Syaloom

Selamat datang bagi pengunjung blog ini, terima kasih atas kunjungan anda pada blog ini anda dapat download lagu-lagu rohani khusus quartet (male or ladies) termasuk partitur yang kami telah sediakan.

Blog ini khusus saya buat untuk membantu teman-teman yang mempunyai hobi menyanyi lagu-lagu rohani tetapi pada saat tertentu tidak mempunyai cukup partiture. Dan sesuai dengan judulnya maka blog ini khusus dibuat untuk quartet grup vokal, apakah itu male quartet atau ladies quartet.

Banyak orang didunia ini dan hampir semua orang yang ada di jagad raya ini menyukai musik. Sebab itu saya ingin mengajak semua teman-teman yang ingin partisipasi dalam blog ini saya persilahkan untuk memberi saran dan bahan untuk memajukan grup-grup quartet. Sering kita menyanyikan sebuah lagu dengan baik dan pendengar cuma menyukai harmoninya saja tetapi pekabaran dalam lagu itu sendiri tidak didapat karena pendengar tersebut tidak mengerti bahasa yang dinyanyikan dalam lagu tersebut untuk itu melalui blog ini saya sekali lagi mengajak siapapun untuk urung rembuk agar blog ini disukai dan dapat bermafaat buat kita semua.

Untuk itu saya akan mencoba untuk mentransfer dari partiture aslinya kedalam bahasa Indonesia. Shalom regards,

GBU
E. Nanlohy



TRANSLATORS...

Jumat, 05 September 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT DEWASA KE X SEPTEMBER 06,2014: "YESUS KRISTUS DAN SEPULUH PERINTAH ALLAH"





Sabat Petang, 30 Agustus
PENDAHULUAN

Yesus meninggikan hukum Allah. Fakta bahwa Yesus meninggikan Sepuluh Perintah Allah terlihat sewaktu berbicara dengan seorang pemuda yang datang meminta petunjuk untuk mendapatkan jaminan hidup kekal. "Jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah," kata Yesus kepadanya (Mat. 19:17). Ketika pemuda itu bertanya tentang perintah-perintah yang dimaksudkan, Yesus lalu menyebut beberapa dari Sepuluh Perintah, khususnya "hukum terutama kedua" (Mat. 22:39) yang berkenaan dengan kewajiban untuk mengasihi sesama manusia.

Sekalipun hukum Allah tidak dapat menyelamatkan manusia--sehingga Paulus menyebut kebenaran melalui penurutan hukum itu adalah "sampah" jika dibandingkan dengan kebenaran Kristus (Flp. 3:7-9)--namun hukum Allah tetap berlaku sebagai standar moral yang mesti ditaati oleh manusia. Sepuluh Perintah telah diturunkan kepada manusia oleh Allah yang benar, tentu saja di dalam perintah itu terkandung kebenaran Allah yang mutlak. Meskipun manusia tidak diselamatkan oleh penurutan atas hukum-hukum itu, melainkan hanya oleh iman kepada darah Kristus (Rm. 5:1, 9; Ef. 2:8-9), kewajiban untuk menaati hukum Allah tetap mengikat. Penurutan hukum tidak menyelamatkan, tetapi orang yang sudah diselamatkan mesti menuruti hukum itu. Dengan kata lain, penurutan hukum Allah adalah konsekuensi logis dari menerima keselamatan dari Allah.

"Adalah penting untuk memahami bahwa meskipun Yesus secara terbuka mencela praktik-praktik legalistik dari kaum Farisi, Ia meninggikan Sepuluh Perintah, dan dengan jelas menegaskan keabadian dari Sepuluh Perintah itu dan menerangkan makna serta tujuannya. Kristus sendiri berkata bahwa Ia sudah datang untuk menggenapi hukum itu (Mat. 5:17). Dalam banyak hal, kematian-Nya merupakan penyataan utama dari keabsahan hukum Allah yang berkelanjutan" [alinea ketiga].

Intisari dari Khotbah di Atas Bukit yang tercatat dalam Matius pasal 5-7 sesungguhnya adalah nasihat-nasihat untuk mengamalkan Sepuluh Perintah Allah dalam kehidupan sehari-hari, dan semua itu selaras dengan maksud Allah yang termaktub dalam hukum-hukum itu. Khotbah di Atas Bukit merupakan penjabaran praktis dari isi hukum moral tersebut yang mengatur hubungan kita dengan Allah secara vertikal dan hubungan kita dengan sesama manusia secara horisontal.

Minggu, 31 Agustus
KEKEKALAN HUKUM ALLAH (Yesus Tidak Mengubah Hukum)

Hukum dan kegenapannya. Yesus berkata, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya" (Mat. 5:17). Tampaknya kalimat ini untuk menyanggah tuduhan kaum Farisi dan ahli Taurat seolah-olah Yesus menentang Hukum Musa yang waktu itu masih berlaku bagi bangsa Israel, padahal yang ditentang Yesus adalah cara mereka menerapkan hukum-hukum itu. Ketika berkata bahwa Ia datang untuk "menggenapi" hukum itu, tentu yang dimaksud adalah hukum upacara agama dalam bentuk persembahan kurban yang melambangkan Diri-Nya sebagai kurban pengganti. Kata Grika plērōsai yang diterjemahkan dengan menggenapi dalam ayat ini juga berarti memenuhi (Strong, G4137; kata yang sama digunakan pula dalam Matius 1:22; 2:15, 17, 23). Perihal kegenapan (hukum upacara agama) ini bahkan satu titik pun tak ada yang ditiadakan, "sebelum semuanya terjadi" (ay. 18).

Selanjutnya Yesus berkata, "Siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil...akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga" (ay. 19). Kalimat ini telah menimbulkan pertanyaan besar dalam benak banyak orang, apakah di surga ada "kedudukan" yang tinggi dan rendah? Bahkan, ada orang berkata biarpun hanya mendapat tempat paling rendah tidak masalah asal masuk surga. Anak kalimat basileia tōn ouranōn yang diterjemahkan dengan Kerajaan Surga di sini bisa juga berarti "perhimpunan umat Allah," dan dalam hal ini "tempat paling rendah" adalah ungkapan yang sama dengan "direndahkan." Versi lain menerjemahkan ayat ini: "Oleh karena itu, barangsiapa melanggar salah satu dari perintah-perintah itu, sekalipun yang terkecil...akan menjadi yang paling kecil di antara umat Allah. Sebaliknya, barangsiapa menjalankan perintah-perintah itu dan mengajar orang lain berbuat begitu juga, akan menjadi besar di antara umat Allah" (BIMK; huruf miring ditambahkan).

Akan halnya Sepuluh Perintah Allah, tentu tidak ada bagian yang dapat disebut "paling kecil" atau "yang terkecil" sebab kesepuluh perintah itu semuanya setara dan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, sehingga "mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya" (Yak. 2:10). "Pernyataan-Nya sangat jelas dan kemungkinan untuk menunjukkan bahwa para pemimpin agama itulah, bukan Dia, yang sedang 'merusak' hukum itu dengan mengurangi efeknya melalui tradisi mereka (baca Mat. 15:3, 6). Sebaliknya, oleh mengisinya dengan makna yang lebih dalam Kristus telah datang untuk 'menggenapi' hukum itu, sehingga memberikan kepada kita suatu teladan tentang seperti apa penurutan yang sempurna kepada kehendak Allah itu" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Hukum yang mengikat. Kita sudah pernah pelajari bahwa Hukum Taurat yang diturunkan Allah kepada manusia melalui nabi Musa di gunung Sinai itu terdiri atas tiga bagian pokok: hukum sipil (tata krama kehidupan sosial), hukum agama (tata tertib upacara keagamaan), dan hukum moral (Sepuluh Perintah). Sementara hukum-hukum itu bersifat mengikat terhadap manusia, dua hukum yang pertama diwajibkan atas bangsa Israel secara spesifik, sedangkan hukum moral diwajibkan atas seluruh umat manusia. Dalam Yudaisme, Torah (artinya: mengajar) adalah keseluruhan lima kitab Musa--Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan--yang dirangkum menjadi 613 perintah (mitzvot). Torah merupakan bagian dari Kitabsuci Ibrani yang disebut Tanakh, yaitu Perjanjian Lama yang terdapat dalam Alkitab sebagai kitabsuci umat Kristiani.

Sementara hukum sipil dan hukum upacara agama ditulis oleh Musa berdasarkan dikte Allah (Kel. 24:4), Sepuluh Perintah sebagai hukum moral itu ditulis langsung oleh jari Allah sampai dua kali setelah dua loh batu yang pertama hancur lebur dilempar oleh Musa yang marah karena bangsa Israel telah membuat patung anak lembu emas dan menyembahnya (baca Kel. 32:19 dan Kel. 34:1). Ini saja sudah menjadi bukti yang tak terbantahkan tentang kedudukan hukum moral yang lebih tinggi dibandingkan dengan dua jenis hukum lainnya yang khusus diperuntukkan bagi orang Israel. Dalam suratnya kepada orang-orang Kristen di kota Roma, jemaat yang mayoritas anggotanya berkebangsaan non-Yahudi, rasul Paulus menegaskan pentingnya memelihara Sepuluh Perintah--khususnya enam hukum bagian kedua yang mengatur tentang kasih terhadap sesama manusia--sebagai "kegenapan hukum Taurat" (Rm. 13:8-10).

"Fakta bahwa Kristus sendiri yang memberikan hukum itu kepada Musa di gunung Sinai menjadikannya bahkan lebih penting lagi bagi kita untuk memperlakukannya dengan serius. Juga, jika Pemberi hukum itu sendiri lebih jauh menjelaskannya melalui pengajaran-Nya, sebagaimana yang kita temukan dalam Injil, maka kita akan berusaha untuk menaati hukum itu. Seseorang akan sulit untuk menemukan dalam kehidupan dan pengajaran Yesus sesuatu yang menandakan bahwa Sepuluh Perintah itu tidak mengikat bagi orang-orang Kristen. Sebaliknya, perkataan dan keteladanan-Nya mengajarkan kita kebalikannya" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Yesus yang menggenapi dan bukan mengubah Hukum?
1. Yesus tidak mungkin mengubah atau menentang hukum Taurat seperti yang dituduhkan oleh kaum Farisi dan ahli Taurat, selain karena sebagai manusia biasa Dia adalah orang Yahudi yang wajib untuk tunduk pada Taurat, sebagai Mesias yang digambarkan melalui upacara persembahan kurban maka kedatangan-Nya adalah untuk "menggenapi" lambang itu.
2. Seluruh pengajaran dan pola hidup Yesus selama berada di dunia ini selaras dengan hukum Allah, tetapi Ia menentang cara-cara para pemimpin agama Yahudi yang membuat penurutan pada hukum itu menjadi beban yang berat sementara mereka sendiri tidak melaksanakannya dengan betul. Yesus anti kemunafikan.
3. Melalui pengajaran-Nya, Yesus sering menititikberatkan pada penerapan Sepuluh Perintah sebagai hukum moral, khususnya perintah-perintah yang berkaitan dengan interaksi di antara sesama manusia. Melalui kehidupan-Nya, Yesus memberi keteladanan dalam hal bagaimana menaati empat hukum pertama tentang hubungan kita dengan Allah.

Senin, 1 September
AMPLIFIKASI SEPULUH PERINTAH (Yesus Memperdalam Arti Hukum Itu)

Interpretasi hukum. Adalah menarik bahwa dalam Khotbah di Atas Bukit itu Yesus kemudian menyampaikan interpretasi hukum yang radikal atas Sepuluh Perintah, hal mana menunjukkan otoritas-Nya atas hukum-hukum itu. Yesus bukan membatalkan hukum Allah, tetapi justeru memberi penafsiran baru yang lebih mendalam. Misalnya, marah kepada orang lain dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum keenam (Mat. 5:21-22); berselingkuh di dalam hati dapat dianggap sebagai pelanggaran hukum ketujuh (ay. 27-28). Bahkan, musuh bukan untuk dibenci tetapi harus dikasihi (ay. 43-44). Perluasan makna hukum Allah ini tentu saja di luar persepsi bangsa Israel tentang Torah. Sementara orang Farisi menafsirkan hukum Allah secara dangkal dan harfiah, Yesus menekankan pada makna sesungguhnya dari hukum itu. Yesus bukannya mengubah hukum Allah, tetapi Ia mengoreksi penafsiran yang dangkal atas hukum itu.

Dalam ilmu hukum ada cara penafsiran subyektif (sesuai dengan kehendak dari pembuat undang-undang) dan penafsiran obyektif (lepas dari maksud pembuat undang-undang tapi disesuaikan dengan gaya bahasa sehari-hari) atas sebuah undang-undang. Selain itu, menyangkut dalil-dalil hukumnya, dikenal juga apa yang disebut penafsiran restriktif (dalam pengertian sempit) dan penafsiran ekstensif (dalam pengertian luas). Melihat cara Yesus memperluas arti dari beberapa hukum dalam Sepuluh Perintah itu mungkin dapat dikatakan bahwa Ia melakukan penafsiran secara subyektif dan ekstensif, yaitu memperluas arti dari bunyi hukum-hukum itu sesuai dengan apa yang dimaksudkan Allah sebagai pembuat hukum.

