nya tidak pernah lebih dari saat setelah kita mati" [alinea ketiga; alinea terakhir: kalimat pertama dan terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang kapan Yesus datang kedua kali?
1. Alkitab telah menegaskan bahwa kedatangan Yesus kedua kali tidak ada yang tahu kecuali Bapa surgawi, dan Yesus sendiri berkata, "Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu" (Why. 3:3), maka tugas kita adalah "berjaga-jaga" dan "memperhatikan pakaian" [tabiat] kita masing-masing (Why. 16:15).
2. Kedatangan Yesus kedua kali, yang menandai tibanya hari kiamat, akan didahului oleh peristiwa-peristiwa sebagai pertanda sudah dekatnya hari itu. Setidaknya ada 15 ayat dalam keempat Injil, dan 44 ayat lainnya di luar Injil, yang bertutur tentang tanda-tanda kedatangan Yesus kedua kali. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar mengerti dan memperhatikannya?
3. Rasul Petrus mengingatkan: "Pertama-tama, kalian harus tahu bahwa pada hari-hari akhir, akan muncul orang-orang yang kehidupannya dikuasai oleh hawa nafsu mereka sendiri. Mereka akan mengejek kalian dengan berkata begini, "Katanya Tuhan berjanji akan datang! Sekarang mana Dia? Bapak-bapak leluhur kita sudah meninggal, tetapi segala-galanya masih sama saja seperti semenjak terciptanya alam!" (2Ptr. 3:3-4, BIMK).

Kamis, 25 September
MENUNGGU DALAM KEWASPADAAN (Berjaga dan Bersedia)

Siaga sambil sibuk. Walaupun kedatangan Yesus kedua kali akan didahului oleh berbagai peristiwa yang menandakan dekatnya hari Tuhan itu, namun saat kedatangan-Nya itu sendiri dapat terjadi secara tiba-tiba dan tak disangka-sangka, "seperti pencuri pada malam" (1Tes. 5:2; bandingkan dengan 2Ptr. 3:10). Yesus menyarankan kita agar menarik pelajaran dari pohon ara, "Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu" (Mat. 24:32-33). Selanjutnya Yesus menasihati, "Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang...Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga" (ay. 42, 44).

Pernahkah anda berada dalam situasi menunggu di sebuah tempat, tetapi karena terlampau lama membuat anda mengantuk lalu tertidur? Mungkin itu ketika berada di ruang tunggu bandara (bandar udara), menunggu kereta api, atau bahkan menantikan seseorang di rumah anda sendiri sampai anda bosan menunggu. Cara yang paling ampuh untuk mengatasi kebosanan saat menunggu ialah melakukan suatu aktivitas, misalnya membaca atau mengobrol. Kita beruntung hidup di era teknologi informasi digital sehingga memungkinkan kita untuk tetap sibuk mengutak-atik ponsel cerdas atau tablet, apalagi koneksi internet kini tersedia hampir di semua tempat umum dengan berbagai aplikasi media sosial bahkan permainan-permainan yang dapat membuat seseorang lupa waktu. Sambil menantikan kedatangan Tuhan, anda dan saya dapat mengatasi kebosanan dengan aktif beribadah, melawat, dan menginjil.

"Intisari khotbah nubuatan Yesus adalah kata kerja berbentu perintah, berjagalah, yaitu senantiasa waspada. Itu bukan berarti menunggu dalam kemalasan tetapi kewaspadaan yang aktif, sebagaimana pemilik rumah yang tetap tekun menghadapi kemungkinan pencuri (Mat. 24:43). Sementara menunggu dengan waspada, kita mempunyai satu pekerjaan untuk dilakukan, seperti hamba yang setia itu menjalankan tugas-tugas yang dipercayakan tuannya kepadanya selama majikannya tidak ada (Mat. 24:45; Mrk. 13:34-37)" [alinea pertama].

Hamba macam apakah anda? Dalam khotbah mengenai kedatangan-Nya yang kedua--khususnya menyangkut amaran untuk berjaga dan bersedia--Yesus mengutarakan perumpamaan tentang majikan yang mempunyai dua orang hamba dengan akhlak yang berbeda, hamba yang setia dan hamba yang jahat. Sementara hamba yang setia (tentu dia juga baik!) sibuk mengerjakan tugas sambil terus siap sedia bila tuannya pulang, hamba yang jahat itu tidak mengerjakan apa-apa bahkan kejam terhadap anak buahnya sampai tuannya datang dan menghukum dia (Mat. 24:48-51; Luk. 12:45-46). Lalu, seperti biasa, Petrus dengan spontan bertanya: "Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?" (Luk. 12:41). Tuhan menjawab, "Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya?" (ay. 42; bandingkan dengan Mat. 24:45).

Dapatkah kita menangkap pesan moral dalam perumpamaan ini, khususnya tentang hamba yang jahat itu? Banyak di antara kita yang telah dipercayakan Tuhan dan organisasi gereja dengan jabatan kepemimpinan dalam pekerjaan Tuhan, pada bidang-bidang dan tingkatan-tingkatan yang berbeda, untuk menjadi "hamba Tuhan" yang bertanggungjawab demi kesuksesan dan penyelesaian pekerjaan-Nya. Sementara nasihat untuk siap siaga bagi kedatangan Tuhan sifatnya menyeluruh "kepada semua orang" yang percaya (Mrk. 13:37), kepada mereka yang berkesempatan menjadi pemimpin-pemimpin dalam pekerjaan Tuhan diamarkan untuk waspada terhadap sikap dan perilaku mereka, sebab kalau tidak Tuhan akan "membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia" (Luk. 12:46) atau "senasib dengan orang-orang munafik" (Mat. 24:51).