"Apakah Yesus mendiskreditkan hukum? Tentu tidak. Dengan lebih memperjelas dan memperluas apa yang para pemimpin agama telah persempit menjadi tidak lebih dari formalitas, Ia membandingkan ajaran-ajaran kaum Farisi dengan makna sesungguhnya dari hukum itu...Para rabi menjadikan tradisi sebagai otoritas bagi penafsiran mereka tentang hukum itu. Sebaliknya, Kristus berbicara atas otoritas-Nya sendiri sebagai Pembuat hukum itu" [alinea kedua: tiga kalimat terakhir; alinea ketiga: dua kalimat pertama].

Pandangan radikal. Sepuluh Perintah Allah bisa saja terasa sederhana dalam hal apa yang dituntutnya, tetapi jiwa dari hukum-hukum itu sesungguhnya tidak sederhana. Penurutan yang Allah kehendaki dari manusia bukan sekadar ketaatan formalitas dan harfiah, melainkan suatu ketaatan yang bersifat substantif dan komprehensif. Hukum Allah mengandung ciri-ciri yang radikal dan hitam-putih, bukan sekadar aturan-aturan yang dapat begitu saja dikompromikan sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga menjadi ketentuan dengan warna abu-abu (tidak tegas).

Sebagian orang Kristen berpendapat bahwa karena Yesus yang sudah "menggenapi" tuntutan-tuntutan hukum Allah (Mat. 5:17), dan karena kita diselamatkan "karena kasih karunia...oleh iman" (Ef. 2:8), maka seolah-olah Yesus telah menggenapi tuntutan penurutan pada hukum Allah itu demi kita yang tidak sanggup menaatinya, sehingga dengan menerima kebenaran Yesus itu kita tidak diwajibkan lagi untuk menaati Sepuluh Perintah Allah. Memang benar bahwa sebagai manusia yang dipengaruhi oleh dosa dan hidup di dunia yang berdosa kita tidak mampu menuruti semua perintah itu dengan kekuatan kita sendiri, tetapi dengan Roh Allah yang mendiami hati kita yang baru niscaya kita sanggup untuk "hidup menurut segala ketetapan" dan "tetap berpegang pada peraturan-peraturan" Allah (Yeh. 36:26-27).

"Apa yang juga menarik ialah bahwa tuntutan-tuntutan Kristus secara radikal melampaui bentuk sederhana dari hukum itu. Pengajaran-Nya mencakup semangat di balik kata-kata dari hukum itu. Semangat yang menanamkan arti dan kehidupan terhadap apa yang jika tidak demikian hanya akan menjadi formalitas belaka. Pemeliharaan hukum, pada hakikatnya, sebagai tujuan dari hukum itu sendiri, tidak menyebabkan apa-apa selain kematian jika hukum itu tidak dipahami sebagai ekspresi dari apa artinya diselamatkan oleh kasih karunia" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang ajaran Yesus perihal makna yang mendalam dari hukum Allah?
1. Fakta bahwa Yesus memperdalam makna dari Sepuluh Perintah menunjukkan bahwa hukum moral Allah itu sangat penting dan abadi. Tuntutan penurutan terhadap hukum itu tidak pernah dikurangi apalagi dihilangkan, sebaliknya malah semakin diperketat dan diperluas. Ketaatan pada hukum Allah tidak dapat ditawar atau dikompromikan.
2. Melalui kematian-Nya di kayu salib Yesus "menggenapi' apa yang digambarkan oleh lambang-lambang dalam hukum upacara agama orang Yahudi; melalui penurutannya yang sempurna Yesus "memenuhi" tuntutan-tuntutan moral dalam Sepuluh Perintah. Ajaran-Nya yang memperluas tuntutan hukum itu adalah deklarasi dari apa yang sudah dipraktikkan-Nya.
3. Penafsiran Yesus yang radikal terhadap tuntutan-tuntutan hukum moral (Sepuluh Perintah) menyingkapkan kehendak Allah sendiri dalam memahami dan menaati hukum-hukum itu. Pemeliharaan hukum Allah harus dilakukan secara sadar dan berdasarkan dorongan dari hati, bukan sekadar ketaatan yang kering dan tanpa perasaan.

Selasa, 2 September
PERZINAAN DALAM ARTI LUAS (Yesus dan Hukum Ketujuh)

Pentingnya pengendalian diri. Ada orang mengatakan bahwa perzinaan terjadi karena kombinasi dari dua faktor utama, yaitu niat dan kesempatan. Ada niat tapi tidak ada kesempatan, dan ada kesempatan tapi tidak ada niat, perzinaan tak akan terjadi. Mungkin dalam kasus-kasus tertentu kesimpulan ini berlaku, tapi dalam kasus-kasus yang lebih banyak lagi "niat" dan "kesempatan" itu hanyalah sekadar output (produk) dari fantasi palsu yang terbentuk dalam pikiran seseorang mengenai seks. Perzinaan bukan semata-mata akibat dari gejolak hasrat seksual yang tak terkendali, tapi itu adalah persepsi seseorang tentang seks dan sensasi kenikmatan yang diperkirakan dapat ditimbulkannya sehingga melahirkan niat dan tindakan. Faktanya, kesempatan itu bisa diciptakan kalau ada niat.

Yesus berkata, "Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya" (Mat. 5:28). Jadi, membayangkannya saja itu sudah berzina sekalipun tanpa tindakan fisik. Tentu saja dengan mengatakan "memandang perempuan" maka Yesus tidak bermaksud bahwa perzinaan itu monopoli kaum pria, sebab kenyataannya di kalangan kaum wanita ada juga kecenderungan untuk "menaksir" pria lewat pandangan mata. (Di zaman pasca emansipasi dan era kesetaraan jender sekarang ini, mungkin ayat ini bisa dimodifikasi menjadi "memandang perempuan ataupun laki-laki.") Untuk mengatasi "perzinaan fantasi" ini Yesus menyarankan tindakan yang radikal, "jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu" (ay. 29), dan "jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu" (ay. 30).

"Dalam ayat-ayat ini Kristus merujuk kepada dua perintah: hukum ketujuh dan kesepuluh. Sampai waktu itu, orang Israel menganggap berzina itu hanya berupa perbuatan seks secara fisik dengan pasangan orang lain. Yesus tunjukkan bahwa pada kenyataannya, karena adanya hukum kesepuluh, perzinaan bisa mencakup pemikiran dan keinginan nafsu juga...Dalam acuan-Nya untuk mencungkil mata dan memenggal tangan, Kristus secara kiasan sedang berbicara tentang pentingnya mengambil keputusan dan tindakan yang tegas untuk melindungi diri sendiri terhadap godaan dan dosa" [alinea pertama; alinea kedua: kalimat terakhir].

Zina dan cerai. Masyarakat Yahudi pada zaman Yesus terbagi dalam dua mazhab ajaran tentang hukum Taurat, yaitu antara sekolah agama yang dipimpin oleh Rabi Shammai (kelahiran Israel) yang konservatif, dengan sekolah agama pimpinan Rabi Hillel (kelahiran Babilon) yang lebih liberal. Selisih pendapat antara ajaran "Bet Shammai" dan "Bet Hillel" ini berlanjut hingga kehancuran Bait Suci pada tahun 80 TM atau sesudah reorganisasi Sanhedrin di bawah Gamaliel II, perselisihan mana menyangkut teologi, etika, dan upacara agama. Contohnya soal perceraian dalam hal suami menemukan istrinya "tidak senonoh" (Ul. 24:1), di mana Shammai mengajarkan bahwa perceraian hanya boleh terjadi karena suatu "pelanggaran serius" seperti perzinaan, sedangkan Hillel mengajarkan bahwa perceraian bisa saja dilakukan dengan alasan sangat sepele misalnya karena kesalahan sang istri yang memanggang roti sampai gosong. Perbedaan-perbedaan penafsiran Hukum Musa antara dua ajaran ini sedemikian tajam sehingga melahirkan ungkapan "satu hukum yang menjadi dua."

Ketika orang Farisi meminta pendapat Yesus mengenai soal perceraian ini, dengan mengutip Ulangan 24:1, mereka bertanya seperti ini: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?" (Mat. 19:3). Jelas sekali bahwa pertanyaan ini mengacu kepada ajaran Hillel, sehingga Matius mencatatnya sebagai pertanyaan "untuk mencobai Dia." Terhadap pertanyaan jebakan itu Yesus kemudian menanggapi dengan sebuah pernyataan yang tegas: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zina" (ay. 8-9).

"Orang-orang Farisi itu mencoba menjebak Yesus untuk memihak kepada salah satu sekolah agama. Namun, mereka mengabaikan fakta bahwa bukan itulah rencana Allah semula kalaupun ada yang ingin bercerai, itulah sebabnya Yesus berkata: 'apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia' (Mat. 19:6). Belakangan, karena 'kekerasan' hati mereka, mereka bertanya mengapa Allah telah mengizinkan seorang lelaki memberikan kepada istrinya 'surat cerai' jika dia menemukan sesuatu yang 'tidak senonoh padanya' (Ul. 24:1). Kristus mengoreksi penyalahgunaan ayat ini dengan mengangkat kekudusan dan kelestarian perkawinan: di hadapan Allah, satu-satunya alasan untuk perceraian ialah 'pelanggaran susila' atau 'perbuatan zina' (dalam bahasa Grika, porneia, yang secara harfiah adalah 'perbuatan tidak bermoral')" [alinea terakhir: empat kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang pandangan Yesus terhadap hukum ketujuh?
1. Yesus pernah berkata, "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat...perzinaan, percabulan..." (Mat. 15:19). Jadi, bukan soal apa atau siapa yang anda lihat, tetapi apa yang timbul di benak anda dan saya ketika memandang seseorang. Pikiran mesum sangat mudah "klik" dengan pemandangan yang menarik, apalagi menggoda.
2. Perzinaan (hukum ketujuh) erat hubungannya dengan keinginan (hukum kesepuluh). Dalam pikiran di mana sudah terbangun berbagai keinginan dan hasrat, tindakan secara fisik hanya soal waktu. Cara menghindari godaan untuk berzina yang paling jitu bukan dengan menutup mata rapat-rapat, tapi dengan mengendalikan pikiran.
3. Berdasarkan Alkitab, bercerai itu sama dengan berzina, kecuali karena alasan perzinaan itu sendiri. Tetapi dalam kondisi-kondisi tertentu seringkali perceraian menjadi satu-satunya "jalan keluar" yang terbaik dari yang terburuk. Sebaliknya, terkadang masalah perzinaan justru dapat diselesaikan tanpa harus bercerai.

Rabu, 3 September
ANTARA HUKUM DAN TRADISI (Yesus dan Hukum Kelima)

Tradisi akal-akalan. Tradisi membasuh tangan sebelum makan sesungguhnya adalah suatu kebiasaan yang baik demi kesehatan, meskipun hal itu tidak diatur dalam hukum Musa tetapi sebagai ajaran leluhur Israel yang diajarkan secara turun-temurun. Yesus tidak menentang tradisi higienis tersebut, tetapi yang ditentang-Nya ialah sikap kemunafikan kaum Farisi dan ahli Taurat yang mengutamakan tradisi orangtua di atas perintah Tuhan. Ketika mereka mencela murid-murid yang makan tanpa membasuh tangan lebih dulu, dan dengan demikian melanggar tradisi leluhur, Yesus menanggapinya dengan balik bertanya: "Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?" (Mat. 15:3).

Peristiwa tersebut dicatat oleh injil Markus dengan menyebutkan tentang "tradisi korban" sebagai cara mereka lari dari tanggungjawab untuk memelihara orangtua mereka. "Korban" berasal dari kosakata bahasa Grika (Yunani purba)--artinya "persembahan kepada Allah" atau juga "perbendaharaan kudus"--yang dalam PB hanya digunakan oleh injil Markus (7:11). Istilah ini kemungkinan dipungut dari bahasa Ibrani qurban, artinya "persembahan khusus" yang lazim diberikan kepada Tuhan. Sementara dalam hukum Musa setiap anak laki-laki diwajibkan untuk menopang hidup orangtuanya, anak-anak yang tamak dan pelit menggunakan tradisi "korban" untuk menghindari kewajiban tersebut walaupun kenyataannya hanya sebagian kecil atau bahkan tidak ada sama sekali harta yang dipersembahkan kepada Tuhan sesuai sumpah mereka. Tampaknya Yesus tahu persis tindakan akal-akalan ini dan menggunakannya sebagai serangan balasan terhadap orang Farisi dan ahli Taurat itu. Fakta bahwa mereka tidak membantahnya membuktikan kebenaran dari tudingan Yesus itu.