"Perumpamaan tentang hamba yang jahat itu sangat serius, khususnya bagi kita sebagai umat Masehi Advent Hari Ketujuh. Hamba ini melambangkan mereka yang mengaku percaya bahwa Kristus akan datang lagi, tetapi tidak segera...Apa lagi, sekalipun jika Kristus belum datang, siapapun di antara kita bisa saja dipanggil untuk beristirahat tanpa diduga-duga, tiba-tiba mengakhiri kesempatan kita untuk meluruskan berbagai hal dengan Tuhan. Tetapi lebih penting lagi, mengulangi pemanjaan dalam dosa yang secara bertahap mengeraskan dan mengurangi kepekaan hati nurani sehingga hal itu membuat lebih sulit untuk bertobat. Iblis tidak peduli bahwa secara teoretis kita percaya pada kedatangan Yesus kedua kali, selama dia dapat membuat kita menunda persiapan kita untuk itu" [alinea kedua: dua kalimat pertama dan tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang amaran untuk berjaga dan bersedia?
1. Mempelajari dan mengetahui tanda-tanda kedatangan Yesus adalah satu hal, berjaga dan bersedia adalah hal yang lain. Artinya, seseorang mungkin sangat paham tentang tanda-tanda dekatnya "hari Tuhan" itu, tapi bisa saja pada saat Tuhan datang orang itu ternyata tidak siap. Jadi, dalam hal menghadapi kedatangan Yesus kedua kali, persiapan lebih penting dari pengetahuan!
2. Menunggu sangat mudah membuat kita bosan dan tertidur. Untuk mengatasi kejenuhan rohani dalam menanti kedatangan Yesus kedua kali, Tuhan sudah menyediakan untuk kita berbagai aktivitas rohani. Yaitu firman Tuhan (bacaan rohani), persekutuan dan perlawatan (media sosial rohani), serta evangelisasi ("games" rohani).
3. Perumpaan tentang hamba yang baik dan hamba yang jahat bukan sekadar sisipan, itu mengandung pesan moral yang sangat penting bagi semua hamba Tuhan. Kita memiliki doktrin tentang penutupan "pintu kasihan" menjelang kedatangan Yesus, dan hal itu bisa bersifat masal atau personal. Bersedialah dan bertobatlah sekarang juga, jangan terkecoh oleh situasi (1Tes. 5:3).

Jumat, 26 September
PENUTUP

Pemandangan tak terlukiskan. Kita sudah pelajari bahwa kedatangan Yesus kedua kali kelak akan menjadi sebuah pemandangan paling menakjubkan dalam sejarah dunia, bahkan jauh lebih spektakuler dari penciptaan alam semesta ini. Sebab ketika Allah menciptakan Bumi dan segala isinya Ia bekerja dalam keheningan, setidaknya tanpa keterlibatan malaikat-malaikat surga. Tetapi pada Kedatangan Kedua itu, di penghujung riwayat dunia yang fana ini, Tuhan akan datang dengan seluruh malaikat yang jumlahnya "berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa" (Why. 5:11). Dalam hal waktu kedatangan-Nya itu bersifat rahasia tanpa kehebohan layaknya pencuri yang memasuki rumah orang (1Tes. 5:2), tetapi dalam hal suasana kedatangan-Nya itu akan sangat riuh "sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya..." (Mat. 16:27).

"Dengan lagu-lagu surga para malaikat suci itu, suatu kelompok besar yang tak terhitung banyaknya, menyertai Dia dalam perjalanan-Nya. Langit seolah dipenuhi dengan sosok-sosok yang gemerlapan--'berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa.' Tak ada pena manusia yang dapat melukiskan pemandangan itu; tak ada pikiran yang fana mampu membayangkan kemegahannya" [tiga kalimat terakhir].

Namun, apa yang paling membuat anda paling bergairah dalam menantikan kedatangan Yesus? Suasana kedatangannya yang akan menjadi seperti tontonan spektakuler itu, atau pahala yang dibawa-Nya untuk anda? Bagi saya, kalau kita memang sudah membereskan semua urusan pribadi dengan Tuhan sehingga kita memiliki keberanian dan tidak malu untuk menyongsong Dia (1Yoh. 2:28), saya sangat suka kedua-duanya: menikmati tontonan suasana kedatangan Yesus dan menerima pahala keselamatan itu!

"Sebab Allah sudah menunjukkan rahmat-Nya guna menyelamatkan seluruh umat manusia. Rahmat Allah itu mendidik kita supaya tidak lagi hidup berlawanan dengan kehendak Allah dan tidak menuruti keinginan duniawi. Kita dididik untuk hidup dalam dunia ini dengan tahu menahan diri, tulus dan setia kepada Allah. Sekarang kita sedang menantikan Hari yang kita harap-harapkan itu; pada Hari itu dunia akan melihat keagungan Yesus Kristus, yaitu Allah Mahabesar dan Raja Penyelamat kita" (Tit. 2:11-13, BIMK).

(Oleh Loddy Lintong/California, 25 September 2014)

Jumat, 19 September 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT KE XII SEPTEMBER 20,2014: "KETIKA MAUT AKHIRNYA DITAKLUKKAN"




PELAJARAN KE-XII; 20 September 2014
"KEMATIAN DAN KEBANGKITAN"


Sabat Petang, 13 September
PENDAHULUAN

Diciptakan untuk hidup. Seorang seniman dan penulis kontemporer asal Jepang, Haruki Murakami, dalam kumpulan cerita pendeknya bertajuk "Blind Willow, Sleeping Woman" menulis: "Kematian bukan lawan dari kehidupan, tapi kematian adalah bagian dari kehidupan." Alasannya, karena kematian adalah keadaan yang tak dapat dihindari maka lebih baik kematian itu diterima sebagai kenyataan hidup. Tetapi dia salah, sebab pada awalnya manusia diciptakan untuk hidup, bukan untuk mati. Kematian adalah sebuah "kecelakan sejarah" dalam riwayat manusia karena hal itu tidak pernah direncanakan oleh Sang Pencipta.