"Tampaknya seolah-olah kaum Farisi itu sudah menemukan alasan yang sempurna untuk menolak hak orangtua mendapatkan sokongan. Mereka telah memperluas prinsip-prinsip baku yang terdapat dalam kitab Taurat dan mengubahnya menjadi perintah-perintah buatan manusia yang dalam pemikiran para pemimpin mereka itu dapat menggantikan salah satu dari perintah-perintah Allah" [alinea ketiga: dua kalimat pertama].

Lain di bibir, lain di hati. Dalam berbagai kesempatan Yesus berkali-kali mencela sikap mendua dari kaum Farisi dan ahli Taurat, khususnya dalam memenuhi satu kewajiban tetapi mengabaikan yang lain. Misalnya tekun membayar persepuluhan tetapi mengabaikan tuntutan yang lebih penting lagi dari itu, yakni keadilan dan kasih terhadap sesama manusia. "Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan," kata Yesus (Luk. 11:42). Namun, kemunafikan dan sikap mendua seperti itu sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah bangsa Israel.

Yesus kemudian menegur mereka dengan keras, "Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia" (Mat. 15:7-9). Yesus mengutip perkataan nabi Yesaya yang berbunyi: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan..." (Yes. 29:13). Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya, sebagaimana leluhur mereka yang suka bersikap lain di bibir dan lain di hati, demikianlah keturunan mereka setelah tujuh abad kemudian!

Pena inspirasi menulis: "Banyak dari tradisi-tradisi Yahudi yang sangat sepele dan tidak berharga sebagai suatu tabiat yang merendahkan keseluruhan agama mereka, dan tradisi-tradisi ini diturunkan dari generasi kepada generasi serta dianggap oleh banyak orang sebagai firman Allah. Pendapat-pendapat manusia yang terus-menerus menjadi lebih bodoh dan tidak konsisten, telah ditempatkan sejajar dengan hukum moral, sampai pada kedatangan Kristus yang pertama ketika doktrin yang murni menggantikan gagasan-gagasan palsu...Kristus tidak menaruh perhatian pada pendapat-pendapat manusia, karena Ia berharap melalui keteladanan-Nya akan menarik satu garis antara teori-teori manusia dengan tuntutan-tuntutan Allah yang suci" (Ellen G. White, Signs of the Times, 3 Januari 1900).

Apa yang kita pelajari tentang sikap Yesus terhadap hukum moral Allah dengan tradisi buatan manusia?
1. Mentradisikan agama, bukan mengagamakan tradisi. Inilah sikap yang patut dipelihara oleh orang-orang yang taat beragama, meninggikan perintah Allah di atas tradisi manusia. Pada masyarakat yang tradisi-budayanya sangat kental dan kuat, pemisahan antara tradisi leluhur dan agama bisa menjadi tantangan yang tidak ringan.
2. Sangat mudah bagi seseorang untuk taat pada sebagian doktrin agama tapi tidak setia pada doktrin agama yang lain, sehingga pada satu segi dia kelihatan sangat saleh tapi di segi yang lain tampak sangat kompromistis. Pesan Yesus adalah: Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan!
3. Ciri keberagamaan yang benar adalah konsisten terhadap setiap doktrin yang berpatokan pada perintah Allah yang benar. Seorang yang taat beragama tidak akan mudah "diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan" (Ef. 4:14).

Kamis, 4 September
HUKUM TIDAK MENYELAMATKAN (Yesus dan Esensi Hukum)

Kasih, intisari hukum. Hukum Allah, khususnya Sepuluh Perintah, tidak dirancang untuk menyelamatkan manusia berdosa; hukum dirancang untuk menyatakan keberdosaan manusia (Rm. 3:20; 7:7). Meskipun hukum tidak dapat menyelamatkan, hukum itu mempunyai peran yang berkaitan langsung dengan keselamatan. Oleh menyadari keadaan kita yang berdosa seperti dinyatakan oleh hukum itu, kita merasakan perlunya janji keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus sebagai Pengantara kita (Gal. 3:19-24).

Orang muda kaya yang datang kepada Yesus ingin memastikan bahwa penurutan hukum yang dilakukannya selama ini sudah cukup untuk menjamin keselamatannya. "Jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah," kata Yesus kepadanya (Mat. 19:17). Kita dapat merasakan kegirangannya mendengar perkataan Yesus itu ketika dia menimpali, "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" (ay. 20). Penurutan hukum Allah secara harfiah itu penting, tapi lebih penting lagi adalah menghayati intisari dari Sepuluh Perintah itu, yakni kasih. "Jikalau engkau hendak sempurna," kata Yesus lagi, "pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku" (ay. 21; huruf miring ditambahkan). Sayangnya, pemuda kaya itu tidak siap untuk melepaskan harta duniawi demi mendapatkan harta surgawi dengan menjadi pengikut Kristus.

"Orang muda kaya itu tidak dapat memahami bahwa keselamatan dari dosa bukan hasil dari penurutan hukum, betapapun ketatnya. Gantinya, keselamatan datang dari Pemberi Hukum itu, sang Juruselamat. Orang Israel sudah mengetahui kebenaran ini sejak mulanya, tetapi mereka telah melupakannya. Kini Yesus mengetengahkan apa yang mereka seharusnya perhatikan dari permulaan: bahwa penurutan dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah begitu menyatu sehingga melakukan yang satu tanpa yang lain hanya menjadikan suatu kehidupan Kristiani yang berpura-pura" [alinea pertama: empat kalimat pertama].

Hukum yang terpenting. Ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus tentu seorang yang cerdas, itulah sebabnya dia dipilih untuk mewakili teman-temannya (Mat. 22:34-35). Mereka didorong oleh rasa penasaran karena Yesus baru saja membungkam orang-orang Saduki, sebuah sekte Yahudi yang tidak percaya adanya malaikat dan kebangkitan, serta ingin untuk membuktikan diri lebih piawai dalam soal pengetahuan hukum ketimbang kaum Saduki itu. "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" tanya ahli hukum itu (ay. 36). Tentu saja ini bukan pertanyaan yang didasarkan pada rasa ingin tahu atau mau belajar, tapi hendak menjebak. Mungkin para ahli Taurat itu memang memiliki kebiasaan untuk memilah-milah hukum dan mengkategorikannya, berdasarkan pendapat mereka sendiri, tentang mana hukum yang penting dan kurang penting. Sedangkan Yesus selaku Pembuat hukum itu memiliki konsep bahwa semua hukum adalah penting.

Yesus menjawab ahli Taurat itu dengan menghadapkan kepadanya intisari dari Sepuluh Perintah, yaitu kasih, secara vertikal kepada Allah dan secara horisontal kepada sesama manusia. "Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi," tandas-Nya (ay. 40). Tanggapan ahli Taurat terhadap jawaban Yesus tersebut justru membuat kita terperanjat. "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu," sahutnya. "Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua kurban bakaran dan kurban sembelihan" (Mrk. 12:32-33). Gantinya menemukan kesalahan, dia malah menemukan kebenaran dari Yesus. "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" kata Yesus kepadanya, dan sejak itu tak ada lagi orang yang berani menanyakan sesuatu kepada-Nya (ay. 34).

"Yesus menjawab dengan cara yang lebih ahli: pertama, dan yang paling penting, harus ada kasih di dalam hati sebelum seseorang bisa mulai memelihara hukum Allah. Penurutan tanpa kasih itu mustahil dan tak berarti. Namun, di mana ada kasih sejati kepada Allah, seseorang secara tanpa syarat akan menempatkan hidupnya selaras dengan kehendak Allah sebagaimana dinyatakan dalam keseluruhan Sepuluh Perintah-Nya itu. Itulah sebabnya di kemudian hari Yesus berkata: 'Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku' (Yoh. 14:15)" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang intisari Hukum Allah menurut Yesus?
1. Penurutan hukum Allah tidak dapat menghasilkan keselamatan, tetapi penurutan hukum itu adalah "bukti" bahwa seseorang sudah memiliki keselamatan. Intisari dari Sepuluh Perintah sebagai hukum moral Allah adalah kasih, maka penurutan hukum yang lebih bermakna ditunjukkan dengan perbuatan kasih.
2. Keselamatan adalah ikhtiar Allah berdasarkan kasih-Nya pada manusia, maka kita pun harus menyambutnya dengan kasih. Keselamatan adalah tindakan pengorbanan Kristus bagi manusia, maka kita pun harus menerimanya dengan pengorbanan. Penurutan hukum Allah harus didasarkan pada rasa kasih dan sikap untuk berkorban.
3. Hukum Allah, yaitu Sepuluh Perintah, mengandung tujuan rangkap tiga. Pertama, untuk menjadi sebagai cermin tentang keadaan kita; kedua, untuk membuat kita menahan diri dari berbuat kejahatan; ketiga, untuk menuntun kita melakukan kehendak Allah. Allah mengasihi kita dengan menyelamatkan kita; kita mengasihi Allah dengan menaati hukum-Nya.

Jumat, 5 September
PENUTUP

Teladan ketaatan Yesus. Kembali kepada pernyataan Yesus, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya" (Mat. 5:17; huruf miring ditambahkan). Kata "menggenapi" dalam ayat ini menempatkan Yesus sebagai obyek dari nubuatan tentang Mesias dalam Perjanjian Lama. Injil Matius memang sarat dengan pembuktian dari ketepatan nubuatan-nubuatan para nabi mengenai Yesus Kristus (Mat. 1:22; 2:5, 15, 17, 23; 4:14; 8:17; dan lain-lain.)

Tatkala Yesus datang kepada Yohanes Pembaptis di sungai Yordan minta dibaptis, saudara sepupu-Nya itu sempat menolak. "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?" sang pembaptis itu menampik (Mat. 3:14). Tetapi Yesus berkata kepadanya, "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah" (ay. 15, huruf miring ditambahkan; kata yang diterjemahkan dengan "menggenapkan" dalam ayat ini berasal dari kata Grika yang sama seperti yang digunakan dalam Matius 5:17). Dalam hal ini Yesus perlu dibaptis bukan sebagai tanda pertobatan dari dosa seperti halnya baptisan bagi anda dan saya, tetapi dengan menjalani baptisan menurut kehendak Allah itu maka Yesus menempatkan diri-Nya pada posisi yang sama dengan kita manusia berdosa.

"Misi-Nya ialah, 'Ia ingin hukum-Nya dihormati dan diagungkan.' Yes. 42:21, BIMK. Dia harus menunjukkan sifat rohani dari hukum itu, menyampaikan prinsip-prinsipnya yang luas jangkauannya, dan memperjelas kewajibannya yang abadi...Yesus, ujud nyata dari pribadi Bapa itu, kemilau cahaya kemuliaan-Nya; Penebus yang menyangkal diri itu, sepanjang perjalanan hidup-Nya yang penuh kasih di atas dunia ini adalah suatu gambaran yang hidup tentang sifat dari hukum Allah. Dalam hidup-Nya telah dinyatakan bahwa kasih yang lahir di surga, prinsip-prinsip keserupaan dengan Kristus, mendasari hukum-hukum kejujuran yang abadi" [empat kalimat terakhir].

"Orang yang meremehkan ajaran Tuhan, mencelakakan dirinya; orang yang taat kepada hukum Allah akan mendapat upahnya...Jika engkau tidak menaati hukum Allah, Allah pun akan merasa muak terhadap doamu" (Ams. 13:13; 28:9, BIMK).

(Oleh Loddy Lintong/California, 3 September 2014)

Jumat, 29 Agustus 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT KE IX, 30 AGUSTUS 2014: "GEREJA DAN PERINTAH AGUNG"



Sabat Petang, 23 Agustus
PENDAHULUAN

Mendelegasikan misi. Yesus Kristus telah datang ke dunia ini membawa missi dari Bapa surgawi, dan setelah tiba waktunya Ia pun merekrut murid-murid pertama untuk menindaklanjuti misi tersebut. "Sama seperti Bapa mengutus Aku," kata-Nya kepada mereka, "demikian juga sekarang Aku mengutus kamu" (Yoh. 20:21). Ini bukan berarti bahwa misi yang diemban-Nya terlalu berat dan besar untuk bisa dilaksanakan sendiri, melainkan karena Yesus percaya pada konsep pendelegasian.

Jauh sebelum para ahli manajemen menemukan konsep dan prinsip pendelegasian tugas, Alkitab telah mencatat pentingnya hal tersebut demi efisiensi dan efektivitas dalam pelaksanaan tugas (Kel. 18:13-26). Akan tetapi, berbeda dari sifat rutinitas yang dipercayakan Musa kepada jajaran pemimpin umat Israel semasa berada di padang gurun, pendelegasian tugas yang Kristus percayakan kepada murid-murid pertama itu berkaitan dengan misi. Dalam suatu pendelegasian tugas selalu melibatkan hak dan wewenang, maka ketika Yesus memanggil kedua belas murid itu Ia juga "memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan" (Mat. 10:1).

Seringkali bila berbicara tentang tugas sebagai murid Yesus kita akan langsung merujuk kepada perintah Yesus, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu..." (Mat. 28:18-20). Sementara "perintah agung" ini menjadi dasar bagi penginjilan dan misi lintas budaya dalam teologi Kristen, dengan baptisan sering dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan, Alkitab juga mencatat beberapa perintah identik yang Yesus sampaikan kepada murid-murid-Nya yang pertama.

"Berulang-ulang Ia mempercayakan kepada mereka tugas pemberitaan injil. Meskipun tidak ada dari para penulis Injil yang mencatat setiap perkataan yang Yesus ucapkan, masing-masing mengandung beberapa kalimat dari perintah Yesus, namun setiap catatan menekankan aspek yang berbeda dari tugas pemberitaan injil dan dengan demikian memberikan kepada kita wawasan berharga terhadap tujuan, metodologi, dan ruang lingkupnya"  [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Minggu, 24 Agustus
MEMANTULKAN KARAKTER ALLAH (Menjadi Terang Dunia)

Yesus dan terang. Dalam fisika, terang atau cahaya adalah radiasi elektromagnetik dalam bentuk gelombang yang memiliki kemampuan merambat di ruang hampa dengan kecepatan 300 Km per detik. Sebagai materi, terang atau cahaya itu adalah energi yang memiliki panjang gelombang tertentu dan membantu mata manusia untuk mengenali rupa-rupa warna, misalnya dalam fenomena pelangi pada waktu hujan di siang hari. Dalam Alkitab, terang adalah sebuah metafora (=kiasan) yang digunakan untuk melambangkan kebenaran Allah yang membantu manusia berdosa untuk mengenali sifat-sifat Allah.

Dalam kesaksiannya Yohanes menulis, "Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan" (1Yoh. 1:5). Perhatikan bahwa sang rasul tidak mengatakan bahwa Allah itu terang, tetapi bahwa Dia adalah terang. Jadi, terang merupakan bagian dari tabiat Allah--seperti juga kasih adalah bagian dari tabiat-Nya--tetapi bukan berarti bahwa ujud atau sosok pribadi Allah itu terang. Selanjutnya rasul itu berkata, "Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya" (Yoh. 1:5). Berdasarkan inilah maka Yesus pun berkata mengenai Diri-Nya, "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup" (Yoh. 8:12; huruf miring ditambahkan).

"Yesus Kristus, Anak Allah yang kekal, adalah 'terang manusia,...terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia' (Yoh. 1:4, 9). Dia sajalah terang yang dapat menerangi kegelapan dari suatu dunia yang diliputi dalam dosa. Melalui Dia kita boleh memiliki 'terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah' (2Kor. 4:6), yaitu karakter-Nya" [alinea ketiga].

Anak-anak terang. Dalam "Khotbah di Atas Bukit" itu Yesus berkata kepada para pengikut-Nya, "Kamu adalah terang dunia...Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga" (Mat. 5:14, 16; huruf miring ditambahkan). Ini merupakan sebuah pernyataan yang bersifat pujian dan sekaligus tanggungjawab. Sebagai pujian, karena selaku orang Kristen kita dianggap turut memiliki terang sebagai karakter Allah dan Yesus Kristus; sebagai tanggungjawab, sebab kita dituntut untuk menunjukkan perbuatan yang baik dengan mana dunia akan memuliakan Bapa di surga.

Secara tradisional kita sering mengaitkan status sebagai "terang dunia" dengan penginjilan, tetapi secara kontekstual sebenarnya ayat ini berbicara tentang perilaku orang Kristen yang harus mengikuti keteladanan hidup Yesus Kristus. Rasul Yohanes juga mengatakan, "Sebab barangsiapa berbuat jahat membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah" (Yoh. 3:20-21). Dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi "hari Tuhan" rasul Paulus mengingatkan, "Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan" (1Tes. 5:4-5).

"Bukankah tidak masuk akal menyalakan lampu hanya untuk meletakkannya 'di bawah gantang atau di bawah tempat tidur' (Mrk. 4:21)? Lalu mengapa kita terkadang melakukan hal serupa dengan terang Kristus? Seorang murid yang bersembunyi tidak lebih berguna dari sebuah lampu di bawah gantang pada malam yang gelap. Karena itu, 'bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu' (Yes. 60:1)" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang menjadi terang dunia?
1. Menjadi "terang dunia" adalah sebuah kesempatan istimewa bagi setiap orang Kristen. Secara berjenjang terang itu adalah dari Allah kepada Kristus, lalu diwariskan kepada para pengikut-Nya. Sebagaimana Yesus selama berada di dunia ini telah menjadi terang dunia (Yoh. 9:5), demikianlah kita pun adalah terang dunia selama kita hidup.
2. Dalam pengertian alkitabiah, "terang dunia" mengandung makna ganda: memantulkan karakter Allah serta Kristus, dan menjalankan misi penginjilan. Kedua makna ini harus dipraktikkan dalam kehidupan orang Kristen secara simultan, yaitu menginjil sambil memelihara tabiat dan perilaku yang suci sebagai "anak-anak terang."
3. Sebagai gereja, kita semua mengemban misi dari Kristus untuk menerangi dunia yang digelapkan oleh dosa ini dengan terang kebenaran Allah. Sebagai pribadi, kita masing-masing memikul tanggungjawab untuk memantulkan karakter Allah dan karakter Kristus. Inilah makna gereja sebagai "koinonia" dan "ekklesia."

Senin, 25 Agustus
BERBAGI PENGALAMAN ROHANI (Menjadi Saksi)

Kedudukan sebagai saksi. Dalam dunia hukum "saksi" merupakan bagian penting dari pembuktian perkara. Di Indonesia, keberadaan dan kedudukan seorang saksi diatur dalam udang-undang hukum acara pidana yang definisinya sebagai berikut: "Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri" (UU No. 8 Tahun 1981, Bab I, Pasal 1, Nomor 26 tentang KUHAP; huruf miring ditambahkan). Berkaitan dengan itu, dalam perkara pidana diatur bahwa "keterangan saksi adalah salah satu alat bukti" (KUHAP, Pasal 1, Nomor 27). Jadi, secara hukum maka keterangan seorang saksi sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan oleh hakim atau majelis hakim atas suatu perkara pidana, dan dengan demikian menentukan nasib seorang terdakwa.

Alkitab menggunakan kata "saksi" dalam pengertian hukum, etika, dan historis. Dalam PL, kata yang diterjemahkan dengan saksi berasal dari kata Ibrani ed, sebuah kata benda maskulin yang berkaitan dengan seseorang, atau kesaksian jika berkaitan dengan suatu benda (Strong; H5707). Sebagai kesaksian kalau itu berupa sebuah benda yang memiliki nilai historis, seperti dalam perjanjian antara Yakub dengan mertuanya, Laban (Kej. 31:44-45); sebagai saksi kalau itu adalah seorang manusia yang berkaitan dengan pengertian etika, misalnya dalam hubungan antar-manusia sebagaimana diatur dalam Taurat (Kel. 23:1-2; Im. 5:1; Bil. 35:30). Kata yang sama juga digunakan pada hukum kesembilan dari Sepuluh Perintah (Kel. 20:16) sebagai hukum moral Allah. Dalam PB, kata saksi berasal dari bahasa Grika martys dari mana kemudian muncul kata martyr, yaitu orang yang mati syahid karena mempertahankan kebenaran (Why. 17:6).

"Seorang saksi ialah seorang yang melihat suatu peristiwa yang terjadi. Siapa saja bisa menjadi saksi, asalkan secara pribadi dia telah menyaksikan sesuatu. Tidak ada yang nama saksi tidak langsung. Kita dapat bersaksi hanya berdasarkan pada pengalaman kita sendiri, bukan pengalaman orang lain. Sebagai orang-orang berdosa yang diselamatkan, kita memiliki hak istimewa untuk menceritakan kepada orang-orang lain apa yang Yesus telah lakukan bagi kita" [alinea ketiga].

Kewajiban sebagai saksi. Sementara menjadi saksi adalah suatu kedudukan yang penting dengan hak istimewa, seorang saksi juga memiliki kewajiban dan tanggungjawab penting sekali. Kalau pada konteks hukum sekuler keterangan seorang saksi dapat berpengaruh dalam menentukan nasib seseorang, maka dalam konteks alkitabiah kesaksian seorang saksi bisa berpengaruh terhadap nasib banyak orang.

Kepada murid-murid yang pertama itu Yesus berkata, "Kamu adalah saksi dari semuanya ini" (Luk. 24:48). Dalam hal ini Yesus sedang bertutur tentang peristiwa penyaliban yang meliputi kematian dan kebangkitan-Nya, di mana murid-murid itu menjadi saksi-saksi mata yang masih hidup. Dalam rangka pemberdayaan kesaksian mereka itu maka Yesus berjanji bahwa mereka akan "diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi" yaitu kuasa Allah (ay. 49). Sebab menjadi saksi bagi Kristus mesti dilengkapi dengan kemampuan untuk bersaksi secara benar dan bertenaga, kerelaan hati saja tidaklah cukup untuk menghasilkan dampak yang berarti dalam suatu misi penginjilan.

"Kitab Kisah Para Rasul menunjukkan bahwa kesaksian umat percaya bisa memiliki kuasa yang meyakinkan hanya melalui kehadiran Roh Kudus yang tinggal di dalam hati mereka...Artinya, mereka mampu untuk berkata-kata secara terbuka dan dengan kuasa yang besar tentang apa yang mereka sendiri sudah saksikan dan alami. Dalam arti yang sangat nyata, kesaksian kita mengenai Kristus harus selalu termasuk pengalaman kita sendiri dengan Dia" [alinea terakhir: kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang arti menjadi saksi bagi Kristus?
1. Dalam "drama politik" pada persidangan sengketa Pilpres di MK belum lama ini kita telah melihat bagaimana kesaksian banyak saksi dari pihak tertentu yang ditolak hakim karena para saksi itu tidak mengalami sendiri apa yang mereka saksikan. Bukan soal substansi kesaksian saja yang penting, tapi terutama adalah keabsahan dari kesaksian itu.
2. Karena untuk menjadi saksi yang sah harus memenuhi unsur "mengalami sendiri" padahal kita hidup dua ribu tahun sesudah seluruh rangkaian peristiwa itu terjadi--penyaliban, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus--maka inti dari kesaksian kita bukan pada peristiwa tersebut lagi, melainkan pada pengalaman rohani yang kita alami bersama Yesus.
3. Bersaksi bagi Yesus tidak cukup hanya dengan bermodalkan semangat menginjil dan ketersediaan dana untuk maksud itu, tetapi harus disertai dengan kesiapan dan sumberdaya rohani. Penginjilan yang berdayaguna dan berhasilguna tidak dilakukan hanya karena ada kesempatan atau sekadar dorongan avonturir, tapi karena tuntunan kuasa Roh Kudus.

Selasa, 26 Agustus
MENJALANKAN MISI GEREJA (Demikian Juga Aku Mengutus Kamu)

Konsep penginjilan. Dalam doa syafaat yang terkenal itu, ketika Yesus mendoakan murid-murid-Nya yang pertama maupun umat percaya dari segala zaman, Kristus telah membuat suatu pernyataan penting yang ditujukan kepada Bapa di surga: "Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia" (Yoh. 17:18). Setelah kebangkitan-Nya, Yesus mengulangi pernyataan serupa, kali ini ditujukan kepada murid-murid: "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu" (Yoh. 20:21). Kata Grika untuk mengutus dalam ayat ini adalah apostellō, sebuah kata kerja yang artinya "menyuruh pergi ke suatu tempat yang ditentukan" (Strong; G649), dan dari kata ini kemudian muncul istilah apostle (Inggris) atau rasul (Arab) yaitu utusan. Inilah konsep dasar dari misi penginjilan, yaitu kegiatan utus-mengutus secara berjenjang dan berkesinambungan.

Injil Yohanes mencatat bahwa sehabis Yesus mengucapkan pernyataan itu kepada murid-murid, Ia pun menambahkan perkataan ini: "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada" (ay. 22-23). Dalam kata-kata ini termaktub dua hal, penganugerahan Roh Kudus dan pemberian kuasa untuk mengampuni dosa. Banyak komentator Alkitab sebagai semacam upacara penahbisan atas murid-murid untuk menjadi para penginjil, yang didahului dengan tindakan Yesus "mengembusi mereka" (ay. 22). Banyak pula yang percaya bahwa tatkala Yesus "meniupkan nafas-Nya" (BIMK) kepada mereka, Ia sedang memperagakan tindakan yang sama ketika Allah "menghembuskan nafas hidup" ke hidung Adam sehingga dia menjadi manusia yang hidup (Kej. 2:7). Roh Kudus, yaitu Roh Allah, berkuasa untuk memberi "kehidupan baru" kepada seseorang sebelum orang itu digunakan oleh Tuhan.

"Mengutus seseorang menyiratkan bahwa orang yang mengutus itu memiliki kewenangan atas orang yang diutus. Itu juga melibatkan suatu tujuan, karena orang itu diutus dengan satu missi untuk dilaksanakan. Yesus diutus oleh Bapa untuk menyelamatkan dunia ini (Yoh. 3:17), dan kita diutus oleh Yesus untuk memberitakan keselamatan melalui Dia. Jelaslah, tugas kita adalah lanjutan dari pekerjaan Kristus yang terdiri atas pelayanan selengkapnya kepada semua orang (Mat. 9:35). Ia mengharapkan dari kita bukan saja untuk melanjutkan apa yang Ia sudah mulaikan tetapi lebih jauh lagi" [alinea kedua: kalimat kedua hingga kelima].