Selama hidup-Nya di atas bumi ini Yesus beberapa kali berhadapan dengan urusan kematian manusia, dan Ia selalu merasa iba terhadap nasib manusia yang ditimpa kematian. Yesus bukan saja menghibur dengan kata-kata, "Jangan menangis" (Luk. 7:13) atau "Jangan takut" (Mrk. 5:36), tetapi Ia juga bertindak atas kematian dengan membangkitkan orang-orang yang sudah mati itu. "Talita kum," (dalam bahasa Aram artinya: Anak perempuan) kata Yesus kepada anak Yairus, kepala rumah ibadah itu, "Aku berkata kepadamu, bangkitlah!" (ay. 41). Seketika itu juga gadis remaja itu bangun berdiri lalu berjalan (ay. 42). Yesus merasakan kedukaan manusia akibat kematian, dan Yesus ikut menangis bersama keluarga Lazarus yang sedang berduka (Yoh. 11:35).

"Tetapi Kristus melakukan lebih jauh dari sekadar menangis. Setelah menaklukkan maut dengan kematian dan kebangkitan-Nya sendiri, Ia memegang kunci maut itu, dan Ia berjanji untuk membangkitkan setiap orang yang percaya pada-Nya kepada hidup yang kekal. Hal ini merupakan janji terbesar yang telah diberikan kepada kita dalam firman Allah; kalau tidak, jika kematian yang menentukan, seluruh hidup kita dan segala sesuatu yang pernah kita capai akan menjadi sia-sia" [alinea terakhir].

Hidup manusia memang sering hanya selangkah dari maut, tetapi kematian bukanlah akhir dari kehidupan orang-orang percaya. Kematian mungkin bisa terjadi kapan saja atas umat Tuhan selagi hidup di dunia ini, tetapi kematian itu hanyalah akhir dari sebuah kehidupan yang fana dan bukan akhir dari segalanya. Kematian hanya mengakhiri hidup sementara, tetapi tidak mengakhiri hubungan kita yang abadi dengan Kristus, Sumber kehidupan kita.

Minggu, 14 September
KEMATIAN DALAM PERSPEKTIF ALKITAB (Keadaan Orang Mati)

Definisi tentang mati. Kematian adalah fenomena menarik yang telah menjadi pembahasan selama berabad-abad. Manusia berusaha untuk mencoba memahami arti dari kematian, baik melalui pendekatan agama maupun falsafah. Menentukan bahwa seseorang sudah mati juga adalah hal yang tak kalah menarik, baik ditinjau dari segi kedokteran, hukum, dan agama. Pada zaman dulu definisi tentang mati cukup ditentukan berdasarkan pengamatan fisik, yaitu bilamana fungsi pernafasan dan denyut jantung berhenti. Ketika teknologi kedokteran bertambah maju dan kita memasuki era gawat darurat medis maka definisi kematian pun berubah, yaitu apabila batak otak dinyatakan berhenti berfungsi secara permanen. Sebab dengan ketersediaan alat-alat kedokteran penunjang kehidupan (medical life support) yang terpasang ke tubuh, termasuk alat infus dan perangkat medis untuk menjalankan fungsi sirkulasi dan respirasi, seorang pasien bisa saja kelihatan tetap bernafas meskipun secara klinis sudah mati.

Kematian secara klinis berarti mati total dan permanen yang berbeda dari kondisi mati suri seperti konon dialami oleh sebagian orang. Mati suri adalah keadaan di mana seseorang berada dalam keadaan tidak sadarkan diri akibat suatu penyakit dan sedang dalam upaya penyembuhan atau menghidupkannya kembali secara normal. Banyak pengalaman misterius telah dibeberkan orang-orang yang pernah mengalami mati suri, suatu keadaan di mana seseorang memasuki suasana "lorong waktu" ketika dia mengalami apa yang disebut pengalaman hampir mati (NDE=near-death experience) dan pengalaman berkelana di luar jasad (OBE=out-of-body experience), seperti menyaksikan suatu pemandangan sangat indah serta gemerlapan oleh cahaya terang benderang dari alam yang asing. Hal ini bisa terjadi karena meski secara fisik tidak merasakan apa-apa tapi otaknya masih "bekerja" seperti saat sedang tidur pulas. Tetapi kematian yang kita maksudkan ialah mati secara keseluruhan--jasmani, pikirani, dan rohani.

Dalam Alkitab kita menemukan beberapa ayat yang berhubungan dengan kematian dan keadaan orang mati. Pemazmur mengatakan, di alam maut orang tidak ingat akan Tuhan atau bersyukur kepada-Nya (Mzm. 6:6); orang mati tidak dapat memuji Tuhan (115:17), sebab "apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya" (146:4). Nabi Yesaya juga menyatakan bahwa orang mati tidak dapat mengucap syukur kepada Tuhan (Yes. 38:18), karena "orang yang mati tak tahu apa-apa" (Pkh. 9:5). "Kematian adalah akhir kehidupan secara total. Kematian adalah keadaan tidak sadarkan diri di mana tidak ada pemikiran, emosi, perbuatan, atau hubungan dalam bentuk apapun" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Mati sebagai tidur. Peristiwa kematian dan kebangkitan Lazarus mengungkapkan konsep alkitabiah tentang keadaan orang mati. Yesus sudah diberitahu tentang kondisi Lazarus yang sedang sakit parah, tapi Ia masih tinggal dua hari lagi sebelum datang ke Betania di mana keluarga itu tinggal. "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan...Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya," kata Yesus (Yoh. 11:4, 11; huruf miring ditambahkan). Empat hari kemudian Yesus muncul dan membangkitkan saudara laki-laki Maria dan Marta itu, dan sesudah "bangun" dari kematiannya Lazarus tidak bercerita tentang pengalamannya masuk surga ataupun neraka. Ini membuktikan bahwa orang mati tetap berada di kuburnya, baik itu orang baik atau orang jahat, menunggu hari kebangkitan nanti.