Kuasa yang mengubahkan. Sewaktu Yesus menemui murid-murid pada hari Minggu malam itu mereka semua sedang berkumpul dalam sebuah rumah dengan "pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi" (Yoh. 20:19). Mungkin kita juga bisa membayangkan bahwa pada saat itu penerangan di dalam rumah tersebut sangat minim agar tidak menarik perhatian orang dari luar, suatu tindakan yang normal bila kita sedang bersembunyi ketakutan di dalam rumah. Tetapi hal itu agak mencengangkan, sebab beberapa jam yang lalu pada hari yang sama murid-murid itu baru saja dikejutkan dengan kenyataan bahwa Yesus sudah bangkit dari kubur, berdasarkan kesaksian Maria Magdalena yang kemudian juga disaksikan oleh Petrus yang datang ke kubur bersama seorang murid yang lain (ay. 1-8).

Yesus datang pada saat yang tepat, menemui murid-murid yang sedang dilanda oleh kecemasan dan kebimbangan. Dan Ia datang bukan dengan tangan hampa, tetapi dengan kuasa Roh-Nya yang menguatkan hati. "Sebagaimana nafas hidup mengubah debu tanah yang mati menjadi makhluk hidup, demikianlah Roh Kudus mengubah murid-murid yang cemas dan putus asa itu menjadi saksi-saksi hidup yang ampuh untuk meneruskan pekerjaan Yesus. Pengurapan yang sama sangat diperlukan sekarang ini demi memenuhi tugas yang dipercayakan kepada kita" [alinea terakhir: dua kalimat terakhir].

Pena inspirasi menulis: "Kristus telah berikan kepada gereja suatu tugas yang suci. Tiap anggota harus menjadi saluran melalui mana Allah dapat menyampaikan kepada dunia ini kekayaan kasih karunia-Nya, kekayaan Kristus yang tak terduga. Tidak ada yang Juruselamat begitu inginkan seperti perantara-perantara yang akan menunjukkan kepada dunia Roh-Nya dan karakter-Nya. Tidak ada yang dunia ini begitu perlukan seperti perwujudan kasih Juruselamat melalui umat manusia. Segenap surga sedang menanti pria dan wanita melalui siapa Allah dapat menyatakan kuasa Kekristenan" (Ellen G. White, Maranatha, hlm. 128).

Apa yang kita pelajari tentang Yesus yang mengutus anda dan saya?
1. Penginjilan merupakan bagian dari skenario besar Allah sehubungan dengan rencana keselamatan bagi manusia. Mula-mula Allah mengutus Putra tunggal-Nya, Yesus Kristus, untuk mati sebagai Juruselamat dan mendirikan Gereja di bumi ini melalui murid-murid yang pertama. Selanjutnya, Yesus mengutus murid-murid itu ke seluruh dunia (Kis. 1:8).
2. Setiap orang Kristen adalah bagian dari penginjilan global sebagai utusan-utusan Kristus dari zaman ke zaman hingga Ia datang kedua kali. Sebagaimana kepada murid-murid pertama itu Yesus telah "mengembuskan" kuasa Roh-Nya, demikian pula kepada kita semua sekarang ini Yesus menganugerahkan kuasa Roh yang sama.
3. Roh Allah adalah kuasa ilahi yang bukan saja menyanggupkan umat percaya untuk melaksanakan tugas penginjilan, tetapi juga untuk memberi penghiburan serta kekuatan kepada kita semua sebagai para penginjil apabila kita putus asa dan kehilangan semangat.

Rabu, 27 Agustus
PENGINJILAN DAN PEMURIDAN (Menjadikan Murid)

Otoritas Kristus. Sesudah kebangkitan, Yesus beberapa kali bertemu dengan murid-murid-Nya, dan salah satunya adalah di "bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka" (Mat. 28:16). Tidak ada yang tahu pasti lokasi maupun nama bukit itu, tapi yang pasti tempat itu cukup dikenal oleh murid-murid dan sangat mungkin di situ mereka sering bersama-sama dengan Yesus sebelum penyaliban-Nya. Tampaknya kali ini bukan murid-murid yang pertama itu saja yang hadir tapi juga ratusan orang lain yang belum pernah melihat Yesus sesudah kebangkitan-Nya, dan begitu melihat Yesus muncul sebagian dari mereka sempat ragu-ragu (ay. 17).

Kejadian terpenting di bukit itu ialah dekrit Kristus perihal otoritas-Nya. "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi," kata Yesus (ay. 18). Sesudah menyatakan itu Ia pun melanjutkan, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu" (ay. 19-20; huruf miring ditambahkan). Frase "karena itu" di sini merupakan bagian penting yang menghubungkan pernyataan Yesus pada kalimat sebelumnya dengan perintah-Nya pada kalimat berikutnya, sehingga kata-kata Yesus itu bisa dipahami sebagai berikut: "Karena segala kuasa di surga dan di bumi sudah berada di tangan-Ku, maka sekarang pergilah kalian untuk menginjil ke seluruh dunia." Bagian kalimat sesudah perintah itu, "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (ay. 20, bag. akhir), adalah janji jaminan yang menyertai perintah itu.

"Menurut catatan Matius, dalam memberikan Perintah Agung itu Yesus menggunakan empat kata kerja: pergi, jadikan murid, baptiskan dan ajar. Sayangnya, banyak versi Alkitab tidak mencerminkan fakta bahwa dalam bahasa Grika satu-satunya kata kerja yang berbentuk perintah ialah jadikan murid, sedangkan tiga kata kerja lainnya itu adalah bersifat partisipatif. Ini berarti bahwa penekanan dari kalimat itu adalah pada jadikan murid, ketiga aktivitas lainnya bergantung pada hal itu" [alinea kedua].

Pergi, baptiskan, dan ajar. Perintah "jadikanlah semua bangsa murid-Ku" yang Yesus berikan kepada murid-murid waktu itu, dan juga kepada para pengikut-Nya sepanjang zaman, mengandung arti yang mendalam dan tidak sekadar mencari pengikut atau pendukung Kristus. Menjadi murid Yesus melibatkan komitmen untuk meneladani serta mengamalkan kehidupan Yesus dalam kehidupan pribadi kita, sehingga kita dapat berkata seperti Paulus, "Sekarang bukan lagi saya yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam diri saya" (Gal. 2:20, BIMK). Jadi, ketika kita pergi, membaptiskan, dan mengajar orang-orang lain maka tujuan kita yang terutama adalah bahwa pada akhirnya mereka akan menjadi orang-orang yang diubahkan kepada keserupaan dengan Kristus.

Kalau begitu, penginjilan hanyalah "alat" dengan mana kita menjangkau orang lain dan mengubahnya menjadi murid Kristus. Logikanya, kita tidak dapat menjadikan seseorang murid Kristus kalau kita tidak pergi, baptiskan, dan mengajar orang itu. Namun demikian, penginjilan belum sukses kalau kita hanya bisa pergi, membaptiskan (atau membuat orang lain dibaptis), dan mengajar orang-orang; penginjilan baru dikatakan berhasil bilamana orang-orang yang kita ajar dan baptiskan itu akhirnya menjadi murid Yesus yang setia dan tekun mengamalkan hidup Kristus.

"Kita bersuka ketika seseorang dibaptis, tetapi baptisan bukanlah akhir dari cerita. Itu hanyalah bagian dari proses menjadikan seseorang murid. tugas kita ialah mengajak orang banyak untuk mengikut Yesus, yang berarti percaya kepada-Nya, menuruti pengajaran-Nya, mengadopsi cara hidup-Nya, dan mengajak orang-orang lain untuk juga menjadi murid-murid-Nya" [alinea keempat].

Apa yang kita pelajari tentang perintah Yesus untuk menjadikan orang lain murid-Nya?
1. Yesus bukan sekadar memerintahkan murid-murid dan para pengikut-Nya supaya pergi menginjil, tetapi Ia juga melengkapi mereka dan kita semua dengan kuasa yang berada di tangan-Nya. Perintah Agung Yesus didasarkan pada otoritas-Nya. Bahkan, Yesus juga berjanji untuk menyertai kita dalam melaksanakan perintah-Nya itu.
2. "Penginjilan" dan "menjadikan murid Kristus" adalah dua hal yang berbeda tetapi merupakan bagian integral dari Perintah Agung Yesus itu. Penginjilan adalah cara--bukan tujuan--untuk menjadikan orang lain murid Kristus; menjadi murid Kristus adalah proses yang bertujuan untuk menyanggupkan orang hidup seperti Yesus.
3. Kegiatan menginjil adalah implementasi dari perintah Yesus, tapi kita tidak bisa menjadikan jumlah baptisan sebagai tujuan dari usaha penginjilan. Jangan jadikan program penginjilan sekadar "eforia rohani" belaka. Tujuan penginjilan adalah mengubah orang lain menjadi seperti Kristus, tapi bagaimana itu akan tercapai kalau penginjil itu sendiri belum berubah?

Kamis, 28 Agustus
MISI GEREJA DAN PRIBADI (Mengkhotbahkan Injil)

Ke seluruh dunia. Injil Markus mencatat perintah Yesus, bagian yang paralel dengan injil Matius, dalam gaya bahasa yang lebih lugas: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum" (Mrk. 16:15-16; huruf miring ditambahkan). Kata makhluk dalam ayat ini berasal dari kata Grika, ktisis, yang merupakan sebuah bentukan dari kata dasar ktizō, yaitu kata kerja yang berarti "menjadikan habitat manusia" atau "menciptakan" (Strong; G2937, G2936). Kata yang sama digunakan juga pada dua ayat lain dalam Injil Markus, yang dalam versi TB diterjemahkan dengan "menjadikan" (10:6) dan "diciptakan" (13:19). Jadi, sebenarnya yang dimaksudkan adalah "kepada seluruh umat manusia" (Mrk. 16:15, BIMK).

Anak kalimat "ke seluruh dunia" (Grika: poreuomai eis hapas kosmos) dalam ayat di atas itu sebenarnya berdasarkan keadaan dunia pada abad pertama ketika tingkat demografis dan populasi manusia belum seluas dan sepadat sekarang ini. Namun, berdasarkan keyakinan kita bahwa setiap penulis Alkitab diilhami oleh Roh Allah, kita percaya bahwa perintah Yesus itu bersifat futuristik dan menjangkau sampai ke zaman kita sekarang. Murid-murid angkatan pertama itu sudah mati jauh sebelum perintah itu terlaksana secara harfiah, tetapi faktanya murid-murid Yesus dari angkatan terakhir zaman ini sedang giat menunaikan perintah itu, baik sebagai Gereja maupun sebagai pribadi.

"Kesebelas orang itu saja tidak pernah dapat memberitakan injil ke seluruh dunia, apalagi kepada setiap makhluk yang hidup di dalamnya. Sebuah tugas yang berdimensi seluruh dunia seperti itu menuntut partisipasi dari gereja secara keseluruhan. Hal itu telah dipercayakan kepada semua umat percaya di dalam Yesus pada segala zaman. Ini termasuk anda dan saya" [alinea kedua: empat kalimat terakhir].

Mereka yang percaya. Kendati kepada murid-murid Yesus yang melaksanakan perintah pemberitaan injil itu diberi jaminan kuasa dan penyertaan Tuhan sampai akhir zaman (Mat. 28:18-20), tidak ada jaminan bahwa setiap orang yang mendengar pemberitaan injil itu akan percaya dan menerimanya. Yesus menambahkan, "Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum" (Mrk. 16:16). Entah mengapa, kalimat penting ini luput dari catatan Matius yang juga menulis perintah identik tersebut.

Berdasarkan perkataan Yesus pada ayat di atas, sebagian orang telah secara langsung menghubungkan baptisan dengan keselamatan. Namun, jika kita meneliti lebih cermat, ayat itu sebenarnya mengaitkan percaya dengan keselamatan dan ketidakpercayaan dengan hukuman. Dalam banyak kasus ada orang yang sudah percaya tetapi karena keadaannya dia tidak sempat dibaptis, sebaliknya banyak orang dibaptis tetapi tidak sesungguhnya percaya. Di sini Yesus tidak mengatakan bahwa siapa yang tidak dibaptis akan dihukum, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.

"Akan tetapi, mengkhotbahkan injil kepada setiap makhluk tidak serta merta berarti bahwa setiap orang akan menerimanya. Hanya 'siapa yang percaya dan dibaptiskan akan diselamatkan' (Mrk. 16:16). ita harus khotbahkan dengan semangat, berharap bahwa setiap pendengar akan menyerah kepada undangan injil. Namun demikian, kita harus menyadari bahwa banyak yang tidak akan menerima Firman itu, sebagaimana gambaran tentang pintu yang sempit dengan jelas tunjukkan (Mat. 7:13-14)" [alinea ketiga].

Apa yang kita pelajari tentang perintah untuk mengkhotbahkan injil?
1. Perintah Yesus untuk memberitakan injil "ke seluruh dunia" dan "kepada segala makhluk" memberi indikasi bahwa perintah itu harus dilaksanakan seluas mungkin dan tanpa pilih buluh. Hambatan geografis (faktor jarak) maupun demografis (faktor sosial) tidak boleh menjadi alasan untuk tidak menunaikan perintah itu.
2. Pertumbuhan gereja Kristus dari zaman ke zaman tidak terlepas dari aktivitas penginjilan yang tak mengenal lelah dari orang-orang Kristen yang berkomitmen serta patuh pada perintah Yesus untuk mengkhotbahkan injil keselamatan, dan bukti dari kegenapan janji Yesus kepada murid-murid pertama itu perihal kuasa Roh Kudus-Nya.
3. Pemberitaan injil adalah kewajiban dari setiap pengikut Kristus, tetapi keselamatan jiwa adalah tanggungjawab pribadi dari orang yang mendengar pemberitaan itu. Keselamatan itu "mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya" (Ibr. 2:3). Pemberitaan injil adalah konsep dan rancangan ilahi bagi umat Tuhan.

Jumat, 29 Agustus
PENUTUP

Orang Kristen dan pemberitaan injil. Gereja Kristus (Kekristenan) telah bertumbuh dengan pesat, dari hanya beberapa ratus orang saat Yesus tinggalkan sudah bertambah hingga bermilyar-milyar menjelang kedatangan-Nya kedua kali. Menurut data terakhir, dari sekitar 7 milyar penduduk Bumi sekarang ini terdapat kurang-lebih 2,2 milyar orang Kristen, belum termasuk mereka yang kini sedang beristirahat dalam kubur selama dua ribu tahun berselang. Meskipun menjadi orang Kristen belum menjamin keselamatan, setidaknya sebagai umat percaya kita sudah berada di jalan yang benar menuju keselamatan.

Gereja didirikan untuk dua maksud, yakni menjadi tempat berhimpun umat percaya dan menjadi sarana utama dari penginjilan semesta. Berbakti kepada Tuhan dan memberitakan injil keselamatan merupakan dua sisi dari mata uang, dan keduanya merupakan bagian yang tak terpisahkan terhadap satu sama lain. Gereja adalah wahana peribadatan dan sekaligus menjadi "pusdiklat" bagi jemaat untuk melaksanakan jangkauan keluar dalam program pemuridan. "Tiap murid sejati dilahirkan bagi kerajaan Allah sebagai seorang pemberita injil. Orang yang minum dari air hidup itu menjadi mata air kehidupan. Penerima itu menjadi seorang pemberi" [alinea pertama: tiga kalimat pertama].

Ada konsekuensi rohani dalam menjadi orang Kristen; sebagai pengikut Kristus harus mengamalkan cara hidup Yesus, dan sebagai murid Yesus harus melaksanakan kewajiban penginjilan. Sebab sebagai orang Kristen, kita diselamatkan untuk menyelamatkan orang lain. Kekristenan, tak bisa tidak, harus identik dengan penginjilan. Gereja Kristen yang benar harus selalu beraroma evangelisasi, atau sama sekali itu bukan gereja Tuhan.

"Perintah Juruselamat kepada murid-murid meliputi semua orang percaya. Perintah itu mencakup semua umat percaya di dalam Kristus hingga akhir zaman. Adalah suatu kekeliruan yang fatal untuk menganggap bahwa pekerjaan menyelamatkan jiwa-jiwa hanya bergantung pada pendeta yang diurapi...Semua orang yang menerima hidup Kristus diurapi untuk bekerja demi keselamatan sesama manusia. Untuk pekerjaan inilah gereja ditahbiskan, dan semua orang yang mengadakan janji suci itu dengan demikian berjanji untuk menjadi teman sekerja bersama Kristus" [alinea kedua].

"Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus?" (Rm. 10:13-15).

(Oleh Loddy Lintong/California, 28 Agustus 2014)

Jumat, 22 Agustus 2014

PELAJARAN SEKOLAH SABAT KE VIII: "GEREJA DAN FONDASI PERSATUAN JEMAAT"








Sabat Petang, 16 Agustus
PENDAHULUAN

Fondasi dan persatuan. Dalam konsep alkitabiah, gereja adalah perhimpunan suatu umat dan bukan bangunannya. Dalam suratnya kepada "gereja" di Roma rasul Paulus menulis, "Salam juga kepada jemaat di rumah mereka..." (Rm. 16:5). Terlepas dari bagaimana jemaat itu berkumpul dan berbakti, dalam sebuah bangunan khusus untuk ibadah ataupun di rumah tinggal biasa yang hanya sesekali berfungsi sebagai tempat ibadah, selama ada sekelompok umat percaya yang berbakti secara teratur maka perhimpunan itu disebut "gereja." Jadi, gereja bisa eksis selama ada jemaatnya meski tanpa sebuah bangunan, tetapi sebuah bangunan tanpa jemaat bukanlah sebuah gereja. Sementara kekuatan dari sebuah bangunan gereja terletak pada fondasinya, keampuhan dari sebuah jemaat terletak pada persatuan para anggotanya.

Sebagai sebuah bangunan, gereja terdiri atas campuran dari berbagai unsur material yang membuatnya tampak indah dan kokoh; sebagai sebuah jemaat, gereja terdiri atas campuran dari berbagai lapisan masyarakat yang membuatnya terlihat serasi dan kompak. Menariknya lagi, sebagaimana bahan-bahan bangunan gereja itu berasal dari unsur-unsur yang terdapat di alam sekitar, sebuah jemaat juga berasal dari unsur-unsur yang terdapat di tengah masyarakat.

"Menurut keempat Injil, istilah gereja dari bibir Yesus hanya muncul tiga kali (Mat. 16:18; 18:17). Namun demikian, ini bukan berarti bahwa Ia tidak berurusan dengan subyek tersebut. Malahan Ia mengajarkan konsep-konsep sangat penting yang berkaitan dengan gereja. Pelajaran kita pekan ini akan terpusat pada dua gagasan utama: fondasi dari gereja dan persatuan gereja" [alinea terakhir].

Dalam PB ada dua konsep tentang gereja, yakni Gereja secara universil yang disebut sebagai "tubuh Kristus" (1Kor. 12:13-14, 27), dan Gereja setempat atau yang lazim disebut "jemaat-jemaat" (Gal. 1:2). Jadi, "gereja" secara universil berarti umat percaya atau orang Kristen dari zaman ke zaman tanpa mengenal sekte, aliran, atau denominasi. Bahkan, dalam pengertian yang luas gereja termasuk "jemaah di padang gurun" pada zaman Musa (Kis. 7:38) maupun "rumah untuk Allah" (ay. 47) pada zaman Salomo.

Dalam PB, kata Grika yang diterjemahkan dengan "gereja" atau "jemaat" ada dua, yaitu koinōnia (="persekutuan"; Strong, G2842), dan ekklēsia (= "dipanggil keluar"; Strong, G1577). Jadi sebenarnya Gereja mengandung dua makna sekaligus dan keduanya merupakan dua sisi dari satu mata uang, integral dan tak terpisahkan antara satu sama lain: "dipanggil dari dunia sebagai sebuah persekutuan" kemudian "diutus ke dunia sebagai suatu kelompok pemberita injil." Gereja sejatinya adalah wadah di mana umat percaya dipersatukan dalam sebuah persekutuan, bukan untuk membentuk suatu perhimpunan yang eksklusif melainkan untuk diutus keluar sebagai pembawa terang Tuhan.

Minggu, 17 Agustus
BERDIRI DI ATAS BATU KARANG (Fondasi Gereja)

Yesus sebagai "Batu Karang." Semuanya bermula dari pengakuan Petrus, salah seorang murid terdekat. Setelah meminta informasi dari murid-murid-Nya tentang apa pendapat masyarakat mengenai diri-Nya, Yesus kemudian bertanya kepada mereka apa pendapat mereka sendiri tentang diri-Nya. Terhadap pertanyaan itu Petrus langsung menyatakan secara spontan: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" (Mat. 16:16). Yesus menghargai ketegasan Petrus tersebut dengan sebuah pernyataan penting, "Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya" (ay. 18).

Murid kesayangan Yesus itu memiliki nama asli Simon, dan "petrus" adalah nama julukannya yang dalam bahasa Yunani purba ialah "petros" yang artinya "batu," sedangkan "petra" adalah kata Yunani purba lainnya yang berarti "batu karang" dan dalam hal ini merujuk kepada Yesus Kristus. Sebuah teori mengatakan bahwa tatkala Yesus mengucapkan perkataan dalam Matius 16:18 tersebut di atas, jari Yesus mengunjuk kepada Petrus saat menyebutkan namanya itu, dan pada waktu menyebut "batu karang" Yesus menunjuk diri-Nya sendiri. Belakangan Petrus sendiri mengakui, dengan mengutip Yesaya 28:16, berkata: "'Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.' Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: 'Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan'" (1Ptr. 2:6-7).

"Ada alasan-alasan kuat untuk menegaskan bahwa petra merujuk kepada Kristus. Konteks langsung dari pernyataan Yesus (Mat. 16:13-20) berpusat pada identitas dan missi Kristus, bukan identitas dan missi Petrus. Selain itu, sebelumnya Yesus sudah menggunakan gambaran tentang bangunan di atas batu karang yang secara jelas mengidentifikasikan batu karang itu sebagai Diri-Nya dan pengajaran-Nya (Mat. 7:24-25)" [alinea kedua].

Allah sebagai "Gunung Batu." Dalam Perjanjian Lama, Allah sering disebut sebagai "gunung batu" (versi TB) untuk melambangkan keperkasaan dan kekuatan benteng perlindungan. Ketika Daud bersyukur memuji Tuhan atas kelepasannya dari raja Saul yang hendak membunuhnya, pemazmur itu bersenandung: "Ya, Tuhan, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan" (2Sam. 22:2-3). Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan "bukit batu" dan "gunung batu" dalam ayat ini adalah tsuwr, sebuah kata benda maskulin yang merujuk kepada Tuhan (Strong; H6697). Di seluruh PL kata ini digunakan sebanyak 78 kali dalam 74 ayat, termasuk ayat-ayat PL yang tertera pada pelajaran hari ini, 26 di antaranya dalam kitab Mazmur.

Meskipun Daud yang paling banyak menggunakan metafora "gunung batu" untuk menerangkan tentang keperkasaan Allah, tetapi Musa adalah orang pertama dalam Alkitab yang menggunakan kata kiasan ini ketika dia menyebut Allah sebagai "Gunung Batu Israel" (Kej. 49:24). Pemimpin besar Israel itu juga menggunakan kata kiasan yang sama ketika mengumandangkan sebuah lagu yang disebut Nyanyian Musa: "Berilah hormat kepada Allah kita, Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia" (Ul. 32:3-4).

Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus disebut "batu karang" (petra) untuk melambangkan diri-Nya sebagai "batu penjuru" atau "batu yang terutama" (BIMK) dalam arti selaku fondasi utama bagi Gereja yang dibangun-Nya (Kis. 4:11). Rasul Petrus menyebut-Nya sebagai "batu yang hidup" (1Ptr. 2:4) dan "batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal" (ay. 6). "Oleh karena itu kita menyimpulkan bahwa gereja di zaman rasul-rasul secara bulat memahami bahwa Yesus Kristus sendiri adalah petra utama di atas mana gereja itu dibangun, dan semua nabi serta rasul, termasuk Petrus, merupakan lapis pertama dari batu-batu yang hidup dalam bangunan besar kerohanian gereja (Ef. 2:20)" [alinea terakhir: kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Kristus sebagai "fondasi gereja"?
1. Pada zaman purba batu karang atau gunung batu adalah tempat yang ideal sebagai benteng pertahanan. Berdasarkan tradisi ini maka para penulis Alkitab sering menggunakan "batu" sebagai lambang kekuatan dan keperkasaan, khususnya yang merujuk kepada Tuhan. Banyak masyarakat purba yang menyembah batu raksasa atau bukit batu sebagai personifikasi ilahi.
2. Dalam Perjanjian Lama, Allah sering dilambangkan dengan "gunung batu" untuk menunjukkan kehebatan kuasa-Nya sebagai tempat perlindungan yang aman bagi manusia. Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus dilambangkan dengan "batu karang" untuk menerangkan keteguhan yang menjamin keamanan dan kelestarian Gereja.
3. Sebagaimana Allah adalah "gunung batu" yang melindungi manusia, dan sebagaimana Kristus adalah "batu karang" yang menopang umat percaya, maka Gereja pada zaman ini juga dapat berperan sebagai "benteng pertahanan" dan "fondasi" yang kokoh di mana iman kita terlindung dan keselamatan kita terpelihara di dalamnya.