Tatkala menciptakan pasangan manusia yang pertama Allah mengambil debu tanah untuk membentuk rancang bangun mereka secara fisik, ketika akibat dosa manusia harus mati maka kita kembali kepada debu. "Debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya" (Pkh. 12:7). Sewaktu berbicara di hadapan orang banyak di Yerusalem pada Hari Pentakosta, rasul Petrus berkata: "Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini...sebab bukan Daud yang naik ke surga..." (Kis. 2:29, 34).

Banyak orang Kristen mengira bahwa jiwa dalam diri kita adalah suatu bagian terpisah yang terus hidup meskipun orangnya sudah meninggal dunia. Tetapi Alkitab mengatakan bahwa ketika Allah selesai membentuk raga manusia pertama dari debu tanah Ia hanya "menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kej. 2:7). Jadi, Allah tidak memasukkan jiwa ke dalam manusia tetapi hanya menghembuskan nafas. Kalau jiwa adalah bagian yang terpisah yang terus hidup sesudah kita mati, itu artinya kita tidak bisa mati karena memiliki keadaan kekekalan dalam diri kita. Namun manusia tidak mempunyai sifat kekal dan hanya Allah "satu-satunya yang tidak takluk kepada maut" (1Tim. 6:16). Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa yang membalas setiap orang menurut perbuatannya akan memberikan "hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik" (Rm. 2:6-7). Kalau manusia memiliki jiwa yang kekal dalam dirinya, untuk apa Allah memberikan kekekalan itu lagi.

Apa yang kita pelajari tentang keadaan orang mati menurut Alkitab?
1. Kematian adalah suatu keadaan di mana seorang manusia kehilangan segala bentuk kehidupan apapun dalam tubuhnya. Ketika seseorang mati dan jasadnya dikebumikan, tidak ada entitas apapun dari dirinya yang terus hidup bergentayangan di luar kubur. Orang mati tidak berpindah dari alam nyata ke "alam baka" seperti sering disebutkan.
2. Bukti-bukti alkitabiah menunjukkan bahwa orang mati tidak pergi ke mana-mana, tetapi tetap berada di dalam kubur di mana jasadnya dikebumikan. Tubuh manusia berasal dari debu tanah, pada waktu dia mati tubuhnya akan mulai membusuk dan jaringan-jaringan jasadnya terurai dan kembali ke tanah.
3. Manusia tidak diciptakan Allah sebagai makhluk abadi atau memiliki unsur-unsur kekekalan dalam dirinya yang mampu bertahan hidup untuk selamanya walaupun jasadnya hancur lebur dan kembali bersenyawa dengan tanah. Kalau manusia mempunyai jiwa yang baka maka alam maut tidak mungkin berkuasa atasnya meskipun dia berdosa.

Senin, 15 September
KEHIDUPAN DIPULIHKAN (Pengharapan Kebangkitan)

Mati karena dosa. Pada mulanya manusia diciptakan untuk menikmati kehidupan yang lestari, demikian juga dengan ciptaan-ciptaan lainnya seperti hewan, unggas, dan tumbuhan yang memenuhi bumi ini. Namun keabadian itu bersyarat, bukan sesuatu yang secara alamiah tertanam atau menjadi bagian dari manusia serta semua ciptaan lainnya. Setelah menciptakan Adam dan menempatkan dia di rumah alami bernama Taman Eden, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya pastilah engkau mati" (Kej. 2:16-17; huruf miring ditambahkan). Jadi, kematian adalah akibat dari pelanggaran terhadap perintah Allah. Paulus menyimpulkannya secara tepat, "Sebab upah dosa ialah maut..." (Rm. 6:23).

Manusia pertama itu telah diciptakan "menurut rupa Allah" (Kej. 5:1), tetapi bukan dengan sifat kekekalan seperti Allah. Ketika Allah menghembuskan nafas ke lubang hidung Adam, "demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kej. 2:7). Alkitab tidak mencatat apakah Hawa juga menjadi makhluk hidup dengan cara yang sama, tapi yang pasti fisik perempuan itu dibuat dengan sebagian bahannya adalah tulang rusuk dari suaminya (ay. 22). Pada saat nenek moyang pertama manusia itu berdosa karena melanggar perintah Allah dengan memakan buah larangan itu, kematian hanya soal waktu. Kematian pasangan itu sudah ditentukan "by default" (secara alamiah, menurut hukum yang berlaku) pada hari mereka memakan buah larangan itu, tetapi hanya oleh kebaikan Tuhan dan hikmat-Nya yang tak terduga maka Adam bisa hidup sampai berumur 930 tahun, "lalu ia mati" (Kej. 5:5).

Jadi dapat dikatakan bahwa kematian manusia sebenarnya terjadi karena berlakunya hukum alam, sesuai dengan apa yang ditentukan Allah, yaitu sejak nenek moyang pertama kita memakan buah dari "pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat" itu. Bukan karena buah pohon itu mengandung racun yang mematikan, tetapi akibat perbuatan yang mematikan dari manusia itu sendiri. "Ini bukan sebuah keputusan sewenang-wenang dari Allah; itu adalag konsekuensi yang tak terelakkan dari dosa. Tetapi kabar baiknya adalah, melalui Kristus ada pengharapan, sekalipun dalam kematian" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Hidup oleh kasih karunia. Alkitab telah menjelaskan bahwa kematian adalah akibat dari dosa, dan dosa yang mendatangkan kematian itu berasal dari Adam lalu menurun ke seluruh keturunannya. "Sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa" (Rm. 5:12). Jadi, sama seperti Adam sudah berdosa dan mati, demikianlah kita semua pun sudah berdosa dan akan mati. Namun, Allah dalam kasih-Nya telah melakukan intervensi untuk mengubah kondisi ini sehingga kehidupan bisa dipulihkan. "Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus" (ay. 15).

Ujud dari kasih karunia Allah ialah Yesus Kristus, yaitu "jalan dan kebenaran dan hidup" (Yoh. 14:6). Yesus adalah "Firman" melalui siapa Allah menciptakan manusia dan segala ciptaan lainnya, dan "dalam Dia ada hidup" (Yoh. 1:1, 4). Kitabsuci mengungkapkan bahwa Allah menciptakan segalanya--kecuali manusia--hanya dengan cara "Berfirman" (Kej. 1:3, 6, 9, 11, 14, dst), dan bahwa Yesus Kristus adalah "Firman," itulah sebabnya Yohanes menyatakan bahwa "segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan" (Yoh. 1:3). Sebagai Anak Allah, Yesus bukan saja memiliki kuasa untuk menciptakan tapi di dalam diri-Nya juga ada sumber kehidupan, sehingga "sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya" (Yoh. 5:21).

Kuasa Yesus untuk memulihkan kehidupan terhadap orang yang sudah mati beberapa kali ditunjukkan-Nya semasa hidup di dunia ini, antara lain atas anak perempuan Yairus. Waktu Yesus meminta agar perkabungan itu jangan menangis karena gadis cilik itu bukan mati tapi hanya tidur, orang banyak yang sedang terisak-isak itupun serentak tertawa, bukan karena bersuka tapi mengejek (Luk. 8:52-53). Bayangkan itu! Lalu Yesus mendemonstrasikan kuasa-Nya untuk menghidupkan dengan cara mengembalikan nafas anak itu (ay. 55). "Menurut Alkitab, kebangkitan adalah kebalikan dari kematian. Kehidupan dipulihkan ketika nafas hidup datang kembali dari Allah. Demikianlah caranya Lukas menjelaskan kebangkitan anak perempuan Yairus...Atas perintah ilahi Yesus, asas kehidupan yang ditanamkan Allah kembali kepada anak gadis itu. Kata Grika yang Lukas gunakan, yaitu pneuma, artinya 'angin,' nafas,' atau 'roh.' Ketika Alkitab menggunakannya dalam kaitan dengan manusia, tidak pernah hal itu berarti suatu ujud kesadaran yang sanggup hadir terpisah dari tubuh. Dalam ayat ini jelas mengacu kepada nafas hidup" [alinea terakhir: tiga kalimat pertama dan empat kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang pengharapan kita akan kebangkitan dalam Yesus?
1. Kematian adalah konsekuensi logis dari pilihan manusia pertama yang tidak logis. Adam yang paling bertanggungjawab dalam hal pelanggaran perintah Allah memakan buah larangan itu sebab Allah sendiri sudah menyatakan kepadanya, bukan kepada Hawa yang baru diciptakan belakangan (baca dengan cermat Kej. 2:15-23).
2. Meskipun dosa itu mematikan, manusia tidak akan punah karena kematian. Kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus, melalui siapa Allah telah menciptakan manusia, adalah solusi terhadap kematian. Allah yang dipercaya oleh Abraham itu adalah "Allah yang menghidupkan orang mati...yang dengan berkata saja membuat apa yang tidak pernah ada menjadi ada" (Rm. 4:17, BIMK).
3. Kehidupan selalu bersumber dari Allah, tidak pernah berasal dari dunia ini. Secara fisik Adam hanyalah debu tanah yang mati, dia baru menjadi manusia yang hidup setelah Allah menghembuskan nafas-Nya sendiri kepada tubuh Adam. Manusia akan dibangkitkan dari kematian ketika Allah, melalui Yesus Kristus, mengembalikan nafas itu.

Selasa, 16 September
DIBANGKITKAN UNTUK SELAMAT ATAU BINASA (Kebangkitan dan Penghakiman*)

*(Judul asli: The Resurrection and the Judgment)

Kebangkitan untuk semua. Hampir tiga bulan lalu seorang pembaca ulasan PSSD ini, melalui forum "KLUB SS" kita di Facebook, berkomentar perihal kebangkitan manusia pada hari kiamat (lihat ulasan tambahan Pelajaran Ke-IV; 26 Juli 2014). Dengan mengutip beberapa ayat Alkitab, teman ini berkesimpulan bahwa kebangkitan manusia pada kedatangan Yesus kedua kali hanya akan terjadi atas orang-orang saleh, hal mana berbeda dari uraian saya yang mengatakan bahwa pada waktu itu semua orang akan dibangkitkan. Lalu saya menanggapinya dengan menyajikan beberapa ayat Alkitab yang mendukung kesimpulan bahwa semua manusia, bukan hanya orang benar saja, yang akan dibangkitkan. Di antaranya adalah ayat-ayat yang terdapat dalam pelajaran kita hari ini. (Sesuai dengan tema KLUB SS sebagai ajang "curah pendapat" saya menganjurkan anda untuk berpartisipasi dalam forum tersebut dengan mengajukan komentar, pendapat, atau pertanyaan maupun kesaksian yang relevan dengan pembahasan Pelajaran SS pada setiap pekan berjalan.)

"Apa yang telah kita pelajari sejauh ini bisa menyebabkan kita untuk berpikir bahwa kebangkitan hanya untuk sedikit orang saja. Tetapi Yesus menegaskan bahwa saatnya akan tiba bilamana 'semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya' (Yoh. 5:28; huruf miring ditambahkan). Orang percaya dan tidak percaya, orang benar dan orang berdosa, orang yang selamat dan yang binasa, semua akan dibangkitkan. Seperti Paulus nyatakan, 'Akan ada kebangkitan semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun orang-orang yang tidak benar" (Kis. 24:15)" [alinea pertama].

Meskipun semua orang yang sudah mati akan dibangkitkan kembali pada kedatangan Yesus kedua kali, orang baik maupun orang jahat, tetapi kebangkitan itu menimbulkan akibat yang berbeda terhadap orang-orang baik yang akan selamat dan terhadap orang-orang jahat yang akan binasa. "Mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum" (Yoh. 5:29). Pernyataan Yohanes ini sama seperti nubuatan nabi Daniel, "Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal" (Dan. 12:2).