Bahan diskusi ekstra kurikuler:
--> Selain Kristus, apa lagi yang diandalkan sebagai "fondasi" di jemaat anda? Reputasi gereja, jumlah keanggotaan, sumberdaya finansial, tingkat intelektualitas dari mayoritas anggota, nama besar seorang tokoh jemaat, atau kepiawaian pendeta jemaat?


Senin, 18 Agustus
KEPEDULIAN KRISTUS (Doa Kristus Bagi Persatuan)

Keprihatinan Yesus. Injil Yohanes pasal 17 memuat doa pengantaraan Yesus yang sering disebut sebagai Doa Agung Yesus. Meskipun dimulai dengan permohonan agar Allah memuliakan Dia, inti dari doa ini menyangkut kepentingan semua umat percaya sebagai milik Tuhan (ay. 9). Dalam doa itu Yesus dengan tegas mengatakan bahwa Dia bukan saja berdoa untuk murid-murid pada waktu itu "tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu..." (ay. 20-21; huruf miring ditambahkan). Jadi, pada dasarnya Yesus berdoa untuk semua orang Kristen, yang ada pada masa itu dan sepanjang zaman.

Tetapi intinya Yesus berdoa bagi persatuan mereka, bahkan "supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka..." (ay. 23; huruf miring ditambahkan). Persatuan para pengikut Kristus berdampak pada persepsi dunia mengenai Gereja, yaitu bahwa persatuan jemaat memberi kesan yang kuat kepada dunia bahwa Allah memang mengutus Yesus untuk mengukuhkan sebuah Gereja di dunia ini, dan Allah juga mengasihi Gereja itu. Dengan kata lain, tidak adanya persatuan di dalam jemaat akan mengurangi legitimasi dari gereja itu, bahkan akan menimbulkan keraguan terhadap Yesus Kristus sendiri sebagai Pendiri gereja itu.

"Persatuan itu sangat penting bagi kehidupan gereja. Kita bisa mengukur pentingnya persatuan dengan fakta bahwa empat kali Kristus mengulangi kerinduan-Nya yang sangat agar para pengikut-Nya bisa menjadi satu (Yoh. 17:11, 21-23). Pada saat-saat terakhir yang istimewa itu, Tuhan dapat saja berdoa untuk banyak hal lain yang sangat berarti dan penting. Gantinya, Ia memusatkan doa-Nya pada kesatuan umat percaya. Ia tahu bahwa bahaya terbesar bagi gereja adalah roh persaingan dan perpecahan" [alinea kedua].

Bersaksi melalui persatuan. Tidak seorangpun menyangsikan pentingnya persatuan dan kekompakan dalam suatu perkumpulan maupun masyarakat. Kita semua mengenal pepatah yang mengatakan, "Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh." Tetapi ketika berbicara tentang gereja atau jemaat, arti dari persatuan itu bahkan jauh lebih penting lagi. Seperti disebutkan dalam ayat di atas, persatuan dalam gereja pada dasarnya merupakan kesaksian kepada dunia dan menopang klaim Yesus Kristus sebagai fondasi dari gereja.

Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, rasul Paulus menulis: "Hiduplah sehati dengan kasih yang sama, dengan pikiran yang sama dan tujuan yang sama. Janganlah melakukan sesuatu karena didorong kepentingan diri sendiri, atau untuk menyombongkan diri. Sebaliknya hendaklah kalian masing-masing dengan rendah hati menganggap orang lain lebih baik dari diri sendiri. Perhatikanlah kepentingan orang lain; jangan hanya kepentingan diri sendiri" (2:2-4, BIMK). Sang rasul mengetahui bahwa penyebab utama dari gagalnya persatuan dan kerukunan jemaat adalah egoisme, kesombongan, serta persaingan--dan gereja dari zaman ke zaman pun akan bergumul dengan sikap-sikap yang sama di kalangan anggota jemaat. Maka pada kesempatan lain dia menulis, "Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua" (Ef. 4:3-6).

"Persatuan ini bukanlah tujuan. Itu adalah suatu kesaksian untuk mengilhami dunia agar percaya kepada Kristus sebagai Juruselamat yang diutus oleh Bapa. Kerukunan dan persatuan di antara orang-orang yang berbeda-beda wataknya adalah kesaksian paling kuat bahwa Allah sudah mengutus Putra-Nya untuk menyelamatkan orang berdosa. Hal itu merupakan bukti yang tak dapat dibantah tentang kuasa Kristus yang menyelamatkan dan mengubahkan. Dan kita memiliki kesempatan istimewa untuk membawa kesaksian ini" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang doa Yesus yang menunjukkan pentingnya persatuan di jemaat?
1. Persatuan gereja/jemaat sudah menjadi keprihatinan Yesus terutama dan juga rasul Paulus. Itulah sebabnya Yesus perlu mendoakan secara khusus agar gereja bersatu, dan Paulus mendorong supaya jemaat-jemaat mengedepankan semangat persatuan karena orang-orang Kristen merupakan satu tubuh di bawah Kristus, serta memiliki satu Roh dan satu Allah.
2. Kerukunan dan persatuan gereja/jemaat bukan sekadar demi kekuatan gereja atau jemaat itu sendiri, tetapi yang lebih penting lagi ialah kerukunan dan persatuan itu merupakan kesaksian bagi nama Kristus. Sebaliknya, pertikaian di dalam gereja/jemaat dapat menimbulkan delegitimasi (=merusak pengakuan) atas gereja/jemaat itu sendiri.
3. Setiap anggota jemaat memikul tanggungjawab yang sama bagi persatuan di jemaatnya, sebab tiadanya persatuan berarti mengingkari doa Yesus yang telah memohon kepada Bapa untuk persatuan gereja. Persatuan di dalam gereja/jemaat melambangkan persatuan Kristus dengan Allah, dan gereja dengan Kristus sendiri.

Bahan diskusi ekstra kurikuler:
--> Apa saja faktor-faktor penyebab rusaknya persatuan di jemaat anda? Adakan identifikasi dan inventarisasi, lalu bahas pemecahannya.


Selasa, 19 Agustus
PERSATUAN DAN KEBENARAN (Pembekalan Kristus Demi Persatuan)

Yesus sebagai faktor pemersatu. Dalam Yohanes 17:23 Yesus menekankan ikatan persatuan segitiga, antara Yesus dengan jemaat-Nya dan dengan Allah, serta antara jemaat dengan Kristus dan dengan Allah. "Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku" (huruf miring ditambahkan). Kata-kata dalam doa Yesus ini juga menggarisbawahi dasar dari hubungan itu, yakni kasih. Persatuan Yesus dengan Bapa didasarkan pada kasih, dan persatuan Yesus dengan jemaat-Nya juga atas dasar kasih. Demikian pula, Yesus memproklamirkan bahwa persatuan jemaat dengan Diri-Nya itu membawa jemaat bersatu dengan Bapa-Nya, dan hubungan persatuan itupun berdasar pada kasih.

Seperti dalam pelajaran dua pekan lalu, eratnya persatuan antara jemaat dengan Kristus digambarkan dengan hubungan antara pokok anggur dengan cabang-cabang dan ranting-rantingnya. "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yoh. 15:5). Inti dari persatuan antara pokok dan ranting pohon anggur adalah hubungan yang menghidupkan dan menghasilkan buah. Cabang dan ranting bisa tampak berdiri sendiri, tetapi semuanya tumbuh dan hidup karena terhubung kepada pokok. Jadi dalam hal ini Yesus Kristus merupakan faktor pemersatu bagi persatuan di antara para anggota gereja dan jemaat.

"Jika kita memiliki Yesus maka kita juga akan memiliki firman-Nya yang sesungguhnya adalah firman dari Bapa (Yoh. 14:24; 17:8, 14). Yesus adalah 'kebenaran' (Yoh. 14:6), dan Firman Bapa itu juga 'adalah kebenaran' (Yoh. 17:17). Persatuan di dalam Yesus berarti persatuan di dalam Firman Allah. Supaya mempunyai persatuan, kita perlu untuk sepakat atas isi kebenaran sebagaimana disajikan dalam Firman Allah. Usaha apapun untuk mencapai persatuan tanpa ketaatan pada batang tubuh dari keyakinan alkitabiah dipastikan akan gagal" [alinea kedua].

Kebenaran sebagai faktor pemersatu. Sebagaimana diutarakan pada bagian pendahuluan ulasan ini, konsep alkitabiah tentang Gereja mengandung dua makna: koinōnia (persekutuan) dan ekklēsia (dipanggil ke luar). Orang Kristen adalah mereka "yang telah dipanggil-Nya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain" (Rm. 9:24), yaitu orang-orang "yang dibenarkan-Nya, ...juga dimuliakan-Nya" (Rm. 8:30) dan "yang dipanggil menjadi orang-orang kudus" (1Kor. 1:2). Jadi, orang Kristen ialah semua mereka yang telah dipanggil dari dunia ini untuk "menjadi milik Kristus...yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus" (Rm. 1:6-7).

Dari bunyi ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa orang Kristen dipanggil dari dunia ini untuk dipersatukan di dalam "kebenaran Kristus" seperti yang dibela dan dipertahankan oleh Paulus (2Kor. 11:10). Gereja adalah perhimpunan orang-orang Kristen yang bersekutu dengan Kristus atas dasar kebenaran-Nya. Maka, selain dasar persatuan orang Kristen adalah Yesus selaku "fondasi gereja" dan "pokok anggur" di mana kita melekat bersama, dasar persatuan gereja juga adalah kebenaran Kristus. Dalam perkataan lain, kebenaran Kristus adalah faktor pemersatu gereja. Namun terkadang mempertahankan pendapat tentang "kebenaran" sebuah doktrin justru menjadi dasar dari sebuah perpecahan di dalam gereja.

"Ada masanya ketika doktrin saja dianggap sebagai unsur paling penting bagi persatuan. Untungnya, ketidakseimbangan ini secara bertahap telah diperbaiki. Akan tetapi sekarang ini kita menghadapi risiko menuju kepada ujung yang lain: berpikir bahwa untuk persatuan kasih itu lebih penting daripada kebenaran. Kita harus ingat bahwa kasih tanpa kebenaran adalah buta, dan kebenaran tanpa kasih adalah sia-sia. Pikiran dan hati harus bekerja bersama-sama" [alinea terakhir: lima kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang faktor-faktor pemersatu dalam jemaat?
1. Persatuan di dalam gereja harus diilhami oleh persatuan antara Yesus Kristus dengan Bapa, dan melalui persatuan gereja dengan Kristus maka gereja pun dipersatukan dengan Bapa. Seperti kata Yohanes, "Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus" (1Yoh. 1:3).
2. Bagi gereja, faktor pemersatu utama adalah Yesus Kristus dan kebenaran-Nya. Gereja adalah perhimpunan umat percaya yang dipanggil dari dunia ini ke dalam persekutuan dengan Kristus dan dengan Bapa berdasarkan kasih dan kebenaran-Nya. Tanpa kasih dan kebenaran Kristus tidak ada gereja atau persekutuan umat percaya.
3. Dalam doa-Nya (Yohanes 17) berkali-kali Yesus menyebutkan tentang firman Allah sebagai dasar kebenaran (ay. 6, 8, 14 dan 17). Tampaknya kebenaran dari firman Allah itu harus mendahului persatuan. Artinya, gereja mesti bersatu berdasarkan kebenaran firman Tuhan, tanpa kebenaran Allah persatuan dalam gereja tidak ada artinya.

Bahan diskusi ekstra kurikuler:
--> Apakah persatuan yang Yesus maksudkan dalam doa-Nya juga termasuk persatuan makro, yaitu antara denominasi-denominasi Kristen?


Rabu, 20 Agustus
SIKAP MEMBANDING-BANDINGKAN (Hambatan Besar Bagi Persatuan)

Menghakimi orang lain. Ketika anda menghakimi orang lain maka anda bukanlah menegaskan tentang siapa orang itu melainkan tentang siapa diri anda. Begitu juga, tatkala anda mengkritik atau memfitnah seseorang maka anda bukan membeberkan kekurangan dan kejelekan orang itu tetapi sebenarnya anda sedang mengumbar kekurangan dan keburukan diri anda sendiri. Yesus mengingatkan kita, "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu" (Mat. 7:1-2).

Kata Grika untuk menghakimi dalam ayat ini adalah krinō, sebuah kata kerja yang juga mengandung arti memisahkan atau memilih (Strong; G2919), yang dalam hal ini berarti "membedakan" orang lain dari diri kita, atau "memilih" orang tertentu lalu membandingkannya dengan kita. Tetapi Yesus menegaskan bahwa kita semua sama dan akan diperlakukan sama di hadapan Allah. Menghakimi orang lain dengan cara membandingkan dan membedakannya dari kita menyangkut sikap serta cara berpikir yang salah terhadap mana Yesus mengamarkan kita semua agar menjauhinya.

"Jauh lebih mudah untuk melihat kesalahan-kesalahan pada orang lain daripada melihat kesalahan kita sendiri. Mengkritik memberikan rasa keunggulan yang palsu sebab kritikan membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain yang tampaknya lebih buruk dari dia. Akan tetapi tujuan kita bukanlah membandingkan diri kita dengan orang lain tetapi dengan Yesus" [alinea pertama].