Dua kali kebangkitan. Sementara kebangkitan semua orang yang sudah mati akan terjadi pada kedatangan Yesus kedua kali, orang benar maupun orang tidak benar (Kis. 24:15), apa yang bakal terjadi sesudah kebangkitan masal yang pertama itu akan berbeda. Orang benar yang sudah mati dibangkitkan untuk bergabung dengan orang benar yang masih hidup, lalu "semuanya akan diubahkan, dalam sekejap mata...karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati" (1Kor. 15:51-53). Menurut rasul Paulus, orang percaya yang masih hidup tidak akan masuk surga "mendahului mereka yang telah meninggal" (1Tes. 4:15), tetapi "mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa" (ay. 16-17). Termasuk di antaranya adalah para laskar Kristus yang demi membela kebenaran dan mempertahankan nama-Nya telah bersedia mati "supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik" (Ibr. 11:35).

Bagaimana nasib orang-orang jahat yang turut dibangkitkan pada kedatangan Yesus kedua kali itu? "Pada waktu Tuhan Yesus dari dalam surga menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya, dalam kuasa-Nya, di dalam api yang bernyala-nyala, dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak menaati Injil Yesus, Tuhan kita. Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya" (2Tes. 1:7-9). Kedatangan Yesus kedua kali menandakan dimulainya masa seribu tahun (milenium), yaitu masa penghakiman di surga atas orang jahat yang akan menjalani hukuman mereka sesudah masa seribu tahun berakhir ketika orang jahat akan dibangkitkan untuk kedua kalinya. Dalam terang ini kita bisa memahami apa yang dimaksudkan dengan "kebangkitan pertama" dan "kebangkitan kedua" dalam kitab Wahyu: "Tetapi orang-orang mati yang lain tidak bangkit sebelum berakhir masa yang seribu tahun itu. Inilah kebangkitan pertama. Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya" (Why. 20:5-6).

"Berbicara mengenai dua kebangkitan, Yesus menunjukkan bahwa nasib kita akan ditentukan berdasarkan kualitas moral dari perbuatan kita (baik atau jahat). Namun, fakta ini tidak berarti bahwa perbuatan menyelamatkan kita. Sebaliknya, Yesus dengan jelas mengajarkan bahwa keselamatan kita semata-mata bergantung pada iman kita kepada-Nya sebagai Juruselamat kita (Yoh. 3:16)" [alinea terakhir: tiga kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang kebangkitan dan penghakiman?
1. Semua orang akan menyaksikan peristiwa kedatangan Yesus kedua kali, termasuk mereka yang sudah mati dan dibangkitkan, ketika "Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia" (Why. 1:7). "Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia" (Mat. 24:27).
2. Pada hari kedatangan Yesus kedua kali itu semua orang yang sudah mati akan dibangkitkan untuk melihat Dia, termasuk orang jahat yang sudah menikam rusuk-Nya (baca Yoh. 19:37 dan Za. 12:10). Bedanya, orang baik dibangkitkan dan diubahkan untuk masuk surga, orang jahat dibangkitkan untuk kembali binasa oleh cahaya kemuliaan-Nya.
3. Hanya orang jahat yang mengalami dua kali kebangkitan, pada kedatangan Yesus kedua kali yang menandai permulaan masa seribu tahun, dan pada kedatangan Yerusalem Baru bersama orang saleh yang akan menandai berakhirnya masa seribu tahun itu. Pada kebangkitan yang kedua orang jahat akan dibinasakan untuk selamanya dalam api neraka.

Rabu, 17 September
PENGHUKUMAN TERAKHIR (Apa yang Yesus Katakan Tentang Neraka)

Lazarus dan orang kaya. Perumpamaan tentang Lazarus dan orang kaya (dalam Alkitab bahasa Latin, Vulgate, tokoh anonim ini disebut "Dives" yang artinya "orang kaya") seperti tercatat dalam injil Lukas merupakan salah satu perumpamaan Yesus yang populer di banyak masyarakat Eropa dan Palestina, menceritakan perihal nasib dua manusia yang bertolak-belakang. Karena detil cerita yang begitu rinci dengan salah satu tokoh menggunakan nama yang spesifik ("Lazarus" dalam kisah ini tidak sama dengan saudara Maria dan Marta yang pernah dibangkitkan Yesus), sebagian orang Kristen percaya bahwa ini bukan sekadar perumpamaan tetapi sebuah kisah nyata. Bahkan sebagian orang berpendapat bahwa cerita Lazarus dan orang kaya ini bukan sekadar perumpamaan, tetapi mengandung dimensi nubuatan tentang nasib yang bakal menimpa orang miskin yang terabaikan dengan orang kaya yang tamak dan cinta diri. Pendapat ini didasarkan pada ayat-ayat yang menyebutkan bahwa Yesus juga dianggap sebagai "nabi" (Mrk. 6:4; Kis. 3:22-26).

Pokok pelajaran yang hendak diajarkan oleh Yesus melalui perumpamaan tersebut bukan tentang apa yang sesungguhnya akan terjadi pada saat seseorang mati. Orang yang baik (dalam cerita ini diwakili oleh tokoh Lazarus) tidak akan langsung naik ke surga dan duduk di pangkuan Abraham, sebaliknya orang yang tidak baik (diwakili oleh "Dives") juga tidak akan langsung masuk neraka. Sebab tidak ada penjelasan alkitabiah yang mengatakan bahwa Abraham adalah penunggu surga, bahkan bapa leluhur bangsa Israel dan Arab itu masih berada di dalam kuburnya di gua Makhpela, Kanaan (Kej. 49:30-31), sebuah tempat yang dalam peta moderen terletak di Hebron, wilayah Tepi Barat, di mana sekarang berdiri masjid Al-Haram Al-Ibrahimi. Begitu juga, bilamana seorang yang tidak baik mati jasadnya tertanam di kubur dan rohnya tidak langsung masuk neraka, sebab "roh" tidak membutuhkan air untuk minum seperti dalam cerita itu. Pesan moral dari perumpamaan ini terdapat dalam perkataan Abraham, "Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati" (Luk. 16:31). Yesus adalah "seorang yang bangkit dari antara orang mati" itu, dan Dia tidak didengarkan oleh orang-orang Yahudi seperti juga "mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi."

"Perumpamaan ini tidak difokuskan pada keadaan manusia dalam kematian. Sebuah keyakinan populer yang tidak alkitabiah yang banyak dipegang oleh orang-orang pada zaman Yesus menjadi latar belakang bagi perumpamaan ini, yang mengajarkan suatu pelajaran penting: nasib masa depan kita ditentukan oleh keputusan-keputusan yang kita buat setiap hari dalam kehidupan sekarang ini. Kalau kita menolak terang yang Allah berikan kepada kita saat ini, tidak ada lagi kesempatan sesudah mati" [alinea ketiga: tiga kalimat pertama].

Neraka sebagai hukuman. Meskipun neraka disediakan bagi orang-orang jahat, neraka bukanlah seperti "lapas" (lembaga pemasyarakatan) yang berfungsi untuk memperbaiki seseorang menjadi manusia yang lebih baik. Neraka adalah hukuman pamungkas bagi para "kriminal rohani" yang selama hidup di dunia tidak mau bertobat dan mengabaikan kasih karunia Allah. Neraka adalah tempat bagi orang-orang yang suka mengata-ngatai saudaranya (Mat. 5:22), yang membiarkan anggota badannya menyebabkan seluruh tubuhnya binasa (ay. 29-30), dan kaum munafik yang sifatnya seperti ular (23:33).

Perhatikan perkataan Alkitab berikut ini: "Tetapi orang pengecut, pengkhianat, orang bejat, pembunuh, orang cabul, orang yang memakai ilmu-ilmu gaib, penyembah berhala, dan semua pembohong, akan dibuang ke dalam lautan api dan belerang yang bernyala-nyala, yaitu kematian tahap kedua" (Why. 21:8, BIMK). "Ingatlah juga kota Sodom dan Gomora serta kota-kota di sekitarnya, yang penduduknya melakukan hal-hal seperti yang dilakukan oleh malaikat-malaikat tersebut. Mereka melakukan hal-hal yang cabul dan bejat, sehingga mereka disiksa dengan hukuman api yang kekal, untuk dijadikan peringatan bagi semua orang. Demikian juga oknum-oknum itu berkhayal-khayal sampai mereka berbuat dosa terhadap badan mereka sendiri. Mereka memandang rendah kekuasaan Allah dan menghina para makhluk yang mulia di surga" (Yud. 7-8. BIMK).

"Dalam banyak terjemahan Alkitab, kata neraka muncul sebelas kali dari bibir Yesus. Sebenarnya yang Ia gunakan adalah kata Grika gehenna, dari nama Ibrani Gê Hinnom, "Lembah Hinnom"...Yesus menggunakan nama kiasan, tanpa menjelaskan rincian apapun mengenai waktu dan tempat hukuman yang kita temukan pada ayat-ayat Alkitab lainnya. Tapi neraka bukanlah sebuah tempat hukuman yang abadi" [alinea terakhir: dua kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang neraka dalam pengajaran Yesus?
1. Dalam cerita perumpamaan Yesus mengenai Lazarus dan orang kaya, kita dapati bahwa surga dan neraka itu adalah hal yang nyata, bukan hanya impian atau khayalan. Surga adalah pahala yang disediakan Allah bagi orang-orang yang menderita di dunia ini karena nama-Nya; neraka adalah bagian untuk orang-orang yang hidup mementingkan diri.
2. Perumpamaan Lazarus dan orang kaya menghapus pendapat orang Yahudi masa itu, seolah-olah kekayaan sebagai lambang perkenan Allah dan sebaliknya kemiskinan sebagai tanda kutukan. Dalam perumpamaan ini Yesus juga hendak menandaskan kepada bangsa-Nya bahwa menjadi keturunan Abraham tidak menjadi jaminan keselamatan.
3. Neraka disediakan bagi orang jahat bukan pada saat mereka mati tetapi sesudah masa seribu tahun, tapi neraka tidak bersifat abadi. Sodom dan Gomora telah dihancurkan dengan "hukuman api yang kekal" tetapi api itu sudah lama padam bersama binasanya kedua kota itu, dan terjadi sebagai "peringatan bagi semua orang" (Yud. 7).

Kamis, 18 September
MUSUH TERAKHIR YANG DIKALAHKAN (Yesus Menaklukkan Maut)

Antara Lazarus dan Yesus. Cerita kebangkitan Lazarus di desa Betania telah bertahan sebagai legenda atau cerita rakyat yang secara tradisional dikenal dengan julukan "Lazarus si Empat Hari" (karena sudah sempat mati selama empat hari sebelum hidup kembali). "Lazarus" adalah nama Latin dari Eleazar, nama Ibrani yang artinya "Tuhanlah pertolonganku." Sebagaimana kita pelajari sebelumnya, Lazarus sudah dibangkitkan kembali oleh Yesus sendiri, kebangkitan mana sering disebut sebagai "puncak mujizat" dari semua mujizat yang pernah dilakukan Yesus selama hidup di Bumi ini. Ketika Yesus berkata kepada Marta, "Saudaramu akan bangkit," (Yoh. 11:23), saudara perempuan Lazarus itu menyahut, "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman" (ay. 24). Tapi Yesus berkata kepadanya, "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" (ay. 25-26).