Apa dan siapa yang anda kritik? Ketika mendiang Edward Moore "Ted" Kennedy [1932-2009], senator dari Massachusetts dan adik mantan presiden John F. Kennedy dari AS, pada suatu hari diundang berbicara di depan sebuah perkumpulan profesional yang sering mengkritik dirinya, dia berkata, "Setidaknya, mereka yang mengkritik saya itu telah berbicara dengan jujur." Langsung saja pernyataannya ini disambut tepuk tangan riuh seluruh hadirin. Kita memang sering mendengar tentang kritikan konstruktif (kritik yang bersifat membangun), sesuatu yang perlu demi kebaikan pihak yang dicela. Mengkritik tidak sama dan sebangun dengan mempersalahkan, sebab dalam mengkritik ada unsur niat positif sedangkan dalam mempersalahkan seluruhnya bersifat negatif.

Alkitab juga memberi dorongan untuk "mengkritik" dengan maksud konstruktif (Mat. 18:15-16), bahkan Yesus sendiri pun kerap mencela para pemimpin (Mat. 23:27; Luk. 11:39, 42-47). Dalam banyak hal kritikan itu perlu untuk suatu perbaikan, maka baik-tidaknya sebuah kritikan terletak pada motif dan cara penyampaiannya sesuai dengan urgensi masalah yang menjadi sasaran kritik. Ketika kita mengkritik pastikanlah bahwa motif kita murni serta tulus, dan ketika persoalan yang hendak dikritisi itu penting atau mendesak terkadang kritikan itu perlu disampaikan secara tegas dan tajam. Rasul Paulus sendiri hanya ingin mengkritik orang-orang di dalam jemaat tetapi menyerahkan mereka yang berada di luar jemaat itu kepada Tuhan (1Kor. 5:12-13), dan dalam mengkritik saudara seiman rasul Yakobus mengingatkan kita: "Berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang. Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman" (Yak. 2:12-13).

"Yakobus membandingkan lidah dengan api kecil yang membakar hutan yang besar (Yak. 3:5-6). Kalau kita mendengar pergunjingan, seharusnya kita tidak menambahkan kayu ke dalam api, sebab 'bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tidak ada, redalah pertengkaran' (Ams. 26:20). Pergunjingan membutuhkan suatu rantai pemancar untuk dapat tetap hidup. Kita bisa menghentikannya hanya dengan menolak untuk mendengarkannya; atau, jika kita sudah mendengarnya, hindari untuk mengulangi" [alinea terakhir: empat kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang hambatan terbesar untuk persatuan di jemaat?
1. Selalu ada peluang untuk mengkritik orang lain, apalagi kalau anda memang tipikal orang yang sangat kritis. Sementara kritikan itu dapat mengandung sisi positif, penyusun buku pelajaran SS menyodorkan kepada kita tiga hal sebagai pertimbangan mengkritik: cara yang benar, bersifat mendidik, dan berlandaskan kasih.
2. Mengkritik tidak sama dengan menghakimi, dan jauh berbeda dengan memfitnah atau mencari-cari salah. Kitabsuci melarang kita untuk menghakimi orang lain sebab dalam menghakimi itu kita cenderung menjadikan diri sendiri sebagai patokan yang belum tentu benar, padahal kita sendiri pun akan dihakimi.
3. Sifat suka menghakimi orang lain merupakan hambatan terbesar bagi persatuan di dalam gereja/jemaat, sebab dengan menghakimi orang lain kita seakan hendak memaksakan agar orang lain menjadikan diri kita sebagai standar dalam hal pemikiran, perilaku, dan keyakinan. Yesus tidak menghakimi menurut ukuran manusia tetapi standar Allah (Yoh. 8:15-16).

Bahan diskusi ekstra kurikuler:
--> Apakah di jemaat anda terdapat orang-orang yang suka mengkritik? Bagaimana anda dapat meredam hal itu dengan pendekatan secara Kristiani terhadap mereka, berdasarkan pelajaran SS hari ini?


Kamis, 21 Agustus
MENCIPTAKAN KETENTERAMAN DI JEMAAT (Pemulihan Persatuan)

Pentingnya rekonsiliasi. Nasihat Yesus dalam Matius 5:23-24 sekan menyiratkan bahwa berdamai dengan orang yang bermusuhan dengan kita itu lebih penting daripada beribadah. Namun ini bukan berarti rekonsiliasi dengan sesama manusia lebih penting ketimbang rekonsiliasi dengan Tuhan, sebab konteksnya adalah soal "marah terhadap saudaranya" (ay. 22) sehingga orang yang anda marahi itu dapat menggugat dengan "menyerahkan engkau kepada hakim" (ay. 25). Sebab dalam hukum Musa, menuduh orang lain atau memarahi secara serampangan mengandung konsekuensi hukum.

Kata kafir dalam ayat 22 berasal dari bahasa Aram rhaka, suatu bentuk makian yang lazim digunakan di kalangan masyarakat Palestina pada zaman Yesus yang artinya otak kosong alias tolol; sebutan ini sebenarnya sama dengan kata Grika mōros yang dalam ayat ini diterjemahkan dengan jahil. Versi BIMK menafsirkan ayat ini: "Tetapi sekarang Aku berkata kepadamu, barangsiapa marah tanpa sebab kepada orang lain, akan diadili; dan barangsiapa memaki orang lain, akan diadili di hadapan Mahkamah Agama. Dan barangsiapa mengatakan kepada orang lain, 'Tolol,' patut dibuang ke dalam api neraka" (Mat. 5:22; huruf miring ditambahkan).

"Ada beberapa macam persembahan berbeda yang dibawa ke mezbah, tetapi Yesus kemungkinan sedang merujuk kepada hewan kurban supaya orang yang berdosa itu dapat menerima pengampunan ilahi. Akan tetapi, sebelum kita bisa memperoleh pengampunan Allah, kita harus membereskan persoalan dengan orang lain. Perdamaian menuntut suatu pengakuan yang rendah hati atas kesalahan-kesalahan kita. Tanpa sikap ini, bagaimana kita bisa memohon pengampunan Allah?" [alinea pertama].

Menegur dalam kasih. Gereja kita sangat mengenal tatacara yang diatur dalam Matius 18:15-18 tentang cara menegur seorang saudara seiman yang diketahui berbuat "dosa serius" yang berpotensi dikenakan disiplin atau pemecatan dari keanggotaan jemaat. Mula-mula kita harus menasihati dia secara empat mata, kalau dia tidak mengaku atau menolak nasihat itu ajaklah satu sampai tiga orang lain sebagai saksi, dan jika dia tetap bersikeras barulah dihadapkan kepada majelis kemudian ke hadapan jemaat. Terlepas dari apakah prosedur ini diterapkan atau tidak, cara menegur ini bertujuan untuk "mendapatkannya kembali" agar dia tetap berada di dalam kandang (ay. 15), sehingga dia tidak sampai dianggap sebagai "seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai" (ay. 17).

"Dengan roh kelemahlembutan dan kasih yang halus, kita harus melakukan segala usaha yang memungkinkan untuk menolong dia menyadari kesalahannya, memberi kesempatan dia bertobat dan meminta maaf. Adalah sangat penting agar tidak mempermalukannya dengan membeberkan kesalahannya kepada umum. Hal itu akan membuat pemulihannya jauh lebih sulit" [alinea kedua: tiga kalimat terakhir].

Pena inspirasi menulis: "Suatu usaha yang tekun untuk menyingkirkan salah pengertian akan menempatkan anda berdua dalam hubungan yang sedemikian rupa di antara satu sama lain dan dengan Allah sehingga Ia dapat memberkati anda. Tetapi anda tidak dapat menerima berkat-Nya selagi anda tidak bersedia melakukan apa yang dapat anda lakukan untuk membereskan persoalan-persoalan sebab untuk melakukan hal ini menuntut kerendahan dari hati anda yang sombong. Ah, betapa berbagai salah pengertian sepele yang timbul bisa dengan mudah dihapuskan! Dan hingga hal ini dilaksanakan, kita tidak siap untuk mengambil bagian dalam upacara-upacara Tuhan yang suci. Apakah anda bersedia melakukan bagian anda untuk membereskan perbedaan-perbedaan yang ada? Kalau ya, sangat besar kata-kata keji dan rasa getir yang akan terhindarkan. Saya diperintahkan untuk menyampaikan perkataan ini sebagai pekabaran dari Allah" (Ellen G. White, Pacific Union Recording, 1 Desember 1904).

Apa yang kita pelajari tentang bagaimana memulihkan persatuan di jemaat?
1. Gampang naik darah mungkin kedengarannya manusiawi, tetapi itu bukanlah watak orang Kristen sejati, apalagi disertai kata-kata kasar. Tidak salah untuk marah terhadap hal-hal yang tidak pantas, seperti ketika Yesus bertindak membersihkan halaman Bait Allah (Mat. 21:12-13), dan disebut "amarah yang patut" (righteous indignation).
2. Semangat rekonsiliasi (kembali rukun) penting demi ketenteraman di masyarakat, apalagi di jemaat. Sedangkan dalam dunia politik orang menyerukan rekonsiliasi--seperti suasana negeri kita pekan ini setelah berakhirnya tahapan Pilpres menyusul putusan MK. Terkadang kegaduhan di jemaat tak kalah riuhnya dengan hiruk-pikuk dunia politik.
3. Gereja/jemaat terdiri atas manusia yang berbeda-beda, maka dalam suasana dinamika sangat mungkin terjadi gesekan bahkan benturan antar pribadi yang bisa merongrong persatuan. Memulihkan kerukunan adalah kewajiban setiap anggota jemaat, untuk mencari pemecahannya berdasarkan kasih, kesabaran dan kerendahan hati.

Bahan diskusi ekstra kurikuler:
--> Apakah anda mengetahui adanya pihak-pihak dalam jemaat yang sedang dalam perselisihan? Apa yang dapat anda lakukan untuk merukunkan mereka, sebagai implementasi nyata dari pelajaran SS hari ini?


Jumat, 22 Agustus
PENUTUP

Persatuan dan berpikir positif. Ada pertalian nyata antara berpikir positif dengan persatuan. Tantangan terhadap usaha untuk membangun dan mempertahankan persatuan tentu dipengaruhi secara langsung oleh interaksi berbagai unsur alamiah manusia yang berbeda-beda seperti sikap, cara berpikir, watak, latar belakang, maupun ciri-ciri kepribadian lainnya dari individu-individu yang tergabung dalam suatu komunitas. Menyadari hal itu maka dapat dikatakan bahwa jika satu perkumpulan tampak kompak bersatu maka persatuan itu adalah prestasi yang patut dibanggakan.

Sebuah perhimpunan sekuler biasanya diadakan oleh orang-orang yang memiliki pelbagai kesamaan tertentu, termasuk kesamaan tujuan dan pandangan. Di panggung politik kita sering mendengar adanya pribadi-pribadi maupun kelompok-kelompok yang bergabung sebagai satu entitas karena merasa memiliki kesamaan platform (tempat berpijak) untuk mewujudkan tujuan perjuangan mereka. Namun, dunia politik juga mengenal adagium: "Dalam politik tidak ada teman atau musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi." (Pepatah ini bersumber dari pernyataan Lord Palmerston [1784-1865], dua kali menjabat perdana menteri Inggris di bawah Ratu Victoria, yang aslinya berbunyi: Britain had no eternal allies, and no perpetual enemies, only interest that were eternal and perpetual; dimodifikasi oleh Dr. Henry Kissinger, menteri luar negeri AS di bawah Presiden Richard Nixon, menjadi America has no permanent friends or enemies, only interests).

Berbeda dari para politikus itu, kita sebagai gereja dan jemaat memiliki teman abadi (Yesus Kristus) serta musuh abadi (Setan) dan sekaligus juga kepentingan abadi (hidup kekal). Kalau orang-orang di dunia politik itu saja, yang hanya karena mempunyai "kepentingan abadi" bisa kompak bersatu--setidaknya untuk sementara waktu--apalagi kita sebagai gereja dan jemaat yang memiliki sahabat abadi dan kepentingan abadi. Sebenarnya, orang Kristen tidak memiliki musuh abadi sebab Setan itu sendiri tidak abadi. Namun, Setan bisa menjadi musuh abadi kalau kita tidak berhasil membangun persatuan yang langgeng sehingga dia menang.

"Persatuan adalah kekuatan; perpecahan adalah kelemahan. Ketika orang-orang yang mempercayai kebenaran masa kini bersatu, mereka mengerahkan suatu pengaruh yang jitu. Setan sangat mengerti hal ini. Tidak pernah dia lebih bertekad seperti sekarang ini untuk membuat kebenaran Allah tidak berpengaruh oleh menyebabkan kepahitan dan perselisihan di antara umat Tuhan" [alinea pertama].

"Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah" (Kol. 3:15).

(Oleh Loddy Lintong/California, 21 Agustus 2014)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...