Peristiwa kematian dan kebangkitan Lazarus dalam banyak hal sangat berbeda dari kematian dan kebangkitan Yesus, khususnya apa yang terjadi sesudah kebangkitan mereka. Tidak ada referensi alkitabiah mengenai kematian Lazarus yang kedua kalinya sesudah dibangkitkan dari kematian pertama itu, tetapi Yohanes mencatat adanya niat para imam kepala untuk membunuh Lazarus karena peristiwa kebangkitannya telah membuat banyak orang Yahudi menjadi Kristen dengan percaya kepada Yesus (Yoh. 12:10-11), bahkan orang banyak yang menyaksikan peristiwa kebangkitan itu turut bersaksi tentang Kristus (ay. 17-19). Tetapi mengenai Yesus, Kitabsuci mencatat bahwa sesudah kebangkitan-Nya pada hari ketiga Ia masih berada di dunia ini dan "berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah" (Kis. 1:3), sebelum akhirnya terangkat ke surga (ay. 9-11). Lukas mencatat bahwa peristiwa kenaikan itu terjadi di dekat Betania, kampung halaman Lazarus (Luk. 24:50-51).

"Walaupun demikian, jauh lebih penting dari kebangkitan Lazarus adalah kebangkitan Yesus sendiri. Karena Dia memiliki hidup dalam diri-Nya sendiri, Ia bukan saja mempunyai kuasa untuk membangkitkan orang mati dan memberi kehidupan kepada siapa yang dikehendaki-Nya (Yoh. 5:21), tetapi Ia juga berkuasa untuk menyerahkan nyawa-Nya sendiri dan mengambilnya kembali (Yoh. 10:17-18). Kebangkitan-Nya membuktikan hal ini secara meyakinkan" [alinea kedua].

Maut ditaklukkan. Sementara kebangkitan Lazarus dari kematiannya itu sangat penting serta mendatangkan sukacita bagi dirinya dan keluarganya serta semua handai taulan secara terbatas, untuk suatu masa dan di suatu tempat saja, kebangkitan Yesus Kristus dari kematian sangat penting bagi seluruh umat manusia sepanjang masa. Sebab, seperti kata Paulus, "Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal" (1Kor. 15:17-20).

"Kuasa Kristus mematahkan belenggu kematian tidak dapat dibantah. Ia bangkit dari kubur sebagai buah sulung dari orang-orang yang tidur di dalam Dia. Kebangkitan-Nya adalah jaminan dari kebangkitan setiap orang percaya, karena Ia 'memegang segala kunci maut dan kerajaan maut' (Why. 1:17-18)" [alinea ketiga].

Pena inspirasi menulis: "Ketika di atas salib Yesus berseru, 'Sudah selesai!' kemuliaan dan sukacita menggetarkan surga, dan kebingungan melanda persekongkolan jahat. Sesudah seruan kemenangan itu, Sang Penebus dunia menundukkan kepala-Nya lalu mati dan tampaknya Kapten dari keselamatan kita itu telah dikalahkan; tetapi oleh kematian-Nya Ia adalah pemenang, dan Ia telah membuka gerbang kemuliaan kekal supaya semua orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal" (Ellen G. White, The Review and Herald, 29 Januari 1895).

Apa yang kita pelajari tentang Yesus yang menaklukkan maut?
1. Kekuasaan Yesus atas maut sudah diperagakan sebelum kematian-Nya, yaitu dengan membangkitkan tiga orang yang sudah mati, khususnya Lazarus yang sudah empat hari dikubur. Tetapi kebangkitan Yesus sendiri menjadi bukti utama bahwa kuasa maut telah ditaklukkan-Nya, sebab kalau Dia tidak bangkit musnahlah pengharapan kebangkitan kita.
2. Yesus mati adalah atas kehendak Allah, "supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia" (Ibr. 2:9). Yesus harus mati karena Ia "diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya...Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut..." (Kis. 2:23-24).
3. Kematian Yesus adalah kematian karena dosa manusia yang ditimpakan atas-Nya, itu adalah kematian yang total dan bukan sekadar jiwa terpisah dari raga. Kalau tidak maka seharusnya Yesus bisa langsung pulih sesudah jam tiga petang hari Jumat itu sehabis Ia berseru "Sudah selesai!" dan menyerahkan nyawa-Nya (Yoh. 19:30). Tapi Yesus menjalani kematian secara jiwa dan raga.

Jumat, 19 September
PENUTUP

Pekik kemenangan. Dalam keseharian kita setiap kemenangan akan selalu disambut dengan sorak-sorai, terkadang bahkan kita turut bertempik sorak untuk sesuatu yang tidak berhubungan langsung dengan kepentingan kita. Orang-orang berpekik riang dalam sebuah pertandingan olahraga, dalam suatu ajang kompetisi, atau atas suatu peristiwa yang menimbulkan sukacita. Tetapi semua itu tidak ada artinya sama sekali jika dibandingkan dengan pekik kemenangan atas maut ketika orang-orang saleh dibangkitkan pada kedatangan Yesus kedua kali.

"Suara Anak Allah memanggil orang-orang kudus yang sedang tidur. Ia memandang kepada kubur-kubur orang benar lalu, sambil mengangkat tangan-Nya ke surga, Ia berseru: 'Bangun, bangun, bangun, kamu yang tidur di dalam debu tanah, bangkitlah!'...Dan orang-orang benar yang masih hidup serta orang-orang kudus yang dibangkitkan itu menyatukan suara mereka dalam pekik kemenangan yang panjang dan penuh kegembiraan" [dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].

Yesus telah menaklukkan maut ketika Ia membangkitkan beberapa orang mati selama pelayanan-Nya di dunia ini, maut juga sudah dikalahkan-Nya saat Ia bangkit dari kubur pada hari ketiga sesudah kematian-Nya di kayu salib. Kelak pada kedatangan-Nya yang kedua kali orang-orang saleh dari segala zaman juga akan mengambil bagian dalam kemenangan atas maut tatkala mereka yang sudah mati akan dibangkitkan di hari Maranata!

"Aku menaruh pengharapan kepada Allah, sama seperti mereka juga, bahwa akan ada kebangkitan semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun orang-orang yang tidak benar" (Kis. 24:15).

(Oleh Loddy Lintong/California, 18 September 2014)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...